Menyederhanakan Pikiran

Oleh Eko Jalu Santoso

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang kawan lama, sambil ngopi-ngopi akahirnya berujung pada diskusi panjang panjang tentang masalah dan kesulitan yang dihadapinya. Saya melihat kawan saya ini cenderung mendekati masalah dan kesulitan yang dihadapinya dengan jalan pikiran yang rumit dan analisa yang njlimet. Untuk suatu masalah yang menurut saya simple saja, dia bisa membahasnya berjam-jam seperti tidak ada selesainya. Jadilah pikirannya rumit sendiri, hanya dipenuhi masalah dan kesulitan. Akibatnya alam pikiran bawah sadarnya memproses tentang masalah dan kesulitan saja, tanpa menemukan solusinya. Kemudian ia mengatakan pekerjaan ini penuh dengan masalah…hidup ini memang berat…dunia ini penuh dengan kesulitan….dan lainnya.

Setiap orang hidup tentu memiliki masalah. Demikian halnya dalam pekerjaan, setiap orang yang bekerja pasti akan menemui berbagai kesulitan dan masalah. Tetapi setiap orang bisa berbeda-beda dalam cara pandang dan menyelesaikan masalahnya. Tidak semua orang memiliki kemampuan memetakan masalahnya dengan baik, sehingga mampu mengubah masalah yang rumit menjadi lebih ringan. Bahkan tidak sedikit yang berpikir njlimet, sehingga malahan mengubah masalah yang ringan menjadi rumit, seperti kawan saya tersebut diatas.

Kali ini saya ingin mengangkat sebuah cerita sederhana, yang dapat menjadi inspirasi dalam bagaimana memetakan masalah. Ceritanya demikian, dahulu para astronot Amerika pernah mendapat kesulitan atau masalah ketika hendak menulis laporan di stasiun ruang angkasa mereka. Pulpen yang mereka pakai untuk menulis ternyata tidak bisa digunakan karena terpengaruh oleh gaya gravitasi yang 0 (zero), sehingga tintanya menjadi macet.

Menemui masalah seperti ini, kemudian para ahli melakukan penelitian untuk menemukan sebuah pulpen yang anti gravitasi. Setelah melalui penelitian yang panjang dan menghabiskan biaya jutaan US dolar, akhirnya berhasil ditemukan sebuah pulpen yang anti gravitasi sehingga bisa dipakai diluar angkasa.

Lalu apakah para kosmonot Rusia juga menemui kesulitan atau masalah yang sama seperti ini ? Apa yang dilakukan oleh para kosmonot Rusia terhadap permasalahan yang sama seperti ini ? Ternyata mereka tidak perlu melakukan penelitian yang panjang untuk mengatasi masalah ini. Mereka cukup dengan tidak menggunakan pulpen, tetapi memilih mengganti memakai pensil.

Ilustrasi ini menggambarkan, ada orang yang bisa menyederhanakan pikirannya terhadap suata masalah yang dihadapi. Kemudian dapat menemukan solusi dengan cara berpikir yang sederhana. Namun ada juga orang yang menghadapi suata masalah kemudian menjadikannya sebagai sebuah tantangan, kemudian mencari solusi terbaik dengan penelitian dan inovasi. Keduanya sama baiknya, karena sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Yang perlu kita sadari adalah, janganlah memaksa otak atau pikiran untuk berpikir terlalu berlebihan, terlalu rumit, kalau memang sebuah masalah itu bisa dihadapi dengan cara sederhana. Janhan menganggap setiap kesulitan atau masalah itu hanya bisa diselesaikan cara-cara penuh pemikiran, analisa-analisa yang panjang , penelitian dan perhitungan-perhitungan yang matang. Tidak selalu demikian, karena nyatanya tidak sedikit masalah atau kesulitan yang terlihat rumit, kadang bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan-pendekatan yang sederhana dan praktis.

So, let simplify our mind. Ketika menemui kesulitan atau masalah, sederhanakan cara pandang kita terhadap kesulitan atau masalah tersebut. Bukan memudahkan atau mengecilkan masalah, melainkan menyederhanakan cara pandang kita terhadap terhadap kesulitan atau masalah. Alihkan focus kita bukan pada kesulitan atau masalahnya, melainkan pada solusi atau “oucome” yang kita harapkan. Dengan demikian, diharapkan sebesar apapun atau sesulit apapun masalah yang kita hadapi tidak akan membebani dan meruwetkan otak kita untuk mencari jalan keluarnya. Semoga Bermanfaat. (EJS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *