Author: ekojalusantoso

Book Author, Public speaker and Motivator
 

MENERAPKAN RUMUS BEKERJA CERDAS

Souce: Good Ethos Book
By Eko Jalu Santoso

Dua orang kakak beradik tinggal di kaki gunung terpencil yang kering dan kesulitan sumber air bersih.

Orang2 harus mengambil air ke puncak gunung atau membeli air bersih dari pedagang air yang mengambil air dari puncak gunung, bolak-balik setiap hari ke desanya.

Melihat keadaan itu, dua orang kakak beradik ini berpikir keras mencari solusi memindahkan air dari puncak gunung ke desanya.

Akhirnya munculah ide menggunakan saluran air dari bambu. Merekapun mulai mengumpulkan bambu, mengaitkan satu bambu dengan bambu lainnya untuk membuat pipa saluran dari gunung ke desanya.

Banyak penduduk desa yang mencibir dan meragukan pekerjaannya, tetapi mereka tetap meneruskan ide pekerjaannya.

Setelah puluhan hari merekapun berhasil mengalirkan air dari puncak gunung itu dengan sendirinya.

Sejak saat itu penduduk desa tak perlu lagi naik ke gunung dan tinggal berjalan menuju rumah kedua kakak adik ini.

Kedua kakak adik inipun mulai menikmati hasil kerja cerdasnya. Mereka menerima keuntungan pembelian air yang jauh berlipat dibanding pedagang yang bekerja keras mengangkut air.

Inilah ilustrasi bagaimana bekerja cerdas penuh kreativitas mampu memberikan hasil atau produktivitas yang berlipat dibanding hanya bekerja keras.

Itulah mengapa orang-orang yang bekerja cerdas penuh kreativitas seperti Anthony Robbins, Stephen Covey, bisa dibayar ribuan dollar hanya untuk 3 jam berbicara, misalnya.

Contoh lain di dalam negeri ada Ary Ginanjar, Hermawan Kartajaya dan lainnya yang mereka dibayar mahal untuk sekali seminar atau ceramahnya.

“Dalam era pengetahuan atau “knowledge society”, modal terbesar untuk memenangkan persaingan bukanlah kekuatan otot atau fisik, melainkan kecerdasan otak atau kecerdasan intelektual.”
~Eko Jalu Santoso (Buku Good Ethos)

Karena itu penting memahami bagaimana rumus bekerja cerdas penuh kreativitas dan mampu menerapkannya dalam era persaingan sekarang ini, agar meraih keunggulan. Lengkapnya bisa dibaca di buku Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia.

Salam Good Ethos, Sukses Bahagia Mulia.

HIDUP ADALAH PANGGILAN MULIA

Oleh : Eko Jalu Santoso

Para ulama dan spiritualis seringkali mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Bukan berarti manusia adalah sempurna, karena kesempurnaan sesungguhnya hanyalah milik Allah semata. Namun manusia memiliki bekal paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki kesempurnaan dalam dimensi fisik, dimensi kecerdasan akal pikiran dan kecerdasan spiritual, yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lain.

Manusia memiliki lapisan otak neo-cortex yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berpikir rasional dan logis. Dengan kemampuan ini manusia dapat menjelajahi antariksa, menggali kedalaman Samudra, hingga menghasilkan berbagai karya luar biasa. Inilah yang disebut dengan kecerdasan intelektual atau “IQ”. Selain itu manusia juga memiliki otak limbik yang memiliki fungsi dalam kecerdasan emosional atau “EQ” dan kecerdasan spiritual “SQ” yang berperan besar dalam meningkatkan kebijaksanaan dalam hidup. Dengan kecerdasan ini manusia dapat memberikan makna bernilai tinggi dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Menyadari potensi ini, kita seharusnya percaya bahwa hidup adalah anugerah yang luar biasa. Hidup adalah karunia yang tak ternilai. Karenanya penting bagi kita untuk bangga dan memiliki kekaguman pada kehidupan kita maupun kehidupan orang lain. Penting bagi kita menyadari dan menggunakan potensi yang kita miliki untuk hal-hal luar biasa dan mulia. Penting bagi kita untuk mengeksplorasi diri, menemukan berbagai potensi keunikan dan bakat luar biasa dalam diri dan menggunakan untuk tujuan sukses dan kemuliaan.

Kehadiran manusia di dunia sesungguhnya mengemban amanah sangat mulia dari Tuhan. Karena manusia selain sebagai “abdi” dari Allah adalah penguasa di bumi ini. Sebagai penguasa, maka kehadiran kita tidak sekedar untuk kesejahteraan diri kita, tetapi juga untuk kesejahteraan orang lain dan alam semesta. Kita berkewajiban menggunakan segenap potensio untuk kesejahteraan kehidupan dan alam semesta. Inilah peran utama manusia sebagai pembawa rahmat bagi sesama kehidupan.

Penting bagi kita memastikan, apakah yang kita lakukan saat ini, pekerjaan, bisnis dan kehidupan sudah sejalan dengan amanah mulia ini. Penting menjadikan pekerjaan, bisnis ataupun kehidupan yang kita lakukan saat ini memiliki nilai dan bermakna bagi banyak orang. Dalam bekerja, berusaha dan berkarya tidak hanya selalu memikirkan diri sendiri, tetapi dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama kehidupan.

Dalam interaksi sosial, setiap pribadi tidak hanya dituntut untuk mampu mensejahterakan secara lahir, namun juga menjadi cahaya bagi batin dan spiritual bagi orang lain yang membutuhkannya. Inilah insan sejati yang dapat mengeksploitir kemampuan dirinya, baik kemampuan secara fisik, kemampuan intelektual, kecerdasan emosi sampai pada kecerdasan spiritualnya, agar bisa memberikan makna bagi kehidupan. Memberikan arti perbedaan bagi orang lain dan memberikan hasil karya terbaik bagi kehidupan dan bagi dunia.

Para ulama dan spiritualis selalu mengatakan bahwa kesuksesan sejati adalah diukur dengan sejauh mana kita mampu mengembangkan kemampuan diri kita untuk memberikan banyak manfaat bagi sesama kehidupan. Sejauh mana kita dapat memberikan kontribusi kebaikan yang tulus dan ikhlas bagi sesama kehidupan. Sejauh mana kita telah menempatkan hati yang “taqarrub” menuju kepada sifat-sifat Allah dalam setiap gerak kehidupan di dunia.

Sahabat, hidup adalah panggilan mulia dan agung. Kalau demikian, janganlah pernah berkeluh kesah dalam kehidupan. Janganlah pernah berputus asa ataupun membiarkan waktu kehidupan terbuang dengan sia-sia. Tetapkanlah visi yang agung yang dilandasi nilai-nilai kemuliaan dari dalam hati kita. Berikanlah perbedaan yang lebih bermakna, apakah itu ditempat kerja, dalam bisnis, maupun dalam aktivitas lainnya. Seimbangkanlah hidup Anda, agar menjadikan hidup kita lebih mulia dan bermakna.

Ingatlah, bahwa setiap diri kita adalah teladan bagi diri sendiri dan orang lain. Kalau prinsip ini sudah kita jadikan landasan hidup kita, maka setiap kehadiran kita, setiap hasil karya kita, seberapapun harta dan materi yang kita miliki, kekuasaan yang kita dapatkan, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang kita kuasai adalah semata-mata ditujukan untuk kemaslahatan umat sebesar-besarnya. Inilah karakter pribadi manusia yang sudah memahami amanah tertinggi hidupnya. Karena hidup adalah panggilan mulia.

Semoga Bermanfaat. Salam Etos Mulia.

ILMU YANG MENERANGI HATI

Oleh : Eko Jalu Santoso

Dikisahkan ketika masih berguru menuntut ilmu, Imam Syafi’I RA seorang ulama muslim pernah mengeluh dan mengadukan suatu problematika kepada gurunya. Ia bertanya kepada sang guru, ”Wahai Guru, mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah dipahaminya?” Kemudian sang guru yang bijak, Imam Waki’ RA menjawab, ”Ilmu itu ibarat cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

Membaca kisah diatas, saya menjadi ingat dengan salah satu nasehat dari seorang guru spiritual yang mengatakan, “Orang yang memiliki ilmu pengetahuan hidupnya akan mulia.” Kalau dikaji lebih mendalam, apa yang dinasehatkan oleh guru spiritual ini, sesungguhnya sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam kitab suciNya, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Tentunya adalah orang yang menuntut ilmu dan ilmunya diamalkan untuk kebaikan.

Mereka ini kualitasnya akan terangkat, derajatnya akan ditinggikan dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Karena dengan ilmu pengetahuan, seseorang mampu menyelami hidup ini dengan penuh semangat dan optimistis. Dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu membuka tabir kegelapan, mampu memahami kebesaran Tuhan, sehingga diharapkan semakin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Dengan senang membagikan ilmu pengetahuan, berarti melepaskan energi positif kebaikan dan pada akhirnya akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi dirinya.

Dengan demikian, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi kesuksesan dan kemuliaan kehidupan kita. Menuntut ilmu artinya mengembangkan kemampuan nalar atau akal pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Dapat dilakukan melalui sekolah atau pendidikan formal yang utamanya untuk mengembangkan kemampaun berpikir atau IQ, maupun melalui berbagai sarana dan media pembelajaran lainnya. Bahkan begitu pentingnya, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata bahwa pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Kalau kita pahami, tentu belajar ke Cina bukanlah belajar tafsir atau agama, pasti adalah belajar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.

Bagaimana agar ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan miliki dapat menjadi Cahaya bagi hati kita ? Merujuk pada nasehat Imam Waki’ RA tersebut diatas, dalam menuntut ilmu atau belajar meningkatkan pengetahuan sebaiknya selalu dilandasi dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang kita miliki tidak akan meninggikan derajat kita, malah dapat merendahkan seseorang ke jurang kehinaan. Contohnya nyatanya dalam realitas kehidupan sekarang, akibat pengaruh sosial dan kapitalisme modern cenderung mendorong orang mengedepankan nilai-nilai materialisme. Maka mudah kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, berpendidikan tinggi, tetapi menggunakan ilmu dan kepandaiannya tidak sesuai jalan kebenaran yang disyariatkan Tuhan. Mereka yang hatinya tidak bersih, cenderung mengedepankan sifat-sifat serakah dan tamak terhadap nilai-nilai materialisme duniawi. Akibatnya mudah menggunakan ilmunya untuk memperturutkan keinginan nafsu dan ego pribadinya yang berlebihan. Melakukan korupsi, berbisnis dengan cara-cara tidak terpuji, melakukan suap, menipu orang lain dan merugikan banyak orang lain.

Dengan demikian memiliki hati yang bersih adalah landasan utama agar ilmu dapat menjadi Cahaya bagi hati kita. Sehingga ilmu pengetahuan itu dapat meninggikan kualitas hidup kita dan derajat kemuliaan kita. Dilandasi hati yang bersih, ilmu pengetahuan bukan hanya mengantarkan pada kesuksesan, melainkan dapat membentuk perangai manusia lebih bijaksana dan lebih mulia. Dalam karier, Bisnis maupun kehidupan dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan akhlak yang jelas-jelas tidak disukai Allah. Hanya dengan hati yang bersih ilmu akan mudah dipahami dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari sifat tamak, rakus dan serakah terhadap urusan duniawi dan tidak pernah digunakan menzalimi sesama.

SEMOGA BERMANFAAT. Salam Etos Mulia.

MEMIMPIN DIRI SENDIRI

Oleh: Eko Jalu Santoso

Belajar kepemimpinan itu sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana mengelola dan memimpin orang lain.

Tetapi,
yang utama justru dimulai bagaimana Anda belajar bisa memimpin diri sendiri dengan baik.

Karena seseorang tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik, kalau Ia belum bisa memimpin dirinya sendiri dengan baik.

Bagaimana memulai belajar memimpin diri sendiri ?

Tujuan Hidup
Pertama Anda harus memiliki tujuan hidup yang jelas. Bagaimana Anda akan memimpin orang lain dengan baik, kalau Anda sendiri tidak mampu menetapkan tujuan hidup yang jelas ?

Karena itu, mulailah dengan menetapkan apa yang menjadi tujuan hidup Anda. Peran terbaik apa yang ingin Anda lakukan dan manfaat apa yang ingin Anda bagikan untuk orang lain ?

Fokus pada Prioritas.
Selanjutnya Anda perlu memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Mulailah dengan fokus pada prioritas penting yang ingin Anda raih dalam hidup.

Disini diperlukan kapaindain Anda dalam
mengatur waktu dan mengontrol diri
dari godaan yang tidak penting dan hanya membuang waktu tidak berguna.

Belajar Disiplin
Mendisiplinkan diri sendiri bagian penting dalam memulai memimpin
diri sendiri.

Disini diperlukan komitmen diri untuk
meraih tujuan hidup Anda. Karena meraih
tujuan hidup yang bernilai itu memang memerlukan komitmen diri yang kuat dan kedisiplinan diri.

Rasa Percaya Diri
Tanamkan keyakinan dan rasa percaya diri pada kemampuan dan keunggulan yang Anda miliki. Meskipun demikiann tetaplah menjaga sikap rendah hati dan terus mau belajar mengembamgkan diri.

Salam EtosMulia.

IT’S TIME TO CHANGE

Oleh: Eko Jalu Santoso

Seorang member Motivasi Indonesia mengirimkan email ke saya berikut ini : ” Selamat pagi Pak Eko Jalu, saya anggota milis Motivasi Indonesia, sejak ada artikel mengenai Menjadi Orang Paling Baik, sampai sekarang saya selalu menyimpan dan membaca artikel-artikel Pak Eko Jalu. Saya senang sekali dengan artikel-artikel tsb, saya juga senang membaca buku-buku bapak.

Saya sangat terinspirasi dari artikel-artikel bapak dan saya juga senang memikirkan orang lain, bersama-sama teman-teman di lingkungan perumahan saya. Saya juga selalu berusaha bersyukur bahwa saya sudah punya rumah sendiri, punya istri dan anak yang lucu sekali, punya lingkungan kerja dan lingkungan rumah yang bisa menerima saya dan keluarga saya. Namun ada hal yang sangat mengganjal, saya merasa tidak ‘sukses’ dan telah ‘gagal’ selama ini. Pekerjaan saya statis selama 10 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti dan masih berada di posisi yang sama. Saya lulusan D3 Akuntansi, namun saya bekerja sebagai administrasi di suatu department engineering. Saya sudah berusaha optimal membantu dan berkarya di tempat kerja saya. Saya bekerja keras, meluangkan banyak waktu, bahkan kadang mengorbankan waktu keluarga dengan harapan dapat meningkatkan kehidupan saya, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan yang berarti. Nampaknya system karir & system kompensasi di perusahaan saya tidak mendukung. Sehingga kondisi ekonomi saya selalu ‘pas-pasan’ dan cenderung kurang. Hingga kini saya belum bisa membantu orang tua, selain hanya menghubungi lewat telpon.

Saya benar-benar ingin sekali mengubah keadaan saya, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana dan melakukan apa. Saya tidak mempunyai keahlian khusus, pengendalian emosi saya kurang baik, umur saya sudah 31 tahun, bilamana mencari pekerjaan baru harus bersaing dengan anak-anak muda yang lebih creative & productive. Saya mohon bantuan di sela kesibukan Pak Eko Jalu untuk sekiranya dapat memberikan pencerahan.”

Sahabat, mungkin masalah diatas tidak asing dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Mungkin ada diantara kita bahkan yang terjebak dalam situasi kehidupan yang sama seperti diatas. Kita seolah-olah sudah berusaha bekerja keras dengan harapan akan mampu mengangkat kehidupan kita ke taraf yang lebih baik, tetapi nampaknya tidak ada perubahan berarti. Semakin kita bekerja keras, semakin kita tidak mempunyai waktu, untuk diri kita sendiri maupun keluarga. Dan pada satu titik tertentu, mungkin kita akan merasa frustasi, karena semua kerja keras yang kita lakukan tidak bisa memberikan harapan seperti yang kita inginkan.

Sedangkan ketika kita menengok kehidupan orang lain, si Hendra teman kuliah dulu yang nggak pintar-pintar amat, kini sudah menduduki posisi Asisten Marketing Direktur, si Yanti yang dulunya lugu, kini sudah punya usaha boutik yang berkembang pesat, dll. Bahkan terkadang anak buah kita dulu, kini sudah melampaui posisi kita saat ini, entah dalam kehidupan karier maupun dalam kehidupan ekonomi. Kalau sudah demikian, kemudian kita merasa menjadi orang yang tidak sukses atau gagal.

Sahabat, kalau kita berada dalam situasi yang demikian, maka “It’s Time To Change and Focus on making a Great Future”. Ini saatnya untuk berubah dan fokus menciptakan masa depan yang lebih baik.
Pertanyaannya apanya yang harus diubah ?

Banyak orang berpendapat, bahwa berubah itu berarti berganti pekerjaan atau pindah perusahaan. It’s ok. Mungkin bagi beberapa orang hal ini bisa memberikan harapan lebih baik. Tapi mungkin bagi sebagian orang yang lain, ternyata hanya memberikan harapan semu sementara saja. Karena ternyata di perusahaan yang baru tersebut, setelah beberapa saat mereka menemukan hal-hal baru yang `menjebak’ mereka seperti kisah teman diatas. Lalu mereka mulai stress, dankembali terjebak dalam kehidupan yang semula.

Kalau demikian apanya yang harus diubah ?. Yang harus diubah adalah ‘diri kita sendiri’. Perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita, bukan dariluar.

Cobalah renungkan beberapa pertanyaan dibawah ini, mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang harus diubah dari dalam diri Anda :
– Bagaimana dengan cara kerja anda ? Sudahkah anda bekerja secara kreatif, efektif dan efisien ?
– Bagaimana dengan cara pandang anda terhadap pekerjaan ?
– Bagaimana Anda memaknai pekerjaan yang Anda lakukan saat ini ? Apakah anda berpikir bahwa pekerjaan yang anda lakukan adalah sebuah beban, ataukah sebuah kesenangan, atau menjadi bagian sumber kebahagiaan ?
– Apakah anda merasa sudah mentok dan tidak ada kesempatan untuk meningkatkan karier, Ataukah anda berusaha menciptakan kesempatan peningkatan karier itu, dengan prestasi kerja tertentu, misalnya ?
– Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana `pelit’nya perusahaan terhadap anda ataukah anda lebih suka memikirkan, bagaimana perusahaan anda bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi ?
– Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana rekan anda yang `pandai menjilat’ sehingga prestasinya melesat, Ataukah anda belajar, prestasi apakah yang telah dia ciptakan sehingga kariernya cepat maju ?
– Apakah Anda sudah berusaha meningkatkan diri, melalui berbagai kesempatan belajar dan training, misalnya ?
– Dan lain sebagainya

Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawab hal ini dengan jujur. Kalau kemudian Anda sudah menemukan berbagai jawaban itu dengan jujur, mulailah melakukan perubahan dari dalam diri Anda, sebelum mengharapkan adanya perubahan dari luar.

Saran untuk diaplikasikan dalam melakukan perubahan menuju masa depan yang lebih baik:
1. Tanamkan keyakinan bahwa sukses itu dimulai dari dalam hati dan pikiran kita sendiri.
2. Bayangkan atau imajinasikan dengan gambar yang jelas, jernih dan tajam keinginan yang ingin Anda raih dalam waktu 2-5 tahun yang akan datang. Jadikanlah impian ini menjadi sebuah tujuan kesuksesan Anda.
3. Tetapkan alasan yang kuat, mengapa anda menginginkan tujuan kesuksesan itu. Mengapa impian itu sangat penting bagi Anda. Memiliki alasan yang kuat, dapat menciptakan “Strong Desire”, motivasi yang tinggi untuk mencapainya.
4. Sincere Belief. Meyakini bahwa Anda pasti bisa mencapai tujuan impian kesuksesan Anda dalam 2-5 tahun mendatang.
5. Enthusiastic Action .Lakukanlah kegiatan dengan bersemangat dan kerjakeras. Salurkan seluruh energi dari dalam diri Anda untuk selalu fokus pada kegiatan yang ada hubungannya dengan pencapaian impian Anda tersebut.
6. Tawakal Kepada Allah. Imbangi setiap usaha lahiriah, semangat tinggi, kerja keras dengan usaha batiniah, senantiasa bertawakal dan memohon kepadaAllah. Karena Allah adalah pemilik kesuksesan.Selamat berjuangEtos Mulia

Salam Etos Mulia.

BERGERAKLAH DAN ANDA AKAN DIHARGAI

Oleh: Eko Jalu Santoso

Orang Jepang sangat menyukai mengkonsumsi ikan segar. Karena konsumsi ikan yang tinggi membuat para nelayan harus mencari tangkapan ikan sampai ke tengah laut. Akibatnya membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk kembali dengan haail tangkapan ikan. Sayangnya ikan-ikan hasil tangkapan itu keburu menjadi tidak segar lagi dan tidak laku di pasaran.

Para nelayanun kemudian menggunakan freezer di dalam kapalnya. Ikan-ikan hasil tangkapan itu dimasukan dalam freezer dan dibawa ke daratan. Sesampai di darat ikan pun kurang laku, karena ikan beku tidak sebagus ikan segar dan kurang disukai.

Merekapun berpikir mencari ide kembali, yakni menggunakan bak atau semacam kolam dan diisi dengan air laut. Ikan hasil tangkapan dimasukkan dalam kolam atau bak dan dibawa ke daratan. Awalnya ikan tetap hidup dengan berenang di dalam kolam, tetapi lama kelamaan kelehan dan malas berenang, dan sampai di daratanpun ikan ini harganya murah. Orang Jepang tahu membedakan ikan segar dengan ikan yang malas dan lemas.

Akhirnya ditemukan ide dengan memasukan dua ikan hiu kecil ke dalam kolam atau bak ikan tersebut. Dampaknya ikan-ikan terus bergerak, berenang kesana kemari karena dikejar-kejar oleh ikan hiu akan di mangsa sampai ke daratan. Sampai di daratan ikanpun dihargai mahal, karena ikan masih tetap segar dan disukai.

Sahabat, kalau ingin dihargai dan lebih bernilai, maka bergeraklah. Teruskan bergerak, jangan diam dan malas. Bergerak meningkatkan kualitas diri, bergerak menghasilkan karya-karya yang bermanfaat, bergerak meningkatkan potensi diri Anda. Bergeraklah terus untuk memberikan kemanfaatan bagi sesama. Mereka yang terus bergerak dan hidup dalam semangat dan motivasi tinggi, maka merekalah yang akan berprestasi dan dihargai.

Karena ini ciptakan hiu-hiu kecil di dalam diri Anda, agar Anda terus bergerak. Apa itu hiu-hiu kecil dalam diri kita ? Yakni dream atau impian yang akan kita raih.

Dream atau Impian
Tetapkan dream atau impian yang ingin Anda raih. Impian haruslah jelas, terukur dan memiliki taret waktu. Mereka yang mampu menetapkan impiannya dengan jelas, tajam, terukur dan memiliki target waktu mencapainya, akan lebih termotivasi untuk bergerak mengejar impiannya. Sebaliknya mereka yang hidup tanpa memiliki impian yang jelas, hanya akan menjalani hidup apa adanya, tidak berkembang dan hanya akan menjadi orang kebanyakan.

Action atau Tindakan
Setelah menetapkan impian yang jelas, segera ambil tindakan. Rencanakan dan lakukan tindakan fokus pada tujuan atau impian yang ingin diraih. Jangan biarkan godaan yang nampak menarik, tetapi sesungguhnya membelokkan dari impian Anda. Jangan pernah menyerah, terus cari cara terbak untuk mengejar impian yang sudah Anda tetapkan.

Hidupkanlah terus hiu-hiu kecil di dalam diri Anda. Itulah yang akan memotivasi Anda terus bergerak dan berkembang.

Salam Etos Mulia.

HIDUPI IKHTIAR DENGAN DOA

Oleh: Eko Jalu Santoso

“Rencana sudah disiapkan dengan baik, usaha juga sudah dilakukan dengan baik, tapi hasilnya masih jauh dari target juga….kurang apalagi coba?”, demikian keluhan seorang teman yang kecewa dengan pencapaian targetnya di bulan ini.

Sahabat, dalam kehidupan kita boleh saja memastikan dalam membuat rencana yang terbaik, tetapi jangan memastikan dalam hasil, karena soal hasil itu sepenuhnya menjadi wewenang Allah.

Sesungguhnya Allah hanya menyuruh kita untuk melakukan ikhtiar yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Ikhtiar wajib dilakukan bagi yang ingin meraih sesuatu tujuan. Jika ikhtiar kita berhasil, maka akan mendapat dua keuntungan, yakni tercapainya tujuan dan dicatat sebagai amal sholih. Tetapi jika gagal, setidak dicatat sebagai bagian dari amal sholih kita.

Dan ingat, Allah melarang kita untuk bergantung kepada ikhtiar dan bergantung kepada sesuatu yang lainnya. Karena bergantung itu hanya kepada Allah. Bersandarlah hanya kepada Allah.

Maka hidupi ikhtiar dengan doa kepada Allah. Karena doa itu akan menguatkan ikhtiar yang kita lakukan. Doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, kekuatannya menembus ke langit dan itulah yang akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan.

Hikmah lain dari berdoa, kita akan terhindar dari kesombongan. Karena tidak menganggap keberhasilan kita semata-mata karena ikhtiar, tetapi karena campur tangan dari Allah SWT.

Setelah memastikan rencana terbaik, mengambil tindakan dengan ikhtiar terbaik, serta dibarengi selalu berdoa kepada-Nya, maka sisanya serahkanlah kepada Allah.

Biarkanlah Allah yang mengatur dan memastikan hasil yang terbaik untuk kita. Dengan kita tetap selalu berprasangka baik kepada Allah. Itulah yang disebut dengan bertawakal.

Kewajiban manusia adalah berikhtiar, berdoa dan kemudian bertawakal.Biarlah Allah yang mengatur hasilnya.

Salam Etos Mulia.

BERANI BANGKIT

Setiap proses perjuangan mendaki puncak impian,
seringkali dihadapkan pada kesulitan dan kegagalan.

Saat mengalami kegagalan kemudian menyerah pasrah,
itu memang mudah.

Saat mengalami kegagalan dan berani bangkit,
dan bangkit lagi berjuang,
itu memang sulit dan membutuhkan energi besar.

Tetapi inilah yang membedakan seorang pemenang dengan seorang pecundang.

Keberanian bangkit dan bangkit lagi dari
kegagalan, inilah SIKAP MENTAL PEMENANG.

Para pakar dunia telah menyimpulkan
bahwa 85 % kesuksesan itu karena sikap mental dan kepribadian positif.

Karena itu
hidupkan terus sikap mental pemenang dalam diri.

Caranya dengan …..

Miliki optimisme dan keyakinan akan
menjadi pemenang.

Keyakinan
akan melahirkan keberanian mengambil tindakan dan
bangkit dari setiap kegagalan.

Tanamkan mindset dalam diri,
tidak ada kegagalan
yang ada adalah pembelajaran.

Mindset inilah yang akan melahirkan
keberanian terus bangkit dari kegagalan,
memperbarui cara dalam
meraih tujuan.

Para pemenang adalah mereka yang
berjiwa climbers atau pendaki sejati.
Yakni mereka yang terus berjalan
dan berjalan menuju puncak impian dan cita-citanya.

Salam Etos Mulia,
Eko Jalu Santoso | Jakarta 15.11.2018

KEPEMIMPINAN YANG MENGINSPIRASI

KEPEMIMPINAN

Ada beberapa
type kepemimpinan.

Ketika orang
mengikuti Anda,
karena
terinspirasi oleh karakter,
nilai-nilai mulia,
ucapan dan tindakan
dan perilaku Anda,

itu berarti
Anda memiliki type
kepemimpinan yang
Menginspirasi.

Type pemimpin
yang menginspirasi ini
akan menjadi teladan
bagi anggotanya.

Nilai-nilai mulia
yang dianutnya dan
tindakan, ucapan serta perilakunya
akan menjadi panutan
bagi orang lain.

Inilah type
kepemimpinan tertinggi.
Tidak banyak
pemimpin yang bisa
mencapai level ini.

Salam Etos Mulia.
Eko Jalu Santoso

SDM SEBAGAI KUNCI UTAMANYA

Oleh: Eko Jalu Santoso

Harian Kompas 25 Oktober 2018 memuat berita ada 6 perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar 500 perusahaan terbaik dunia versi Forbes.

Inilah 6 perusahaan Indonesia yang mampu bersanding dengan berbagai perusahaan kelas dunia:
● Mandiri Bank
● BCA Bank
● Gudang Garam
● Telkom
● BNI 46
● BRI Bank

Dari apa yang disampaikan oleh para CEO 6 perusahaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa SUMBER DAYA MANUSIA merupakan kunci sukses utamanya.

Terungkap inilah beberapa fokus mereka dalam memberdayakan SDM nya, sebagaimana dikutip kompas:
● Membangun tim yang bekerja dengan bahagia, berpartisipasi dan produktif.
● Mengembangkan kesempatan jenjang karir lebih tinggi dan kemampuan kepemimpinan.
● Menciptakan suasana kerja kondusif, dihormati, dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan.
● Budaya kerja yang nyaman dan dinamis, mendukung iklim kerja kreatif, inovatif dan produktif.

Para CEO perusahaan tersebut sangat menyadari bahwa SDM adalah aset penting perusahaan.

Karenanya…

Mereka membangun dan memberdayakan SDMnya dengan mendidik, melatih, memotivasi dan menciptakan iklim kerja yang kondusif.

Hasilnya terbukti perusahaan makin berkembang besar dan bisa bersanding dengan perusahaan kelas dunia.

Sudahkah kita membangun team SDM yang kita miliki dengan baik ?

Apa pun kondisinya saat ini, kalau ingin berkembang, saatnya memulai fokus mendidik, melatih dan mengembangkan team SDM kita lebih baik.

Karena …

Semakin berkualitas team SDM kita, tentu kinerja organisasi dan produktivitas akan semakin baik.

SDM yang dihargai, dihormati, dikembangkan kariernya, ditingkatkan kemampuannya, akan semakin loyal, semangat dan bahagia dalam dalam bekerja.

SDM yang bahagia dalam bekerja, akan memacu kreativitas, inovasi dan produktivitasnya dalam bekerja yang lebih baik.

Team SDM yang memiliki etos kerja unggul inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi atau perusahaan.

Salam Etos Mulia.

KESEIMBANGAN ANTARA BEING DAN DOING

Oleh: Eko Jalu Santoso

“Sibukanlah dirimu dalam berbagai aktivitas meraih prestasi kehidupan dunia, dengan tetap menyibukkan hatimu untuk Allah. Inilah prinsip keseimbangan.”


Ilustrasi kisah ini bisa menjadi kendaraan pemahaman yang tepat untuk mengawali tulisan ini. Dikisahkan ada sekelompok orang yang berpendidikan baik dan bekerja cerdas dalam bidangnya. Penampilan merekapun terlihat rapi dan intelek. Mereka juga pandai membangun kerjasama yang baik dan saling mendukung satu dengan lainnya untuk tujuan keberhasilan pekerjaan mereka. Mereka juga bekerja sangat antusias, cekatan dan rapi dalam menuntaskan pekerjaannya. Solidaritas diantara mereka juga terlihat sangat tinggi. Dengan demikian selain memiliki kecerdasan intelektual, mereka terlihat juga memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Secara professional, mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sukses. Memiliki jabatan, karier yang baik, popularitas dan berbagai simbul-simbul kesuksesan profesional lainnya. Bahkan secara material mereka memiliki kesuksesan yang mengagumkan, hanya dalam waktu singkat karier mereka, sudah berhasil meraih berbagai kekayaan harta, rumah mewah, mobil mewah dan simpanan bermilyar-milyar.

Namun, ternyata beberapa waktu kemudian saya membaca berita di berbagai media masa bahwa beberapa orang dari kelompok ini akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sebagian sudah mendekam dipenjara. Mereka ternyata adalah orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi bekerjasama menyalahgunakan jabatannya untuk melakukan tindakan korupsi yang merugikan uang rakyat, untuk kekayaan diri sendiri dan kelompoknya.

Inilah contoh hasil dari ketidakseimbangan hidup. Meskipun memiliki kecerdasan intelektual dan bahkan kecerdasan emosional yang baik, tetapi mereka tidak mengimbangi dengan kecerdasan spiritual. Saya menyebutnya mereka ini memiliki

“kepincangan spiritualitas”. Meskipun memiliki bakat dan talenta yang baik, tetapi tidak memiliki karakter pribadi yang baik. Meskipun secara professional nampak sukses luar biasa, tetapi sesungguhnya kesuksesannya tidak bermakna dan berakhir dengan kesia-siaan dan kesengsaraan.

Para guru kehidupan senantiasa mengajarkan kepada kita pentingnya keseimbangan dalam berbagai aspek penting kehidupan, terutamanya dalam empat dimensi penting kehidupan yakni,

fisik, sosial-emosional, intelektual-mind dan spiritual. Sayangnya banyak orang masih mengartikan spiritualitas keimanan secara sempit belaka. Nilai-nilai spiritualitas keimanan hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah ketika menyembah Tuhan dan belum mempengaruhi perilaku dalam karier, bisnis dan kehidupan sehari-hari. Begitu keluar dari tempat ibadah dan berada di lingkungan kerja atau bisnis, nilai-nilai spiritual itu seolah-olah lenyap dan tidak muncul dalam perilakunya. Sehingga ketika berhubungan dengan orang lain, melupakan nilai spiritualitas yang tersalur lewat kehidupan sosial kemasyarakatan.

Padahal semakin baik aspek spiritualitas seseorang, semakin efektif mendukung aspek kehidupan yang lainnya. Semakin tinggi spiritualitas seseorang misalnya, akan mendorong kualitas tindakannya sesuai dengan nilai-nilai spiritualitas yang diyakininya. Berbagai tindakan dalam karier, bisnis dan aktivitas sosial misalnya, akan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya. Inilah jalan keseimbangan yang dapat mengantarkan manusia meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup.

Hidup secara keseluruhan memerlukan kepandaian untuk menyelaraskan beberapa aspek penting kehidupan. Disadari atau tidak kita selalu menggunakan setidaknya enam aspek penting kehidupan ini dalam setiap aktivitas sehari-hari, yakni: Aspek Spiritual, Aspek Fisik, Aspek Kepribadian, Aspek Financial, Aspek Keluarga, Aspek Sosial. Kepandaian kita dalam menyelaraskan enam aspek penting kehidupan ini akan menentukan kualitas kehidupan kita. Karenanya pahami dan temukan inspirasinya dalam buku ke-4 saya, “Life Balance Ways”, yang diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia Group).

Dalam pandangan Prof. Roy Sembel Ph.D seorang penulis buku The Art of Best Win dan direktur PT Bursa Berjangka Jakarta,

“Ada dua kutub ekstrim dalam menjalankan hidup: mengejar being—mengucilkan diri menjadi pertapa untuk merenungkan kehidupan—saja atau sekadar doing—tidak peduli perenungan, hanya sekadar menjalankan saja. Bila ingin menjadi signifikan—membawa nilai tambah bagi diri sendiri dan lingkungan Anda—kita perlu keseimbangan antara being dan doing. Buku Life Balance Ways

karya Eko Jalu Santoso ini memberikan hasil perenungan dan pengalaman yang diramu secara menarik dan disampaikan secara komunikatif tentang keseimbangan antara being dan doing. Kombinasi seimbang antara gagasan filosofis dan tip praktis membuat buku ini enak dibaca dan bermanfaat.”

SEMOGA BERMANFAAT !

KEBAIKAN STRATEGIS DAN EFISIEN

Sahabat yang beretos mulia,

Waktu terus berjalan tanpa sedetikpun berhenti. Bagi sebagian orang yang mengagungkan kehidupan dunia, waktu adalah uang. Time is money.

Bagi sebagian orang yang mengagungkan kebijaksanaan, waktu ibarat pedang. Ketajamannya akan melibas siapa saja yang tidak bisa memanfaatkannya.

Bagi para ahli kehidupan, waktu adalah hidup itu sendiri. Masih memiliki waktu berarti masih memiliki kehidupan.

Apapun pemahannya, intinya waktu adalah kesempatan. Bagi orang beriman waktu adalah kesempatan untuk melakukan kebaikan dan melakukan ibadah untuk bekal kehidupan yang panjang kedepan.

Sahabat, semakin bertambah usia kita, berarti semakin berkurang waktu hidup kita. Kesempatan melakukan kebaikan dan ibadah sebagai bekal kehidupan panjang ke depan semakin berkurang.

Karena itu, semakin bertambah usia perlu semakin pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang strategis dan efisien.

Apa itu kebaikan strategis dan efisien. Yakni kebaikan yang membutuhkan tenaga dan waktu yang sama, tetapi memberikan nilai amal kebaikan dan pahala yang berlipat ganda.

Dalam soal ibadah misalnya, semakin bertambah usia kita, semakin rajin sholat berjamaah di mushola atau di masjid. Karena sholat berjamaah nilainya 27 derajat lebih tinggi dibandingkan dilakukan sendiri di rumah.

Demikian juga dalam mencari harta, bukan hanya berorientasi mengumpulkan harta banyak, tetapi mengutamakan harta yang berkah. Karena harta yang berkah itulah yang memberi kecukupan atau qona’ah dan nilai manfaat kebaikan bagi kita.

Demikian juga semakin memahami bahwa harta yang benar-benar menjadi milik kita bukan yang kita kumpulkan, melainkan yang kita shodaqohkan atau diamalkan dijalan kebaikan. Karena itu semakin bertambah usia, semakin banyak shodaqoh dan infaqnya.

Dalam hal ilmupun demikian. Semakin bertambah usia tentu semakin banyak ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Bagikan ilmu dan pengalaman yg kita miliki untuk kemanfaatan orang lain. Melalui sharing, berbicara, seminar, mengajar atau melalui tulisan. Kalau pandai munulis, tulislah ilmu yang bermanfaat menjadi buku, agar tersebar luas dimanfaatkan banyak orang. Karena ilmu yang bermanfaat itulah yang akan menjadi amal yang mengalirkan pahala berlipat.

Sahabat, tentu masih banyak kebaikan strategis dan efisien yang lainnya. Karena itu pandailah memanfaarkan kesempatan dengan melakukan kebaikan strategia dan efisien.
Demikian inspirasi dari saya Eko Jalu Santoso.

Salam Etos Mulia,
Eko Jalu Santoso | Cibubur 28.10.2018.