Hindari Penyakit BEJ

Oleh: Eko Jalu Santoso

Anda pernah mendengar kata BEJ ? Apa yang terlintas dalam benak pikiran Anda ketika mendengar kata BEJ ? Saya percaya, pasti yang terlintas dalam pikiran Anda adalah “Bursa Efek Jakarta” bukan ?. Yaap,..untuk kali ini bukan itu maksudnya. BEJ yang saya maksudkan kali ini harus ditinggalkan, karena bisa merugikan kita. Siapapun yang terjangkiti kebiasaan BEJ ini, kalau tidak segera dihentikan bisa mengakibatkan terhambatnya kemajuan karirnya.

Jadi penasaran kan… Apa itu sebenarnya BEJ yang dimaksudkan ? BEJ yang ini adalah singkatan dari Blame, Excuse dan Justify. Apa itu kebiasaan BEJ dan mengapa bisa menjadi penghambat perkembangan karir dan kemajuan Anda ? Marilah kita kupas satu persatu:

Kebiasaan pertama, Blame atau blaming adalah kebiasaan menyalahkan orang lain. Kebiasaan menyalahkan keadaan atau lingkungan sekitarnya. Dalam dunia kerja, orang yang memiliki kebiasaan ini seringkali dengan mudahnya menyalahkan kebijakan perusahaan, menyalahkan kebijakan manajemen, menyalahkan kualitas produknya dan menyalahkan fasilitas yang diterimanya. Bahkan menyalahkan atasannya, bawahan, teman-teman dan lainnya.

Kalau ia menjadi atasan atau manajer misalnya, ketika target bulanan tidak tercapai dengan mudahnya melemparkan kesalahan pada anggota tim atau anak buahnya. Padahal kalau mau jujur sebagai manajer dialah yang paling bertanggungjawab atas tidak tercapainya target tersebut. Ketika menghadapi masalah atau kesulitan misalnya, dengan mudahnya menyalahkan keadaan, lingkungan atau orang lain. Padahal, kalau mau jujur, penyebab utamanya adalah kesalahan dia sendiri.

Kebiasaan ini menunjukkan rendahnya rasa tanggungjawab pribadi. Karena menjadikan kita tidak pernah belajar bertanggungjawab untuk mengatasi masalah. Setiap menemukan masalah, bukan melihat dan mengevaluasi ke dalam diri, tetapi menyalahkan pihak lain. Kalau ingin maju, kebiasaan ini. harus segera dihentikan. Kemudian gantikan dengan kebiasaan berani bertanggungjawab atas kesalahan diri dan berani mengakui kesalahan dengan kerendahan hati. Mau mengevaluasi diri dan belajar untuk memperbaiki kesalahan diri tersebut.

Kebiasaan kedua adalah Excuses, yakni selalu mencari-cari alasan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini sangat pandai dalam memberikan alasan-alasan untuk menutupi kesalahan dan kegagalannya. Mulai dari alasan-alasan klasik sampai dengan alasan yang canggih sekalipun. Ketika ia gagal misalnya, dengan mudahnya mencari alasan karena pendidikan kurang, kurangnya modal, tidak mendapat dukungan, tidak memiliki koneksi, tidak memiliki fasilitas cukuplah dan segudang alasan-alasan lainnya.

Dalam bekerja, ketika tidak dapat memenuhi target sesuai yang dijanjikannya misalnya, segera menyampaikan berbagai alasan-alasan untuk menutupi kegagalannya. Mereka yang memiliki kebiasaan excuses ini bukannya sibuk memikirkan bagaimana mencari solusi, melainkan sibuk mencai-cari alasan. Bukannya kreatif dalam menemukan cara-cara baru, tetapi kreatif dalam mencari-cari alasan baru.

Kalau ingin maju dan berkembang, tinggalkan kebiasaan ini. Orang-orang sukses tidak membuat alasan, sedangkan orang-orang gagal pandai mencari-cari alasan. Fokuslah pada solusi dan tindakan untuk menjadi maju dan berkembang, bukan mencari-cari alasan.

Kebiasaan ketiga adalah Justify, artinya mencari pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini cenderung melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri saja. Selalu merasa benar dengan alasan yang disampaikanya. Ketika melakukan kesalahan, dengan mudahnya ia berkata, “sekali-kali salah nggak apa-apa, orang lain lebih sering.” Atau ketika melakukan kesalahan, yang sering diucapkannya adalah, “manusiakan tempatnya salah, jadi ya wajarlah kalau ada salah.” Inilah contoh kebiasaan mencari pembenaran.

Kalau ingin sukses dan berkembang, kebiasaan seperti ini harus segera dihentikan. Karena kalau dibiarkan, kita tidak akan pernah belajar untuk menjadi lebih dewasa dan berani mengakui kesalahan kita. Kita tidak pernah belajar untuk menyelesaikan masalah kita. Biasakan berani bertanggungjawab atas kesalahan yang kita lakukan. Agar kita dapat belajar dan terus belajar memperbaiki kesalahan tersebut.

Nah, sekarang bertanyalah ke dalam diri sendiri. Apakah Anda termasuk orang yang terindikasi memiliki kebiasaan BEJ tersebut ? Kalau jawabannya tidak, bersyukurlah dan terus pertahankan.Tapi kalau jawabannya ya, segera hentikan. Bangun kebiasaan berani bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Bangun budaya mau introspeksi diri dan belajar untuk memperbaiki diri. Budayakan etos kerja terbaik dan mulia, itulah kunci bagi sukses dan kebahagiaan. Semoga Bermanfaat !

About the author

ekojalusantoso

Book Author, Public speaker and Motivator

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*