Day: October 29, 2018

 

KESEIMBANGAN ANTARA BEING DAN DOING

Oleh: Eko Jalu Santoso

“Sibukanlah dirimu dalam berbagai aktivitas meraih prestasi kehidupan dunia, dengan tetap menyibukkan hatimu untuk Allah. Inilah prinsip keseimbangan.”


Ilustrasi kisah ini bisa menjadi kendaraan pemahaman yang tepat untuk mengawali tulisan ini. Dikisahkan ada sekelompok orang yang berpendidikan baik dan bekerja cerdas dalam bidangnya. Penampilan merekapun terlihat rapi dan intelek. Mereka juga pandai membangun kerjasama yang baik dan saling mendukung satu dengan lainnya untuk tujuan keberhasilan pekerjaan mereka. Mereka juga bekerja sangat antusias, cekatan dan rapi dalam menuntaskan pekerjaannya. Solidaritas diantara mereka juga terlihat sangat tinggi. Dengan demikian selain memiliki kecerdasan intelektual, mereka terlihat juga memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Secara professional, mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sukses. Memiliki jabatan, karier yang baik, popularitas dan berbagai simbul-simbul kesuksesan profesional lainnya. Bahkan secara material mereka memiliki kesuksesan yang mengagumkan, hanya dalam waktu singkat karier mereka, sudah berhasil meraih berbagai kekayaan harta, rumah mewah, mobil mewah dan simpanan bermilyar-milyar.

Namun, ternyata beberapa waktu kemudian saya membaca berita di berbagai media masa bahwa beberapa orang dari kelompok ini akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sebagian sudah mendekam dipenjara. Mereka ternyata adalah orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi bekerjasama menyalahgunakan jabatannya untuk melakukan tindakan korupsi yang merugikan uang rakyat, untuk kekayaan diri sendiri dan kelompoknya.

Inilah contoh hasil dari ketidakseimbangan hidup. Meskipun memiliki kecerdasan intelektual dan bahkan kecerdasan emosional yang baik, tetapi mereka tidak mengimbangi dengan kecerdasan spiritual. Saya menyebutnya mereka ini memiliki

“kepincangan spiritualitas”. Meskipun memiliki bakat dan talenta yang baik, tetapi tidak memiliki karakter pribadi yang baik. Meskipun secara professional nampak sukses luar biasa, tetapi sesungguhnya kesuksesannya tidak bermakna dan berakhir dengan kesia-siaan dan kesengsaraan.

Para guru kehidupan senantiasa mengajarkan kepada kita pentingnya keseimbangan dalam berbagai aspek penting kehidupan, terutamanya dalam empat dimensi penting kehidupan yakni,

fisik, sosial-emosional, intelektual-mind dan spiritual. Sayangnya banyak orang masih mengartikan spiritualitas keimanan secara sempit belaka. Nilai-nilai spiritualitas keimanan hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah ketika menyembah Tuhan dan belum mempengaruhi perilaku dalam karier, bisnis dan kehidupan sehari-hari. Begitu keluar dari tempat ibadah dan berada di lingkungan kerja atau bisnis, nilai-nilai spiritual itu seolah-olah lenyap dan tidak muncul dalam perilakunya. Sehingga ketika berhubungan dengan orang lain, melupakan nilai spiritualitas yang tersalur lewat kehidupan sosial kemasyarakatan.

Padahal semakin baik aspek spiritualitas seseorang, semakin efektif mendukung aspek kehidupan yang lainnya. Semakin tinggi spiritualitas seseorang misalnya, akan mendorong kualitas tindakannya sesuai dengan nilai-nilai spiritualitas yang diyakininya. Berbagai tindakan dalam karier, bisnis dan aktivitas sosial misalnya, akan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya. Inilah jalan keseimbangan yang dapat mengantarkan manusia meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup.

Hidup secara keseluruhan memerlukan kepandaian untuk menyelaraskan beberapa aspek penting kehidupan. Disadari atau tidak kita selalu menggunakan setidaknya enam aspek penting kehidupan ini dalam setiap aktivitas sehari-hari, yakni: Aspek Spiritual, Aspek Fisik, Aspek Kepribadian, Aspek Financial, Aspek Keluarga, Aspek Sosial. Kepandaian kita dalam menyelaraskan enam aspek penting kehidupan ini akan menentukan kualitas kehidupan kita. Karenanya pahami dan temukan inspirasinya dalam buku ke-4 saya, “Life Balance Ways”, yang diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia Group).

Dalam pandangan Prof. Roy Sembel Ph.D seorang penulis buku The Art of Best Win dan direktur PT Bursa Berjangka Jakarta,

“Ada dua kutub ekstrim dalam menjalankan hidup: mengejar being—mengucilkan diri menjadi pertapa untuk merenungkan kehidupan—saja atau sekadar doing—tidak peduli perenungan, hanya sekadar menjalankan saja. Bila ingin menjadi signifikan—membawa nilai tambah bagi diri sendiri dan lingkungan Anda—kita perlu keseimbangan antara being dan doing. Buku Life Balance Ways

karya Eko Jalu Santoso ini memberikan hasil perenungan dan pengalaman yang diramu secara menarik dan disampaikan secara komunikatif tentang keseimbangan antara being dan doing. Kombinasi seimbang antara gagasan filosofis dan tip praktis membuat buku ini enak dibaca dan bermanfaat.”

SEMOGA BERMANFAAT !