Month: April 2017

 

Kerja bernilai ibadah

Seringkali manusia membuat dikotomi atau pemisahan antara urusan kehidupan duniawi dan urusan kehidupan akhirat. Mereka memisahkan antara kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis dengan kesuksesan kerohanian untuk urusan akhirat. Akibatnya terjadilah pemisahan kepentingan yang seringkali hanya menomorsatukan kesuksesan pekerjaan untuk keberhasilan dunia kemudian menomor duakan urusan kesuksesan ukhrawi atau akhirat.

Hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan gerak pekerjaan, bisnis dan urusan duniawi dengan kepentingan spiritualitas dan kerohanian. Bagaimana mungkin, karena hidup hanya melakukan pekerjaan dan bisnis hingga meriah kesuksesan dan prestasi duniawi, tanpa diimbangi kesuksesan spiritualitas adalah kehampaan. Demikian sebaliknya hidup dengan spiritualitas tinggi tanpa diimbangi dengan kesuksesan kerja atau bisnis adalah kehampaan. Keduanya haruslah berjalan seimbang dan bersinergi dalam mengisi setiap langkah kehidupan.

Kita meyakini hidup tanpa bekerja, berkarya atau berbinis adalah hampa. Namun persoalannya kemudian adalah bagaimana agar pekerjaan itu memiliki nilai bermakna tinggi ?. Bagaimana persyaratannya agar pekerjaan kita memiliki nilai ibadah ?.

Manusia adalah makhluk spiritual dan makhluk fisik di dunia ini. Sebagai makhluk fisik manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Dengan demikian ibadah kepada Allah tidak dibatasi makna ibadah hanya ritual secara spiritual semata. Tapi lebih dari itu, semua pekerjaan keduniawian bisa memiliki arti ibadah. Artinya, dalam bekerja, berkarya, berbisnis bukan hanya materi yang bisa kita dapatkan, tetapi juga ridha dan pahala dari Allah SWT.

Pegawai yang bekerja di kantor, pedagang yang berkerja di pasar, petani yang bekerja di tanah pertanian, pengusaha yang berbisnis, pejabat pemerintahan, nelayan, semua pekerjaan bisa bernilai ibadah. Apakah kita sebagai pegawai biasa, manager, direktur, pejabat tinggi atau bahkan hanya seorang pembantu, semua posisi pekerjaan itu bisa bernilai ibadah. Tentu saja ada syarat-syaratnya agar pekerjaan yang dilakukan dapat memberikan nilai sebagai bagian dari ibadah. Bagaimana syarat-syaratnya ?

1. Tidak Melanggar Syariat Allah. Berusahalah memilih pekerjaan yang tidak melanggar aturan-aturan Allah. Dengarkan suara hati terdalam dalam memilih bidang pekerjaan, karena suara hati sesungguhnya percikan dari sifat-sifat mulia Allah.. Mereka yang memilih pekerjaan berdasarkan suara hatinya, tidak akan terjerumus dalam pekerjaan yang tidak halal dan diharamkan oleh agama.

2. Dilandasi Niat Kebaikan dan Keikhlasan. Berusahalah menjalankan pekerjaan hanya dilandasi oleh niat kebaikan dan keikhlasan hati. Pekerjaan yang dilandasi niat kebaikan dan keikhlasan hati, akan dapat mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai spiritualitas kebenaran, seperti transaksi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, menipu, merugikan orang lain, menjual narkoba, dll.

3. Menafkahi Keluarga. Bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Bahkan bekerja juga untuk memakmurkan bumi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Dengan demikian, jangan berniat bekerja untuk menumpuk harta, riya’, bermegah-megahan, atau sekedar ingin dihormati orang lain.

4. Tidak melailaikan Ibadah Kepada Allah. Rutinitas dan kesibukan dalam pekerjaan atau bisnis, jangan sampai membuat kita lalai dan meninggalkan ibadah ritual kepada Allah. Artinya kita dapat menyeimbangkan antara kepentingan pekerjaan dengan kepentingan spiritualitas ibadah kepada Allah.

5. Mengamalkan ilmu. Berusahalah bekerja untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki agar memberikan manfaat kepada banyak orang. Mengamalkan ilmu adalah melepaskan energi kebaikan kepada orang lain. Berusahalah membagikan ilmu yang kita miliki agar memberikan banyak manfaat bagi kehidupan dan alam semesta.

6. Bekerja dengan profesional. Artinya melakukan pekerjaan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan dilakukan dengan cara-cara yang cermat dan cerdas, yang dibenarkan sesuai nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Kalau hal itu menuntut diri kita untuk mengembangkan diri dalam sikap dan perilaku, maka lakukanlah. Kalau diperlukan peningkatan ilmu dengan tambahan pendidikan atau kurus, jalankanlah.

Beberapa hal diatas mungkin dapat menjadi bahan renungan mendalam bagi kita semua, agar senantiasa berusaha menjadikan setiap pekerjaan memiliki nilai ibadah, memberi keuntungan materi dunia, dan untuk kepentingan akhirat. Ukuran paling sederhana adalah kesucian niat dan keikhlasan melakukan pekerjaan, bertanggung jawab, senang berbagi kebaikan, menolong orang lain dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritualitas kebenaran yang abadi. Salam Motivasi Nurani Indonesia.

***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia dan Penulis Buku “The Art Of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani”, Keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

kerendahan hati – buku life balance ways

“Kerendahan hati merupakan cerminan kecerdasan spiritual seseorang. Pribadi yang rendah hati dan pandai menghargai orang lain adalah pribadi yg memiliki kecerdasan spiritual tinggi. Unsur penting yang diperlukan dalam pembentukan karakter pribadi mulia.”

Seorang pimpinan perusahaan yang dikenal baik dan dihargai oleh anak buahnya, mengadakan acara perpisahan pensiun dirinya dengan mengundang semua karyawannya. Di tengah-tengah acara berlangsung, seorang penjaga keamanan (satpam) memberanikan diri ke depan dan mengucapkan terima kasih atas kepemimpinannya selama ini. Ia berkata, “saya berterima kasih karena bapak selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan tugas saya dan selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Bapak adalah pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya sebagai karyawan bawah merasa sangat dihargai karena bapak tidak pernah merendahkan saya.”

Inilah salah satu cerminan sikap rendah hati seorang pimpinan. Sayangnya, dewasa ini semakin sulit menemukan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati seperti ini. Sebaliknya, sikap egoisme yang lebih menonjol dan menguasai sikap hidup manusia di abad modern sekarang ini. “Akulah yang paling hebat, engkau tidak ada apa-apanya,” demikianlah sikap egoisme dan kesombongan yang seringkali menguasai manusia modern dewasa ini. Tengoklah berbagai peristiwa di negeri ini, banyak orang yang tersinggung sedikit saja sudah mengamuk, atau harga dirinya tersentuh sedikit sudah tersinggung luar biasa.

Padahal kita tahu rendah hati merupakan salah satu sifat yang penting dalam membangun karakter pribadi sukses dan mulia. Bersama-sama dengan sifat-sifat lainnya seperti kejujuran, integritas, keikhlasan, rasa syukur dan lainnya, merupakan bagian dari pembentuk karakter pribadi sukses dan mulia. Kerendahan hati juga merupakan cerminan dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati berarti ia memiliki kesadaran yang tinggi akan posisi dirinya hanyalah sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Tuhan YME. Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tidak berlaku sombong, serakah dan tinggi hati.

Dalam dunia karier dan bisnis, sikap rendah hati juga merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh pribadi yang ingin meraih sukses dan kemuliaan. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Ludeman terhadap 800-an manajer perusahaan. Salah satu kesimpulan dari hasil riset yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun tersebut adalah bahwa para pemimpin, para manager yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, memiliki sikap rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Dengan demikian hal ini membuktikan bahwa mereka para pemimpin, manager yang meraih kesuksesan ini ternyata adalah manusia-manusia yang memiliki sifat rendah hati.

Pribadi yang rendah hati adalah pribadi yang dapat menghargai orang lain dan memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Mereka adalah pribadi yang senantiasa membuat orang lain merasa penting dan dihargai. Mereka mampu mengutamakan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap berbagai masukan, kritikan dan memiliki kesediaan untuk banyak berbagi dengan sesamanya.

Kita perlu belajar rendah hati, karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Sikap rendah hati juga mengundang simpati dan dukungan dari sesama, sebagai modal penting bagi keberhasilan. Pertanyaannya bagaimana mengendalikan egoisme pribadi, sehingga dapat menjaga sikap rendah hati dalam kehidupan modern dewasa ini? Temukan inspirasinya dalam buku terbaru saya, “Life Balance Ways” yang diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Group).

Ary Ginanjar Agustian dari ESQ Leadership Center dan penulis buku best seller ESQ Power, memberikan pujiannya untuk buku “Life Balance Ways,”: “Keseimbangan adalah jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan hidup manusia. Bahkan tanpa keseimbangan alam semesta pun niscaya akan binasa. Buku Life Balance Ways karya Eko Jalu Santoso ini menuntun pembaca untuk berada dalam jalan keseimbangan.”

Anda ingin meraih sukses dan kemuliaan dalam berbagai bidang kehidupan, pertahankan sikap rendah hati. Semoga Bermanfaat.

10 Prinsip Binsis dengan Hati

Oleh: Eko Jalu Santoso

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya. belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat menjadi ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah “built in” dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda telah berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.