Month: August 2015

 

Kerendahan Hati itu Kekuatan

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Seorang pimpinan perusahaan yang akan berpindah tugas di tempat lain mengadakan acara perpisahan dengan mengundang seluruh karyawan di kantor perusahaan tersebut. Setelah selesai menyampaikan sambutan perpisahannya, selanjutnya giliran para karyawan yang diminta mengucapkan pesan dan kesannya. Para manajer satu persatu bergantian menyampaikan pesan dan kesannya terhadap pimpinan tersebut. Tiba-tiba ada seorang office boy yang memberanikan diri ke depan dan menyampaikan pesan dan kesannya kepada pimpinannya tersebut. Office boy ini berkata, ”saya berterima kasih kepada bapak yang selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan sesuatu yang menjadi tugas saya. Bapak juga selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Padahal bapak adalah pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya sebagai karyawan bawahan merasa sangat dihargai. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kepemimpinan bapak yang sangat menghargai kami sebagai bawahan.”

Sahabat professional mulia, demikianlah sikap rendah hati seorang pimpinan akan selalu dikenang di hati para bawahannya. Sayangnya, dewasa ini semakin sulit menemukan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati seperti ini. Yang mudah ditemukan justru sikap sebaliknya, yakni menonjolkan sikap egoisme dan kesombongan. Yang seringkali dipertontonkan oleh patra pimpinan dewasa ini justru sikap, “akulah yang paling hebat dan kalian tidak ada apa-apanya.” Inilah contoh sikap egoisme dan kesombongan yang banyak menguasai manusia modern dewasa ini. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banyak orang yang tersinggung sedikit saja menjadi mudah mengamuk, atau merasa harga dirinya tersentuh sedikit saja kemudian menjadi sangat emosi, tersinggung luar biasa dan lain sebagainya.

Padahal kita tahu rendah hati merupakan salah satu sifat mulia yang diajarkan oleh para Nabi. Kerendahan hati merupakan etos mulia yang penting dalam membangun karakter pribadi mulia. Kerendahan hati adalah kekuatan yang sangat diperlukan bagi kesuksesan. Bersama-sama dengan sifat-sifat mulia lainnya seperti kejujuran, integritas, keikhlasan, rasa syukur dan lainnya, merupakan bagian penting yang membentuk karakter pribadi mulia seseorang. Kerendahan hati juga merupakan cerminan dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati, ia memiliki kesadaran yang tinggi akan posisi dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Tuhan YME. Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tidak berlaku sombong, serakah dan tinggi hati. Karena menyadari tidak ada yang pantas disombongkan dari dirinya.

Sebagian orang mempersepsikan rendah hati sebagai bentuk rendah diri. Padahal keduanya jelas sangat berbeda. Misalnya, ketika seorang pimpinan meminta pendapat dari anak buahnya mengenai presentasi yang baru saja disampaikannya misalnya, itu bukan berarti bahwa ia rendah diri atau menyangsikan kemampuannya, Demikian juga seorang pembicara setelah selesai meminta pendapat dari pendengarnya misalnya, itu juga bukan berarti ia rendah diri atau kurang percaya diri atas kemampuannya. Itu menunjukkan krendahan hati, dalam rangka bisa melihat diri secara objective. Sehingga dapat memberikan penialain pada diri sendiri secara benar. Sebagai seorang pemimpin kita harus jujur melihat diri sendiri, bisa memberi penilaian yang seimbang dan penilain yang fair terhadap dirinya.

Sikap rendah hati merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif. Inilah etos kerja terbaik dan mulia yang harus dimiliki dalam diri setiap pemimpin. Hal ini telah dibuktikan oleh riset yang dilakukan oleh Jim Collins, seorang penulis buku laris Good to Great, yang menyampaikan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang menyadari batas-batas kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya itu. Menyadari akan batas-batas kelemahan diri serta berani mengakui kelemahannya, itulah ciri dari sikap rendah hati. Seperti halnya ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk. Para pemimpin yang rendah hati sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu tiada batasnya.

Dalam dunia karier dan bisnis, kerendahan hati menjadi kekuatan pendorong bagi sukses dan kemuliaan. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Ludeman terhadap 800-an manajer perusahaan. Salah satu kesimpulan dari hasil riset yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun tersebut adalah bahwa para pemimpin, para manager yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, memiliki sikap rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa mereka para pemimpin, manager yang meraih kesuksesan ini ternyata adalah manusia-manusia yang memiliki sifat rendah hati.

Pribadi yang rendah hati adalah pribadi yang dapat menghargai orang lain dan memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Mereka adalah pribadi yang senantiasa membuat orang lain merasa penting dan dihargai. Mereka mampu mengutamakan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap berbagai masukan, kritikan dan memiliki kesediaan untuk banyak berbagi dengan sesamanya. Mereka adalah pribadi menyadari siapa posisi dirinya, menyadari kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya dihadapan orang lain.

Kita perlu belajar rendah hati dan terus mengembangkan etos rendah hati dalam bekerja. Karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Sikap rendah hati juga mengundang simpati dan dukungan dari sesama, sebagai modal penting bagi keberhasilan. Karenanya kalau ingin meraih sukses dan kemuliaan dalam karir, bisnis dan kehidupan, pertahankan sikap rendah hati. Semoga Bermanfaat. Salam Good Ethos !

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos- 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso

Melayani Dengan Hati

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Salah satu film favorite yang beberapa kali saya tonton adalah film Pretty Women. Selain menontonnya di gedung film, juga beberapa kali saya menonton lagi di rumah dengan DVD. Kali ini saya ingin mengambil salah satu adegan dari film Pretty Women ini sebagai pengantar yang tepat dari tulisan ini. Dalam salah satu adegan dikisahkan, Julia Roberts (sebagai salah satu pemeran utama film ini) pergi ke butik mahal untuk membeli pakaian. Melihat gaya penampilan dan pakaian murahan yang dikenakan oleh Julia Robert, penjaga toko mengacuhkannya dan tidak mau melayaninya. Bahkan mereka mengusirnya.

Mendapat perlakuan seperti ini, Julia lalu memberitahu kepada pacarnya yang kaya raya (diperankan oleh Richard Gere) akan hal tersebut. Richard Gere lalu membawa Julia ke butik mahal yang lain dan membelikannya begitu banyak pakaian mahal. Setelah itu, ketika hendak kembali ke hotelnya, Julia dengan menjinjing begitu banyak tas belanjaan dari butik mahal tersebut, mengunjungi toko tempat dia pernah diperlakukan dengan tidak menyenangkan dan bahkan diusir dari sana. Julia Robert lalu berkata pada sang pelayan tokonya, “Hai, saya datang ke sini kemarin dan Anda tidak mau melayani saya. Gaji Anda tergantung komisi bukan? Sayang, sayang sekali.”

Meskipun ini hanya kisah di film, tetapi dalam kehidupan nyata hal ini juga sering terjadi dan mudah dijumpai di lingkungan sekitar kita. Kita mungkin pernah mendengar orang yang menerima layanan yang tidak menyenangkan seperti yang dialami oleh Julia Robert ini. Atau bahkan diantara para pembaca ada yang pernah mengalami menerima layanan yang tidak standar seperti ini. Mungkin ketika menginap di hotel, berkunjung ke rumah makan, belanja di mall, belanja di butik dan lain-lainnya. Tentu sangat tidak menyenangkan kalau mendapatkan pelakuan yang demikian.

Pada sisi lain, sebagai professional, karyawan, pebisnis atau lainnya, tanpa kita sadari mungkin juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh petugas butik dalam film tersebut. Mungkin diantara kita pernah memberikan pelayanan yang tidak standar kepada customer atau pelanggan kita, memberikan layanan yang kurang menyenangkan sesuai harapan pada partner kita misalnya. Barangkali bukan hanya dalam hal sikap melayani, melainkan juga dalam hal kualitas produk, ketepatan waktu pemenuhan order, kecepatan pengiriman barang dan lain sebagainya. Mungkin juga kita pernah membeda-bedakan pelayanan kepada customer hanya atas dasar keuntungan yang akan kita peroleh, misalnya.

Sahabat professional mulia, pelayanan memiliki nilai penting bagi keunggulan. Persaingan yang semakin komplek di dunia bisnis, menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan. Setiap karyawan, manajer, pimpinan harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasan pelanggan. Organisasi atau perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan, tidak lagi mengizinkan seorang karyawan, supervisor, manajer ataupun pimpinan yang tidak memberikan pelayanan yang tidak standar. Karena karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi atau perusahaan. Itulah pentingnya pelayanan itu datangnya dari hati. Bukan berdasarkan pada penampilan pelanggan atau harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Martin Luther King pernah mengatakan, “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” Saya sangat sependapat dengan hal ini. Siapapun bisa menjadi hebat dengan memberikan pelayanan yang hebat dari hati. Artinya kekuatan melayani sepenuh hati dalam bekerja bisa menghebatkan seseorang.

Perhatikan para professional dan para pemimpin bisnis yang sukses, apa sebenarnya kunci keberhasilan mereka ? Anda akan menemukan salah satu kunci terpentingnya adalah kemampuannya mengembangkan mentalitas melayani dengan hati pada bidang profesinya. Demikian juga dalam skala organisasi atau perusahaan, perhatikan perusahaan yang dapat maju berkembang pesat ? Apa sebenarnya kunci keunggulannya ? Salah satu kuncinya adalah dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada para pelanggannya. Itulah mengapa banyak perusahaan yang kemudian mengangkat tema “kepuasan pelanggan.” Karena organisasi atau perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan, niscaya akan lebih mudah berkembang.

John Mackey, seorang pendiri Whole Food Market di Amerika Serikat mengatakan, “ Bagi kami stakeholder yang paling penting bukan pemegang saham, namun pelanggan.” Mengapa demikian ? Karena sesungguhnya kalau kita sebagai karyawan misalnya, penghasilan yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari pemimpin perusahaan atau pemegang saham. Kalau kita sebagai pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari pelanggan. Itulah mengapa kepuasan pelangganlah yang utama, sebab tidak ada pelanggan tidak ada keuntungan.

Membudayakan etos melayani dengan hati tidak dapat ditawar lagi, kalau kita ingin meraih kemajuan. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Anda akan mendapatkan yang terbaik dari orang lain, kalau Anda memberikan yang terbaik dari diri Anda.” Pandangan ini sesungguhnya sudah diajarkan oleh para guru spiritual kita sejak dulu yang senantiasa mengajarkan untuk berbagi kebaikan pada orang lain. Karenanya pelayanan itu sebaiknya datangnya dari hati. Semoga kita bisa terus belajar dan mengembangkan etos melayani dengan hati. Salam Good Ethos !.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso.

Profesionalisme & Karakter Pribadi Baik

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Dalam sebuah kesempatan berbagi motivasi di salah satu perusahaan alat-alat berat di Jakarta Barat beberapa waktu lalu, salah seorang peserta training sempat menanyakan apa perbedaan antara etos kerja terbaik dan mulia dalam Good Ethos dengan etos kerja pada umumnya. Menjawab pertanyaan peserta training ini, saya memulai penjelasan dengan apa perbedaan antara professionalisme dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia.

Kita mengetahui profesionalisme itu menyangkut dengan beberapa hal penting seperti, ketrampilan (skill), pengetahuan (knowledge), pengalaman (experience) dan motivasi (motivation) atau semangat. Keahlian, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman itu seringkali disebut sebagai kompetensi atau kemampuan seseorang. Sedangkan motivasi atau semangat itu seringkali disebut kemauan seseorang. Perpaduan antara kompetensi atau kemampuan dengan motivasi atau kemauan itulah yang akan menghasilkan seorang professional yang memiliki kinerja tinggi.

Profesionalisme bisa mengantarkan pada kesuksesan baik dalam karir maupun bisnis, tetapi belum menjamin kesuksesan yang bermakna dan membahagiakan. Tanpa dilandasi karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia, professionalisme semata hanya akan menghasilkan para karyawan, pimpinan atau kaum profesional yang berkinerja tinggi, memiliki kecerdasan intelektual yang baik, tetapi belum tentu cerdas secara moral dan spiritual. Akibatnya kecerdasannya bisa disalahgunakan hanya untuk kepentingan pribadi, memperdaya orang lain atau bahkan merugikan negara. Inilah yang sering kita temui sekarang ini, banyak kaum professional yang memiliki prestasi dan karir cemerlang, tetapi akhirnya terjerumus dalam berbagai kasus hukum. Mereka memiliki prestasi dan karir professional yang mengagumkan, tetapi tidak berakhir dengan kebahagiaan. Banyak yang kemudian tersandung berbagai kasus dan menjeratnya masuk penjara.
Sedangkan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia itu tercermin melalui sikap dan perilaku seseorang. Artinya mereka yang berkarakter pribadi baik akan memiliki keindahan dan kebenaran dalam sikap dan perilakunya. Karena kebaikan itu sangat erat dengan keindahan sikap dan perilaku manusia. Dalam kehidupan pekerjaan hal ini akan tercermin melalui sikap yang bijaksana, jujur, bisa dipercaya, memiliki integritas, konsisten dalam kebaikan, empati penuh peduli, pandai bekerjasama dan bertanggungjawab. Perpaduan berbagai sikap dan perilaku mulia inilah yang menghasilkan seorang pribadi yang berkarakter baik.

Namun karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia semata, kalau tanpa disertai dengan profesionalisme, hanya akan menghasilkan pribadi yang cerdas secara moral dan spiritual, tetapi belum tentu memiliki kinerja yang baik. Mereka adalah orang-orang baik tetapi tidak memiliki kompetensi yang bisa diandalkan untuk meraih keberhasilan. Yang demikian tentu belum membuahkan hasil yang optimal.

Dengan demikian, keberhasilan dalam karir dan bisnis yang penuh makna dan membahagiakan itu bukan hanya ditentukan oleh professionalism semata. Bukan hanya ditentukan oleh talenta, bakat, pengetahuan dan motivasi yang baik yang dimiliki seseorang, melainkan juga harus disertai dengan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Kecerdasan, talenta dan motivasi yang kuat itu hanya akan mengantarkan pada keberhasilan yang bermakna dan membahagiakan, kalau dilandasi oleh karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia. Karena kekuatan kebaikan inilah yang akan memancar keluar menarik banyak peluang-peluang bagus mendekat.

Membangun karakter pribadi yang baik bisa dimulai dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang kita yakini dalam hati dalam setiap perilaku kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Implementasinya dalam organisasi adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain yg berhubungan dengan organisasi.

Sahabat yang baik, professionalisme dan karakter pribadi yang baik atau akhlak mulia adalah keharusan yang tidak bisa dipisahkan, kalau kita ingin meraih kesuksesan karir dan professional yang bermakna dan membahagiakan. Karenanya, sangat penting untuk terus mengembangkan etos kerja terbaik dan mulia atau good ethos dalam diri maupun dalam organisasi. Etos kerja yang mengintegrasikan antara professionalisme dan akhlak mulia, sehingga dapat membawa Anda menjadi seorang professional unggul yang berkarakter mulia. Semoga bermanfaat dan salam Good Ethos.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos dan empat buku motivasi laris lainnya, serta pembicara inspiratif profesional. Follow twitternya: @ekojalusantoso

Hindari Penyakit BEJ

Oleh: Eko Jalu Santoso

Anda pernah mendengar kata BEJ ? Apa yang terlintas dalam benak pikiran Anda ketika mendengar kata BEJ ? Saya percaya, pasti yang terlintas dalam pikiran Anda adalah “Bursa Efek Jakarta” bukan ?. Yaap,..untuk kali ini bukan itu maksudnya. BEJ yang saya maksudkan kali ini harus ditinggalkan, karena bisa merugikan kita. Siapapun yang terjangkiti kebiasaan BEJ ini, kalau tidak segera dihentikan bisa mengakibatkan terhambatnya kemajuan karirnya.

Jadi penasaran kan… Apa itu sebenarnya BEJ yang dimaksudkan ? BEJ yang ini adalah singkatan dari Blame, Excuse dan Justify. Apa itu kebiasaan BEJ dan mengapa bisa menjadi penghambat perkembangan karir dan kemajuan Anda ? Marilah kita kupas satu persatu:

Kebiasaan pertama, Blame atau blaming adalah kebiasaan menyalahkan orang lain. Kebiasaan menyalahkan keadaan atau lingkungan sekitarnya. Dalam dunia kerja, orang yang memiliki kebiasaan ini seringkali dengan mudahnya menyalahkan kebijakan perusahaan, menyalahkan kebijakan manajemen, menyalahkan kualitas produknya dan menyalahkan fasilitas yang diterimanya. Bahkan menyalahkan atasannya, bawahan, teman-teman dan lainnya.

Kalau ia menjadi atasan atau manajer misalnya, ketika target bulanan tidak tercapai dengan mudahnya melemparkan kesalahan pada anggota tim atau anak buahnya. Padahal kalau mau jujur sebagai manajer dialah yang paling bertanggungjawab atas tidak tercapainya target tersebut. Ketika menghadapi masalah atau kesulitan misalnya, dengan mudahnya menyalahkan keadaan, lingkungan atau orang lain. Padahal, kalau mau jujur, penyebab utamanya adalah kesalahan dia sendiri.

Kebiasaan ini menunjukkan rendahnya rasa tanggungjawab pribadi. Karena menjadikan kita tidak pernah belajar bertanggungjawab untuk mengatasi masalah. Setiap menemukan masalah, bukan melihat dan mengevaluasi ke dalam diri, tetapi menyalahkan pihak lain. Kalau ingin maju, kebiasaan ini. harus segera dihentikan. Kemudian gantikan dengan kebiasaan berani bertanggungjawab atas kesalahan diri dan berani mengakui kesalahan dengan kerendahan hati. Mau mengevaluasi diri dan belajar untuk memperbaiki kesalahan diri tersebut.

Kebiasaan kedua adalah Excuses, yakni selalu mencari-cari alasan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini sangat pandai dalam memberikan alasan-alasan untuk menutupi kesalahan dan kegagalannya. Mulai dari alasan-alasan klasik sampai dengan alasan yang canggih sekalipun. Ketika ia gagal misalnya, dengan mudahnya mencari alasan karena pendidikan kurang, kurangnya modal, tidak mendapat dukungan, tidak memiliki koneksi, tidak memiliki fasilitas cukuplah dan segudang alasan-alasan lainnya.

Dalam bekerja, ketika tidak dapat memenuhi target sesuai yang dijanjikannya misalnya, segera menyampaikan berbagai alasan-alasan untuk menutupi kegagalannya. Mereka yang memiliki kebiasaan excuses ini bukannya sibuk memikirkan bagaimana mencari solusi, melainkan sibuk mencai-cari alasan. Bukannya kreatif dalam menemukan cara-cara baru, tetapi kreatif dalam mencari-cari alasan baru.

Kalau ingin maju dan berkembang, tinggalkan kebiasaan ini. Orang-orang sukses tidak membuat alasan, sedangkan orang-orang gagal pandai mencari-cari alasan. Fokuslah pada solusi dan tindakan untuk menjadi maju dan berkembang, bukan mencari-cari alasan.

Kebiasaan ketiga adalah Justify, artinya mencari pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini cenderung melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri saja. Selalu merasa benar dengan alasan yang disampaikanya. Ketika melakukan kesalahan, dengan mudahnya ia berkata, “sekali-kali salah nggak apa-apa, orang lain lebih sering.” Atau ketika melakukan kesalahan, yang sering diucapkannya adalah, “manusiakan tempatnya salah, jadi ya wajarlah kalau ada salah.” Inilah contoh kebiasaan mencari pembenaran.

Kalau ingin sukses dan berkembang, kebiasaan seperti ini harus segera dihentikan. Karena kalau dibiarkan, kita tidak akan pernah belajar untuk menjadi lebih dewasa dan berani mengakui kesalahan kita. Kita tidak pernah belajar untuk menyelesaikan masalah kita. Biasakan berani bertanggungjawab atas kesalahan yang kita lakukan. Agar kita dapat belajar dan terus belajar memperbaiki kesalahan tersebut.

Nah, sekarang bertanyalah ke dalam diri sendiri. Apakah Anda termasuk orang yang terindikasi memiliki kebiasaan BEJ tersebut ? Kalau jawabannya tidak, bersyukurlah dan terus pertahankan.Tapi kalau jawabannya ya, segera hentikan. Bangun kebiasaan berani bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Bangun budaya mau introspeksi diri dan belajar untuk memperbaiki diri. Budayakan etos kerja terbaik dan mulia, itulah kunci bagi sukses dan kebahagiaan. Semoga Bermanfaat !

Konsep Diri Positif

Oleh: Eko Jalu Santoso

Saya mengenal seorang teman yang energik dan memiliki semangat positif. Dia selalu memiliki hal-hal positif untuk dikatakan kepada orang lain. Sebagai seorang kepala cabang sebuah bank swasta nasional, dia pernah ditempatkan di beberapa cabang di beberapa kota. Di setiap cabang dia diterima dengan baik oleh para karyawan, serta mendapatkan dukungan positif dari teman-temannya. Hasilnya setiap cabang yang dipimpinnya selalu meraih prestasi kinerja yang baik.

Saya penasaran dengan sikapnya yang selalu positif ini. Suatu saat ketika berbincang dengannya saya sempat menanyakan kepadanya, “Saya salut lho sama kamu, selalu semangat positif setiap hari. Bagaimana kamu dapat melakukan hal itu ?.” Teman saya inipun menjawab, “Ah itu sederhana saja…setiap pagi ketika bangun, aku selalu berkata pada dirinya, aku punya dua pilihan hari ini. Apakah aku dapat memilih dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang buruk. Dan aku selalu memutuskan untuk memilih dalam suasana yang baik.”

Sahabat profesional yang baik, setiap hari kita itu menerima lebih dari 60,000 pikiran yang masuk dalam diri kita. Itu menurut Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam The Aladdin Factor sebagaimana ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif. Begitu banyaknya pikiran yang berseliweran masuk setiap harinya ke dalam diri kita, sehingga diperlukan kepandaian kita untuk menyikapi dan menyaringnya. Ketika kita berorientasi positif, itu akan sangat memengaruhi keputusan kita untuk hanya memilih hal-hal positif yang datang dalam diri kita. Demikian sebaliknya, ketika seseorang berorientasi negatif, maka akan memengaruhi pilihan-pilihan negatif yang datang dalam dirinya. Inilah hukum akal bawah sadar, bahwa hukum akal bawah sadar membuat pikiran tertentu menyebar.

Setiap hal yang datang dalam diri kita tidak akan memiliki arti sama sekali sampai kita memberinya makna. Semua itu akan menjadi berarti positif atau negatif, sesungguhnya kita sendiri yang menentukannya. Kalau demikian, agar selalu dapat memberi makna positif pada hal-hal yang datang dalam diri kita, kuncinya milikilah konsep diri positif.

Konsep diri positif merupakan sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Konsep ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan seseorang mempersepsikan setiap keadaan yang datang dalam kehidupannya. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah mengarahkan perasaan dan pikirannya selalu kearah positif. Menangkap dan mempersepsikan setiap keadaan yang datang dengan pandangan positif. Demikian pula sebaliknya.

Pribadi yang memiliki konsep diri positif, pembicaraannya selalu baik, kata-katanya positif, santun dan mengandung kebaikan bagi orang lain. Senantiasa menghindari prasangka negatif dan tidak menyakiti hati orang lain. Setiap kehadirannya mengirimkan getaran-getaran positif bagi lingkungan sekelilingnya, sehingga mengaktifkan dunia sekelilingnya menjadi positif juga. Pada akhirnya cenderung menarik hasil yang positif juga.

Pribadi positif memiliki keyakinan tinggi dan tidak akan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Ia memberi usahanya perawatan dengan keyakinan positif dan tindakan yang positif. Hasilnya ia bisa karena ia berpikir bisa dan yakin bisa.

Memiliki konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam kehidupannya. Inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan karir, bisnis dan kehidupan. Nah, bagaimana dengan Anda?. Pilihannya ditentukan oleh diri Anda sendiri.