kerendahan hati – buku life balance ways

“Kerendahan hati merupakan cerminan kecerdasan spiritual seseorang. Pribadi yang rendah hati dan pandai menghargai orang lain adalah pribadi yg memiliki kecerdasan spiritual tinggi. Unsur penting yang diperlukan dalam pembentukan karakter pribadi mulia.”

Seorang pimpinan perusahaan yang dikenal baik dan dihargai oleh anak buahnya, mengadakan acara perpisahan pensiun dirinya dengan mengundang semua karyawannya. Di tengah-tengah acara berlangsung, seorang penjaga keamanan (satpam) memberanikan diri ke depan dan mengucapkan terima kasih atas kepemimpinannya selama ini. Ia berkata, “saya berterima kasih karena bapak selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan tugas saya dan selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Bapak adalah pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya sebagai karyawan bawah merasa sangat dihargai karena bapak tidak pernah merendahkan saya.”

Inilah salah satu cerminan sikap rendah hati seorang pimpinan. Sayangnya, dewasa ini semakin sulit menemukan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati seperti ini. Sebaliknya, sikap egoisme yang lebih menonjol dan menguasai sikap hidup manusia di abad modern sekarang ini. “Akulah yang paling hebat, engkau tidak ada apa-apanya,” demikianlah sikap egoisme dan kesombongan yang seringkali menguasai manusia modern dewasa ini. Tengoklah berbagai peristiwa di negeri ini, banyak orang yang tersinggung sedikit saja sudah mengamuk, atau harga dirinya tersentuh sedikit sudah tersinggung luar biasa.

Padahal kita tahu rendah hati merupakan salah satu sifat yang penting dalam membangun karakter pribadi sukses dan mulia. Bersama-sama dengan sifat-sifat lainnya seperti kejujuran, integritas, keikhlasan, rasa syukur dan lainnya, merupakan bagian dari pembentuk karakter pribadi sukses dan mulia. Kerendahan hati juga merupakan cerminan dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati berarti ia memiliki kesadaran yang tinggi akan posisi dirinya hanyalah sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Tuhan YME. Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tidak berlaku sombong, serakah dan tinggi hati.

Dalam dunia karier dan bisnis, sikap rendah hati juga merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh pribadi yang ingin meraih sukses dan kemuliaan. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Ludeman terhadap 800-an manajer perusahaan. Salah satu kesimpulan dari hasil riset yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun tersebut adalah bahwa para pemimpin, para manager yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, memiliki sikap rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Dengan demikian hal ini membuktikan bahwa mereka para pemimpin, manager yang meraih kesuksesan ini ternyata adalah manusia-manusia yang memiliki sifat rendah hati.

Pribadi yang rendah hati adalah pribadi yang dapat menghargai orang lain dan memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Mereka adalah pribadi yang senantiasa membuat orang lain merasa penting dan dihargai. Mereka mampu mengutamakan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap berbagai masukan, kritikan dan memiliki kesediaan untuk banyak berbagi dengan sesamanya.

Kita perlu belajar rendah hati, karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Sikap rendah hati juga mengundang simpati dan dukungan dari sesama, sebagai modal penting bagi keberhasilan. Pertanyaannya bagaimana mengendalikan egoisme pribadi, sehingga dapat menjaga sikap rendah hati dalam kehidupan modern dewasa ini? Temukan inspirasinya dalam buku terbaru saya, “Life Balance Ways” yang diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Group).

Ary Ginanjar Agustian dari ESQ Leadership Center dan penulis buku best seller ESQ Power, memberikan pujiannya untuk buku “Life Balance Ways,”: “Keseimbangan adalah jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan hidup manusia. Bahkan tanpa keseimbangan alam semesta pun niscaya akan binasa. Buku Life Balance Ways karya Eko Jalu Santoso ini menuntun pembaca untuk berada dalam jalan keseimbangan.”

Anda ingin meraih sukses dan kemuliaan dalam berbagai bidang kehidupan, pertahankan sikap rendah hati. Semoga Bermanfaat.

10 Prinsip Binsis dengan Hati

Oleh: Eko Jalu Santoso

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya. belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat menjadi ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah “built in” dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda telah berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.

Orang Bahagia itu

OLEH : EKO JALU SANTOSO

Orang yang bahagia itu, tidak merencanakan hasil, apalagi memastikan hasil, karena Ia tahu hasil itu adalah keputusan Tuhan.

Orang yang bahagia itu,merencanakan TINDAKAN karena mereka tahu tugasnya adalah, merencanakan tindakan dan
melakukan tindakan terbaik yang bisa dilakukan.

Orang yang bahagia itu, selalu meningkatkan kapasitas kemampuan dirinya agar bisa melakukan usaha terbaik, serta berikhtiar bathin melalui doa memohon ridho-NYA, kemudian menyerahkan hasilnya pada Tuhan YME.

Mereka yang bahagia itu, bukan berfokus pada banyaknya hasil yang diperolehnya, tetapi pada banyaknya rasa syukur atas apapun hasil yang diperolehnya.

Salam penuh syukur dan bahagia.

EKO JALU SANTOSO, Penulis buku Good Ethos, Pembicara Inspiratif Profesional, Email: ekojalus@gmail.com, www.ekojalusantoso.com

Cerdas Merespon Keadaan

GoodEthos people,
Setiap waktu kita selalu dihadapkan pada berbagai situasi keadaan yang datang menghampiri kita. Situasi keadaan itu bisa berbeda-beda dan seringkali bisa tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Bagaimana kita menyapinya ?

Pada dasarnya setiap keadaan yang datang itu belum bermakna apapun, sampai kita sendiri merespon dan memaknai keadaan itu. Jadi setiap situasi atau keadaan yang datang itu sesungguhnya hanyalah biasa saja alias tidak bermakna apapun, sampai kita memberinya makna. Maka cerdas dan bijaklah dalam menyikapi setiap situasi keadaan yang datang.

Sikap yang buruk dalam merespon situasi keadaan yang datang, bisa mengakibatkan sesutu yang mudah menjadi masalah yang rumit dan pelik. Demikian sebaliknya sikap positif dan benar dalam merespon suatu keadaan, bisa menjadikan situasi sesulit apapun menjadi lebih mudah.

Bagai seorang penjual es, musim hujan tentu bisa dianggap menjadi kesulitan bagi barang jualannya. Tetapi sebaliknya bagi penjual payung, musim hujan bisa jadi berkah bagi jualan payungnya. Meskipun hujan itu sesuatu yang biasa saja, tetapi bisa memiliki makna yang berbeda, karena sudut pandang yang berbeda.

Sahabat yang baik, mari kita selalu memiliki sudut pandang yang positif terhadap situasi yang datang. Cerdas dan bijak dalam menyikapi setiap keadaan yang datang. Berusahalah selalui menemukan sisi positif dan hikmah positif dari setiap situasi keadaan yang datang. Perhatikan, hasilnya adalah kemudahan-kemudahan dan kesempatan yang lebih baik.

GoodEthos quote:
“Cerdaslah dalam menyikapi situasi keadaan yang datang. Karena sikap yang buruk dalam merespon suau keadaan, seringkali menjdikan lebih buruk dari keadaan itu sendiri.”

Salam Etos Mulia,
Eko Jalu Santoso

Realisasikan Rasa Syukur

Good Ethos People,
Saat bangun di pagi hari, kemudian mengucapkan rasa syukur kepada Allah itu merupakan bentuk ucapakan terimakasih kepada Allah Sang Pemberi Hidup yang masih memberi kesempatan kepada kita. Ucapak rasa syukur itu adalah perbuatan yang baik.

Meskipun demikian, lebih mulia lagi adalah kalau kemudian tidak hanya berhenti dalam ucapan lisan semata. Rasa syukur dalam ucapan itu kemudian diwujudkan atau direalisasikan dalam tindakan dan perbuatan nyata hari itu. Bentuk realisasi rasa syukur itu diantaranya adalah:
Bersemangat dan ceria menyambut aktivitas hari itu,
Bergairah untu melakukan tindakan-tindkan positif dan terbaik pada hari itu,
Memiliki semangat dan motivasi kerja tinggi,
Mengoptimalkan waktu yang dimiliki untuk hal-hal positif dan kebaikan,
Mengaktualisasikan segenap potensi diri yang dimilikinya untuk menghasilkan karya terbaik,
Membelanjakan rezeki yang diperolehnya di jalan yang diridhoi Allah,
Menggunakan nikmat sehat dan iman untuk meningkatkan ibadah sebagai bekal masa depan.

Itulah sebagian bentuk merealisasikan rasa syukur dalam tindakan dan perbuatan. Karena menyadari benar anugerah waktu dan kesempatan yang diberikan dari Allah Sang Penguasa Kehidupan. Menyadari benar, bahwa waktu yang benar-benar pasti dimiliki itu adalah hanya hari ini, sedangkan esok hari adalah harapan kepada Allah agar tetap diberi kesempatan.

Selamat berkarya sahabat semua dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan hati.

Salam Etos Mulia.

Komunikasi itu Mendengarkan

NGOPI MOTIVASI
Ngobrol pagi motivasi
by Eko Jalu Santoso

#29. Komunikasi itu mendengarkan

Banyak masalah dalam pekerjaan, bisnis maupun keluarga itu muncul karena adanya kesalahpahaman. Pada sisi lain banyak masalah atau kesulitan bisa dengan mudah terselesaikan karena adanya kesepahaman. Kesalahpahaman maupun kesepahaman, keduanya kuncinya ada dalam baik dan buruknya dalam berkomunikasi.

Komunikasi itu intinya adalah membangun kesepahaman. Sedangkan dalam membangun pemahaman, itu memerlukan kemampuan saling mendengarkan. Dengan demikian dalam berkomunikasi, kemampuan mendengarkan itu memiliki nilai penting agar terbangun adanya kesepahaman.

Catatan penting:
“Inti komunikasi yang baik itu bukan sekedar pandai bicara, melainkan lebih dari itu diperlukan kepandaian untuk mendengarkan.”

Mendengarkan disini bukan sekedar untuk menjawab atau bereaksi, melainkan mendengarkan untuk memahami lebih dahulu, baru kemudian berbicara.

Karenanya mari terus tingkatkan kemampaun mendengar lebih baik agar mampu memahami lebih dahulu, baru kemudian berbicara. Itulah prinsip membangun komunikasi yang baik.

Salam Etos Mulia.

Reaksi Emosi

by Eko Jalu Santoso

Pagi itu Anton sudah mempersiapkan diri menggunakan baju terbaik pilihannya, karena akan mengadakan presentasi di kantor clientnya. Ketika sedang makan pagi, tiba-tiba tanpa sengaja anaknya yang masih TK menyenggol gelas susu di meja dan tumpah mengenai bajunya. Anton marah dan mengucapkan kata-kata agak keras kepada anaknya.

Anaknya menjadi kaget dan ketakutan sehingga menangis dengan keras. Karena merasa kesal, Antonpun menegur istrinya dengan ucapan agak keras juga, karena dianggap tidak meletakkan gelas pada tempatnya. Istrinya yang merasa sudah sibuk dari pagi menyiapkan makan pagi dan meletakkan gelas dengan benar menjadi tersinggung dengan teguran Anton. Akibatnya suasana makan pagi yang tenang berubah menjadi sebuah keributan. Anaknya semakin ketakutan dan menangis semakin keras
dan tidak mau berangkat sekolah.

Demikianlah, kejadian tumpahnya gelas susu mungkin tidak dapat kita kontrol. Tetapi reaksi yang akan kita lakukan sepenuhnya dibawah kendali kita. Kita dapat memilih apakah akan bereaksi emosional atau memilih mengendalikan reaksi emosi dengan bijaksana. Semua rekasi itulah yang akan mempengaruhi kejadian hidup kita selanjutnya.

Setiap emosi sesuai dengan sifatnya membawa pada salah satu dorongan hati untuk bertindak, itulah pentingnya melawan dorongan hati yang dikendalikan emosi. Ini merupakan akar dari segala kendali emosional dalam diri kita.

Dalam hidup ini, sembilan puluh persen keadaan yang datang adalah hasil reaksi yang bisa kita kontrol dari hati dan pikiran kita dan sisanya yang sepuluh persen adalah diluar dari kendali kita. Mengontrol reaksi kita, berarti dapat mengendalikan emosi kita, sehingga kita akan tetap berada dalam lingkaran menjadi orang baik dan bijaksana.

Namun bila kita tidak dapat mengontrol reaksi kita, kemudian dikendalikan oleh emosi kemarahan, benci atau dendam, iri, dengki, maka kita bisa terlempar dari lingkaran orang baik masuk kedalam lingkaran orang yang tidak baik. Akibatnya kebahagiaan, ketenangan ataupun bahkan rejeki menjadi semakin sulit mendekati kita, kalau kita berada dalam lingkaran orang tidak baik.

Sebaliknya manusia yang dapat mengendalikan emosinya dan mampu memilih reaksi terhadap setiap keadaaan yang datang sesuai dengan suara hatinya, ia akan berada dalam lingkaran pengaruh orang baik dan bijaksana. Pada akhirnya orang-orang dalam lingkaran baik inilah yang akan meraih kemudahan, kebahagiaan, keberuntungan yang akan mengalir seperti arah aliran angin. Karena kebaikannya mampu membuka pintu-pintu kran rejeki, keberuntungan dan kemudahan dalan hidup.

Mengendalikan emosi berarti dapat menjaga keselarasan antara perasaan dan lingkungannya. Kemampuan seperti ini memiliki nilai sangat penting bagi peningkatan kualitas kepribadian seseorang menuju bijaksana. Bagaimana cara mengontrol reaksi emosi kita agar tidak berlebihan dan bijaksana, lebih detailsnya dapat dibaca dalam buku saya “HEART REVOLUTION, REVOLUSI HATI NURANI.”

Penghargaan (Apresiasi)

oleh: Eko Jalu Santoso

Pada dasarnya setiap orang merasa senang saat menerima penghargaan dari orang lain. Apakah itu penghargaan berupa materi seperti hadiah, bonus, insentif, atau dalam bentuk sertifikat, ucapan terimakasih dan bentuk pujian lainnya. Itulah mengapa banyak orang merasa bangga memamerkan sertifikat penghargaan yang diperolehnya, menunjukkan selembar surat khusus ucapan terimakasih dari konsumennya, atau selembar surat pujian dari atasan atau pimpinannya.

Sahabat profesional yang baik,
Kalau saat ini Anda dipercaya sebagai pimpinan, atasan, manager, supervisor atau apapun yang membawahi tim Anda, maka jangan segan memberikan penghargaan kepada anggota tim Anda. Berikan pernghargaan atas prestasi, pencapaian atau kinerja yang telah dilakukan oleh tim Anda. Sampaikan terimakasih kepada anggota tim Anda atas kemajuan pencapaian kinerjanya, misalnya. Berikan pujian dan apresiasi atas usaha-usaha yang telah dilakukan oleh anggota tim Anda. Bahkan sekalipun belum memberikan hasil yang baik, kalau hal itu sudah dilakukannya dengan sungguh-sungguh, maka berikan apresiasi atas usahanya itu.

Bagaimana memberikan penghagaan atau apresiasi kepada anggota tim Anda ? Anda bisa memberikan melalui bertemu langsung secara empat mata atau bisa melalui email, secara terbuka dihadapan anggota tim Anda lainnya, dalam bentuk tertulis atau dengan berbagai cara-cara kreatif lainnya. Anda bisa memberikan penghargaan dalam bentuk materi, hadiah, insentif, bonus, atau sekedar ucapan terimakasih dan pujian tulus lainnya.

Memberikan penghargaan itu berarti menunjukkan sikap Anda terhadap apa yang dilakukan oleh anggota tim Anda, menunjukkan seperti apa hasil yang Anda inginkan dari anggota tim Anda, serta menunjukkan apa yang menurut Anda penting dilakukan oleh mereka. Dengan umpan balik sikap menghargai seperti ini, karyawan atau anggota tim Anda akan memahami apa yang penting menurut Anda. Hal ini membuat anggota tim Anda tidak salah menafsirkan apa yang menurut Anda bisa diterima dan bernilai tinggi.

Pada dasarnya, setiap orang apapun posisinya, apapun tingkatannya, senang dan haus dengan penghargaan. Karena itu, kalau Anda sebagai pimpinan memberikan perhatian serta pujian yang tulus kepada anggota tim Anda atas pencapain kinerjanya, itu akan menjadian mereka merasa sangat dihargai. Mereka di-uwongke dalam bahasa Jawanya, sehingga bisa menyentuh sisi emosionalnya. Penghargaan seperti itu bisa membuahkan kebanggaan tersendiri bagi anggota tim karyawan Anda, bahkan kebanggaan di kalangan teman-teman lainnya. Hal ini bisa meningkatkan kebanggaan mereka terhadap perusahaan, terhadap organisasi dan juga kebanggaan mereka terhadap Anda sebagai pimpinannya.

Kebanggaan seperti itulah yang bisa mempertahankan semangat, motivasi dan etos kerja tinggi anggota tim Anda. Ketika karyawan menerima penghargaan atas prestasi atau pencapain kinerja yang dilakukan, maka merekapun akan bertindak dan berusaha mempertahankan citra positif yang telah berhasil diraihnya tersebut. Sebaliknya kalau mereka merasa telah melakukan usaha yang baik, namun tidak pernah diperhatikan alias tidak pernah mendapatkan penghargaan dari atasannya, lama kelamaan itu bisa melemahkan semangatnya, menurunkan motivasi dan etos kerjanya. Anda sebagai pimpinan tentu tidak mengharapkan penurunan motivasi seperti ini bukan ?

Pertanyaannya sekarang adalah, kapankah Anda terakhir kali memberikan penghargaan, baik berupa materi, barang, sertifikat, surat atau hanya sekedar ucapan terimakasih pada seseorang dalam jajaran anggota tim Anda ?

Kapankah Anda terakhir kali memberikan pujian yang tulus atas kemajuan pencapaian kinerja dari anggota tim karyawan Anda ?

Semoga bermanfaat. Salam GoodEthos.

10 karakter pribadi sukses mulia

Oleh: Eko Jalu Santoso

Ketika ditanyakan tujuan hidupnya, hampir setiap orang dari golongan manapun, agama apapun, bangsa manapun, selalu menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Sukses sudah menjadi tujuan banyak manusia, apapun pardigma sukses itu baginya. Namun apakah sukses itu dapat menjamin kemuliaan hidup seseorang ? Jawabannya, belum tentu. Kalau itu yang dimaksudkan kemuliaan hidup di dunia, mungkin bisa. Karena kemuliaan hidup di dunia bisa didapatkan dengan kekayaan harta. Namun kalau itu kemuliaan hidup dunia dan akherat, belum tentu. Karena kemuliaan hidup di akhirat hanya dapat diperoleh dengan ketakwaan kepada Allah swt.

Banyak diantara kita yang masih mempersepsikan arti kesuksesan hidup. Pandangan umum sebagian besar orang dalam mengukur kesuksesan hidup hanyalah dari segi materi, seperti memiliki kekayaan pribadi, memiliki jabatan yang tinggi, memiliki popularitas dan lain sebagainya. Mereka masih belum melihat pada sisi kemuliaannya. Padahal, materi baru dapat dijadikan tolok ukur sukses dunia saja, tetapi tidak dapat dijadikan tolok ukur seseorang itu meraih kemuliaan hidupnya. Materi tidak menjamin seseorang meraih kemuliaan, kalau dirinya tidak memahami keutamaan dari materi tersebut dengan benar. Kalau demikian memiliki cita-cita menjadi sukses saja belumlah cukup, karena belum dapat menjamin kemuliaan hidup di akherat. Untuk dapat menjamin kesuksesan di dunia dan akherat diperlukan sukses dan mulia. Ya, sukses mulia, siapa yang tidak ingin meraih sukses mulia ? Inilah cita-cita tertinggi banyak manusia. Mungkin cita-cita Anda dan termasuk saya masih terus belajar dan berusaha untuk dapat mencapai sukses mulia ini. Pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat mencapai pribadi yang sukses dan mulia ? Untuk mencapai kesana, kita perlu memahami bagaimana cirri-ciri pribadi Sukses mulia itu.

Beberapa yang dapat kami rangkum mengenai ciri-ciri pribadi sukses dan mulia adalah:

1. Pandai Membina Hubungan.

Tidak ada orang yang sukses tanpa mendapatkan dukungan dari orang lain.
Karena itu orang-orang yang sukses dan mulia, bukan hanya pandai dalam membina hubungan dengan orang lain, melainkan pandai meraih dukungan dari orang lain. Mereka adalah pribadi yang senang menyambung tali persaudaraan dalam setiap kondisi, menebarkan salam, memerhatikan urusan orang lain, memiliki sikap empati pada orang yang membutuhkan dan berusaha mengamalkan kebajikan. Mereka pandai dala membina hubungan dengan hati. Bagaimana membina relationship dengan hati ? Dalam buku saya “Heart Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo, salah satunya membahas dengan detail kiat-kiat Sukses membina relationshipo dengan hati. Mereka yang pandai membina hubungan dengan hati, setiap kehadiran dirinya menjadikan kenyamanan bagi orang lain, karena senantiasa menebarkan kebajikan bagi sesama. Hasilnya banyak orang yang senang dan mendukungnya. Inilah yang dapat mengantarkan dirinya meraih Sukses dalam karier dan kehidupan bisnisnya.

2. Senang Menuntut Ilmu

Salah satu ciri pribadi Sukses mulia adalah senang menuntut ilmu dan mengamalkan > ilmunya untuk kebaikan bagi orang lain. Ia meyakini memiliki ilmu pengetahuan dapat mengantarkan dirinya meraih sukses dan kemuliaan hidup. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

3. Beriman kepada Allah SWT

Ciri lain yang sangat mononjol pada pribadi orang yang sukses dan mulia adalah memiliki keyakinan keimanan kepada Allah SWT. Mereka senantiasa menghadirkan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa dalam setiap aktivitas kehidupannya. Tidak pernha meninggalak perintah-perintahny a dan dalam karier, Bisnis dan kehidupannya tidak melanggar syraiat yang ditetapkanm oleh Allah. Mereka senang mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dengan kesabaran.

4. Berakhlak Yang Baik

Pribadi Sukses mulia memiliki akhlak dan perilaku yang baik. Mereka dapat menjadi teladan dalam kebajikan dan khlak mulia. Akhlak itu tempatnya ada di dalam hati. Ia adalah “pusat komando” perilaku manusia atau penentu baik-buruk perilaku seseorang. Kalau hatinya bersih, maka akhlaknya dijamin baik. Dengan demikian kejernihan hati adalah > fondasi penting bagi akhlak yang baik. Mereka yang berakhlak baik, memiliki sifat pemaaf, suka mengajak kepada kebenaran, penuh kasih sayang, suka berlindung hanya kepada Allah SWT.

5. Berpikir dan Bersikap Positif

Berpikir, bersikap dan bertindak positif adalah salah satu ciri pribadi yang sukses mulia. Dalam menyikapi banyak hal dalam kehidupan yang datang kepadanya selalu mengarahkan hati dan pikirannya pada sisi positif. Menghindari prasangka negative, baik dari dalam hati maupun dalam ucapan dan tindakan. Memandang positif setiap kejadian yang datang. Tindakannya selalu mengandung kebajikan, membuat orang lain senang, atau tidak menyakiti hati orang lain. Pembicaraannya selalu baik, kata-katanya santun, lemah-lembut, yang dilandasi kejujuran dan kebenaran atau “shidqi ”.

6. Sikap Rendah hati

Pribadi Sukses mulia adalah pribadi yang rendah hati atau tawadhu’. Memiliki perasaan lemah dan kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar. Menyadari bahwa dirinya adalah “hamba” atau abdi Allah semata. Sifat ini akan membuat seseorang tidak berlaku sombong, tidak memandang dirinya paling benar, tidak berlaku arogan dan mampu mengendalikan ego dalam dirinya. Apapun posisinya saat iin, kekuasaan yang dimilikinya, harta kekayaan yang dimilikinya, jabatan tinggi yang dipegangnya, menyadari semuanya datangnya dari Allah swt. Maka ia hanya menggunakannya untuk kepentingan mengabdi kepada Allah semata. Ia tunduk kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun kebenaran itu datang dari orang kecil sekalipun.

7. Kuat dan tahan banting

Ketujuh adalah memiliki sifat yang kuat dan tahan banting. Artinya memiliki ketahanan fisik dan mental yang tinggi, memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang kuat . Ketika menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan, tidak mudah putus asa dan tidak suka mengeluh. Tidak pernah berputus asa atas rahmat Allah. Berani menghadapi tantangan perubahan dalam kehidupan. Kuat juga bisa dimaknai unggul dan berkualitas.

8. Mengendalikan Emosi

Emosi adalah inti rahasia kebijaksanaan, demikian salah satu tulisan yang saya bahas dalam buku saya “Heart Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo dan beredar di Gramedia. Dalam salah satu bab buku tersebut secara detail dibahas bagaimana dapat mengendalikan emosi dan mampu mengubahnya menjadi energi positif bagi kesuksesan pribadi. Salah satu cirri pribadi Sukses mulia adalah pandai mengendalikan emosi . Emosi sesungguhnya sangat dekat dengan nafsu dan ego pribadi. Kalau hal itu diperturutkan dalam membawa malapetaka. Orang sedang emosi sebenarnya sedang dikuasai hawa nafsu dan eg pribadinya . Hal ini menutup hati dan pikirannya menjadi tidak jernih dan tidak bersih. Akibatnya a kalnya menjadi tidak berfungsi normal. Ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa, “ orang yang gagah perkasa bukanlah kuat bergulat, tetapi orang yang gagah perkasa adalah yang dapat mengendalikan nafsunya (dirinya) ketika sedang dilanda emosi marah.”

9. Bertumbuh Lebih Baik Setiap Hari

Senang mengembangkan kualitas dirinya untuk terus bertumbuh lebih baik setiap hari. Mereka mengikuti yang disabdakan oleh Nabi dengan selalu berusaha agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, agar dapat menjadi manusia yang beruntung. Inilah prinsip hidupnya baik dalam kehidupan sosial, spiritual maupun kehidupan profesionalnya, selalu berusaha meriah prestasi lebih baik setiap harinya.

10. Pandai bersyukur dan “Qana’ah”

Pandai bersyukur atas segala rahmat dna kenikmatan yang diterimanya dari Allah adalah ciri pribadi Sukses mulia. Merasa serba berkecukupan atau “Qana’ah” dengan rezeki dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang, damai di hati dan senantiasa pandai mensyukuri pemberian-Nya. Sikap demikian > tiak berarti melemahkan semangat dan motivasi untuk berprestasi lebih tinggi. Namun dapat menerima setiap hasil yang diperoleh dalam setiap tahapan proses dengan penuh rasa syukur, dengan terus berikhtiar untuk mengembangkan kualitas diri lebih tinggi.
Salam GoodEthos !!

Ilmu yang menerangi hati

Oleh : Eko Jalu Santoso

Dikisahkan ketika masih berguru menuntut ilmu, Imam Syafi’I RA seorang ulama muslim pernah mengeluh dan mengadukan suatu problematika kepada gurunya. Ia bertanya kepada sang guru, ”Wahai Guru, mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah dipahaminya?” Kemudian sang guru yang bijak, Imam Waki’ RA menjawab, ”Ilmu itu ibarat cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

Membaca kisah diatas, saya menjadi ingat dengan salah satu nasehat dari seorang guru spiritual yang mengatakan, “Orang yang memiliki ilmu pengetahuan hidupnya akan mulia.” Kalau dikaji lebih mendalam, apa yang dinasehatkan oleh guru spiritual ini, sesungguhnya sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam kitab suciNya, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Tentunya adalah orang yang menuntut ilmu dan ilmunya diamalkan untuk kebaikan.

Mereka ini kualitasnya akan terangkat, derajatnya akan ditinggikan dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Karena dengan ilmu pengetahuan, seseorang mampu menyelami hidup ini dengan penuh semangat dan optimistis. Dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu membuka tabir kegelapan, mampu memahami kebesaran Tuhan, sehingga diharapkan semakin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Dengan senang membagikan ilmu pengetahuan, berarti melepaskan energi positif kebaikan dan pada akhirnya akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi dirinya.

Dengan demikian, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi kesuksesan dan kemuliaan kehidupan kita. Menuntut ilmu artinya mengembangkan kemampuan nalar atau akal pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Dapat dilakukan melalui sekolah atau pendidikan formal yang utamanya untuk mengembangkan kemampaun berpikir atau IQ, maupun melalui berbagai sarana dan media pembelajaran lainnya. Bahkan begitu pentingnya, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata bahwa pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Kalau kita pahami, tentu belajar ke Cina bukanlah belajar tafsir atau agama, pasti adalah belajar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.

Bagaimana agar ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan miliki dapat menjadi Cahaya bagi hati kita ? Merujuk pada nasehat Imam Waki’ RA tersebut diatas, dalam menuntut ilmu atau belajar meningkatkan pengetahuan sebaiknya selalu dilandasi dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang kita miliki tidak akan meninggikan derajat kita, malah dapat merendahkan seseorang ke jurang kehinaan. Contohnya nyatanya dalam realitas kehidupan sekarang, akibat pengaruh sosial dan kapitalisme modern cenderung mendorong orang mengedepankan nilai-nilai materialisme. Maka mudah kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, berpendidikan tinggi, tetapi menggunakan ilmu dan kepandaiannya tidak sesuai jalan kebenaran yang disyariatkan Tuhan. Mereka yang hatinya tidak bersih, cenderung mengedepankan sifat-sifat serakah dan tamak terhadap nilai-nilai materialisme duniawi. Akibatnya mudah menggunakan ilmunya untuk memperturutkan keinginan nafsu dan ego pribadinya yang berlebihan. Melakukan korupsi, berbisnis dengan cara-cara tidak terpuji, melakukan suap, menipu orang lain dan merugikan banyak orang lain.

Dengan demikian memiliki hati yang bersih adalah landasan utama agar ilmu dapat menjadi Cahaya bagi hati kita. Sehingga ilmu pengetahuan itu dapat meninggikan kualitas hidup kita dan derajat kemuliaan kita. Dilandasi hati yang bersih, ilmu pengetahuan bukan hanya mengantarkan pada kesuksesan, melainkan dapat membentuk perangai manusia lebih bijaksana dan lebih mulia. Dalam karier, Bisnis maupun kehidupan dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan akhlak yang jelas-jelas tidak disukai Allah. Hanya dengan hati yang bersih ilmu akan mudah dipahami dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari sifat tamak, rakus dan serakah terhadap urusan duniawi dan tidak pernah digunakan menzalimi sesama.

SEMOGA BERMANFAAT. Salam Motivasi Sukses Dan Mulia.

Workshop on The 7 Good Ethos

Training yang membangun motivasi, kompetensi, attitude dan karakter pribadi. Menyeimbangkan antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual, yang akan membantu Anda menjadi profesional unggul berkarakter mulia.

One day Workshop on The 7 workshop2Good Ethos
7 Etos Kerja profesional Mulia,
Sebuah training yang tepat bagi SDM perusahaan Anda.

HOTEL HARRIS, TEBET JAKARTA
8 APRIL 2016
PUKUL 09.00 – 16.00 WIB

Fasilitator:
Eko Jalu Santoso
Book Author of Good Ethos, Motivator and Public Speaker
www.ekojalusantoso.com

INFORMASI & PENDAFTARAN:
Lumbung Kreasi : Ratih & Ira
Telp. 021 29386827
Mobile : 083806365468, 08111939981, 0838 94509000
Email: lumbungkreasi28@gmail.com; kuswiati_nuridja@yahoo.com
Web: www.lumbungkreasi.com

Hadirkan Keagungan TUHAN

“Manusia harus tahu bahwa di atas panggung kehidupannya sendiri, hanya Tuhan dan para malaikatlah yang menjadi pengamat.” (Francis Bacon)

Orang yang mencapai sukses baik dalam karier dan bisnis sangat banyak dan mudah kita temukan dalam lingkungan kita. Tetapi apakah mereka yang nampak luar berhasil mencapai sukses dalam kerja dan bisnis sesungguhnya sudah meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup ? Belum tentu, mungkin tidak semuanya demikian. Karena kenyataannya saya sering mendengar dan membaca di berbagai media kalau ada orang yang secara profesional meraih sukses luar biasa, nampak luar memiliki semua atribut kesuksesan, namun akhirnya hidupnya hampa dan ”unhappy ending”. Bahkan ada yang diberitakan hidupnya harus berakhir di penjara selama sisa umurnya atau akhirnya ada yang bunuh diri.

Ini menjadi bukti bahwa mengejar keberhasilan dengan ukuran materialisme semata tidaklah cukup. Lantas bagaimana agar keberhasilan yang kita raih dapat menjamin kebahagiaan dan kemuliaan ? Salah satunya diperlukan adanya keberkahan. Apakah keberhasilan yang dicapai itu dapat memberikan keberkahan hidup atau tidak. Keberkahan itu datangnya dari Allah Tuhan YME. Karenanya kalau ingin meraih keberhasilan yang memberikan keberkahan, hadirkanlah keagungan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan bisnis kita. Karena ketika seseorang menghadirkan keagungan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan kehidupan bisnisnya, artinya ia menundukkan dirinya dan mendekatkan dirinya hanya kepada Allah Tuhan YME.

Menghadirkan Tuhan dapat melahirkan motivasi yang dilandasi oleh nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan dari dalam hati. Melahirkan energi batiniah, melahirkan semangat mulia dalam bekerja, berbisnis dan berkarya. Pada akhirnya akan mengalirkan semangat keunggulan dan kemuliaan dalam diri kita. Melahirkan optimisme yang tinggi dalam menghadapi setiap tantangan, hambatan dan kesulitan dalam kegiatan karier dan bisnis setiap hari. Karena kita meyakini bahwa Tuhan selalu hadir dalam ruang kerja kita dan akan menjadi penolong terbaik kita.

Hadirkanlah Keagungan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan bisnis kita. Karena ketika kita meyakini Tuhan selalu hadir dalam ruang kerja kita, meyakini bahwa Tuhan dan malaikat sebagai pengamat kita, ini akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dalam setiap aktivitas kehidupan pribadi kita sehari-hari. Termasuk dalam kehidupan karier dan bisnis. Implikasinya adalah setiap pemikiran kita, setiap tindakan yang kita lakukan maupun setiap keputusan bisnis yang kita ambil, akan selalu dilandasi suara hati nurani terdalam.

Suara hati sesungguhnya adalah percikan sifat-sifat kemuliaan Tuhan. Dengan demikian setiap tindakan dan keputusan yang diambil berdasarkan suara hati, akan menghasilan tindakan dan keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai kemuliaan. Hasilnya akan tercipta suasana harmoni dalam lingkungan kerja dan bisnis, produktivitas semakin meningkat dan memiliki kesungguhan hati dalam melaksanakan tugas. Keberhasilan yang diperoleh dengan cara demikian, tentu akan memberikan kebahagiaan dan kemuliaan.

Salah satu cara menghadirkan keagungan Tuhan dalam ruang kerja kita adalah dengan selalu berdoa memohon bimbingan Tuhan dalam setiap memulai aktivitas pekerjaan. Ketika sibuk melaksanakan aktivitas kerja dan bisnis tidak menjadikan kita lupa melaksanakan ibadah kepada Tuhan dan mengakhirinya aktivitas senantiasa dengan doa dan syukur kepadaNya. Tentu ada banyak cara lainnya, intinya hadirkan selalu Tuhan dalam hati kita. Implikasi nyatanya dalam kehidupan kerja dan bisnis, melakukan berbagai tindakan yang sesuai dengani aturan etika, moralitas dan nilai-nilai spiritualitas yang bersumber dari dalam hati nurani. SEMOGA BERMANFAAT.(EJS).