Category: GOOD ETHOS

 

KEPEMIMPINAN YANG MENGINSPIRASI

KEPEMIMPINAN

Ada beberapa
type kepemimpinan.

Ketika orang
mengikuti Anda,
karena
terinspirasi oleh karakter,
nilai-nilai mulia,
ucapan dan tindakan
dan perilaku Anda,

itu berarti
Anda memiliki type
kepemimpinan yang
Menginspirasi.

Type pemimpin
yang menginspirasi ini
akan menjadi teladan
bagi anggotanya.

Nilai-nilai mulia
yang dianutnya dan
tindakan, ucapan serta perilakunya
akan menjadi panutan
bagi orang lain.

Inilah type
kepemimpinan tertinggi.
Tidak banyak
pemimpin yang bisa
mencapai level ini.

Salam Etos Mulia.
Eko Jalu Santoso

SDM SEBAGAI KUNCI UTAMANYA

Oleh: Eko Jalu Santoso

Harian Kompas 25 Oktober 2018 memuat berita ada 6 perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar 500 perusahaan terbaik dunia versi Forbes.

Inilah 6 perusahaan Indonesia yang mampu bersanding dengan berbagai perusahaan kelas dunia:
● Mandiri Bank
● BCA Bank
● Gudang Garam
● Telkom
● BNI 46
● BRI Bank

Dari apa yang disampaikan oleh para CEO 6 perusahaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa SUMBER DAYA MANUSIA merupakan kunci sukses utamanya.

Terungkap inilah beberapa fokus mereka dalam memberdayakan SDM nya, sebagaimana dikutip kompas:
● Membangun tim yang bekerja dengan bahagia, berpartisipasi dan produktif.
● Mengembangkan kesempatan jenjang karir lebih tinggi dan kemampuan kepemimpinan.
● Menciptakan suasana kerja kondusif, dihormati, dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan.
● Budaya kerja yang nyaman dan dinamis, mendukung iklim kerja kreatif, inovatif dan produktif.

Para CEO perusahaan tersebut sangat menyadari bahwa SDM adalah aset penting perusahaan.

Karenanya…

Mereka membangun dan memberdayakan SDMnya dengan mendidik, melatih, memotivasi dan menciptakan iklim kerja yang kondusif.

Hasilnya terbukti perusahaan makin berkembang besar dan bisa bersanding dengan perusahaan kelas dunia.

Sudahkah kita membangun team SDM yang kita miliki dengan baik ?

Apa pun kondisinya saat ini, kalau ingin berkembang, saatnya memulai fokus mendidik, melatih dan mengembangkan team SDM kita lebih baik.

Karena …

Semakin berkualitas team SDM kita, tentu kinerja organisasi dan produktivitas akan semakin baik.

SDM yang dihargai, dihormati, dikembangkan kariernya, ditingkatkan kemampuannya, akan semakin loyal, semangat dan bahagia dalam dalam bekerja.

SDM yang bahagia dalam bekerja, akan memacu kreativitas, inovasi dan produktivitasnya dalam bekerja yang lebih baik.

Team SDM yang memiliki etos kerja unggul inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi atau perusahaan.

Salam Etos Mulia.

TALENTA DAN KARAKTER PRIBADI

Oleh : Eko Jalu Santoso

Kebaikan adalah bentuk khusus dari kebenaran dan keindahan. Ia adalah kebenaran dan keindahan dalam bentuk perilaku manusia.
– H.A. Overstreet –

Seringkali seseorang lebih mengandalkan kecerdasan dan talentanya untuk meraih keberhasilan dalam karier maupun dunia bisnis. Sesungguhnya untuk menggapai kesuksesan dalam pekerjaan dan bisnis, bukan hanya diperlukan kecerdasan dan telenta yang kuat semata, melainkan juga harus ditambahkan memiliki karakter yang baik.

Memiliki kecerdasan dan talenta yang kuat semata, meskipun mungkin dapat mendukung keberhasilannya, namun belum menjamin keberhasilan yang penuh makna dan memberikan kemuliaan seseorang. Sebaliknya seseorang yang memiliki kecerdasan dan talenta yang kuat, serta didukung dengan karakter yang baik, keberhasilannya akan memberikan makna dan memuliakannya. Karena kekuatan kebaikannya tidak akan pernah bisa disembunyikan dari siapa pun. Karena kekuatan kebaikannya akan memancar keluar dan menarik banyak peluang-peluang bagus dan kemudahan mendekat.

Manusia yang berkarakter baik, artinya mereka memiliki keindahan dalam perilaku dan kebenaran dalam tindakan. Karena kebaikan itu sangat berhubungan erat dengan keindahan perilaku manusia. Karenanya selain memiliki talenta dan kecerdasan, berlakulah baik, bertindaklah mulia agar kekuatan kebaikannya memancar dari diri Anda.

Dalam praktik nyatanya dalam kehidupan pekerjaan dan bisnis misalnya, karakter yang baik dapat tercermin dari senantiasa mengedepankan perilaku kejujuran, bisa dipercaya, memiliki ketekunan, memiliki kepedulian atau empati, kerjasama yang baik, bertanggung jawab dan mengembangkan sifat-sifat kemuliaan yang bersumber dari dalam hatinya.

Cara terbaik dalam membangun kebaikan pribadi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan yang kita yakini dalam hati dalam setiap perilaku kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Kalau implementasinya dalam organisasi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain yg berhubungan dengan organisasi bisnis. Itulah cara terbaik dalam mengembangkan kebaikan pribadi dan dalam memperlakukan orang lain, apakah anggota organisasi, para pemasok, para konsumen maupun kepada calon pelanggan kita.

Untuk menjadi pribadi unggul dan sukses mulia dalam pekerjaan maupun dunia bisnis, teruslah mempertajam kecerdasan, mengasah talenta Anda dan mengembangkan karakter pribadi yang baik. Karena karakter pribadi yang baik kekuatannya tidak dapat disembunyikan dari siapapun. Inilah modal bagi kesuksesan dalam pekerjaan dan berbisnis, bahkan menjadi modal dalam mencapai kemuliaan dalam kehidupan. SEMOGA BERMANFAAT

Kerja bernilai ibadah

Seringkali manusia membuat dikotomi atau pemisahan antara urusan kehidupan duniawi dan urusan kehidupan akhirat. Mereka memisahkan antara kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis dengan kesuksesan kerohanian untuk urusan akhirat. Akibatnya terjadilah pemisahan kepentingan yang seringkali hanya menomorsatukan kesuksesan pekerjaan untuk keberhasilan dunia kemudian menomor duakan urusan kesuksesan ukhrawi atau akhirat.

Hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan gerak pekerjaan, bisnis dan urusan duniawi dengan kepentingan spiritualitas dan kerohanian. Bagaimana mungkin, karena hidup hanya melakukan pekerjaan dan bisnis hingga meriah kesuksesan dan prestasi duniawi, tanpa diimbangi kesuksesan spiritualitas adalah kehampaan. Demikian sebaliknya hidup dengan spiritualitas tinggi tanpa diimbangi dengan kesuksesan kerja atau bisnis adalah kehampaan. Keduanya haruslah berjalan seimbang dan bersinergi dalam mengisi setiap langkah kehidupan.

Kita meyakini hidup tanpa bekerja, berkarya atau berbinis adalah hampa. Namun persoalannya kemudian adalah bagaimana agar pekerjaan itu memiliki nilai bermakna tinggi ?. Bagaimana persyaratannya agar pekerjaan kita memiliki nilai ibadah ?.

Manusia adalah makhluk spiritual dan makhluk fisik di dunia ini. Sebagai makhluk fisik manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Dengan demikian ibadah kepada Allah tidak dibatasi makna ibadah hanya ritual secara spiritual semata. Tapi lebih dari itu, semua pekerjaan keduniawian bisa memiliki arti ibadah. Artinya, dalam bekerja, berkarya, berbisnis bukan hanya materi yang bisa kita dapatkan, tetapi juga ridha dan pahala dari Allah SWT.

Pegawai yang bekerja di kantor, pedagang yang berkerja di pasar, petani yang bekerja di tanah pertanian, pengusaha yang berbisnis, pejabat pemerintahan, nelayan, semua pekerjaan bisa bernilai ibadah. Apakah kita sebagai pegawai biasa, manager, direktur, pejabat tinggi atau bahkan hanya seorang pembantu, semua posisi pekerjaan itu bisa bernilai ibadah. Tentu saja ada syarat-syaratnya agar pekerjaan yang dilakukan dapat memberikan nilai sebagai bagian dari ibadah. Bagaimana syarat-syaratnya ?

1. Tidak Melanggar Syariat Allah. Berusahalah memilih pekerjaan yang tidak melanggar aturan-aturan Allah. Dengarkan suara hati terdalam dalam memilih bidang pekerjaan, karena suara hati sesungguhnya percikan dari sifat-sifat mulia Allah.. Mereka yang memilih pekerjaan berdasarkan suara hatinya, tidak akan terjerumus dalam pekerjaan yang tidak halal dan diharamkan oleh agama.

2. Dilandasi Niat Kebaikan dan Keikhlasan. Berusahalah menjalankan pekerjaan hanya dilandasi oleh niat kebaikan dan keikhlasan hati. Pekerjaan yang dilandasi niat kebaikan dan keikhlasan hati, akan dapat mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai spiritualitas kebenaran, seperti transaksi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, menipu, merugikan orang lain, menjual narkoba, dll.

3. Menafkahi Keluarga. Bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Bahkan bekerja juga untuk memakmurkan bumi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Dengan demikian, jangan berniat bekerja untuk menumpuk harta, riya’, bermegah-megahan, atau sekedar ingin dihormati orang lain.

4. Tidak melailaikan Ibadah Kepada Allah. Rutinitas dan kesibukan dalam pekerjaan atau bisnis, jangan sampai membuat kita lalai dan meninggalkan ibadah ritual kepada Allah. Artinya kita dapat menyeimbangkan antara kepentingan pekerjaan dengan kepentingan spiritualitas ibadah kepada Allah.

5. Mengamalkan ilmu. Berusahalah bekerja untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki agar memberikan manfaat kepada banyak orang. Mengamalkan ilmu adalah melepaskan energi kebaikan kepada orang lain. Berusahalah membagikan ilmu yang kita miliki agar memberikan banyak manfaat bagi kehidupan dan alam semesta.

6. Bekerja dengan profesional. Artinya melakukan pekerjaan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan dilakukan dengan cara-cara yang cermat dan cerdas, yang dibenarkan sesuai nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Kalau hal itu menuntut diri kita untuk mengembangkan diri dalam sikap dan perilaku, maka lakukanlah. Kalau diperlukan peningkatan ilmu dengan tambahan pendidikan atau kurus, jalankanlah.

Beberapa hal diatas mungkin dapat menjadi bahan renungan mendalam bagi kita semua, agar senantiasa berusaha menjadikan setiap pekerjaan memiliki nilai ibadah, memberi keuntungan materi dunia, dan untuk kepentingan akhirat. Ukuran paling sederhana adalah kesucian niat dan keikhlasan melakukan pekerjaan, bertanggung jawab, senang berbagi kebaikan, menolong orang lain dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritualitas kebenaran yang abadi. Salam Motivasi Nurani Indonesia.

***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku “The Art Of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani”, Keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

Workshop on The 7 Good Ethos

Training yang membangun motivasi, kompetensi, attitude dan karakter pribadi. Menyeimbangkan antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual, yang akan membantu Anda menjadi profesional unggul berkarakter mulia.

One day Workshop on The 7 workshop2Good Ethos
7 Etos Kerja profesional Mulia,
Sebuah training yang tepat bagi SDM perusahaan Anda.

HOTEL HARRIS, TEBET JAKARTA
8 APRIL 2016
PUKUL 09.00 – 16.00 WIB

Fasilitator:
Eko Jalu Santoso
Book Author of Good Ethos, Motivator and Public Speaker
www.ekojalusantoso.com

INFORMASI & PENDAFTARAN:
Lumbung Kreasi : Ratih & Ira
Telp. 021 29386827
Mobile : 083806365468, 08111939981, 0838 94509000
Email: lumbungkreasi28@gmail.com; kuswiati_nuridja@yahoo.com
Web: www.lumbungkreasi.com

Langkah Membangun Integritas

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan luas dalam pekerjaan, sudah pasti kita akan bertemu dengan berbagai tipe dan karakter pribadi manusia yang berbeda-beda. Ada orang-orang yang dikenal memiliki sikap jujur, bisa dipercaya dan tidak pernah mengingkari apa yang dijanjikannya. Tetapi tidak jarang kita juga bertemu dengan orang-orang yang tidak jujur, suka berbohong, seringkali tidak menepati janji dan bahkan ada yang menghianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Padahal sebagian dari mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pendidikan yang baik dan bahkan mengaku sebagai seorang professional. Namun alangkah anehnya kalau seseorang yang mengaku dirinya sebagai professional, tetapi dalam kenyataannya ia tidak jujur, suka berbohong, melakukan manipulasi dan bahkan tidak bisa memegang amanah yang dipercayakan kepadanya.

Sikap tersebut adalah wujud dari cerminan rendahnya integritas pribadi seseorang. Integritas adalah kesetiaan pada prinsip atau nilai-nilai yang diyakininya. Integritas adalah perpaduan sikap komitmen, konsisten, berani dan dapat dipercaya. Sikap seperti ini muncul dari kesadaran diri terdalam yang lahir dari suara hati. Setiap orang perlu mengembangkan integritas pribadi, agar menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Kalau hal itu konsisten dilakukan maka akan dapat membangun integritas kelompok ataupun organisasi dimana ia berada. Pada gilirannnya akan dapat menyumbang kearah pembentukan integritas masyarakat secara luas.

Bagaimana mengembangkan integritas pribadi dalam karir ? Dalami buku “Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia”, yang diterbitkan Elex Media Komputindo, saya menyampaikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengembangkan integritas pribadi Anda, diantaranya adalah:

1. Bicara sesuai kenyataan

Untuk membangun integritas pribadi dalam pekerjaan, biasakanlah selalu berbicara hanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Hindari berbohong, menutup-nutupi dari kenyataan yang ada atau mengatakan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Memang diperlukan keberanian kita untuk mengungkapkan segala sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang ada, terutama pada hal-hal yang bisa saja tidak mengenakkan.

2. Penuhi Sesuai Apa Yang Anda Janjikan

Orang yang memiliki integritas selalu melakukan sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Inilah yang menjadikan Ia pribadi yang bisa diandalkan. Dengan demikian berusahalah untuk tidak mudah mengobral janji, khususnya janji yang tidak dapat Anda lakukan, agar terhindar dari tidak menepati janji. Lebih baik menjanjikan dengan apa yang bisa Anda lakukan, sehingga dapat menjadi pribadi yang selalu menepati janji.

Pribadi yang memiliki integritas ketika ia memberikan janji, ia sudah memperhitungkan hal itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia akan bersungguh-sungguh memenuhi apa yang sudah dijanjikannya kepada orang lain. Dalam aplikasi nyata dalam pekerjaan, berarti dituntut untuk senantiasa melaksanakan sesuai dengan komitmen yang sudah disampaikan, baik dalam hubungan dengan sesama rekan kerja, kepada atasan, kepada bawahan ataupun kepada supplier dan konsumen.

3. Satunya Perkataan dan Perbuatan.

Berusaha menjaga konsistensi atara perkataan dengan perbuatan. Dengan kata lain dapat melakukan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Bila diberikan kepercayaan atau amanah dan menyanggupinya, maka berusahalah menjunjung tinggi amanah yang telah dipercayakan tersebut. Menyatukan antara perbuatan dengan perkataan merupakan karakter terpuji. Jika dilakukan secara konsisten, pada akhirnya akan memiliki karaker terpuji dalam seluruh aspek kehidupan.

Membangun integritas pribadi memerlukan komitmen pribadi untuk dapat menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Dapat selalu menepati janji sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam perkataan dan tindakan. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah dapat memegang teguh amanah yang dipercayakan dari orang lain. Inilah yang akan membentuk karakter pribadi terpuji. Semoga bermanfaat. Salam Good Ethos.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos dan empat buku motivasi laris lainnya, serta pembicara inspiratif profesional. Follow twitternya: @ekojalusantoso Web: www.ekojalusantoso.com

The 7 Good Ethos Training

INTEGRITAS itu melahirkan kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain. Sedangkan PROFESIONALISME itu menjadikan seseorang bisa diandalkan dan dihargai kualitasnya. INTEGRITAS dan PROFESIONALISME adalah dua value utama yang harus dimiliki setiap karyawan agar berkembang dan memberikankontribusi kinerja tinggi bagi organisasi.

Bagaimana mempersiapkan SDM tim perusahaan yang memiliki Integritas dan Professional ?

————————————————–
One day Workshop on “The 7 Good Ethos”
“7 Etos Kerja Profesional Mulia”
Pelatihan yang tepat bagi SDM tim perusahaan Anda.

Hotel Sofyan Tebet, Jakarta
Jakarta, 18 Desember 2015
Pukul: 09.00 – 17.00 WIB
______________________________

Manfaat mengikuti Workshop ini:

Setelah mengikuti workshop ini, diharapkan para professional, manajer, supervisor dan para karyawan perusahaan Anda akan:
• Memahami makna luhur kerja sebagai motivasi dalam bekerja
• Memiliki kesadaran membebaskan belenggu hati yang membatasi mengembangkan nilai-nilai mulia.
• Memiliki motivasi tinggi, menjunjung tinggi integritas dan sikap mental profesional.
• Mampu meningkatkan produktivitas melalui bekerja cerdas, bekerja keras dan bekerja dengan hati (work smart, work hard, and work with heart).
• Mengerti apa yang benar-benar perlu dilakukan untuk membangun budaya unggul dan kinerja tinggi dalam organisasi.

Informasi singkat workshop ini:
Materi pelatihan dikupas tuntas dari Buku laris “GOOD ETHOS – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia” karya Eko Jalu Santoso dan diterbitkan PT. Elex Media Komputindo

Selama pelatihan Anda akan kami bimbing untuk mempelajari:

I. Intro & overview:

Positive attitude dan Etika di dunia kerja:
Meningkatkan self motivation, positive attitude dan mengembangkan Etika di dunia kerja untuk memenangkan persaingan global.

7 Karakteristik Profesional Unggul dan Mulia
Memahami apa itu profesionalisme, sikap mental professional dan karakteristik professional unggul dan mulia.

7 Makna Kerja sebagai sumber motivasi sukses bahagia
Apa saja tujuh makna kerja dan bagaimana menjadikannya menjadi sumber motivasi sukses dan bahagia dalam bekerja ?

I. Materi Utama: 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia

Etos- 1: Jujur dan Berintegritas:
Bagaimana langkah membangun etos jujur dan memgembangkan integritas pribadi yang sangat diperlukan bagi seorang karyawan dan pemimpin ? Bagaimana memaknai kerja adalah amanah dan aplikasinya dalam bekerja ?

Etos- 2: Cerdas dan Kreatif:
Memahami dan mengoptimalkan kinerja otak kanan (intuitif dan divergen) dan otak kiri (logis inteketual) untuk bekerja cerdas dan kreatif. Mengenali hambatan kreativitas dan bagaimana mendobrak belenggu kreativitas dalam diri. Membangun kebiasaan hidup cerdas melalui prinsip Learn, Re-Learn dan Un-learn. Bagaimana memaknai kerja sebagai bentuk aktualisasi diri dan aplikasinya dalam pekerjaan.

Etos- 3: Empati Penuh Peduli:
Bagaimana mengasah ketajaman hati, membangun sikap empati dan meningkatkan ketrampilan memahami kerangka pikiran orang lain. Meningkatkan kecerdasan empati dalam bekerja yang sangat diperlukan bagi seorang profesional ? Apa saja penerapan etos empati penuh peduli untuk customer service excellent ?

Etos- 4: Ikhlas Penuh Kecintaan:
Orang yang bahagia memiliki potensi sukses tiga kali lebih besar. Apakah pekerjaan Anda sudah menjadi sumber kebahagiaan dan apa saja ciri-cirinya ? Bagaimana menemukan passion dalam bekerja ? Bekerja itu Ibadah, bagaimana aplikasinya dalam dunia kerja, sehingga membawa sukses dan kebahagiaan ?

Etos- 5: Berpikiran Maju atau Visioner:
Bagaimana membangun sikap mental positif, semangat perubahan dan berpikiran masa depan yang sangat diperlukan bagi seorang profesional. Mengenai tiga tipe karyawan dan bagaimana menjadi pribadi visoner (tipe part of future) melalui prinsip vision, value and vitality.

Etos- 6: Mengutamakan Kerjasama atau Sinergisme:
Apa itu komunikasi sinergistik dan bagaimana mengembangkan prinsip 7 ketrampilan berkomunikasi efektif ?. Apa saja langkah-langkah praktis mendorong tim bekerjasama dan berkinerja tinggi ?.

Etos- 7: Disiplin Penuh Tanggung Jawab:
Memahami pentingnya disiplin dan langkah praktis membudayakan disiplin dalam diri. Tips meningkatkan produktivitas melalui manajemen waktu yang efektif. Bagaimana memaknai kerja adalah kehormatan dan mengembangkan budaya bekerja benar penuh tanggung jawab.

Target Peserta:
Para Eksekutif, Professional, Pimpinan, Manajer, Supervisor dan Staf Karyawan

Workshop dibawakan langsung oleh:

Eko Jalu Santoso
Seorang professional dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di level manajerial, penulis buku-buku motivasi, pembicara inspiratif professional, trainer dan motivator. Alumnus Universitas Gadjah Mada ini memiliki pengalaman luas dalam memotivasi dan menginspirasi banyak orang, baik melalui inhouse dan public training. Beberapa perusahaan besar telah mengundangkanya sebagai pembicara diantaranya, Muamalat Institute, Bank Muamalat Indonesia, Yayasan Toyota dan Astra, PT. Nasmoco, PT Kasana Teknindo Gemilang, PT Sistem Maju P, Lembaga Penyaluran Dana Bergulir (LPDB) – KUMKM, Direktorat PUI Kementan RI, Ditjen P2HP Kementrian Pertanian RI dan beberapa perusahaan lainnya.

Materi pelatihan yang sering dibawakannya adalah, Good Ethos Motivation for Excellent, The 7 Good Ethos Training (7 Etos Kerja Profesional Mulia), Life Balance Ways for Happiness (Keseimbangan Hidup dan Kerja untuk Sukses Bahagia), Creativity Thinking (Berpikir Cerdas dan Kreatif) dan lainnya, telah mengusik hati, mempengaruhi pola pikir dan memikat banyak orang.

Buku-buku karyanya, telah menggugah dan mengubah hidup banyak orang :
1) The Art of Life Revolution (2007)
2) Heart Revolution, Revolusi Hati Nurani (2008)
3) The Wisdom of Business (2009)
4) Life Balance Ways (2011) dan
5) Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik & Mulia (2013)

Investasi:
Normal : Rp 1.750.000,- per peserta
Earlybird : Rp 1.500.000,- (bila daftar dan bayar 2 minggu sebelum pelaksanaan)
Corporate : Rp 3.750.000,- (bila mengirimkan 3 orang dari 1 perusahaan)
Investasi tidak termasuk PPn dan Pph 23
Sudah termasuk training kits, Materi dalam bentuk Hard Copy & Soft Copy, Lunch, Coffee Break dan Sertifikat.

Biaya Workshop dapat ditransfer ke:
Bank Bukopin Cab. MT. Haryono No. Rek. 1000 112 425 an. PT. Multikreasi Edutama

INFORMASI & PENDAFTARAN:
Lumbung Kreasi : Ratih & Kuswiati
Telp. 021 29386827
Mobile : 0822 98300847, 0838 94509000
Email: ratih@lumbungkreasi.com; kuswiati_nuridja@yahoo.com
Web: www.lumbungkreasi.com

“Mengingat tempat terbatas, segera daftarkan diri anda beserta tim perusahaan Anda sebelum tanggal 12 Desember 2015!!”

1workshop18des15

Tingkatkan Kecakapan Empati

”Berempatilah agar lebih memahami perasaan, pikiran dan kepentingan orang lain. Bersimpatilah agar lebih peka dan peduli membantu kesulitan orang lain.”
~Buku Good Ethos, halaman 101.

Ketika diundang sebagai pembicara motivasi di perusahaan-perusahaan, salah satu topik yang saya bahas adalah membangun kecakapan empati. Mengapa kecakapan empati menjadi poin penting untuk dibahas ? Karena salah satu ciri profesional berkarakter mulia itu adalah memiliki kecakapan empati tinggi.

Pribadi yang memiliki etos mulia dalam bekerja senantiasa mengedepankan sikap empati penuh peduli. Mereka tidak bekerja demi kepuasan diri sendiri saja tanpa memiliki kepedulian pada lingkungannya. Tetapi mereka bekerja penuh empati dan kepedulian pada sekitarnya, seperti lingkungan kerja, masyarakat dan lainnya.

Sikap empati sejatinya adalah upaya konsisten seseorang dalam mendengar, melihat dan memahami dari sudut pandang orang lain, kemudian mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut melalui kata dan tindakannya.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari tujuh ribu orang Amerika Serikat dan 18 negara-negara lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daniel Golemen menyatakan bahwa “kecakapan empati” atau kemampuan membaca perasaan orang lain memiliki manfaat menjadikan seseorang lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional, lebih popular, lebih peka dan lebih mudah bergaul dengan orang lain. Unsur- unsur inilah yang akan semakin menghidupkan energi positif seseorang yang akhirnya dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam peerjaan dan kehidupan.

Kapasitas untuk menunjukkan empati merupakan kualitas intrinsik seseorang. Beberapa orang memiliki kapasitas empati yang lebih dibandingkan lainnya, sehingga lebih mudah mengembangkannya. Meskipun demikian setiap orang dapat mengembangkan derajat kecakapan empati yang diperlukan dalam bekerja dan kehidupannya.

Dalam buku Good Ethos ada beberapa kiat penting untuk melatih dan mengembangkan kecakapan empati seseorang, diantaranya adalah memiliki memiliki kemampuan mendengarkan untuk mengerti terlebih dahulu, sebelum ingin didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Itulah mengapa Stephen Covey seorang penulis dan motivator kelas dunia, secara khusus menaruh kemampuan mendengarkan sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti.

Let’s be very sensitive

Oleh: Eko Jalu santoso

Saya baru saja membaca memo dari Howard Schultz, CEO Starbuks yang dikirimkan kepada para stafnya tanggal 24 Agustus 2015. Memo ini dikirimkan menanggapi adanya gejolak pasar saham di Amerika serikat yang disebut sebagai “black monday”. Kondisi gejolak ekonomi ini membuat Howard Shultz segera mengirimkan memo kepada 190 karyawan Starbuck, dengan subjek pesan yang berbunya, “Let’s be very sensitive to the pressures our customers may be feeling”.

Pada hari pelanggan nasional hari ini 4 September 2015, saya tertarik mencermati isi memo Howard Shultz ini, yang mencerminkan sisi kepempinan yang penuh empati. Isi memonya, seperti di lansir oleh Business Insider adalah sebagai berikut:

“Saat ini telah terjadi volatilitas pasar keuangan, dikombinasikan dengan ketidakpastian politik baik di dalam negeri dan di luar negeri. Pasti akan memiliki efek pada tingkat kepercayaan konsumen dan mungkin sikap dan perilaku pelanggan,” tulisnya.

Kemudian Schultz melanjutkan tulisannya “Kecemasan dan kekhawatiran pelanggan kita cenderung mengalami peningkatan. Silakan menyadari hal ini dan selalu ingat bahwa kesuksesan kita bukan merupakan hak, tetapi sesuatu yang kita butuhkan untuk mendapatkan bayaran setiap hari. Mari kita menjadi sangat sensitif terhadap tekanan pelanggan yang dapat kita rasakan, dan melakukan segala yang kita bisa untuk individual dan kolektif melebihi harapan mereka.”

Membaca isi memo Howard Schultz diatas, sangat sejalan dengan prinsip etos ketiga dalam buku saya Good Ethos, yakni etos empati penuh peduli. Di saat situasi ekonomi sedang kurang baik seperti sekarang ini, apalagi daya beli masyarakat menurun, tentu konsumen atau pelanggan akan terkena dampaknya. Seorang pemimpin, manajer, supervisor yang ber-etos empati penuh peduli, segera memahami kondisi ini dan mengajak para staffnya untuk berempati dan mencoba lebih mengerti pelanggannya. Mengajak staffnya untuk melayani konsumen atau pelanggan baik secara invividu maupun secara kolektif lebih baik dan bahkan melebihi harapan mereka. Inilah yang disebut melayani dengan sepenuh hati dalam prinsip Good Ethos.

Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional hari ini, marilah kita menjadi lebih sensitive dan lebih memahami kondisi customer, konsumen ataupun pelanggan kita. Inilah momentum yang tepat untuk meningkatkan service ataupun pelayanan kepada customer, konsumen dan pelanggan kita. Harga terkadang bukanlah menjadi faktor utama, saat kita bisa memperbaiki service atau layanan yang melebihi harapan customer atau konssumen kita. Di tengah situasi ekonomi yang sedang sulit saat ini, jadikan pelayanan yang melebihi harapan adalah salah satu nilai keunggulan.

*) Eko Jalu Santoso adalah penulis buku laris Good Ethos, pembicara inspiratif professional dan founder Good Ethos Training & Motivation.

Melayani Dengan Hati

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Salah satu film favorite yang beberapa kali saya tonton adalah film Pretty Women. Selain menontonnya di gedung film, juga beberapa kali saya menonton lagi di rumah dengan DVD. Kali ini saya ingin mengambil salah satu adegan dari film Pretty Women ini sebagai pengantar yang tepat dari tulisan ini. Dalam salah satu adegan dikisahkan, Julia Roberts (sebagai salah satu pemeran utama film ini) pergi ke butik mahal untuk membeli pakaian. Melihat gaya penampilan dan pakaian murahan yang dikenakan oleh Julia Robert, penjaga toko mengacuhkannya dan tidak mau melayaninya. Bahkan mereka mengusirnya.

Mendapat perlakuan seperti ini, Julia lalu memberitahu kepada pacarnya yang kaya raya (diperankan oleh Richard Gere) akan hal tersebut. Richard Gere lalu membawa Julia ke butik mahal yang lain dan membelikannya begitu banyak pakaian mahal. Setelah itu, ketika hendak kembali ke hotelnya, Julia dengan menjinjing begitu banyak tas belanjaan dari butik mahal tersebut, mengunjungi toko tempat dia pernah diperlakukan dengan tidak menyenangkan dan bahkan diusir dari sana. Julia Robert lalu berkata pada sang pelayan tokonya, “Hai, saya datang ke sini kemarin dan Anda tidak mau melayani saya. Gaji Anda tergantung komisi bukan? Sayang, sayang sekali.”

Meskipun ini hanya kisah di film, tetapi dalam kehidupan nyata hal ini juga sering terjadi dan mudah dijumpai di lingkungan sekitar kita. Kita mungkin pernah mendengar orang yang menerima layanan yang tidak menyenangkan seperti yang dialami oleh Julia Robert ini. Atau bahkan diantara para pembaca ada yang pernah mengalami menerima layanan yang tidak standar seperti ini. Mungkin ketika menginap di hotel, berkunjung ke rumah makan, belanja di mall, belanja di butik dan lain-lainnya. Tentu sangat tidak menyenangkan kalau mendapatkan pelakuan yang demikian.

Pada sisi lain, sebagai professional, karyawan, pebisnis atau lainnya, tanpa kita sadari mungkin juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh petugas butik dalam film tersebut. Mungkin diantara kita pernah memberikan pelayanan yang tidak standar kepada customer atau pelanggan kita, memberikan layanan yang kurang menyenangkan sesuai harapan pada partner kita misalnya. Barangkali bukan hanya dalam hal sikap melayani, melainkan juga dalam hal kualitas produk, ketepatan waktu pemenuhan order, kecepatan pengiriman barang dan lain sebagainya. Mungkin juga kita pernah membeda-bedakan pelayanan kepada customer hanya atas dasar keuntungan yang akan kita peroleh, misalnya.

Sahabat professional mulia, pelayanan memiliki nilai penting bagi keunggulan. Persaingan yang semakin komplek di dunia bisnis, menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan. Setiap karyawan, manajer, pimpinan harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasan pelanggan. Organisasi atau perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan, tidak lagi mengizinkan seorang karyawan, supervisor, manajer ataupun pimpinan yang tidak memberikan pelayanan yang tidak standar. Karena karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi atau perusahaan. Itulah pentingnya pelayanan itu datangnya dari hati. Bukan berdasarkan pada penampilan pelanggan atau harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Martin Luther King pernah mengatakan, “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” Saya sangat sependapat dengan hal ini. Siapapun bisa menjadi hebat dengan memberikan pelayanan yang hebat dari hati. Artinya kekuatan melayani sepenuh hati dalam bekerja bisa menghebatkan seseorang.

Perhatikan para professional dan para pemimpin bisnis yang sukses, apa sebenarnya kunci keberhasilan mereka ? Anda akan menemukan salah satu kunci terpentingnya adalah kemampuannya mengembangkan mentalitas melayani dengan hati pada bidang profesinya. Demikian juga dalam skala organisasi atau perusahaan, perhatikan perusahaan yang dapat maju berkembang pesat ? Apa sebenarnya kunci keunggulannya ? Salah satu kuncinya adalah dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada para pelanggannya. Itulah mengapa banyak perusahaan yang kemudian mengangkat tema “kepuasan pelanggan.” Karena organisasi atau perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan, niscaya akan lebih mudah berkembang.

John Mackey, seorang pendiri Whole Food Market di Amerika Serikat mengatakan, “ Bagi kami stakeholder yang paling penting bukan pemegang saham, namun pelanggan.” Mengapa demikian ? Karena sesungguhnya kalau kita sebagai karyawan misalnya, penghasilan yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari pemimpin perusahaan atau pemegang saham. Kalau kita sebagai pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari pelanggan. Itulah mengapa kepuasan pelangganlah yang utama, sebab tidak ada pelanggan tidak ada keuntungan.

Membudayakan etos melayani dengan hati tidak dapat ditawar lagi, kalau kita ingin meraih kemajuan. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Anda akan mendapatkan yang terbaik dari orang lain, kalau Anda memberikan yang terbaik dari diri Anda.” Pandangan ini sesungguhnya sudah diajarkan oleh para guru spiritual kita sejak dulu yang senantiasa mengajarkan untuk berbagi kebaikan pada orang lain. Karenanya pelayanan itu sebaiknya datangnya dari hati. Semoga kita bisa terus belajar dan mengembangkan etos melayani dengan hati. Salam Good Ethos !.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso.

Profesionalisme & Karakter Pribadi Baik

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Dalam sebuah kesempatan berbagi motivasi di salah satu perusahaan alat-alat berat di Jakarta Barat beberapa waktu lalu, salah seorang peserta training sempat menanyakan apa perbedaan antara etos kerja terbaik dan mulia dalam Good Ethos dengan etos kerja pada umumnya. Menjawab pertanyaan peserta training ini, saya memulai penjelasan dengan apa perbedaan antara professionalisme dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia.

Kita mengetahui profesionalisme itu menyangkut dengan beberapa hal penting seperti, ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), pengalaman (experience) dan motivasi (motivation) atau semangat. Keahlian, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman itu seringkali disebut sebagai kompetensi atau kemampuan seseorang. Sedangkan motivasi atau semangat itu seringkali disebut kemauan seseorang. Perpaduan antara kompetensi atau kemampuan dengan motivasi atau kemauan itulah yang akan menghasilkan seorang professional yang memiliki kinerja tinggi.

Profesionalisme bisa mengantarkan pada kesuksesan baik dalam karir maupun bisnis, tetapi belum menjamin kesuksesan yang bermakna dan membahagiakan. Tanpa dilandasi karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia, professionalisme semata hanya akan menghasilkan para karyawan, pimpinan atau kaum profesional yang berkinerja tinggi, memiliki kecerdasan intelektual yang baik, tetapi belum tentu cerdas secara moral dan spiritual. Akibatnya kecerdasannya bisa disalahgunakan hanya untuk kepentingan pribadi, memperdaya orang lain atau bahkan merugikan negara. Inilah yang sering kita temui sekarang ini, banyak kaum professional yang memiliki prestasi dan karir cemerlang, tetapi akhirnya terjerumus dalam berbagai kasus hukum. Mereka memiliki prestasi dan karir professional yang mengagumkan, tetapi tidak berakhir dengan kebahagiaan. Banyak yang kemudian tersandung berbagai kasus dan menjeratnya masuk penjara.
Sedangkan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia itu tercermin melalui sikap dan perilaku seseorang. Artinya mereka yang berkarakter pribadi baik akan memiliki keindahan dan kebenaran dalam sikap dan perilakunya. Karena kebaikan itu sangat erat dengan keindahan sikap dan perilaku manusia. Dalam kehidupan pekerjaan hal ini akan tercermin melalui sikap yang bijaksana, jujur, bisa dipercaya, memiliki integritas, konsisten dalam kebaikan, empati penuh peduli, pandai bekerjasama dan bertanggungjawab. Perpaduan berbagai sikap dan perilaku mulia inilah yang menghasilkan seorang pribadi yang berkarakter baik.

Namun karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia semata, kalau tanpa disertai dengan profesionalisme, hanya akan menghasilkan pribadi yang cerdas secara moral dan spiritual, tetapi belum tentu memiliki kinerja yang baik. Mereka adalah orang-orang baik tetapi tidak memiliki kompetensi yang bisa diandalkan untuk meraih keberhasilan. Yang demikian tentu belum membuahkan hasil yang optimal.

Dengan demikian, keberhasilan dalam karir dan bisnis yang penuh makna dan membahagiakan itu bukan hanya ditentukan oleh professionalism semata. Bukan hanya ditentukan oleh talenta, bakat, pengetahuan dan motivasi yang baik yang dimiliki seseorang, melainkan juga harus disertai dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Kecerdasan, talenta dan motivasi yang kuat itu hanya akan mengantarkan pada keberhasilan yang bermakna dan membahagiakan, kalau dilandasi oleh karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Karena kekuatan kebaikan inilah yang akan memancar keluar menarik banyak peluang-peluang bagus mendekat.

Membangun karakter pribadi yang baik bisa dimulai dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang kita yakini dalam hati dalam setiap perilaku kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Implementasinya dalam organisasi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain yg berhubungan dengan organisasi.

Sahabat yang baik, professionalisme dan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia adalah keharusan yang tidak bisa dipisahkan, kalau kita ingin meraih kesuksesan karir dan professional yang bermakna dan membahagiakan. Karenanya, sangat penting untuk terus mengembangkan etos kerja terbaik dan mulia atau good ethos dalam diri maupun dalam organisasi. Etos kerja yang mengintegrasikan antara professionalisme dan akhlak mulia, sehingga dapat membawa Anda menjadi seorang professional unggul yang berkarakter mulia. Semoga bermanfaat dan salam Good Ethos.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos dan empat buku motivasi laris lainnya, serta pembicara inspiratif profesional. Follow twitternya: @ekojalusantoso

Konsep Diri Positif

Oleh: Eko Jalu Santoso

Saya mengenal seorang teman yang energik dan memiliki semangat positif. Dia selalu memiliki hal-hal positif untuk dikatakan kepada orang lain. Sebagai seorang kepala cabang sebuah bank swasta nasional, dia pernah ditempatkan di beberapa cabang di beberapa kota. Di setiap cabang dia diterima dengan baik oleh para karyawan, serta mendapatkan dukungan positif dari teman-temannya. Hasilnya setiap cabang yang dipimpinnya selalu meraih prestasi kinerja yang baik.

Saya penasaran dengan sikapnya yang selalu positif ini. Suatu saat ketika berbincang dengannya saya sempat menanyakan kepadanya, “Saya salut lho sama kamu, selalu semangat positif setiap hari. Bagaimana kamu dapat melakukan hal itu ?.” Teman saya inipun menjawab, “Ah itu sederhana saja…setiap pagi ketika bangun, aku selalu berkata pada dirinya, aku punya dua pilihan hari ini. Apakah aku dapat memilih dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang buruk. Dan aku selalu memutuskan untuk memilih dalam suasana yang baik.”

Sahabat profesional yang baik, setiap hari kita itu menerima lebih dari 60,000 pikiran yang masuk dalam diri kita. Itu menurut Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam The Aladdin Factor sebagaimana ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif. Begitu banyaknya pikiran yang berseliweran masuk setiap harinya ke dalam diri kita, sehingga diperlukan kepandaian kita untuk menyikapi dan menyaringnya. Ketika kita berorientasi positif, itu akan sangat memengaruhi keputusan kita untuk hanya memilih hal-hal positif yang datang dalam diri kita. Demikian sebaliknya, ketika seseorang berorientasi negatif, maka akan memengaruhi pilihan-pilihan negatif yang datang dalam dirinya. Inilah hukum akal bawah sadar, bahwa hukum akal bawah sadar membuat pikiran tertentu menyebar.

Setiap hal yang datang dalam diri kita tidak akan memiliki arti sama sekali sampai kita memberinya makna. Semua itu akan menjadi berarti positif atau negatif, sesungguhnya kita sendiri yang menentukannya. Kalau demikian, agar selalu dapat memberi makna positif pada hal-hal yang datang dalam diri kita, kuncinya milikilah konsep diri positif.

Konsep diri positif merupakan sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Konsep ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan seseorang mempersepsikan setiap keadaan yang datang dalam kehidupannya. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah mengarahkan perasaan dan pikirannya selalu kearah positif. Menangkap dan mempersepsikan setiap keadaan yang datang dengan pandangan positif. Demikian pula sebaliknya.

Pribadi yang memiliki konsep diri positif, pembicaraannya selalu baik, kata-katanya positif, santun dan mengandung kebaikan bagi orang lain. Senantiasa menghindari prasangka negatif dan tidak menyakiti hati orang lain. Setiap kehadirannya mengirimkan getaran-getaran positif bagi lingkungan sekelilingnya, sehingga mengaktifkan dunia sekelilingnya menjadi positif juga. Pada akhirnya cenderung menarik hasil yang positif juga.

Pribadi positif memiliki keyakinan tinggi dan tidak akan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Ia memberi usahanya perawatan dengan keyakinan positif dan tindakan yang positif. Hasilnya ia bisa karena ia berpikir bisa dan yakin bisa.

Memiliki konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam kehidupannya. Inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan karir, bisnis dan kehidupan. Nah, bagaimana dengan Anda?. Pilihannya ditentukan oleh diri Anda sendiri.