Day: August 24, 2015

 

Profesionalisme & Karakter Pribadi Baik

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Dalam sebuah kesempatan berbagi motivasi di salah satu perusahaan alat-alat berat di Jakarta Barat beberapa waktu lalu, salah seorang peserta training sempat menanyakan apa perbedaan antara etos kerja terbaik dan mulia dalam Good Ethos dengan etos kerja pada umumnya. Menjawab pertanyaan peserta training ini, saya memulai penjelasan dengan apa perbedaan antara professionalisme dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia.

Kita mengetahui profesionalisme itu menyangkut dengan beberapa hal penting seperti, ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), pengalaman (experience) dan motivasi (motivation) atau semangat. Keahlian, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman itu seringkali disebut sebagai kompetensi atau kemampuan seseorang. Sedangkan motivasi atau semangat itu seringkali disebut kemauan seseorang. Perpaduan antara kompetensi atau kemampuan dengan motivasi atau kemauan itulah yang akan menghasilkan seorang professional yang memiliki kinerja tinggi.

Profesionalisme bisa mengantarkan pada kesuksesan baik dalam karir maupun bisnis, tetapi belum menjamin kesuksesan yang bermakna dan membahagiakan. Tanpa dilandasi karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia, professionalisme semata hanya akan menghasilkan para karyawan, pimpinan atau kaum profesional yang berkinerja tinggi, memiliki kecerdasan intelektual yang baik, tetapi belum tentu cerdas secara moral dan spiritual. Akibatnya kecerdasannya bisa disalahgunakan hanya untuk kepentingan pribadi, memperdaya orang lain atau bahkan merugikan negara. Inilah yang sering kita temui sekarang ini, banyak kaum professional yang memiliki prestasi dan karir cemerlang, tetapi akhirnya terjerumus dalam berbagai kasus hukum. Mereka memiliki prestasi dan karir professional yang mengagumkan, tetapi tidak berakhir dengan kebahagiaan. Banyak yang kemudian tersandung berbagai kasus dan menjeratnya masuk penjara.
Sedangkan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia itu tercermin melalui sikap dan perilaku seseorang. Artinya mereka yang berkarakter pribadi baik akan memiliki keindahan dan kebenaran dalam sikap dan perilakunya. Karena kebaikan itu sangat erat dengan keindahan sikap dan perilaku manusia. Dalam kehidupan pekerjaan hal ini akan tercermin melalui sikap yang bijaksana, jujur, bisa dipercaya, memiliki integritas, konsisten dalam kebaikan, empati penuh peduli, pandai bekerjasama dan bertanggungjawab. Perpaduan berbagai sikap dan perilaku mulia inilah yang menghasilkan seorang pribadi yang berkarakter baik.

Namun karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia semata, kalau tanpa disertai dengan profesionalisme, hanya akan menghasilkan pribadi yang cerdas secara moral dan spiritual, tetapi belum tentu memiliki kinerja yang baik. Mereka adalah orang-orang baik tetapi tidak memiliki kompetensi yang bisa diandalkan untuk meraih keberhasilan. Yang demikian tentu belum membuahkan hasil yang optimal.

Dengan demikian, keberhasilan dalam karir dan bisnis yang penuh makna dan membahagiakan itu bukan hanya ditentukan oleh professionalism semata. Bukan hanya ditentukan oleh talenta, bakat, pengetahuan dan motivasi yang baik yang dimiliki seseorang, melainkan juga harus disertai dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Kecerdasan, talenta dan motivasi yang kuat itu hanya akan mengantarkan pada keberhasilan yang bermakna dan membahagiakan, kalau dilandasi oleh karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Karena kekuatan kebaikan inilah yang akan memancar keluar menarik banyak peluang-peluang bagus mendekat.

Membangun karakter pribadi yang baik bisa dimulai dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang kita yakini dalam hati dalam setiap perilaku kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Implementasinya dalam organisasi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain yg berhubungan dengan organisasi.

Sahabat yang baik, professionalisme dan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia adalah keharusan yang tidak bisa dipisahkan, kalau kita ingin meraih kesuksesan karir dan professional yang bermakna dan membahagiakan. Karenanya, sangat penting untuk terus mengembangkan etos kerja terbaik dan mulia atau good ethos dalam diri maupun dalam organisasi. Etos kerja yang mengintegrasikan antara professionalisme dan akhlak mulia, sehingga dapat membawa Anda menjadi seorang professional unggul yang berkarakter mulia. Semoga bermanfaat dan salam Good Ethos.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos dan empat buku motivasi laris lainnya, serta pembicara inspiratif profesional. Follow twitternya: @ekojalusantoso

Hindari Penyakit BEJ

Oleh: Eko Jalu Santoso

Anda pernah mendengar kata BEJ ? Apa yang terlintas dalam benak pikiran Anda ketika mendengar kata BEJ ? Saya percaya, pasti yang terlintas dalam pikiran Anda adalah “Bursa Efek Jakarta” bukan ?. Yaap,..untuk kali ini bukan itu maksudnya. BEJ yang saya maksudkan kali ini harus ditinggalkan, karena bisa merugikan kita. Siapapun yang terjangkiti kebiasaan BEJ ini, kalau tidak segera dihentikan bisa mengakibatkan terhambatnya kemajuan karirnya.

Jadi penasaran kan… Apa itu sebenarnya BEJ yang dimaksudkan ? BEJ yang ini adalah singkatan dari Blame, Excuse dan Justify. Apa itu kebiasaan BEJ dan mengapa bisa menjadi penghambat perkembangan karir dan kemajuan Anda ? Marilah kita kupas satu persatu:

Kebiasaan pertama, Blame atau blaming adalah kebiasaan menyalahkan orang lain. Kebiasaan menyalahkan keadaan atau lingkungan sekitarnya. Dalam dunia kerja, orang yang memiliki kebiasaan ini seringkali dengan mudahnya menyalahkan kebijakan perusahaan, menyalahkan kebijakan manajemen, menyalahkan kualitas produknya dan menyalahkan fasilitas yang diterimanya. Bahkan menyalahkan atasannya, bawahan, teman-teman dan lainnya.

Kalau ia menjadi atasan atau manajer misalnya, ketika target bulanan tidak tercapai dengan mudahnya melemparkan kesalahan pada anggota tim atau anak buahnya. Padahal kalau mau jujur sebagai manajer dialah yang paling bertanggungjawab atas tidak tercapainya target tersebut. Ketika menghadapi masalah atau kesulitan misalnya, dengan mudahnya menyalahkan keadaan, lingkungan atau orang lain. Padahal, kalau mau jujur, penyebab utamanya adalah kesalahan dia sendiri.

Kebiasaan ini menunjukkan rendahnya rasa tanggungjawab pribadi. Karena menjadikan kita tidak pernah belajar bertanggungjawab untuk mengatasi masalah. Setiap menemukan masalah, bukan melihat dan mengevaluasi ke dalam diri, tetapi menyalahkan pihak lain. Kalau ingin maju, kebiasaan ini. harus segera dihentikan. Kemudian gantikan dengan kebiasaan berani bertanggungjawab atas kesalahan diri dan berani mengakui kesalahan dengan kerendahan hati. Mau mengevaluasi diri dan belajar untuk memperbaiki kesalahan diri tersebut.

Kebiasaan kedua adalah Excuses, yakni selalu mencari-cari alasan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini sangat pandai dalam memberikan alasan-alasan untuk menutupi kesalahan dan kegagalannya. Mulai dari alasan-alasan klasik sampai dengan alasan yang canggih sekalipun. Ketika ia gagal misalnya, dengan mudahnya mencari alasan karena pendidikan kurang, kurangnya modal, tidak mendapat dukungan, tidak memiliki koneksi, tidak memiliki fasilitas cukuplah dan segudang alasan-alasan lainnya.

Dalam bekerja, ketika tidak dapat memenuhi target sesuai yang dijanjikannya misalnya, segera menyampaikan berbagai alasan-alasan untuk menutupi kegagalannya. Mereka yang memiliki kebiasaan excuses ini bukannya sibuk memikirkan bagaimana mencari solusi, melainkan sibuk mencai-cari alasan. Bukannya kreatif dalam menemukan cara-cara baru, tetapi kreatif dalam mencari-cari alasan baru.

Kalau ingin maju dan berkembang, tinggalkan kebiasaan ini. Orang-orang sukses tidak membuat alasan, sedangkan orang-orang gagal pandai mencari-cari alasan. Fokuslah pada solusi dan tindakan untuk menjadi maju dan berkembang, bukan mencari-cari alasan.

Kebiasaan ketiga adalah Justify, artinya mencari pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini cenderung melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri saja. Selalu merasa benar dengan alasan yang disampaikanya. Ketika melakukan kesalahan, dengan mudahnya ia berkata, “sekali-kali salah nggak apa-apa, orang lain lebih sering.” Atau ketika melakukan kesalahan, yang sering diucapkannya adalah, “manusiakan tempatnya salah, jadi ya wajarlah kalau ada salah.” Inilah contoh kebiasaan mencari pembenaran.

Kalau ingin sukses dan berkembang, kebiasaan seperti ini harus segera dihentikan. Karena kalau dibiarkan, kita tidak akan pernah belajar untuk menjadi lebih dewasa dan berani mengakui kesalahan kita. Kita tidak pernah belajar untuk menyelesaikan masalah kita. Biasakan berani bertanggungjawab atas kesalahan yang kita lakukan. Agar kita dapat belajar dan terus belajar memperbaiki kesalahan tersebut.

Nah, sekarang bertanyalah ke dalam diri sendiri. Apakah Anda termasuk orang yang terindikasi memiliki kebiasaan BEJ tersebut ? Kalau jawabannya tidak, bersyukurlah dan terus pertahankan.Tapi kalau jawabannya ya, segera hentikan. Bangun kebiasaan berani bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Bangun budaya mau introspeksi diri dan belajar untuk memperbaiki diri. Budayakan etos kerja terbaik dan mulia, itulah kunci bagi sukses dan kebahagiaan. Semoga Bermanfaat !

Konsep Diri Positif

Oleh: Eko Jalu Santoso

Saya mengenal seorang teman yang energik dan memiliki semangat positif. Dia selalu memiliki hal-hal positif untuk dikatakan kepada orang lain. Sebagai seorang kepala cabang sebuah bank swasta nasional, dia pernah ditempatkan di beberapa cabang di beberapa kota. Di setiap cabang dia diterima dengan baik oleh para karyawan, serta mendapatkan dukungan positif dari teman-temannya. Hasilnya setiap cabang yang dipimpinnya selalu meraih prestasi kinerja yang baik.

Saya penasaran dengan sikapnya yang selalu positif ini. Suatu saat ketika berbincang dengannya saya sempat menanyakan kepadanya, “Saya salut lho sama kamu, selalu semangat positif setiap hari. Bagaimana kamu dapat melakukan hal itu ?.” Teman saya inipun menjawab, “Ah itu sederhana saja…setiap pagi ketika bangun, aku selalu berkata pada dirinya, aku punya dua pilihan hari ini. Apakah aku dapat memilih dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang buruk. Dan aku selalu memutuskan untuk memilih dalam suasana yang baik.”

Sahabat profesional yang baik, setiap hari kita itu menerima lebih dari 60,000 pikiran yang masuk dalam diri kita. Itu menurut Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam The Aladdin Factor sebagaimana ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif. Begitu banyaknya pikiran yang berseliweran masuk setiap harinya ke dalam diri kita, sehingga diperlukan kepandaian kita untuk menyikapi dan menyaringnya. Ketika kita berorientasi positif, itu akan sangat memengaruhi keputusan kita untuk hanya memilih hal-hal positif yang datang dalam diri kita. Demikian sebaliknya, ketika seseorang berorientasi negatif, maka akan memengaruhi pilihan-pilihan negatif yang datang dalam dirinya. Inilah hukum akal bawah sadar, bahwa hukum akal bawah sadar membuat pikiran tertentu menyebar.

Setiap hal yang datang dalam diri kita tidak akan memiliki arti sama sekali sampai kita memberinya makna. Semua itu akan menjadi berarti positif atau negatif, sesungguhnya kita sendiri yang menentukannya. Kalau demikian, agar selalu dapat memberi makna positif pada hal-hal yang datang dalam diri kita, kuncinya milikilah konsep diri positif.

Konsep diri positif merupakan sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Konsep ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan seseorang mempersepsikan setiap keadaan yang datang dalam kehidupannya. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah mengarahkan perasaan dan pikirannya selalu kearah positif. Menangkap dan mempersepsikan setiap keadaan yang datang dengan pandangan positif. Demikian pula sebaliknya.

Pribadi yang memiliki konsep diri positif, pembicaraannya selalu baik, kata-katanya positif, santun dan mengandung kebaikan bagi orang lain. Senantiasa menghindari prasangka negatif dan tidak menyakiti hati orang lain. Setiap kehadirannya mengirimkan getaran-getaran positif bagi lingkungan sekelilingnya, sehingga mengaktifkan dunia sekelilingnya menjadi positif juga. Pada akhirnya cenderung menarik hasil yang positif juga.

Pribadi positif memiliki keyakinan tinggi dan tidak akan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Ia memberi usahanya perawatan dengan keyakinan positif dan tindakan yang positif. Hasilnya ia bisa karena ia berpikir bisa dan yakin bisa.

Memiliki konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam kehidupannya. Inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan karir, bisnis dan kehidupan. Nah, bagaimana dengan Anda?. Pilihannya ditentukan oleh diri Anda sendiri.