Tingkatkan Kecakapan Empati

”Berempatilah agar lebih memahami perasaan, pikiran dan kepentingan orang lain. Bersimpatilah agar lebih peka dan peduli membantu kesulitan orang lain.”
~Buku Good Ethos, halaman 101.

Ketika diundang sebagai pembicara motivasi di perusahaan-perusahaan, salah satu topik yang saya bahas adalah membangun kecakapan empati. Mengapa kecakapan empati menjadi poin penting untuk dibahas ? Karena salah satu ciri profesional berkarakter mulia itu adalah memiliki kecakapan empati tinggi.

Pribadi yang memiliki etos mulia dalam bekerja senantiasa mengedepankan sikap empati penuh peduli. Mereka tidak bekerja demi kepuasan diri sendiri saja tanpa memiliki kepedulian pada lingkungannya. Tetapi mereka bekerja penuh empati dan kepedulian pada sekitarnya, seperti lingkungan kerja, masyarakat dan lainnya.

Sikap empati sejatinya adalah upaya konsisten seseorang dalam mendengar, melihat dan memahami dari sudut pandang orang lain, kemudian mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut melalui kata dan tindakannya.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari tujuh ribu orang Amerika Serikat dan 18 negara-negara lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daniel Golemen menyatakan bahwa “kecakapan empati” atau kemampuan membaca perasaan orang lain memiliki manfaat menjadikan seseorang lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional, lebih popular, lebih peka dan lebih mudah bergaul dengan orang lain. Unsur- unsur inilah yang akan semakin menghidupkan energi positif seseorang yang akhirnya dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam peerjaan dan kehidupan.

Kapasitas untuk menunjukkan empati merupakan kualitas intrinsik seseorang. Beberapa orang memiliki kapasitas empati yang lebih dibandingkan lainnya, sehingga lebih mudah mengembangkannya. Meskipun demikian setiap orang dapat mengembangkan derajat kecakapan empati yang diperlukan dalam bekerja dan kehidupannya.

Dalam buku Good Ethos ada beberapa kiat penting untuk melatih dan mengembangkan kecakapan empati seseorang, diantaranya adalah memiliki memiliki kemampuan mendengarkan untuk mengerti terlebih dahulu, sebelum ingin didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Itulah mengapa Stephen Covey seorang penulis dan motivator kelas dunia, secara khusus menaruh kemampuan mendengarkan sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti.

About the author

ekojalusantoso

Book Author, Public speaker and Motivator

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*