Day: November 9, 2015

 

Tingkatkan Kecakapan Empati

”Berempatilah agar lebih memahami perasaan, pikiran dan kepentingan orang lain. Bersimpatilah agar lebih peka dan peduli membantu kesulitan orang lain.”
~Buku Good Ethos, halaman 101.

Ketika diundang sebagai pembicara motivasi di perusahaan-perusahaan, salah satu topik yang saya bahas adalah membangun kecakapan empati. Mengapa kecakapan empati menjadi poin penting untuk dibahas ? Karena salah satu ciri profesional berkarakter mulia itu adalah memiliki kecakapan empati tinggi.

Pribadi yang memiliki etos mulia dalam bekerja senantiasa mengedepankan sikap empati penuh peduli. Mereka tidak bekerja demi kepuasan diri sendiri saja tanpa memiliki kepedulian pada lingkungannya. Tetapi mereka bekerja penuh empati dan kepedulian pada sekitarnya, seperti lingkungan kerja, masyarakat dan lainnya.

Sikap empati sejatinya adalah upaya konsisten seseorang dalam mendengar, melihat dan memahami dari sudut pandang orang lain, kemudian mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut melalui kata dan tindakannya.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari tujuh ribu orang Amerika Serikat dan 18 negara-negara lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daniel Golemen menyatakan bahwa “kecakapan empati” atau kemampuan membaca perasaan orang lain memiliki manfaat menjadikan seseorang lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional, lebih popular, lebih peka dan lebih mudah bergaul dengan orang lain. Unsur- unsur inilah yang akan semakin menghidupkan energi positif seseorang yang akhirnya dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam peerjaan dan kehidupan.

Kapasitas untuk menunjukkan empati merupakan kualitas intrinsik seseorang. Beberapa orang memiliki kapasitas empati yang lebih dibandingkan lainnya, sehingga lebih mudah mengembangkannya. Meskipun demikian setiap orang dapat mengembangkan derajat kecakapan empati yang diperlukan dalam bekerja dan kehidupannya.

Dalam buku Good Ethos ada beberapa kiat penting untuk melatih dan mengembangkan kecakapan empati seseorang, diantaranya adalah memiliki memiliki kemampuan mendengarkan untuk mengerti terlebih dahulu, sebelum ingin didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Itulah mengapa Stephen Covey seorang penulis dan motivator kelas dunia, secara khusus menaruh kemampuan mendengarkan sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti.

Berprestasi itu Indah

“Prestasi tertinggi bukanlah di mata manusia, melainkan di mata Allah Swt. Ketika seseorang bekerja berorientasi prestasi tertinggi di mata Allah Swt., niscaya apa yang dilakukannya akan mendapatkan keuntungan dunia dan akherat.” ~ Buku Good Ethos, halaman 161.

Berprestasi itu indah, kalau hal itu diraih melalui cara-cara yang benar. Kalau hal itu dilakukan untuk meraih prestasi di hadapak Allah SWT.

Sayangnya, di era yang banyak mengedepankan materialisme sekarang ini, seringkali menjadikan banyak orang hanya sibuk bekerja untuk meraih tujuan jangka pendek semata. Mereka berusaha mengejar ambisi untuk meraih prestasi keberhasilan duniawi. Keberhaasilan yang hanya berorientasi duniawi, seperti jabatan tinggi, kekayaan harta, popularitas dan lainnya. Kondisi demikian, memaksa banyak orang akhirnya mencari jalan-jalan pintas. Kadangkala mereka sampai melupakan nilai-nilai moralitas,  spiritualitas, keimanan demi tercapainya tujuan tersebut.

Kita lupa bahwa prestasi yang terbaik itu sesungguhnya bukanlah dihadapan manusia, melainkan derajat prestasi tertinggi itu sesungguhnya adalah di mata Allah SWT. Berprestasi itu indah, kalau orientasi prestasinya adalah di mata Allah SWT. Karena inilah sebenarnya prestasi tertinggi yang melebihi segala-galanya.

Prestasi di hadapan manusia tentu boleh saja, asalkan tidak dengan mengorbankan nilai-nilai moralitas dan spiritualitas. Tetapi apalah artinya sebuah prestasi itu, jika diperoleh dengan menghalalkan segala cara ?  Apalah artinya sebuah prestasi professional yang cemerlang, kalau harus mengorbankan nilai-nilai etika dan keimanan ?

Banyak bukti bahwa mereka yang hanya berorientasi pada prestasi duniawi, pada akhirnya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Padahal, kalau kita menginginkan prestasi di mata Allah, niscaya kita akan mendapatkan semuanya, baik itu keuntungan hidup di dunia maupun keuntungan hidup di akhirat kelak. Karena, hasil pekerjaan kita akan dilihat Allah Swt. dan rasulnya serta akan dirasakan oleh orang-orang yang beriman.

Mereka yang menempatkan objek atau subjek yang dikejar dalam bekerja hanyalah jangka pendek (tujuan duniawi sesaat), seringkali akan menemukan kesia-siaan. Mereka akan menjadi mudah berputus asa ketika tidak mendapatkannya. Tetapi tidak demikian bagi pribadi yang ber-etos kerja mulia, yakni etos kerja yang dilandasi nilai-nilai keyakikan keimanan dalam hati. Mereka hanya akan bekerja berorientasi prestasi di mata Allah SWT. Sehingga hasilnya, mereka akan mendapatkan keberhasilan dan kebahagiaan jangka panjang. Karena apa yang dilakukannya hanyalah untuk mengharapkan ridha Allah SWT.

Bagaimana agar prestasi yang diraih bernilai tinggi ? Bagaimana agar dalam bekerja mendapatkan bukan hanya meraih keuntungan duniawi, melainkan sekaligus keuntungan akherat kelak ? Maka mulai sekarang ubahlah orientasi bekerja Anda bukan sekedar untuk meraih keberhasilan duniawi, melainkan juga untuk kehidupan akherat kelak. Lakukan perubahan orientasi dalam bekerja, bukan semata-mata berorientasi prestaso duniawi, melainkan berorientasi prestasi dihadapan Allah SWT.