berfokus pada kekuatan

fokusOleh: Eko Jalu Santoso*

Beberapa hari lalu saya menerima BBM dari seorang teman yang isinya demikian, “Mas Eko, saya memiliki atasan yang selalu hanya melihat sisi negatif kita. Kalau kita melakukan kesalahan kecil saja, pasti akan marah dan mengeksplorasi kesalahan kita. Alih-alih membatasi pembicaraan pada kesalahan saat ini, malahan mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan yang lainnya. Saya sudah berusaha supaya tetap positif, tapi lama-lama kepala jadi agak pening nih..ha..ha..ha…menahan diri mas.” Demikianlah salah satu keluhan yang saya terima memalui BBM.

Sebagian orang ada yang memiliki kecenderungan memusatkan perhatian pada kekurangan orang lain. Kalau kebetulan ia menjadi atasan atau manajer misalnya, biasanya akan mudah marah ketika menemukan kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Bagi mereka, inilah saat yang tepat untuk menumpahkan kemarahan. Bahkan satu kesalahan kecil saja misalnya, bisa jadi akan ditarik ulur menjadi masalah besar. Akibatnya hal-hal positif bawahan, seperti prestasi, kekuatan maupun kelebihan anak buahnya akan tenggelam tidak terlihat, karena tertutupi oleh kesalahan. Ibarat orang yang melihat sebuah kain putih, ketika ia hanya berfokus pada satu noktah kecil di atas kain putih tersebut, akibatnya ia mengabaikan keseluruhan kain yang notabene putih bersih tersebut.

Setiap orang tentu memiliki kelemahan, kekurangan atau ketidaksempurnaan. Itu pasti karena kita memang manusia. Bukankah hanya Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Karena itu kalau kita lebih berfokus pada kelemahan orang lain, kita hanya akan menghabiskan waktu untuk membahas kelemahan-kelemahan tersebut. Kalau kita hanya berfokus pada sisi negatif atau kesalahan orang lain, maka tidak akan ada kemajuan, karena tidak dapat melihat nilai lebih orang lain. Maka ubahlah fokus kita bukan melihat pada sisi negatifnya, melainkan berfokus pada sisi positifnya.

Perhatikan para professional sukses, pemimpin yang efektif, maupun para pengusaha sukses, mereka bukanlah orang yang berfokus pada kelemahan atau kekurangan orang lain, melainkan orang-orang yang selalu berfokus pada sisi kelebihan orang lain. Mereka adalah pribadi yang lebih memusatkan perhatiannya pada kekuatan orang lain. Memusatkan perhatiannya pada hal-hal positif dan kelebihan yang dimiliki oleh anggota timnya. Kemudian mereka mampu memberdayakan nilai lebih atau kekuatan yang dimiliki anggota tim dalam organisasinya untuk mencapai tujuan organisasinya.

Karena itu berfokus pada kekuatan atau nilai lebih menjadi prinsip yang mesti ditegakkan, kalau kita ingin meraih sukses dalam karir dan bisnis. Karena dengan berfokus pada nilai lebih dan kekuatan, menjadikan Anda dapat memperoleh kontribusi terbaik dari seseorang. Sebagaimana disampaikan oleh Peter Drucker, seorang guru manajemen kelas dunia yang mengatakan, ““Seseorang seharusnya tidak ditempatkan di posisi manajerial jika visinya berfokus pada kelemahan anak buahnya dan bukan pada kekuatan mereka.” Jelaslah bahwa untuk menjadi seorang manajer yang hebat, professional yang unggul atau pemimpin yang efektif seseorang harus memusatkan perhatian pada sisi positif dan kelebihan orang lain. Mampu melihat nilai lebih orang lain, menyerap nilai lebih dan kekuatannya, serta mampu menyatukannya sehingga memiliki daya yang hebat untuk mencapai tujuan.

Salah satu kunci keberhasilan menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah adalah membuat nilai lebih yang dimiliki setiap anggota timnya menjadi suatu kekuatan yang efektif untuk mencapai tujuan.

Pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memusatkan perhatian pada sisi positif atau kekuatan seseorang ? Salah satu kuncinya adalah dengan membangun konsep diri positif. Membangun konsep diri positif artinya selalu berusaha mengarahkan hati, pikiran, sikap dan tindakan selalu ke arah sisi positif. Memandang banyak hal yang datang dalam kehidupan melalui sikap positif. Kebiasaan inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif, sehingga mampu selalu berfokus pada sisi positif orang lain, bukan pada sisi kekurangannya.

Sebuah nasehat bijak mengatakan : “Jadilah engkau seperti lebah yang hanya mengambil kebaikan dari sari-sari bunga dan meninggalkan keburukan-keburukan.” Demikianlah pribadi yang memiliki konsep diri positif akan memusatkan perhatian pada sisi kebaikan orang lain, bukan pada keburukan dan kekurangannya. Dengan berfokus pada kekuatan atau nilai lebih seseorang, akan menjadikan kelemahan dan kekurangan yang ada menjadi tidak relevan lagi. Pada akhirnya kita akan mendapatkan kontribusi terbaik dari seseorang. Semoga bermanfaat.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku dan motivator. Follow twitter: @ekojalusantoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>