Day: November 25, 2015

 

Otak Paling Mahal

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Judul diatas tentu menggelitik kita semua, benarkah otak orang Indonesia itu paling mahal ? Tidak percaya, mari kita ikuti kisah cerita ini. Alkisah, suatu hari di sebuah lembaga pelelangan dunia dilakukan lelang otak manusia. Yang hadir mengikuti proses lelang adalah utusan dari beberapa negara di dunia, termasuk salah satunya adalah peserta dari Indonesia. Setelah semua peserta hadir, maka proses pelelangan otak segera dimulai. Satu persatu otak dari berbagai negara ditawarkan dalam lelang tersebut. Setelah melalui proses pelalangan, ternyata otak orang Indonesia mendapatkan penawaran harga paling tinggi dibandingkan dengan otak dari beberapa orang negara maju lainnya.

Tentu saja hal ini mengundang keheranan para peserta lelang dari beberapa negara lainnya. Pertanyaan yang menggelitik adalah, mengapa otak orang Indonesia bisa mendapatkan penawaran harga paling tinggi? Usut punya usut, setelah diselidiki ternyata alasannya adalah otak orang Indonesia dianggap masih paling mulus dibandingkan otak dari bangsa lain. Mengapa bisa demikian? Karena otak orang Indonesia dianggap jarang digunakan untuk berpikir dibandingkan dengan otak orang negara maju sudah terlalu sering digunakan untuk berpikir.

Cerita di atas tentu hanyalah sebuah anekdot atau kisah lelucon semata. Tetapi hal ini bisa menjadi sebuah sindiran bagi kita, karena memang realitasnya banyak di antara kita yang malas mendayagunakan kemampuan otaknya. Buktinya, perhatikan saat kita naik bus, kereta api atau berada di tempat-tempat umum, seperti di stasiun kereta, atau di bandara di Jakarta, misalnya. Sangat jarang kita menemukan orang-orang yang duduk sambil membaca buku. Kebanyakan lebih senang duduk mengobrol, menonton televisi atau tertidur.

Tapi coba bandingkan dengan di negara-negara maju, seperti di Jepang misalnya. Beberapa tahun lalu saat saya melakukan perjalanan ke Jepang bersama delegasi perwakilan pengusaha Indonesia atas undangan dari Asean Center di Tokyo, saat berada di dalam kereta, naik bus, ataupun di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta atau bandara, sangat mudah kita menemukan orang-orang yang asyik membaca buku. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat peduli untuk belajar dan terus mengasah ilmu meningkatkan ilmu pengetahuan.

Jadilah Pribadi Pembelajar

Kebanyakan orang menganggap bahwa tugas belajar menuntut ilmu sudah selesai setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekolah atau universitas. Kemudian mereka sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, mengabaikan aktivitas belajar meningkatkan kualitas dirinya. Mereka menganggap tidak perlu lagi belajar, membaca buku, mengikuti seminar atau training untuk mengembangkan kualitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya.

Pandangan yang demikian tentu saja tidaklah benar dan hanya akan menciptakan penjara bagi kemampuan berpikir, membuat kungkungan terhadap pengembangan nilai diri. Seperti halnya dahan pohon yang tidak pernah diberikan makanan cukup, maka lama kelamaan dahannya mengering dan tidak akan menghasilkan buah yang ranum dan siap dipetik.

Seorang futuris terkenal Alvin Toffler mengatakan bahwa “buta huruf di abad 21 bukanlah karena orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dikarenakan mereka yang tidak bisa belajar, tidak belajar, dan tidak mempelajari kembali.” Maknanya, jelas bahwa hidup itu sesungguhnya merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun, setiap pribadi dituntut untuk terus melakukan pembelajaran, kalau tidak ingin semakin tertinggal. Dengan demikian belajar, baik itu ilmu pengetahuan maupun ketrampilan memiliki peranan yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan manusia.

Good Ethos mengajarkan kita untuk menjadi pribadi pembelajar agar memiliki etos cerdas penuh kreativitas. Karena kehidupan membuktikan bahwa para professional sukses dan mulia adalah mereka yang senantiasa menyediakan diri untuk mendengar dan belajar mengasah ketajaman hati dan pikirannya disetiap kesempatan. Mereka adalah pribadi pembelajar yang tiada henti belajar dan berlatih mengembangkan kualitas dirinya. Karena dengan belajar, akan membuka cakrawala pemikiran manusia menjangkau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter manusia yang terus berkembang. Pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak menjadikan manusia dapat memberikan kontribusi kebaikan yang lebih baik bagi dirinya dan bagi lingkungan sekelilingnya.

Bagaimana dengan Anda ? Kapan dan dimanakah terakhir kali Anda belajar ? Kalau ingin terus maju dan berkembang, rangkulah proses pembelajaran seumur hidup dan jadikan belajar sebagai sebuah personal mantra agar menjadi professional unggul berkarakter mulia. Salam Good Ethos.

Investasi Yang Tak Pernah Merugi

” Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan itu seramah wujudnya, dan kebaikan itu sebaik rasanya. Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.” – Dr. Aidh Al Qarni –

Saya sangat sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Aidh Al Qarni tersebut. Siapapun yang menanamkan kebajikan, memberikan keramahan, melakukan kebaikan bagi kehidupan, ia sendirilah yang pertama akan merasakan manfaatnya. Bisa saja seketika itu akan merasakan manfaatnya dalam kebahagiaan mendalam atau kedamain hati. Tetapi bisa juga balasannya dalam waktu yang tidak kita ketahui dan dalam bentuk yang berbeda.

Pernahkah Anda merasakan kebahagiaan ketika Anda dapat membantu seseorang yang sedang memerlukan pertolongan ? Sesungguhnya itulah kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritual seseorang. Kebahagiaan yang demikian akan memberikan arti bagi kehidupan dan menjadi makanan yang memperkaya jiwa kita.

Mohon dipahami bahwa kemuliaan hidup yang kita impikan menuntut kita untuk membayarnya dengan kesungguhan mengalahkan ego pribadi dan keinginan hanya mementingkan diri sendiri. Mengalahkan keserakahan hanya menumpuk harta untuk dirinya sendiri, melainkan mau membayarnya dengan memikirkan kepentingan orang lain dan mau banyak berbagi kebaikan untuk orang lain. Kemuliaan hidup itu hanya dapat dicapai dengan kita memberbanyak kontribusi dan manfaat kebaikan bagi orang lain. Kesungguhan dan keikhlasan kita untuk memperbanyak kebaikan bagi orang lain, akan mengalirkan kembali kebaikan kedalam diri kita. Hal ini sudah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, ”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Berbagai kegundahan, kegelisahan dan kekawatiran akan masa depan kehidupan kita akan lama mengisi hidup kita, kalau kita tidak mengalihkan perhatian pada upaya memberikan manfaat dan banyak berbagi kebaikan dengan orang lain. Masalah kehidupan baik dalam dalam karier dan bisnis akan lama bersama dan mengisi kesadaran kita, bila kita tidak mengalihkan semua itu melalui upaya banyak memberikan manfaat dan berbagi kebaikan dengan orang lain.

”Alam dan kehidupan akan memuliakan orang yang banyak berbagi kebaikan bagi sesama. Memberikan kemudahan bagi orang yang senang memudahkan urusan orang lain.”

Tidak mungkin seseorang bisa mencapai kesuksesan yang memberikan kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritualitasnya, bila dia tidak lebih dahulu menanggalkan egonya dan banyak membantu orang lain. Siapapun diri kita, sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, bila kita melihat pekerjaan yang kecil itu sebagai cara untuk mempermudah kehidupan orang lain, cara untuk membantu orang lain, itu berarti telah berinvestasi kebajikan untuk sesama. Pada saatnya alam semesta dan kehidupan ini akan mencairkan kembali tabungan ivestasi kebajikan yang telah kita kumpulkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam menaburkan benih-benih kebajikan atau menanamkan investasi kebaikan, sebagaimana saya tuliskan dalam buku saya Life Balance Ways yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Kalau Anda memiliki semangat dan motivasi misalnya, berbagilah dengan mereka yang membutuhkannya. Kalau Anda memiliki ide, pemikiran dan tenaga, berbagilah untuk kebaikan orang lain. Kalau Anda memiliki ilmu pengetahuan, kekuasaan, jabatan atau harta kekayaan, gunakanlah untuk memberikan manfaat kebaikan sesama kehidupan, dan lain sebagainya. Pada intinya semakin banyak hal-hal posisitf kebaikan yang kita bagikan, semakin banyak energi positif kebaikan yang kita bagikan, berarti semakin besar tabungan investasi kebaikan yang kita tanamkan.

Mudah-mudahan kita semua dimudahkan dalam menaburkan benih-benih kebajikan bagi kehidupan. Ketika hal itu kita lakukan dengan keikhlasan, pada saatnya kita akan menerimanya kembali. Mungkin kita menerimanya dalam bentuk kebahagiaan hati, kepuasaan jiwa, ketenangan hidup, keberhasilan, kesehatan dan kemudahan rejeki, dll.