Month: November 2015

 

Jadilah Keajaiban Bagi Orang Lain

Cerita bisa menjadi jembatan pemahaman yang baik untuk sebuah tulisan. Melalui cerita orang akan lebih mudah mencerna akan makna dari sebuah pesan yang ingin disampaikan. Kali ini saya ingin berbagi cerita yang saya dapatkan dari broadcast email yang masuk ke account saya. Diceritakan seorang anak sedang berjalan-jalan bersama ayahnya. Di tengah perjalanan mereka menemukan ada sepasang sepatu tua yang tergeletak di pinggir jalan. Mereka yakin sepatu tersebut milik salah seorang pekerja proyek tidak jauh dari lokasi.

Sang anak berkata pada ayahnya, “Yah, ayo kita sembunyikan sepatu tua ini, lalu kita bersembunyi dibalik semak-semak dan melihat apa yg terjadi kemudian.”

Ayahnya menjawab, “Jangan anakku, kita tidak boleh bersenang-senang dibalik kesulitan orang lain. Kita dapat melakukan sesuatu yg lebih baik.”

Sang anak bertanya, “ Caranya bagaimana ayah.”

Ayahnya menjawab, “ Ayah ada ide, ayo kita masukan uang ke dalam kedua sepatu butu ini. Lalu kita bersembunyi untuk melihat bagaimana reaksi orang tersebut.”

Si anak dan ayahnya itupun akhirnya bersama-sama memasukan uang ke dalam kedua sepatu tersebut, lalu mereka bersembunyi dibalik semak-semak.

Tak lama kemudian, si empunya sepatu keluar dari hutan dan bergegas mengambil sepatunya. Ketika memasukkan salah satu kakinya, ia merasakan ada
Sesuatu benda yang mengganjal. Ia nampak terkejut dan terheran-heran setelah me;lihat ke dalam sepatunya, karena ada uang di dalam sepatunya. Ia memegang sambil menatap uang tersebut yang jumlahnya lumayan. Lalu ia memasukan kakinya ke sepatu lainnya. Lagi-lagi ia terkejut karena ada uang di dalam sepatu yang satunya lagi.

Perasaan kaget sambil terharu menyelimuti si pekerja tersebut. Segera ia menengadahkan tangan ke atas sambil mengucapkan doa syukur yang terdengar jelas dari mulutnya. Ia berbicara mengenai istrinya yang sedang sakit membutuhkan obat, serta anaknya yang memerlukan biaya sekolah. Ia bersyukur atas kemurahan Tuhan YME yang telah memberikan uang melalui orang yang tidak ia ketahui.

Melihat hal itu, sang anak ikut terharu dan meneteskan airmata. Ia berpaling pada ayahnya sambil berkata;
“Terimakasih ayah, engkau telah memberiku pelajaran yang tak akan aku lupakan.”

Sahabat profesional yang berhati mulia, seringkali tanpa kita sadari kita melakukan sesuatu kesenangan, dibalik kesusahan orang lain. Memanfaatkan sebuah peluang di tengah kesusahan yang dihadapi orang lain. Sebaiknya hal yang demikian kita hindari. Lebih baik kita membiasakan untuk selalu berprasangka baik dan berbuat baik bagi orang lain.

Salah satu etos terbaik dan mulia dalam buku Good Ethos adalah membudayakan etos empati penuh peduli. Etos ini mengajarkan kepada kita untuk selalu memiliki sikap empati terhadap orang lain dan memiliki kepedulian untuk membantu sesama. Kita dapat membudayakan etos empati penuh peduli ini melalui hal-hal kecil yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa memulai melakukan hal-hal baik yang meskipun nampaknya kecil bagi kita, mungkin saja itu berarti besar bagi orang lain. Kita bisa menjadi “keajaiban” bagi orang lain. Tidak harus melakukan hal-hal besar, tetapi bisa dengan melakukan hal-hal kecil yang kita temui di sekitar kita. Cobalah lakukan hari ini dan Anda akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

Otak Paling Mahal

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Judul diatas tentu menggelitik kita semua, benarkah otak orang Indonesia itu paling mahal ? Tidak percaya, mari kita ikuti kisah cerita ini. Alkisah, suatu hari di sebuah lembaga pelelangan dunia dilakukan lelang otak manusia. Yang hadir mengikuti proses lelang adalah utusan dari beberapa negara di dunia, termasuk salah satunya adalah peserta dari Indonesia. Setelah semua peserta hadir, maka proses pelelangan otak segera dimulai. Satu persatu otak dari berbagai negara ditawarkan dalam lelang tersebut. Setelah melalui proses pelalangan, ternyata otak orang Indonesia mendapatkan penawaran harga paling tinggi dibandingkan dengan otak dari beberapa orang negara maju lainnya.

Tentu saja hal ini mengundang keheranan para peserta lelang dari beberapa negara lainnya. Pertanyaan yang menggelitik adalah, mengapa otak orang Indonesia bisa mendapatkan penawaran harga paling tinggi? Usut punya usut, setelah diselidiki ternyata alasannya adalah otak orang Indonesia dianggap masih paling mulus dibandingkan otak dari bangsa lain. Mengapa bisa demikian? Karena otak orang Indonesia dianggap jarang digunakan untuk berpikir dibandingkan dengan otak orang negara maju sudah terlalu sering digunakan untuk berpikir.

Cerita di atas tentu hanyalah sebuah anekdot atau kisah lelucon semata. Tetapi hal ini bisa menjadi sebuah sindiran bagi kita, karena memang realitasnya banyak di antara kita yang malas mendayagunakan kemampuan otaknya. Buktinya, perhatikan saat kita naik bus, kereta api atau berada di tempat-tempat umum, seperti di stasiun kereta, atau di bandara di Jakarta, misalnya. Sangat jarang kita menemukan orang-orang yang duduk sambil membaca buku. Kebanyakan lebih senang duduk mengobrol, menonton televisi atau tertidur.

Tapi coba bandingkan dengan di negara-negara maju, seperti di Jepang misalnya. Beberapa tahun lalu saat saya melakukan perjalanan ke Jepang bersama delegasi perwakilan pengusaha Indonesia atas undangan dari Asean Center di Tokyo, saat berada di dalam kereta, naik bus, ataupun di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta atau bandara, sangat mudah kita menemukan orang-orang yang asyik membaca buku. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat peduli untuk belajar dan terus mengasah ilmu meningkatkan ilmu pengetahuan.

Jadilah Pribadi Pembelajar

Kebanyakan orang menganggap bahwa tugas belajar menuntut ilmu sudah selesai setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekolah atau universitas. Kemudian mereka sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, mengabaikan aktivitas belajar meningkatkan kualitas dirinya. Mereka menganggap tidak perlu lagi belajar, membaca buku, mengikuti seminar atau training untuk mengembangkan kualitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya.

Pandangan yang demikian tentu saja tidaklah benar dan hanya akan menciptakan penjara bagi kemampuan berpikir, membuat kungkungan terhadap pengembangan nilai diri. Seperti halnya dahan pohon yang tidak pernah diberikan makanan cukup, maka lama kelamaan dahannya mengering dan tidak akan menghasilkan buah yang ranum dan siap dipetik.

Seorang futuris terkenal Alvin Toffler mengatakan bahwa “buta huruf di abad 21 bukanlah karena orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dikarenakan mereka yang tidak bisa belajar, tidak belajar, dan tidak mempelajari kembali.” Maknanya, jelas bahwa hidup itu sesungguhnya merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun, setiap pribadi dituntut untuk terus melakukan pembelajaran, kalau tidak ingin semakin tertinggal. Dengan demikian belajar, baik itu ilmu pengetahuan maupun ketrampilan memiliki peranan yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan manusia.

Good Ethos mengajarkan kita untuk menjadi pribadi pembelajar agar memiliki etos cerdas penuh kreativitas. Karena kehidupan membuktikan bahwa para professional sukses dan mulia adalah mereka yang senantiasa menyediakan diri untuk mendengar dan belajar mengasah ketajaman hati dan pikirannya disetiap kesempatan. Mereka adalah pribadi pembelajar yang tiada henti belajar dan berlatih mengembangkan kualitas dirinya. Karena dengan belajar, akan membuka cakrawala pemikiran manusia menjangkau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter manusia yang terus berkembang. Pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak menjadikan manusia dapat memberikan kontribusi kebaikan yang lebih baik bagi dirinya dan bagi lingkungan sekelilingnya.

Bagaimana dengan Anda ? Kapan dan dimanakah terakhir kali Anda belajar ? Kalau ingin terus maju dan berkembang, rangkulah proses pembelajaran seumur hidup dan jadikan belajar sebagai sebuah personal mantra agar menjadi professional unggul berkarakter mulia. Salam Good Ethos.

Investasi Yang Tak Pernah Merugi

” Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan itu seramah wujudnya, dan kebaikan itu sebaik rasanya. Orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.” – Dr. Aidh Al Qarni –

Saya sangat sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Dr. Aidh Al Qarni tersebut. Siapapun yang menanamkan kebajikan, memberikan keramahan, melakukan kebaikan bagi kehidupan, ia sendirilah yang pertama akan merasakan manfaatnya. Bisa saja seketika itu akan merasakan manfaatnya dalam kebahagiaan mendalam atau kedamain hati. Tetapi bisa juga balasannya dalam waktu yang tidak kita ketahui dan dalam bentuk yang berbeda.

Pernahkah Anda merasakan kebahagiaan ketika Anda dapat membantu seseorang yang sedang memerlukan pertolongan ? Sesungguhnya itulah kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritual seseorang. Kebahagiaan yang demikian akan memberikan arti bagi kehidupan dan menjadi makanan yang memperkaya jiwa kita.

Mohon dipahami bahwa kemuliaan hidup yang kita impikan menuntut kita untuk membayarnya dengan kesungguhan mengalahkan ego pribadi dan keinginan hanya mementingkan diri sendiri. Mengalahkan keserakahan hanya menumpuk harta untuk dirinya sendiri, melainkan mau membayarnya dengan memikirkan kepentingan orang lain dan mau banyak berbagi kebaikan untuk orang lain. Kemuliaan hidup itu hanya dapat dicapai dengan kita memberbanyak kontribusi dan manfaat kebaikan bagi orang lain. Kesungguhan dan keikhlasan kita untuk memperbanyak kebaikan bagi orang lain, akan mengalirkan kembali kebaikan kedalam diri kita. Hal ini sudah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, ”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Berbagai kegundahan, kegelisahan dan kekawatiran akan masa depan kehidupan kita akan lama mengisi hidup kita, kalau kita tidak mengalihkan perhatian pada upaya memberikan manfaat dan banyak berbagi kebaikan dengan orang lain. Masalah kehidupan baik dalam dalam karier dan bisnis akan lama bersama dan mengisi kesadaran kita, bila kita tidak mengalihkan semua itu melalui upaya banyak memberikan manfaat dan berbagi kebaikan dengan orang lain.

”Alam dan kehidupan akan memuliakan orang yang banyak berbagi kebaikan bagi sesama. Memberikan kemudahan bagi orang yang senang memudahkan urusan orang lain.”

Tidak mungkin seseorang bisa mencapai kesuksesan yang memberikan kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritualitasnya, bila dia tidak lebih dahulu menanggalkan egonya dan banyak membantu orang lain. Siapapun diri kita, sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, bila kita melihat pekerjaan yang kecil itu sebagai cara untuk mempermudah kehidupan orang lain, cara untuk membantu orang lain, itu berarti telah berinvestasi kebajikan untuk sesama. Pada saatnya alam semesta dan kehidupan ini akan mencairkan kembali tabungan ivestasi kebajikan yang telah kita kumpulkan.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam menaburkan benih-benih kebajikan atau menanamkan investasi kebaikan, sebagaimana saya tuliskan dalam buku saya Life Balance Ways yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Kalau Anda memiliki semangat dan motivasi misalnya, berbagilah dengan mereka yang membutuhkannya. Kalau Anda memiliki ide, pemikiran dan tenaga, berbagilah untuk kebaikan orang lain. Kalau Anda memiliki ilmu pengetahuan, kekuasaan, jabatan atau harta kekayaan, gunakanlah untuk memberikan manfaat kebaikan sesama kehidupan, dan lain sebagainya. Pada intinya semakin banyak hal-hal posisitf kebaikan yang kita bagikan, semakin banyak energi positif kebaikan yang kita bagikan, berarti semakin besar tabungan investasi kebaikan yang kita tanamkan.

Mudah-mudahan kita semua dimudahkan dalam menaburkan benih-benih kebajikan bagi kehidupan. Ketika hal itu kita lakukan dengan keikhlasan, pada saatnya kita akan menerimanya kembali. Mungkin kita menerimanya dalam bentuk kebahagiaan hati, kepuasaan jiwa, ketenangan hidup, keberhasilan, kesehatan dan kemudahan rejeki, dll.

8 Ketrampilan Business Leader

Apakah saat ini Anda dipercaya untuk mengendalikan sebuah usaha atau memimpin sebuah organisasi bisnis ? Kalau benar demikian, maka mulai sekarang Anda mesti menunjukkan kinerja kepemimpinan yang baik. Sebagai business – leader Anda Anda mesti menunjukkan kinerja bisnis secara menyeluruh, bukan lagi hanya satu bagian, seperti produksi atau manufaktur, marketing atau keuangan.

Salah satu hal penting yang harus dicermati seorang pemimpin business adalah arus cash-flow keuangan dan posisi uang kas perusahaan tiap minggunya, kalau perlu tiap hari. Karena dengan mencermati arus cash-flow, Anda bisa dapat gambaran awal tentang mekanisme bisnis Anda (the business-mechanics). Dari segmen produk dan pasar mana saja uang itu mengalir masuk? Sektor apa saja yang paling besar mengalirkan uang keluar? Kemudian, di akhir minggu (atau tiap hari) posisi uang-kas Anda negatif atau positif? Bagaimana proyeksi uang kas ini minggu depan? bulan dan semester depan? Di akhir tahun?

Untuk meningkatkan kelihaian berbisnis, pelajari ketiga laporan dasar keuangan: Cash-Flow (laporan arus-kas), Income Statement (laporan laba-rugi), dan Balance-Sheet (neraca keuangan). Ketiganya penting, namun yang kritikal adalah cash-flow!

Dengan terus mewaspadai mekanisme arus-kas, kita bisa meraba apa sih yang sesungguhnya dibeli pelanggan? Bisa menyelidiki mengapa mereka beli dari Anda?  Bisa segera tahu, apa yang mesti dilakukan jika barang dagangan tidak laku?

Secara jelas, Eko Jalu Santoso dalam bukunya The Wisdom of Business (diterbitkan Elex Media Komputindo, tahun 2009) menyampaikan delapan keterampilan yang perlu dimiliki bagi seorang pemimpin bisnis atau “business leader” agar menjadi pemimpin bisnis yang efektif. Berikut ini ringkasan kutipannya:

1. Merencanakan Tujuan Masa Depan
Kemampuan merencanakan tujuan masa depan bisnis yang dilandasi nilai-nilai idealisme dari hati. Artinya diperlukan kemampuan merencanakan laju organisasi bisnis ke depan dengan pandangan ketajaman mata hati yang dimilikinya. Bukan hanya bertolak dari kinerja tahun lalu atau “past performance”, tetapi dapat merencanakan peningkatan inkremental sesuai dengan potensi organisasi saat ini.

2. Fokus pada Pelayanan Pelanggan
Pemimpin inspiratif sangat menyadari kalau pelanggan adalah orang yang harus dilayani dengan hati. Mereka sangat menyadari siapa pelanggannya dan tahu persis apa yang menjadi kebutuhan pelanggannya. Pemimpin yang “stake- holder focused” akan mampu bersikap direktif, tahu persis apa yang perlu ditanyakan bila bertemu pelanggan, mitra bisnis dan pihak eksternal lainnya. Sikapnya tidak terlihat “bossy” dan birokratis, karena setiap perilakunya didasarkan pada pelayanan pelanggan.

3. Menjadi Sumber Inspirasi
Bagaimana perasaan Anda ketika dipimpin oleh seorang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani ? Bukankah kita Anda akan sangat menyukainya? Kita menjadi terkesan dengan kerendahan hati dan keramahannya. Pemimpin yang demikian adalah pemimpin yang dapat menyentuh hati dan membahagiakan hati orang yang dipimpinnya. Sebagai seorang pemimpin bisnis, pasti karyawan dan anggota organisasi akan menghormatinya dengan tulus. Karyawan akan lebih semangat dalam bekerja dan hasilnya adalah produktivitas meningkat, perusahaan berkembang dan kesejahteraan baik.

4. Mengenali Kekuatan Karyawannya
Memiliki kemampuan menilai orang atau “judge people” berdasarkan fakta dan observasi, sehingga dapat menemu-kan talenta terbaik dan menggunakannya untuk kepentingan bisnis. Hanya pemimpin yang sadar akan kapasitas sumber dayanya-lah yang bisa mengajak orang di sekitarnya untuk berupaya lebih dan membuat nilai tambah.

Memahami talenta dan potensi bawahan memungkinkan pemimpin untuk memotivasi bawahan secara personal, sesuai dengan kekuatan dan kekhasan bawahannya. Bawahan akan merasa “terangkat” dan termotivasi merasa mampu berbuat lebih. Dengan mengenali kekhasan bawahan, pemimpin bisnis dapat menjadi seorang “coach” yang baik, karena dapat membimbing bawahan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, kemudian memberikan pengarahan dan jalan keluar, juga prinsip profesional dan solusi permasalahan, bahkan sampai filosofinya.

5. Mampu Menyentuh Level Emosional
Gaji atau penghasilan seseorang memang dapat menentukan semangat, motivasi dan kepuasan kerjanya. Namun seorang pemimpin yang baik, biasanya akan kreatif dalam menemukan cara yang tidak biasa dalam memenuhi kebutuhan bawahannya. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan material, namun ia mampu membangun kedekatan dengan bawahannya hingga menyentuh level emosionalnya. Pemimpin yang rendah hati mampu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti respek, rasa hormat dan prestis, untuk bisa mengangkat semangat timnya dengan lebih baik.

6. Ketrampilan Membangun Tim yang Tangguh
Meskipun memiliki anggota dengan berbagai kompetensi masing-masing, seorang pemimpin dapat menyatukan mereka dengan meredam egonya masing-masing untuk melebur menjadi satu tim solid untuk meraih tujuan organisasi. Menghidupkan koordinasi dan kerjasama satu dengan lainnya. Membangun keterbukaan dan kejujuran satu dengan yang lain sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tepat. Memiliki kemampuan memilih anggota organisasi yang tepat dalam sebuah tim, yakni yang memiliki “performance” atau kualitas kinerja tinggi dan memiliki “personal value” atau tatanan nilai-nilai pribadi yang sesuai dengan nilai tim atau organisasi, sangat diperlukan bagi seorang pemimpin. Kemampuan memilih orang yang tepat akan menghasilkan tim yang tepat, tangguh, mampu berkinerja produktif dan berkualitas tinggi.

7. Kemampuan Menetapkan Prioritas
Menetapkan prioritas yang tepat merupakan salah satu kemampuan pemimpin bisnis yang sangat penting. Karena sebagai seorang “business leader”, sering kali dihadapkan pada berbagai kepentingan untuk tujuan bisnisnya. Memiliki kemampuan menetapkan prioritas yang tajam, sasaran yang tepat, dengan memerhatikan sumber daya dan kemampuan potensi yang dimiliki organisasi akan sangat memengaruhi keberhasilannya. Dengan demikian seorang “business leader” atau pemimpin bisnis dituntut untuk terus mengembangkan dirinya dan mampu merumuskan tugas-tugas spesifik serta mengarahkannya sesuai dengan fokus prioritas yang dituju organisasinya.

8. Peka terhadap Tantangan dan Peluang
Seorang pemimpin dituntut mampu berpikir kreatif dalam mencari peluang-peluang baru dan menemukan ide besar atau “big idea” bisnis yang menghasilkan profit bagi perusahaan. Bisnis selalu mengalami perubahan dan ketika lanskap bisnis mengalami perubahan-perubahan, seorang pemimpin bisnis diharapkan dapat melakukan “repositioning” bisnisnya baik secara intelektual maupun emosional.

Dengan demikian kemampuan mengindektifikasi tantangan, mengantisipasi perubahan yang terjadi dilingkungan dunia bisnis sangat perlu dimiliki oleh seorang “business leader.” Memahami pola-pola bisnis atau “business patterns” yang ber-kembang dalam persaingan bisnisnya merupakan keharusan, sehingga dapat menentukan strategi dan rencana bisnis kedepannya.

Tingkatkan Kecakapan Empati

”Berempatilah agar lebih memahami perasaan, pikiran dan kepentingan orang lain. Bersimpatilah agar lebih peka dan peduli membantu kesulitan orang lain.”
~Buku Good Ethos, halaman 101.

Ketika diundang sebagai pembicara motivasi di perusahaan-perusahaan, salah satu topik yang saya bahas adalah membangun kecakapan empati. Mengapa kecakapan empati menjadi poin penting untuk dibahas ? Karena salah satu ciri profesional berkarakter mulia itu adalah memiliki kecakapan empati tinggi.

Pribadi yang memiliki etos mulia dalam bekerja senantiasa mengedepankan sikap empati penuh peduli. Mereka tidak bekerja demi kepuasan diri sendiri saja tanpa memiliki kepedulian pada lingkungannya. Tetapi mereka bekerja penuh empati dan kepedulian pada sekitarnya, seperti lingkungan kerja, masyarakat dan lainnya.

Sikap empati sejatinya adalah upaya konsisten seseorang dalam mendengar, melihat dan memahami dari sudut pandang orang lain, kemudian mampu mengkomunikasikan pemahaman tersebut melalui kata dan tindakannya.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari tujuh ribu orang Amerika Serikat dan 18 negara-negara lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daniel Golemen menyatakan bahwa “kecakapan empati” atau kemampuan membaca perasaan orang lain memiliki manfaat menjadikan seseorang lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional, lebih popular, lebih peka dan lebih mudah bergaul dengan orang lain. Unsur- unsur inilah yang akan semakin menghidupkan energi positif seseorang yang akhirnya dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam peerjaan dan kehidupan.

Kapasitas untuk menunjukkan empati merupakan kualitas intrinsik seseorang. Beberapa orang memiliki kapasitas empati yang lebih dibandingkan lainnya, sehingga lebih mudah mengembangkannya. Meskipun demikian setiap orang dapat mengembangkan derajat kecakapan empati yang diperlukan dalam bekerja dan kehidupannya.

Dalam buku Good Ethos ada beberapa kiat penting untuk melatih dan mengembangkan kecakapan empati seseorang, diantaranya adalah memiliki memiliki kemampuan mendengarkan untuk mengerti terlebih dahulu, sebelum ingin didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Itulah mengapa Stephen Covey seorang penulis dan motivator kelas dunia, secara khusus menaruh kemampuan mendengarkan sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti.

Berprestasi itu Indah

“Prestasi tertinggi bukanlah di mata manusia, melainkan di mata Allah Swt. Ketika seseorang bekerja berorientasi prestasi tertinggi di mata Allah Swt., niscaya apa yang dilakukannya akan mendapatkan keuntungan dunia dan akherat.” ~ Buku Good Ethos, halaman 161.

Berprestasi itu indah, kalau hal itu diraih melalui cara-cara yang benar. Kalau hal itu dilakukan untuk meraih prestasi di hadapak Allah SWT.

Sayangnya, di era yang banyak mengedepankan materialisme sekarang ini, seringkali menjadikan banyak orang hanya sibuk bekerja untuk meraih tujuan jangka pendek semata. Mereka berusaha mengejar ambisi untuk meraih prestasi keberhasilan duniawi. Keberhaasilan yang hanya berorientasi duniawi, seperti jabatan tinggi, kekayaan harta, popularitas dan lainnya. Kondisi demikian, memaksa banyak orang akhirnya mencari jalan-jalan pintas. Kadangkala mereka sampai melupakan nilai-nilai moralitas,  spiritualitas, keimanan demi tercapainya tujuan tersebut.

Kita lupa bahwa prestasi yang terbaik itu sesungguhnya bukanlah dihadapan manusia, melainkan derajat prestasi tertinggi itu sesungguhnya adalah di mata Allah SWT. Berprestasi itu indah, kalau orientasi prestasinya adalah di mata Allah SWT. Karena inilah sebenarnya prestasi tertinggi yang melebihi segala-galanya.

Prestasi di hadapan manusia tentu boleh saja, asalkan tidak dengan mengorbankan nilai-nilai moralitas dan spiritualitas. Tetapi apalah artinya sebuah prestasi itu, jika diperoleh dengan menghalalkan segala cara ?  Apalah artinya sebuah prestasi professional yang cemerlang, kalau harus mengorbankan nilai-nilai etika dan keimanan ?

Banyak bukti bahwa mereka yang hanya berorientasi pada prestasi duniawi, pada akhirnya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Padahal, kalau kita menginginkan prestasi di mata Allah, niscaya kita akan mendapatkan semuanya, baik itu keuntungan hidup di dunia maupun keuntungan hidup di akhirat kelak. Karena, hasil pekerjaan kita akan dilihat Allah Swt. dan rasulnya serta akan dirasakan oleh orang-orang yang beriman.

Mereka yang menempatkan objek atau subjek yang dikejar dalam bekerja hanyalah jangka pendek (tujuan duniawi sesaat), seringkali akan menemukan kesia-siaan. Mereka akan menjadi mudah berputus asa ketika tidak mendapatkannya. Tetapi tidak demikian bagi pribadi yang ber-etos kerja mulia, yakni etos kerja yang dilandasi nilai-nilai keyakikan keimanan dalam hati. Mereka hanya akan bekerja berorientasi prestasi di mata Allah SWT. Sehingga hasilnya, mereka akan mendapatkan keberhasilan dan kebahagiaan jangka panjang. Karena apa yang dilakukannya hanyalah untuk mengharapkan ridha Allah SWT.

Bagaimana agar prestasi yang diraih bernilai tinggi ? Bagaimana agar dalam bekerja mendapatkan bukan hanya meraih keuntungan duniawi, melainkan sekaligus keuntungan akherat kelak ? Maka mulai sekarang ubahlah orientasi bekerja Anda bukan sekedar untuk meraih keberhasilan duniawi, melainkan juga untuk kehidupan akherat kelak. Lakukan perubahan orientasi dalam bekerja, bukan semata-mata berorientasi prestaso duniawi, melainkan berorientasi prestasi dihadapan Allah SWT.