Day: August 26, 2015

 

Kerendahan Hati itu Kekuatan

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Seorang pimpinan perusahaan yang akan berpindah tugas di tempat lain mengadakan acara perpisahan dengan mengundang seluruh karyawan di kantor perusahaan tersebut. Setelah selesai menyampaikan sambutan perpisahannya, selanjutnya giliran para karyawan yang diminta mengucapkan pesan dan kesannya. Para manajer satu persatu bergantian menyampaikan pesan dan kesannya terhadap pimpinan tersebut. Tiba-tiba ada seorang office boy yang memberanikan diri ke depan dan menyampaikan pesan dan kesannya kepada pimpinannya tersebut. Office boy ini berkata, ”saya berterima kasih kepada bapak yang selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan sesuatu yang menjadi tugas saya. Bapak juga selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Padahal bapak adalah pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya sebagai karyawan bawahan merasa sangat dihargai. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kepemimpinan bapak yang sangat menghargai kami sebagai bawahan.”

Sahabat professional mulia, demikianlah sikap rendah hati seorang pimpinan akan selalu dikenang di hati para bawahannya. Sayangnya, dewasa ini semakin sulit menemukan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati seperti ini. Yang mudah ditemukan justru sikap sebaliknya, yakni menonjolkan sikap egoisme dan kesombongan. Yang seringkali dipertontonkan oleh patra pimpinan dewasa ini justru sikap, “akulah yang paling hebat dan kalian tidak ada apa-apanya.” Inilah contoh sikap egoisme dan kesombongan yang banyak menguasai manusia modern dewasa ini. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banyak orang yang tersinggung sedikit saja menjadi mudah mengamuk, atau merasa harga dirinya tersentuh sedikit saja kemudian menjadi sangat emosi, tersinggung luar biasa dan lain sebagainya.

Padahal kita tahu rendah hati merupakan salah satu sifat mulia yang diajarkan oleh para Nabi. Kerendahan hati merupakan etos mulia yang penting dalam membangun karakter pribadi mulia. Kerendahan hati adalah kekuatan yang sangat diperlukan bagi kesuksesan. Bersama-sama dengan sifat-sifat mulia lainnya seperti kejujuran, integritas, keikhlasan, rasa syukur dan lainnya, merupakan bagian penting yang membentuk karakter pribadi mulia seseorang. Kerendahan hati juga merupakan cerminan dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati, ia memiliki kesadaran yang tinggi akan posisi dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Tuhan YME. Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tidak berlaku sombong, serakah dan tinggi hati. Karena menyadari tidak ada yang pantas disombongkan dari dirinya.

Sebagian orang mempersepsikan rendah hati sebagai bentuk rendah diri. Padahal keduanya jelas sangat berbeda. Misalnya, ketika seorang pimpinan meminta pendapat dari anak buahnya mengenai presentasi yang baru saja disampaikannya misalnya, itu bukan berarti bahwa ia rendah diri atau menyangsikan kemampuannya, Demikian juga seorang pembicara setelah selesai meminta pendapat dari pendengarnya misalnya, itu juga bukan berarti ia rendah diri atau kurang percaya diri atas kemampuannya. Itu menunjukkan krendahan hati, dalam rangka bisa melihat diri secara objective. Sehingga dapat memberikan penialain pada diri sendiri secara benar. Sebagai seorang pemimpin kita harus jujur melihat diri sendiri, bisa memberi penilaian yang seimbang dan penilain yang fair terhadap dirinya.

Sikap rendah hati merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif. Inilah etos kerja terbaik dan mulia yang harus dimiliki dalam diri setiap pemimpin. Hal ini telah dibuktikan oleh riset yang dilakukan oleh Jim Collins, seorang penulis buku laris Good to Great, yang menyampaikan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang menyadari batas-batas kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya itu. Menyadari akan batas-batas kelemahan diri serta berani mengakui kelemahannya, itulah ciri dari sikap rendah hati. Seperti halnya ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk. Para pemimpin yang rendah hati sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu tiada batasnya.

Dalam dunia karier dan bisnis, kerendahan hati menjadi kekuatan pendorong bagi sukses dan kemuliaan. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Ludeman terhadap 800-an manajer perusahaan. Salah satu kesimpulan dari hasil riset yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun tersebut adalah bahwa para pemimpin, para manager yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, memiliki sikap rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa mereka para pemimpin, manager yang meraih kesuksesan ini ternyata adalah manusia-manusia yang memiliki sifat rendah hati.

Pribadi yang rendah hati adalah pribadi yang dapat menghargai orang lain dan memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Mereka adalah pribadi yang senantiasa membuat orang lain merasa penting dan dihargai. Mereka mampu mengutamakan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap berbagai masukan, kritikan dan memiliki kesediaan untuk banyak berbagi dengan sesamanya. Mereka adalah pribadi menyadari siapa posisi dirinya, menyadari kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya dihadapan orang lain.

Kita perlu belajar rendah hati dan terus mengembangkan etos rendah hati dalam bekerja. Karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Sikap rendah hati juga mengundang simpati dan dukungan dari sesama, sebagai modal penting bagi keberhasilan. Karenanya kalau ingin meraih sukses dan kemuliaan dalam karir, bisnis dan kehidupan, pertahankan sikap rendah hati. Semoga Bermanfaat. Salam Good Ethos !

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos- 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso

Melayani Dengan Hati

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Salah satu film favorite yang beberapa kali saya tonton adalah film Pretty Women. Selain menontonnya di gedung film, juga beberapa kali saya menonton lagi di rumah dengan DVD. Kali ini saya ingin mengambil salah satu adegan dari film Pretty Women ini sebagai pengantar yang tepat dari tulisan ini. Dalam salah satu adegan dikisahkan, Julia Roberts (sebagai salah satu pemeran utama film ini) pergi ke butik mahal untuk membeli pakaian. Melihat gaya penampilan dan pakaian murahan yang dikenakan oleh Julia Robert, penjaga toko mengacuhkannya dan tidak mau melayaninya. Bahkan mereka mengusirnya.

Mendapat perlakuan seperti ini, Julia lalu memberitahu kepada pacarnya yang kaya raya (diperankan oleh Richard Gere) akan hal tersebut. Richard Gere lalu membawa Julia ke butik mahal yang lain dan membelikannya begitu banyak pakaian mahal. Setelah itu, ketika hendak kembali ke hotelnya, Julia dengan menjinjing begitu banyak tas belanjaan dari butik mahal tersebut, mengunjungi toko tempat dia pernah diperlakukan dengan tidak menyenangkan dan bahkan diusir dari sana. Julia Robert lalu berkata pada sang pelayan tokonya, “Hai, saya datang ke sini kemarin dan Anda tidak mau melayani saya. Gaji Anda tergantung komisi bukan? Sayang, sayang sekali.”

Meskipun ini hanya kisah di film, tetapi dalam kehidupan nyata hal ini juga sering terjadi dan mudah dijumpai di lingkungan sekitar kita. Kita mungkin pernah mendengar orang yang menerima layanan yang tidak menyenangkan seperti yang dialami oleh Julia Robert ini. Atau bahkan diantara para pembaca ada yang pernah mengalami menerima layanan yang tidak standar seperti ini. Mungkin ketika menginap di hotel, berkunjung ke rumah makan, belanja di mall, belanja di butik dan lain-lainnya. Tentu sangat tidak menyenangkan kalau mendapatkan pelakuan yang demikian.

Pada sisi lain, sebagai professional, karyawan, pebisnis atau lainnya, tanpa kita sadari mungkin juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh petugas butik dalam film tersebut. Mungkin diantara kita pernah memberikan pelayanan yang tidak standar kepada customer atau pelanggan kita, memberikan layanan yang kurang menyenangkan sesuai harapan pada partner kita misalnya. Barangkali bukan hanya dalam hal sikap melayani, melainkan juga dalam hal kualitas produk, ketepatan waktu pemenuhan order, kecepatan pengiriman barang dan lain sebagainya. Mungkin juga kita pernah membeda-bedakan pelayanan kepada customer hanya atas dasar keuntungan yang akan kita peroleh, misalnya.

Sahabat professional mulia, pelayanan memiliki nilai penting bagi keunggulan. Persaingan yang semakin komplek di dunia bisnis, menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan. Setiap karyawan, manajer, pimpinan harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasan pelanggan. Organisasi atau perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan, tidak lagi mengizinkan seorang karyawan, supervisor, manajer ataupun pimpinan yang tidak memberikan pelayanan yang tidak standar. Karena karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi atau perusahaan. Itulah pentingnya pelayanan itu datangnya dari hati. Bukan berdasarkan pada penampilan pelanggan atau harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Martin Luther King pernah mengatakan, “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” Saya sangat sependapat dengan hal ini. Siapapun bisa menjadi hebat dengan memberikan pelayanan yang hebat dari hati. Artinya kekuatan melayani sepenuh hati dalam bekerja bisa menghebatkan seseorang.

Perhatikan para professional dan para pemimpin bisnis yang sukses, apa sebenarnya kunci keberhasilan mereka ? Anda akan menemukan salah satu kunci terpentingnya adalah kemampuannya mengembangkan mentalitas melayani dengan hati pada bidang profesinya. Demikian juga dalam skala organisasi atau perusahaan, perhatikan perusahaan yang dapat maju berkembang pesat ? Apa sebenarnya kunci keunggulannya ? Salah satu kuncinya adalah dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada para pelanggannya. Itulah mengapa banyak perusahaan yang kemudian mengangkat tema “kepuasan pelanggan.” Karena organisasi atau perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan, niscaya akan lebih mudah berkembang.

John Mackey, seorang pendiri Whole Food Market di Amerika Serikat mengatakan, “ Bagi kami stakeholder yang paling penting bukan pemegang saham, namun pelanggan.” Mengapa demikian ? Karena sesungguhnya kalau kita sebagai karyawan misalnya, penghasilan yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari pemimpin perusahaan atau pemegang saham. Kalau kita sebagai pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari pelanggan. Itulah mengapa kepuasan pelangganlah yang utama, sebab tidak ada pelanggan tidak ada keuntungan.

Membudayakan etos melayani dengan hati tidak dapat ditawar lagi, kalau kita ingin meraih kemajuan. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Anda akan mendapatkan yang terbaik dari orang lain, kalau Anda memberikan yang terbaik dari diri Anda.” Pandangan ini sesungguhnya sudah diajarkan oleh para guru spiritual kita sejak dulu yang senantiasa mengajarkan untuk berbagi kebaikan pada orang lain. Karenanya pelayanan itu sebaiknya datangnya dari hati. Semoga kita bisa terus belajar dan mengembangkan etos melayani dengan hati. Salam Good Ethos !.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso.