Day: December 27, 2018

 

HIDUP ADALAH PANGGILAN MULIA

Oleh : Eko Jalu Santoso

Para ulama dan spiritualis seringkali mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Bukan berarti manusia adalah sempurna, karena kesempurnaan sesungguhnya hanyalah milik Allah semata. Namun manusia memiliki bekal paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki kesempurnaan dalam dimensi fisik, dimensi kecerdasan akal pikiran dan kecerdasan spiritual, yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lain.

Manusia memiliki lapisan otak neo-cortex yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berpikir rasional dan logis. Dengan kemampuan ini manusia dapat menjelajahi antariksa, menggali kedalaman Samudra, hingga menghasilkan berbagai karya luar biasa. Inilah yang disebut dengan kecerdasan intelektual atau “IQ”. Selain itu manusia juga memiliki otak limbik yang memiliki fungsi dalam kecerdasan emosional atau “EQ” dan kecerdasan spiritual “SQ” yang berperan besar dalam meningkatkan kebijaksanaan dalam hidup. Dengan kecerdasan ini manusia dapat memberikan makna bernilai tinggi dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Menyadari potensi ini, kita seharusnya percaya bahwa hidup adalah anugerah yang luar biasa. Hidup adalah karunia yang tak ternilai. Karenanya penting bagi kita untuk bangga dan memiliki kekaguman pada kehidupan kita maupun kehidupan orang lain. Penting bagi kita menyadari dan menggunakan potensi yang kita miliki untuk hal-hal luar biasa dan mulia. Penting bagi kita untuk mengeksplorasi diri, menemukan berbagai potensi keunikan dan bakat luar biasa dalam diri dan menggunakan untuk tujuan sukses dan kemuliaan.

Kehadiran manusia di dunia sesungguhnya mengemban amanah sangat mulia dari Tuhan. Karena manusia selain sebagai “abdi” dari Allah adalah penguasa di bumi ini. Sebagai penguasa, maka kehadiran kita tidak sekedar untuk kesejahteraan diri kita, tetapi juga untuk kesejahteraan orang lain dan alam semesta. Kita berkewajiban menggunakan segenap potensio untuk kesejahteraan kehidupan dan alam semesta. Inilah peran utama manusia sebagai pembawa rahmat bagi sesama kehidupan.

Penting bagi kita memastikan, apakah yang kita lakukan saat ini, pekerjaan, bisnis dan kehidupan sudah sejalan dengan amanah mulia ini. Penting menjadikan pekerjaan, bisnis ataupun kehidupan yang kita lakukan saat ini memiliki nilai dan bermakna bagi banyak orang. Dalam bekerja, berusaha dan berkarya tidak hanya selalu memikirkan diri sendiri, tetapi dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama kehidupan.

Dalam interaksi sosial, setiap pribadi tidak hanya dituntut untuk mampu mensejahterakan secara lahir, namun juga menjadi cahaya bagi batin dan spiritual bagi orang lain yang membutuhkannya. Inilah insan sejati yang dapat mengeksploitir kemampuan dirinya, baik kemampuan secara fisik, kemampuan intelektual, kecerdasan emosi sampai pada kecerdasan spiritualnya, agar bisa memberikan makna bagi kehidupan. Memberikan arti perbedaan bagi orang lain dan memberikan hasil karya terbaik bagi kehidupan dan bagi dunia.

Para ulama dan spiritualis selalu mengatakan bahwa kesuksesan sejati adalah diukur dengan sejauh mana kita mampu mengembangkan kemampuan diri kita untuk memberikan banyak manfaat bagi sesama kehidupan. Sejauh mana kita dapat memberikan kontribusi kebaikan yang tulus dan ikhlas bagi sesama kehidupan. Sejauh mana kita telah menempatkan hati yang “taqarrub” menuju kepada sifat-sifat Allah dalam setiap gerak kehidupan di dunia.

Sahabat, hidup adalah panggilan mulia dan agung. Kalau demikian, janganlah pernah berkeluh kesah dalam kehidupan. Janganlah pernah berputus asa ataupun membiarkan waktu kehidupan terbuang dengan sia-sia. Tetapkanlah visi yang agung yang dilandasi nilai-nilai kemuliaan dari dalam hati kita. Berikanlah perbedaan yang lebih bermakna, apakah itu ditempat kerja, dalam bisnis, maupun dalam aktivitas lainnya. Seimbangkanlah hidup Anda, agar menjadikan hidup kita lebih mulia dan bermakna.

Ingatlah, bahwa setiap diri kita adalah teladan bagi diri sendiri dan orang lain. Kalau prinsip ini sudah kita jadikan landasan hidup kita, maka setiap kehadiran kita, setiap hasil karya kita, seberapapun harta dan materi yang kita miliki, kekuasaan yang kita dapatkan, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang kita kuasai adalah semata-mata ditujukan untuk kemaslahatan umat sebesar-besarnya. Inilah karakter pribadi manusia yang sudah memahami amanah tertinggi hidupnya. Karena hidup adalah panggilan mulia.

Semoga Bermanfaat. Salam Etos Mulia.

ILMU YANG MENERANGI HATI

Oleh : Eko Jalu Santoso

Dikisahkan ketika masih berguru menuntut ilmu, Imam Syafi’I RA seorang ulama muslim pernah mengeluh dan mengadukan suatu problematika kepada gurunya. Ia bertanya kepada sang guru, ”Wahai Guru, mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah dipahaminya?” Kemudian sang guru yang bijak, Imam Waki’ RA menjawab, ”Ilmu itu ibarat cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

Membaca kisah diatas, saya menjadi ingat dengan salah satu nasehat dari seorang guru spiritual yang mengatakan, “Orang yang memiliki ilmu pengetahuan hidupnya akan mulia.” Kalau dikaji lebih mendalam, apa yang dinasehatkan oleh guru spiritual ini, sesungguhnya sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam kitab suciNya, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Tentunya adalah orang yang menuntut ilmu dan ilmunya diamalkan untuk kebaikan.

Mereka ini kualitasnya akan terangkat, derajatnya akan ditinggikan dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Karena dengan ilmu pengetahuan, seseorang mampu menyelami hidup ini dengan penuh semangat dan optimistis. Dengan ilmu pengetahuan seseorang mampu membuka tabir kegelapan, mampu memahami kebesaran Tuhan, sehingga diharapkan semakin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Tuhan Sang Penguasa Kehidupan. Dengan senang membagikan ilmu pengetahuan, berarti melepaskan energi positif kebaikan dan pada akhirnya akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda bagi dirinya.

Dengan demikian, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah penting bagi kesuksesan dan kemuliaan kehidupan kita. Menuntut ilmu artinya mengembangkan kemampuan nalar atau akal pikiran yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita. Dapat dilakukan melalui sekolah atau pendidikan formal yang utamanya untuk mengembangkan kemampaun berpikir atau IQ, maupun melalui berbagai sarana dan media pembelajaran lainnya. Bahkan begitu pentingnya, Nabi Muhammad menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Ini merupakan indikasi nyata bahwa pentingnya menuntut ilmu pengetahuan. Kalau kita pahami, tentu belajar ke Cina bukanlah belajar tafsir atau agama, pasti adalah belajar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan perdagangan.

Bagaimana agar ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan miliki dapat menjadi Cahaya bagi hati kita ? Merujuk pada nasehat Imam Waki’ RA tersebut diatas, dalam menuntut ilmu atau belajar meningkatkan pengetahuan sebaiknya selalu dilandasi dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Tanpa hati yang bersih, ilmu yang kita miliki tidak akan meninggikan derajat kita, malah dapat merendahkan seseorang ke jurang kehinaan. Contohnya nyatanya dalam realitas kehidupan sekarang, akibat pengaruh sosial dan kapitalisme modern cenderung mendorong orang mengedepankan nilai-nilai materialisme. Maka mudah kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, berpendidikan tinggi, tetapi menggunakan ilmu dan kepandaiannya tidak sesuai jalan kebenaran yang disyariatkan Tuhan. Mereka yang hatinya tidak bersih, cenderung mengedepankan sifat-sifat serakah dan tamak terhadap nilai-nilai materialisme duniawi. Akibatnya mudah menggunakan ilmunya untuk memperturutkan keinginan nafsu dan ego pribadinya yang berlebihan. Melakukan korupsi, berbisnis dengan cara-cara tidak terpuji, melakukan suap, menipu orang lain dan merugikan banyak orang lain.

Dengan demikian memiliki hati yang bersih adalah landasan utama agar ilmu dapat menjadi Cahaya bagi hati kita. Sehingga ilmu pengetahuan itu dapat meninggikan kualitas hidup kita dan derajat kemuliaan kita. Dilandasi hati yang bersih, ilmu pengetahuan bukan hanya mengantarkan pada kesuksesan, melainkan dapat membentuk perangai manusia lebih bijaksana dan lebih mulia. Dalam karier, Bisnis maupun kehidupan dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela dan akhlak yang jelas-jelas tidak disukai Allah. Hanya dengan hati yang bersih ilmu akan mudah dipahami dan bermanfaat bagi kita dan orang lain. Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari sifat tamak, rakus dan serakah terhadap urusan duniawi dan tidak pernah digunakan menzalimi sesama.

SEMOGA BERMANFAAT. Salam Etos Mulia.