Archive for February, 2009

Dunia Tidak Cukup

Thursday, February 26th, 2009




Banyak orang sibuk mengejar dunia,

Mereka berjuang menjadikan dunia dalam genggamannya,

Mereka mati-matian mengumpulkan dunianya,

Mengejar karier, Bisnis, kekayaan, jabatan, kekuasaan,

Begitu sibuknya seringkali melupakan akheratnya.

Seolah-olah dunia adalah tujuan akhirnya,

 

Berapa lamakah engkau akan hidup di dunia,

Apakah lebih dari 70 tahun, 80 tahun atau seratus tahun,

Itupun kalau diberikan umur panjang,

Lalu akan kemanakah kehidupan setelahnya…

 

Banyak orang cerdas dunia, tetapi mengabaikan akheratnya,

Mereka pandai dunia, tapi tidak memahami akheratnya,

Mereka cinta dunia melebihi cinta akheratnya,

Padahal dunia hanya sebentar saja,

Padahal dunia saja tidaklah cukup

 

Dunia bukanlah tujuan akhir,

Karena dunia akan segera ditinggalkan,

Kita semua sedang dalam perjalanan kesana

Tak peduli seberapa kerasnya manusia berusaha,

Ketika waktunya tiba, tak sedetikpun mampu menghindarinya,

Menuju Kehidupan kubur…….
Kehidupan masyar …….
Kehidupan shirath ……
Kehidupan Syurga atau kehidupan neraka…..

Tak pernah terbayangkan berapa lama kekalnya……

 

Harta kekayaan, kekuasaan, jabatan akan ditinggalkan,

Semua asesories kesuksesan dunia ditinggalkan,

Hanya amal sholeh dan kebaikan yang dibawa,

Hanya roh, jiwa dan iman yang menyertainya,

Sudah siapkah kita menuju kehidupan selanjutnya,

sudah siapkah kita berdiri dihadapanNya ?

 

Dunia saja tidak cukup,

Karena dunia  begitu kecil dan sementara,

Dunia dikuasai hanya untuk sarana akheratnya,

Letakkanlah dunia dalam genggamanmu tetapi jangan dalam hatimu,

Kuasailah duniamu, tetapi jangan dunia menguasaimu,

Bertebaranlah di dunia untuk mengumpulkan bekal akheratmu

 

Dunia dikejar untuk ditinggalkan,

Harta dikumpulkan untuk ditinggalkan,

Kejarlah dunia tanpa mengabaikan akheratmu,

Raihlah keberhasilan duniamu untuk bekal akheratmu,

Karena akherat jauh lebih penting dari pada dunia,
karena akherat jauh lebih kekal daripada dunia,

Dunia adalah sarana,

Kesempatan berinvestasi kebajikan,

Kesempatan mengumpulkan amal kebaikan,

Kesempatan menebarkan kasih sayang,

Kesempatan menghasilkan karya-karya bagi kehidupan,

Karena akherat lebih utama…

 

Dunia saja tidak cukup,

Karena dunia itu kecil dan sementara,

Akheratlah yang besar dan kekal,

Kalau demikian mengapa sibuk memperjuangkan yang kecil saja,

Perjuangakan yang besar, yang kecilpun akan dimenangkan,

Kejarlah akheratmu, maka dunia dalam genggamanmu

Pikirkan dan renungkanlah…..

 

Salam Sukses Mulia,

Cibubur, 26 Pebruari 2009

Eko Jalu Santoso

www.ekojalusantoso.com

Sikap Optimisme

Thursday, February 26th, 2009


Oleh: Eko Jalu Santoso

Para motivator seringkali mengajak kita semuanya untuk selalu memiliki sikap optimisme menghadapai masa depan. Sikap tidak mudah berputus asa dalam menghadapi kesulitan. Memiliki keberanian menghadapi tantangan masa depan. Namun seringkali banyak orang memiliki pandangan sikap optimisme hanya dari sisi kehidupan duniawi semata.

Bagi kita orang beriman, sudah seharusnya untuk tidak berlaku demikian. Sikap optimisme dan pengharapan berkaitan dengan kehidupan masa depan bukan hanya untuk dunia semata, melainkan lebih penting lagi adalah untuk mengharapkan rahmat dan berkah dari Allah. Dengan demikian sikap optimism itu tercermin dalam setiap aktivitas kehidupan dengan harapan bukan hanya untuk kehidupan sekarang, melainkan juga untuk kehidupan yang abadi nantinya. Dalam terminologi pandangan sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ke depan ini disebut ‘raja’  atau sikap penuh harap.

Bagi kaum yang memiliki paham kapitalis dan mengedepankan nilai-nilai materialisme, pada umumnya sikap optimisme atau keyakinan penuh harapan masa depan selalu dinilai dengan keberhasilan duniawi seperti kekayaan materi, kekuasaan, jabatan, popularitas dan lain sebagainya. Namun tidak demikian bagi kita orang beriman.

“Sikap optimisme bagi kaum beriman, dambaan itu bisa berupa kemuliaan hidup, keberkahan hidup, ampunan Tuhan (maghfirah), rahmat Tuhan, dan perkenan-Nya (mardhatillah).”

Kuatnya harapan yang bertaut pada rahmat Tuhan ini membuat orang beriman selain mengejar keberhasilan dunia, semakin intens dalam beribadahnya, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan ikhtiar demi tercapainya cita-cita.

Memiliki sikap penuh keyakinan harapan atau optimisme, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh landasan keyakinan keimanan yang kuat dalam diri kita. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang. Orang beriman selalu memiliki harapan dan senantiasa memelihara sikap optimisme menghadapi masa depan kehidupan. Harapannya bertaut pada keyakinan keimanannya kepada Tuhan, selalu merasa yakin ada Tuhan sebagai sumber pengharapan. Harapan masa depan lebih baik, karena selalu yakin akan kehendak Tuhan Sang Pencipta Masa Depan.

Memiliki sikap optimisme masa depan lebih baik berarti kita dituntut turut aktif memperbarui diri, meningkatkan kualitas diri lebih baik mulai kini dan disini.

Untuk itu, sikap optimisme yang disebut ‘raja’ atau sikap penuh harap bukanlah impian dan angan-angan belaka. Menurut pandangan Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari seorang penulis kitab Al-Hikam, sikap ‘raja’ adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata.Karenanya untuk mencapai apa yang kita harapkan, mulailah saat ini dan disini dimanapun posisi Anda saat ini dengan tindakan-tindakan pembaruan, perubahan dan senantiasa menuju pada tujuan Anda. Itulah awal harapan baru yang lebih baik akan tercapai.

Sikap penuh harap atau sikap optimisme tidak akan memberikan makna berarti bagi orang yang tidak melakukan perubahan dalam tindakannya.

“Sikap optimisme  perlu disertai perubahan. Tetapkan perubahan sikap, perubahan perilaku, perubahan semangat agar harapan-harapan yang ingin dicapai menjadi sebuah kenyataan.”

Landasan keimanan dapat memberikan perspektif yang memungkinkan harapan baru lebih baik menjadi kenyataan. Karena dengan landasan keimanan kepada Tuhan YME, dapat membuat orang bertanggungjawab atas dirinya, kehidupannya dan masa depannya. Maka meningkatkan kualitas keimanan adalah landasan penting bagi terciptanya semangat penuh harap dan sikap optimisme dalam kehidupan.

Dengan demikian sikap optimisme yang dikehendaki bagi kita orang beriman adalah optimisme yang dibangun dengan landasan keimanan yang kuat untuk mencapai kehidupan yang SUKSES MULIA dunia dan akherat. Pandangan demikian, akan menjadi landasan prinsip dalam kehidupan dan setiap aktivitas tindakan kita, sehingga tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana hati yang penuh syukur, ikhlas dan penuh kedamaian. Memiliki sikap optimisme bagi kemajuan pribadi kita, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual. SEMOGA BERMANFAAT.

 

*** Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani” dan penulis buku “The WISDOM OF BUSINESS”, Ketiganya diterbitkan Elex Media Komputindo.

Apa Itu Sukses Mulia ?

Wednesday, February 25th, 2009


Oleh: Eko Jalu Santoso

 

Seorang sahabat member Motivasi Indonesia berkirim email kepada saya menanyakan apa yang dimaksudkan dengan sukses mulia ?

 

Menjawab sahabat ini, ada baiknya sekaligus saya kirimkan email ini ke sahabat lainnya juga. Mungkin juga anda sama penasarannya dnegan sahabat yang bertanya ini. Apa sesungguhnya yang dimaksud sukses Mulia itu ?

 

Sahabat yang baik, semua orang tentu menginginkan hidupnya meraih kesuksesan. Tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya sengsara atau hina. Namun seringkali sebagian besar orang memiliki pandangan bahwa sukses itu hanya diukur dari segi materi, kekayaan pribadi, kekuasaan, rupa yang menawan atau popularitas tinggi. Persepsi demikianlah yang seringkali mempengaruhi pandangan sebagian besar orang dalam mengartikan kesuksesan. Padahal kita mengetahui bahwa berbagai simbul tersebut, seperti materi, jabatan, kekayaan itu tidak dapat dijadikan tolok ukur seseorang itu mencapai kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Kalau demikian maka sukses saja belumlah menjamin kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Buktinya ada sebagian orang sukses dengan ukuran tersebut diatas, ternyata akhir hidupnya sengsara, tidak bahagia dan tidak Mulia.

 

Kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akherat itu hanya dapat dicapai melalui ketakwaan seseorang, bukan melalui kekayaan materi. Ketakwaan adalah keutamaan bagi kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Dengan demikian sukses harus ditambahi dengan ketakwaan agar mencapai kemuliaan. Maka sukses yang disertai dengan ketakwaan itulah yang menjamin kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Itulah yang disebut dengan SUKSES MULIA.

 

 Sukses Mulia adalah sukses yang disertai dengan ketakwaan. Dengan demikian kesuksesan yang diperolehnya akan menjamin kemuliaan hidupnya.

Apa ciri-ciri pribadi sukses mulai itu ?

Pribadi Sukses Mulia adalah pribadi yang senantiasa mau memperbarui dirinya dalam tindakan, perilaku dan sikap yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT. Pribadi yang terus bersedia mengoptimalkan potensi yg ada dalam dirinya dan senantiasa menunut ilmu pengetahuan lebih tinggi. Karena Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Ini adalah janji Allah yang dituangkan dalam kitab suciNYA.

Kesuksesan hidup di dunia dapat diperoleh dengan kekayaan materi, kemuliaan hidup di dunia dan akherat hanya dapat diperoleh dengan ketakwaan.

Ciri-ciri lain pribadi Sukses Mulia adalah berorientasi menghasilkan karya-karya besar dan bermanfaat bagi banyak orang lain, senang melakukan kebajikan, senang menyambung tali persaudaraan, memiliki sikap empati kepada orang lain,  senang menebarkan energy positif kebaikan bagi sesama. Intinya adalah memiliki ilmu pengetahuan luas dan beriman kepada Allah SWT. SEMOGA BERMANFAAT.

Salam Sukses Mulia !

Belajar & Mendengarlah

Monday, February 2nd, 2009


“Belajar dan mendengar adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Dengan mendengar kita dapat menyelami samudra luas pengertian yang memudahkan membuka hati dan pikiran dalam belajar.”

 

Sahabat yang baik, kesuksesan maupun kegagalan dalam kehidupan seringkali dipengaruhi oleh bagaimana cara manusia membuka hati dan pikirannya tentang berbagai pemahaman pengetahuan dalam kehidupan. Demikian pentingnya peran pikiran dan luasnya pemahaman pengetahuan dalam kehidupan dalam mempengaruhi keberhasilan, menjadikan orang-orang yg sukses selalu membuka hati dan pikirannya untuk terus belajar atau “continues learning”.

 

Orang-orang sukses dan mulia hidupnya mereka senantiasa mau menyediakan diri untuk mendengar dan belajar mengasah ketajaman pikirannya dan memperluas pengertiannya. Dengan mau belajar sesungguhnya menjadi manusia berhenti menjadi katak dalam tempurung, yang menganggap seolah-olah dunia hanyalah sebatas tempurungnya. Dengan belajar akan membuka cakrawali pemikiran manusia menjangkau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak menjadikan manusia dapat memberikan kontribusi kebaikan yang lebih baik bagi dirinya maupun bagi sekelilingnya.

 

Belajar perlu dilengkapi dengan kesediaan diri untuk selalu mendengar. Karena dengan membuka kesediaan hati untuk mendengar, menjadikan manusia dapat memahami lebih mendalam tentang kehendak Kehidupan di sekelilingnya. Manusia dapat menyatu dan menyelami samudra pengertian yang terbentang luas di alam semesta yang tak terbatas ini. Dengan kata lain kesediaan untuk mendengar akan memudahkan memudahkan seseorang memiliki pemahaman akan pengertian dan pengetahuan. Bagi orang-orang sukses dan mulia, belajar dan mendengar adalah kebutuhannya sepanjang kehidupannya. Teruslah belajar dan mendengar dengan hati dan pikiran yang terbuka.

 

Salam Sukses dan Mulia,

Eko Jalu Santoso