Month: October 2018

 

KESEIMBANGAN ANTARA BEING DAN DOING

Oleh: Eko Jalu Santoso

“Sibukanlah dirimu dalam berbagai aktivitas meraih prestasi kehidupan dunia, dengan tetap menyibukkan hatimu untuk Allah. Inilah prinsip keseimbangan.”

Ilustrasi kisah ini bisa menjadi kendaraan pemahaman yang tepat untuk mengawali tulisan ini. Dikisahkan ada sekelompok orang yang berpendidikan baik dan bekerja cerdas dalam bidangnya. Penampilan merekapun terlihat rapi dan intelek. Mereka juga pandai membangun kerjasama yang baik dan saling mendukung satu dengan lainnya untuk tujuan keberhasilan pekerjaan mereka. Mereka juga bekerja sangat antusias, cekatan dan rapi dalam menuntaskan pekerjaannya. Solidaritas diantara mereka juga terlihat sangat tinggi. Dengan demikian selain memiliki kecerdasan intelektual, mereka terlihat juga memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Secara professional, mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sukses. Memiliki jabatan, karier yang baik, popularitas dan berbagai simbul-simbul kesuksesan profesional lainnya. Bahkan secara material mereka memiliki kesuksesan yang mengagumkan, hanya dalam waktu singkat karier mereka, sudah berhasil meraih berbagai kekayaan harta, rumah mewah, mobil mewah dan simpanan bermilyar-milyar.

Namun, ternyata beberapa waktu kemudian saya membaca berita di berbagai media masa bahwa beberapa orang dari kelompok ini akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib dan bahkan sebagian sudah mendekam dipenjara. Mereka ternyata adalah orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi bekerjasama menyalahgunakan jabatannya untuk melakukan tindakan korupsi yang merugikan uang rakyat, untuk kekayaan diri sendiri dan kelompoknya.

Inilah contoh hasil dari ketidakseimbangan hidup. Meskipun memiliki kecerdasan intelektual dan bahkan kecerdasan emosional yang baik, tetapi mereka tidak mengimbangi dengan kecerdasan spiritual. Saya menyebutnya mereka ini memiliki

“kepincangan spiritualitas”. Meskipun memiliki bakat dan talenta yang baik, tetapi tidak memiliki karakter pribadi yang baik. Meskipun secara professional nampak sukses luar biasa, tetapi sesungguhnya kesuksesannya tidak bermakna dan berakhir dengan kesia-siaan dan kesengsaraan.

Para guru kehidupan senantiasa mengajarkan kepada kita pentingnya keseimbangan dalam berbagai aspek penting kehidupan, terutamanya dalam empat dimensi penting kehidupan yakni,

fisik, sosial-emosional, intelektual-mind dan spiritual. Sayangnya banyak orang masih mengartikan spiritualitas keimanan secara sempit belaka. Nilai-nilai spiritualitas keimanan hanya didengungkan di tempat-tempat ibadah ketika menyembah Tuhan dan belum mempengaruhi perilaku dalam karier, bisnis dan kehidupan sehari-hari. Begitu keluar dari tempat ibadah dan berada di lingkungan kerja atau bisnis, nilai-nilai spiritual itu seolah-olah lenyap dan tidak muncul dalam perilakunya. Sehingga ketika berhubungan dengan orang lain, melupakan nilai spiritualitas yang tersalur lewat kehidupan sosial kemasyarakatan.

Padahal semakin baik aspek spiritualitas seseorang, semakin efektif mendukung aspek kehidupan yang lainnya. Semakin tinggi spiritualitas seseorang misalnya, akan mendorong kualitas tindakannya sesuai dengan nilai-nilai spiritualitas yang diyakininya. Berbagai tindakan dalam karier, bisnis dan aktivitas sosial misalnya, akan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya. Inilah jalan keseimbangan yang dapat mengantarkan manusia meraih kebahagiaan dan kemuliaan hidup.

Hidup secara keseluruhan memerlukan kepandaian untuk menyelaraskan beberapa aspek penting kehidupan. Disadari atau tidak kita selalu menggunakan setidaknya enam aspek penting kehidupan ini dalam setiap aktivitas sehari-hari, yakni: Aspek Spiritual, Aspek Fisik, Aspek Kepribadian, Aspek Financial, Aspek Keluarga, Aspek Sosial. Kepandaian kita dalam menyelaraskan enam aspek penting kehidupan ini akan menentukan kualitas kehidupan kita. Karenanya pahami dan temukan inspirasinya dalam buku ke-4 saya, “Life Balance Ways”, yang diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia Group).

Dalam pandangan Prof. Roy Sembel Ph.D seorang penulis buku The Art of Best Win dan direktur PT Bursa Berjangka Jakarta,

“Ada dua kutub ekstrim dalam menjalankan hidup: mengejar being—mengucilkan diri menjadi pertapa untuk merenungkan kehidupan—saja atau sekadar doing—tidak peduli perenungan, hanya sekadar menjalankan saja. Bila ingin menjadi signifikan—membawa nilai tambah bagi diri sendiri dan lingkungan Anda—kita perlu keseimbangan antara being dan doing. Buku Life Balance Ways

karya Eko Jalu Santoso ini memberikan hasil perenungan dan pengalaman yang diramu secara menarik dan disampaikan secara komunikatif tentang keseimbangan antara being dan doing. Kombinasi seimbang antara gagasan filosofis dan tip praktis membuat buku ini enak dibaca dan bermanfaat.”

SEMOGA BERMANFAAT !

KEBAIKAN STRATEGIS DAN EFISIEN

Sahabat yang beretos mulia,

Waktu terus berjalan tanpa sedetikpun berhenti. Bagi sebagian orang yang mengagungkan kehidupan dunia, waktu adalah uang. Time is money.

Bagi sebagian orang yang mengagungkan kebijaksanaan, waktu ibarat pedang. Ketajamannya akan melibas siapa saja yang tidak bisa memanfaatkannya.

Bagi para ahli kehidupan, waktu adalah hidup itu sendiri. Masih memiliki waktu berarti masih memiliki kehidupan.

Apapun pemahannya, intinya waktu adalah kesempatan. Bagi orang beriman waktu adalah kesempatan untuk melakukan kebaikan dan melakukan ibadah untuk bekal kehidupan yang panjang kedepan.

Sahabat, semakin bertambah usia kita, berarti semakin berkurang waktu hidup kita. Kesempatan melakukan kebaikan dan ibadah sebagai bekal kehidupan panjang ke depan semakin berkurang.

Karena itu, semakin bertambah usia perlu semakin pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang strategis dan efisien.

Apa itu kebaikan strategis dan efisien. Yakni kebaikan yang membutuhkan tenaga dan waktu yang sama, tetapi memberikan nilai amal kebaikan dan pahala yang berlipat ganda.

Dalam soal ibadah misalnya, semakin bertambah usia kita, semakin rajin sholat berjamaah di mushola atau di masjid. Karena sholat berjamaah nilainya 27 derajat lebih tinggi dibandingkan dilakukan sendiri di rumah.

Demikian juga dalam mencari harta, bukan hanya berorientasi mengumpulkan harta banyak, tetapi mengutamakan harta yang berkah. Karena harta yang berkah itulah yang memberi kecukupan atau qona’ah dan nilai manfaat kebaikan bagi kita.

Demikian juga semakin memahami bahwa harta yang benar-benar menjadi milik kita bukan yang kita kumpulkan, melainkan yang kita shodaqohkan atau diamalkan dijalan kebaikan. Karena itu semakin bertambah usia, semakin banyak shodaqoh dan infaqnya.

Dalam hal ilmupun demikian. Semakin bertambah usia tentu semakin banyak ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Bagikan ilmu dan pengalaman yg kita miliki untuk kemanfaatan orang lain. Melalui sharing, berbicara, seminar, mengajar atau melalui tulisan. Kalau pandai munulis, tulislah ilmu yang bermanfaat menjadi buku, agar tersebar luas dimanfaatkan banyak orang. Karena ilmu yang bermanfaat itulah yang akan menjadi amal yang mengalirkan pahala berlipat.

Sahabat, tentu masih banyak kebaikan strategis dan efisien yang lainnya. Karena itu pandailah memanfaarkan kesempatan dengan melakukan kebaikan strategia dan efisien.
Demikian inspirasi dari saya Eko Jalu Santoso.

Salam Etos Mulia,
Eko Jalu Santoso | Cibubur 28.10.2018.

JIKA TUHAN MENARIK PERHATIAN KITA

Oleh: Eko Jalu Santoso

Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.

Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.

Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Allah seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Allah seringkali menjatuhkan “koin uang” atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingatNya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya.

Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas, mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Dengan demikian, pengalaman-pengalaman menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Allah atau “habl min Allah.” Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak ternilai harganya.

Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Allah menjatuhkan “batu” kepada kita ?.

SEMOGA BERMANFAT !

DAYA UNGKIT ENERGI POSITIF

Oleh Eko Jalu Santoso

Apakah Anda pernah mendengar tentang hukum kekekalan energi yang disampaikan oleh Isaac Newtown ? Ilmuwan dunia terkenal ini menjelaskan bahwa setiap energi di bumi ini tidak pernah hilang dari kehidupan, tetapi hanya sekedar berubah bentuk saja. Contohnya adalah zat cair yang menguap, kemudian akan mengembun dan akhirnya turun kembali menjadi hujan. Zat cair ini sesungguhnya tidak pernah berkurang dari kehidupan, hanya berubah bentuk dan akhirnya kembali lagi dalam keseimbangan sebagai zat cair di alam ini.

Dalam kehidupan manusia pada umumnya, hukum kekekalan energi “Isaac Newton” ini sebenarnya juga berlaku dalam aplikasi kehidupan nyata sehari-hari. Di dalam tubuh kita sudah tersimpan sumber energi yang tak terbatas. Setiap energi yang dilepaskan oleh tubuh kita – apakah itu energi positif maupun energi negative – sesungguhnya tidak pernah hilang dari muka bumi ini. Artinya setiap energi yang dipancarkan dari tubuh kita, nilainya tidak akan pernah berubah. Kalau yang kita pancarkan dari tubuh kita adalah energi positif, maka yang akan kembali adalah energi positif yang akan kita terima lagi. Demikian sebaliknya, kalau energi negatif yang kita pancarkan, maka yang akan kembali ke kita adalah energi negatif.

Sederhananya begini, dalam aplikasi nyata kehidupan kalau Anda menolong orang lain yang sedang memerlukan bantuan pertolongan misalnya, maka sebenarnya tubuh kita sedang memancarkan energi positif yakni berupa tindakan positif kebaikan. Energi positif kebaikan yang Anda pancarkan dari diri Anda sesungguhnya tidak akan hilang dari muka bumi ini. Energi kebaikan yang anda pancarkan akan selalu ada di alam ini dan akan kembali kepada diri Anda. Bentuknya bisa saja sama, apakah kita ditolong kembali oleh orang lain pada saat memerlukan bantuan, atau bisa juga dalam berubah dalam bentuk nilai positif yang berbeda. Misalnya, Anda mendapatkan ketenangan jiwa, keselamatan hidup, kebahagiaan hati, penghargaan dari orang lain dan bahkan pahala dari Tuhan YME.

Dan luar biasanya lagi adalah, setiap orang yang senang berbagi energi kebaikan kepada orang lain, ia tidak akan pernah kekurangan sumber energi kebaikan dalam dirinya. Dalam kehidupan keagamaan kita, hal ini diperkuat dengan apa yang difirmankan Allah SWT,

“bahwa siapa saja yang memancarkan energi positifnya dengan berbagi, menolong dan mencintai sesama kehidupan dan seluruh isinya, maka Allah akan mengembalikan energi positif ini dalam kehidupan kita”.

Bahkan dalam pandangan Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Sumber Energi Kehidupan, energi positif berupa kebaikan, cinta kasih tersebut akan dikembalikan dalam jumlah yang berlipat ganda.

Bentuk pengembalian yang kita terima bisa saja berupa makin dicintai orang lain, menerima banyak kasih sayang dari sesama manusia, mendapatkan kebaikan dan kemuliaan hidup, meraih kemudahan dalam berusaha, meraih keberhasilan dalam bekerja dan berbagai kemudahan hidup lainnya.

Dengan demikian kalau hidup semakin banyak digunakan untuk melepaskan energi positif dengan banyak melakukan tindakan positif bagi orang lain, berbagi kebaikan, menolong sesama kehidupan, dibandingkan dengan hanya mementingkan diri sendiri, akan semakin mengangkat derajat atau “value” diri seseorang dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Inilah yang saya maksudkan dengan daya ungkit energi positif bagi kesuksesan. Semakin besar energi positif dalam hidup yang kita pancarkan dari tubuh kita, akan menjadikan daya ungkit luar biasa dalam meninggikan kehidupan meraih sukses dan kemuliaan hidup. Hidup akan terasa menjadi semakin mudah, lebih tenteream, semakin ringan dan membahagiakan hati.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah benar-benar ada energi positif atau tindakan positif dalam bisnis, dalam pekerjaan, dalam hidup di dunia yang semakin komplek dengan persaingan ketat sekarang ini ?

Bagaimana agar kita dapat meningkatkan sumber energi positif sehingga dapat menjadi daya ungkit bagi sukses dan kemuliaan hidup kita ?.

Sumber energi positif sesungguhnya sudah ada dalam diri pribadi masing-masing individu. Seringkali kita tidak menyadari, kurang memahami atau bahkan tidak perduli dengan sumber energi dalam diri kita. Di dalam buku saya The Art of Life Revolution yang diterbitkan Elex Media Komputindo, dibahas apa saja energi positif dalam bisnis, pekerjaan dan hidup dan diuraika bagaimana menghidupkan energi positif dalam karier, bisnis dan hidup sehingga meningkatkan kesuksesan. Disini kami ingin berbagi 4 tips agar dapat meningkatkan sumber energi sukses mulia dalam hidup:

1. Memiliki tujuan hidup yang dilandasi oleh idealisme pada nilai-nilai luhur dan kemuliaan

Dalam kehidupan, banyak sekali kita temukan orang-orang sukses dengan penghargaan tertinggi, menjadi pemimpin kebijaksanaan hidup, pembaharu kehidupan, karena mereka memiliki tujuan hidup yang dilandasi nilai-nilai Luhur dan kemuliaan. Mereka mengabdikan hidupnya untuk kepentingan sesamanya. Mereka memiliki idealisme tinggi dengan mengabdikan hidupnya untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Memberikan pelayanan kepada banyak umat manusia, mengabdikan hidup untuk dunia dan alam semesta, mengabdikan ilmu pengetahuannya untuk kemajuan peradaban dunia.

2. Aktivasi Kekuatan Hati Dengan Menumbuhkan Keikhlasan Berbagi Kebaikan

Keikhlasan dalam berbagai kebaikan adalah energi positif yang akan menyebar, yang tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga menciptakan lebih banyak lagi energi positif yang akan kembali kepada si pemberi. Ini adalah hukum kehidupan yang benar, tidak peduli apakah si pemberi menginginkan atau bahkan tidak menyadarinya. Siapapun yang memberi dengan ikhlas, tanpa disadarinya telah meningkatkan nilai “value” dirinya bagi kesuksesan. Siapa yang melepasakan energi positif kebaikan, akan meningkatkan energi positif yang mengalir kepadanya hingga melipatgandakan kebahagiaannya.

3. Filosfi hidup “memberi dan melupakan”

Prinsipnya memberi dan melupakan merupakan landasan berpikir ikhlas dari dalam hati. Memiliki keikhlasan melakukan pekerjaan positif, memancarkan energi kebaikan kepada orang lain. Kita hanya perlu meyakini bahwa setiap energi positif yang kita pancarkan sesungguhnya tidak akan pernah berkurang. Meyakini bahwa energi positif tidak hilang dari kehidupan, tetapi akan kembali mengalir kedalam diri kita. Kita tidak perlu kawatir akan menjadi kekurangan, tidak perlu memiliki ketakutan tentang masa depan yang belum pasti, karena kita meyakini suatu saat energi positif ini pasti akan kembali. Ini merupakan suatu keniscayaan atau suatu hukum alam yang sejati.

4. Menumbuhkan Jiwa Empati

Bagaimana caranya untuk dapat memiliki jiwa empati ? Cara sederhana adalah kita dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kita dapat mengerti apa yang dibutuhkan orang lain. Jadi mengelola hati untuk dapat membantu kebutuhan orang lain. Kita memiliki kepekaan dan kepedulian yang kemudian diinterpretasikan melalui tindakan nyata membantu orang lain.

Memiliki jiwa empati merupakan energi positif ini akan memberikan efek positif bagi kebahagiaan ketika melakukan kebaikan. Tidak mementingkan hidup untuk dirinya tetapi membagi kepedulian dengan segera mengulurkan tangannya bagi mereka yang membutuhkan tanpa harus diperintah orang lain.

Semoga Bermanfaat. Salam Motivasi Nurani.

TALENTA DAN KARAKTER PRIBADI

Oleh : Eko Jalu Santoso

Kebaikan adalah bentuk khusus dari kebenaran dan keindahan. Ia adalah kebenaran dan keindahan dalam bentuk perilaku manusia.
– H.A. Overstreet –

Seringkali seseorang lebih mengandalkan kecerdasan dan talentanya untuk meraih keberhasilan dalam karier maupun dunia bisnis. Sesungguhnya untuk menggapai kesuksesan dalam pekerjaan dan bisnis, bukan hanya diperlukan kecerdasan dan telenta yang kuat semata, melainkan juga harus ditambahkan memiliki karakter yang baik.

Memiliki kecerdasan dan talenta yang kuat semata, meskipun mungkin dapat mendukung keberhasilannya, namun belum menjamin keberhasilan yang penuh makna dan memberikan kemuliaan seseorang. Sebaliknya seseorang yang memiliki kecerdasan dan talenta yang kuat, serta didukung dengan karakter yang baik, keberhasilannya akan memberikan makna dan memuliakannya. Karena kekuatan kebaikannya tidak akan pernah bisa disembunyikan dari siapa pun. Karena kekuatan kebaikannya akan memancar keluar dan menarik banyak peluang-peluang bagus dan kemudahan mendekat.

Manusia yang berkarakter baik, artinya mereka memiliki keindahan dalam perilaku dan kebenaran dalam tindakan. Karena kebaikan itu sangat berhubungan erat dengan keindahan perilaku manusia. Karenanya selain memiliki talenta dan kecerdasan, berlakulah baik, bertindaklah mulia agar kekuatan kebaikannya memancar dari diri Anda.

Dalam praktik nyatanya dalam kehidupan pekerjaan dan bisnis misalnya, karakter yang baik dapat tercermin dari senantiasa mengedepankan perilaku kejujuran, bisa dipercaya, memiliki ketekunan, memiliki kepedulian atau empati, kerjasama yang baik, bertanggung jawab dan mengembangkan sifat-sifat kemuliaan yang bersumber dari dalam hatinya.

Cara terbaik dalam membangun kebaikan pribadi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan yang kita yakini dalam hati dalam setiap perilaku kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Kalau implementasinya dalam organisasi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain yg berhubungan dengan organisasi bisnis. Itulah cara terbaik dalam mengembangkan kebaikan pribadi dan dalam memperlakukan orang lain, apakah anggota organisasi, para pemasok, para konsumen maupun kepada calon pelanggan kita.

Untuk menjadi pribadi unggul dan sukses mulia dalam pekerjaan maupun dunia bisnis, teruslah mempertajam kecerdasan, mengasah talenta Anda dan mengembangkan karakter pribadi yang baik. Karena karakter pribadi yang baik kekuatannya tidak dapat disembunyikan dari siapapun. Inilah modal bagi kesuksesan dalam pekerjaan dan berbisnis, bahkan menjadi modal dalam mencapai kemuliaan dalam kehidupan. SEMOGA BERMANFAAT