Archive for June, 2007

Ungkapkan Terimakasih & Bersyukur

Friday, June 29th, 2007

Oleh: Eko Jalu Santoso

Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada sahabat semua yang telah berkirim pesan positif - khususnya teman-teman yang berikirim email secara pribadi ke saya dalam memebrikan tanggapan positif terhadap tulisan saya maupun buku saya – sekali lagi terimakasih. Juga terimakasih kepada sahabat yang dengan tulus ikhlas berpartisipasi aktif, berbagi ilmu dan kebaikan melalui milis, sungguh ilmu dan kebaikan anda memberikan dorongan positif bagi saya.

Dalam hal berbagi kebaikan kepada orang lain, maka anda sendirilah yang pertama akan menikmati buahnya dalam kedamaian,  kebahagiaan, ketenangan hati dan keberlimpahan batin anda. Tuhan pasti akan mencatat segala peran baik anda dalam berbagi kebaikan kepada sesama.

Sahabat milis yang luar biasa,

Dalam perjalanan kehidupan karier, keluarga dan usaha anda selama ini, pernahkah diantara Anda merasakan ada ketidakpuasan dengan apa yang sudah Anda peroleh selama ini ? Merasa kan bahwa kehidupan teman Anda lebih berhasil dan bahagia daripada kehidupan Anda? Seringkali kita karena melihat kehidupan orang lain, kemudian melupakan ungkapan Terimakasih dan ungkapan Bersyukur atas keberlimpahan dalam hidup ini ?

Saya ingin berbagi sebuah kata bijak dari Meister Eckhart salah seorang ahli falsafah German yang saya ambil dari salah satu tulsan Azlina sbb:

Seandainya satu-satunya doa yang kita amalkan dalam hidup kita adalah `terima kasih`, itu sudah lebih dari cukup. Rasa syukur membuat hidup kita sempurna. Rasa syukur mengubah apa yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebihan. Rasa syukur mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keamanan, kekeruhan menjadi kejernihan. Rasa syukur dapat mengubah hidangan sederhana menjadi pesta, sebuah bangunan menjadi rumah yang nyaman, seorang asing menjadi kawan. Rasa syukur membuat masa lalu masuk akal, memberi kedamaian bagi hari ini, dan menciptakan visi untuk masa depan.

Sahabat, renungkanlah kembali secara jujur makna dari ungkapan diatas. Sungguh kalau mau secara jujur melakukan “inner journey” ke dalam diri Anda, anda akan menemukan banyak hal berharga yang sudah anda peroleh dan miliki dalam kehidupan Anda selama ini. Saya yakin Anda akan merasakan begitu banyaknya hal-hal yang sangat indah dan istimewa telah hadir dalam kehidupan Anda yang pantas untuk diungkapkan dengan ucapan TERIMAKSIH dan SYUKUR kepada Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan ini.

Kalau demikian, mengapa masih merasakan kesusahan, mengapai masih merasakan serba kekurangan ?

Adalah ungkapan yang sangat bermakna dengan mengucapkan TERIMAKASIH dan ucapan SYUKUR kepada Allah S.W.T atas segala limpahan rahmatnya selama ini. Terimakasih atas karunia fisik yang sempurna, kelengkapan panca indera yang luar biasa, kedua mata, kedua telinga, kedua kaki yang kokoh mampu menopang tubuh anda, kedua tangan yang dapat memegang segala yang anda suka. Apakah Anda kira itu hal yang sederhana dan tidak berharga ?

Demikian juga, TERIMAKASIH atas betapa dashyatnya karunia potensi dalam diri anda, betapa hebatnya sistem saraf dan otak yang mampu membuat anda mengenal rahasia kehidupan dunia, kerja jantung, paru-paru, ginjal yang tidak pernah berhenti sedetikpun dalam kehidupan Anda. Keluarga yang bahagia, pekerjaan, karier dan yang paling penting, ungkapkan rasa Terima kasih karena kita masih diberikan kesempatan bernafas dalam kehidupan dunia sampai dengan detik ini.

Bersyukur dengan apa yang sudah kita terima, akan mendamaikan hati kita. Kalaupun kita mungkin saat ini sedang menghadapi masalah dan kesulitan dalam hidup misalnya, dengan tetap berlatihlah banyak mengungkapkan rasa terimakasih dan rasa bersyukur atas keberlimpahan dalam diri anda, dapat menenangkan hati kita. Adanya masalah, kesulitan dan kendala dalam kehidupan, bisa jadi adalah pertanda bahwa kita diingatkan oleh Tuhan untuk lebih banyak lagi berterimakasih dan bersyukur atas keberlimpahan hidup.

Mungkin kita diingatkan oleh Tuhan untuk lebih banyak lagi mau berbagi kebaikan dengan sesama kehidupan. Karena dengan berterimakasih dan bersyukur secara ikhlas dan tulus, rasakan secara perlahan-lahan pasti pengaruh negative akan memudar dari diri anda dan kehidupan anda. Yang datang kemudian adalah energi positif yang menjadi pendorong menuju kehidupan sukses mulia.

Sahabat, akhirnya menyambut akhir pekan ini, luangkan waktu sejenak untuk mengungkapan rasa terimakasih dan brsyukur kepada keluarga anda tercinta yang telah menopang semangat dan motivasi anda dalam berkarya selama ini. Kehadiran ada akan sangat berarti bagi mereka melebihi dari keberlimpahan harta benda. Bersama mereka akan memebrikan energi bagi anda untuk menyambut kembali kehidupan di minggu-minggu mendatang.

Salam Motivasi Nurani,

*** Eko Jalu Santoso adalah Penulis Buku The Art of Life Revolution, yang diterbitkan Elex Media Komputindo dan Founder Motivasi Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

DIMANAKAH NILAI KEMULIAAN ?

Monday, June 25th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Pernah dikisahkan terjadi sebuah keributan antara dua kelompok masa di suatu kampung. Masing-masing pihak sudah naik emosinya dengan menghunus pedang dan senjata tajam. Suasana semakin panas. Hampir saja tengkorak lepas dari jasad manusia.

Lalu, salah seorang diantaranya berlari mencari seorang yang memiliki kewibawaan dan kemuliaan sebagai juru damai yang penyabar. Dia adalah Ahnaf. Pada saat itu Ahnaf sedang di rumahnya yang sederhana. Ketika dikabarkan tentang apa yang terjadi, ia tenang saja dan tidak panik. Sebab, dia sudah terbiasa menghadapi kesulitan dan hidup dalam tekanan. Ia hanya berkata, “Insyaallah, akan baik-baik saja !”

Sesudah itu, ia mengenakan pakaian dan lalu berjalan menuju kerumunan massa. Ketika orang-orang melihatnya, serentak mereka berdesakan ingin tahu melihat sosok orang yang memiliki kemuliaan sebagai juru damai. Mereka kaget yang datang hanyalah seorang biasa saja, pakaiannya sederhana, postur tubuhnya biasa saja, tidak nampak kegagahan dari penampilannya. Namun, kerumunan masa yang sedang emosi itu spontan menjadi tenang ketika ia mulai bicara, melontarkan kata-kata perdamaian dan meminta semuanya untuk segera bubar. Semua yang terlibat dalam keributan seperti terpukau dengan kata-katanya, mengangguk menyetujuinya dan mereka semua pulang. Keributan itupun kemudian tidak terjadi dan emosi mereka hilang begitu saja.

Sahabat, apa makna dari kisah tersebut diatas ?

Ada banyak makna yang bisa kita dapatkan, diantaranya adalah, nilai kemuliaan seseorang itu bukan dengan kegagahan dalam penampilan fisiknya semata.

Meskipun penampilan fisiknya biasa saja, sederhana saja, bukan berarti orang itu tidak memiliki bobot kemuliaan. Karena kemuliaan seseorang tidak dinilai dari kemegahan dan kegagahan penampilan fisiknya.

Nilai kemuliaan seorang manusia itu sebenarnya adalah, ada dalam hatinya, ada dalam bakat-bakat yang terpendam, ada dalam pemikirannya, ada dalam perilakunya dan ada dalam sifat-sifatnya yang mulia.

Jadi nilai seseorang itu bukan pada pakainnya, bukan sepatunya, bukan jamnya yang bermerek luar negeri, bukan Hpnya keluaran terbaru, bukan mobilnya yang mewah, bukan pangkatnya, bukan kemegahan rumahnya.

Nilai kemuliaan atau bobot manusia itu adalah, terletak dalam ketinggian keilmuannya, kecerdikan akalnya, kedermawanan hatinya, kebaikan perilakunya, kesabaran dirinya, dan pada ketulusan hatinya.

Dengan demikian, siapapun diri kita saat ini, sesungguhnya memiliki bakat-bakat kemuliaan dalam dirinya, memiliki nilai-nilai kecemerlangan dalam diri kita, tinggal bagaimana kita dapat mengolahnya. Menjadi orang kaya atau orang biasa, menjadi direktur atau karyawan biasa, memiliki gelar berderet atau tanpa memiliki gelar, memiliki pangkat dan jabatan tinggi atau orang biasa, semuanya dapat memiliki nilai kemuliaan yang tinggi.

Karena nilai manusia itu,

hadir dalam individu yang memahami potensi terpendam dalam diri, memiliki ketinggian dalam keilmuannya, kedermawanannya, sikapnya yang peduli kepada orang lain, penyabar dan dalam kecerdasan akal pikirannya.

Sahabat semuanya, kita sama-sama dapat memetik hikmah bahwa sesungguhnya nilai kemuliaan manusia itu,

hadir di dalam hati yang memiliki keimanan, dalam hati yang penuh dengan keridlaan, kelembutan, penuh cinta dan kasih sayang dan cahaya kejernihannya.

Semoga bermanfaat. Salam Motivasi Nurani.

*** Eko Jalu Santoso adalah Penulis Buku The Art of Life Revolution, Elex Media Komputindo dan Founder Motivasi Indonesia:

motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

KEYAKINAN DAN KETEKUNAN

Thursday, June 21st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Sahabat, dalam hidup seringkali kita menerima keadaan dan situasi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apakah itu dalam bidang pekerjaan, dalam bidang usaha maupun dalam kehidupan keluarga. Ketika kita dihadapkan pada situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan misalnya, apakah Anda sedih dan putus asa ? Ketika kondisi negeri kita seringkali dirundung berbagai masalah, musibah dan bencana bertubi-tubi, bagaimanakah kita harus menyikapinya ?. Apakah anda merasa pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha ? Ataukah kebalikannya anda bertekad untuk berjuang keras untuk keluar dari lubang masalah dan maju meraih kesuksesan ?.

Pasrah dengan keadaan ? Tidak memiliki keyakinan untuk terus berjuang ?.

Sahabat, hukum alam itu sederhananya adalah barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, maka jarinya akan melepuh. Mereka yang berani berjuang dengan gigih, tidak takut akan kegagalan, akan lebih dekat meraih kemenangan. Orang yang memiliki keyakinan dan ketekukan bekerja, lebih giat berusaha, tanpa pernah mudah menyerah dalam berusaha - akan memperoleh keberhasilan dan kesuksesan. Itullah “sunnatullah” atau hukum sebab akibat.

Sayangnya, banyak orang yang mengingkari hukum “sunnatullah” ini. Hanya karena sebagian orang mempercayai bahwa “langit itu adil” dan kemudian merasa percaya pada sang langit saja, berdoa kepada sang langit saja, mengharap kepada sang langit saja, tanpa pernah mau melakukan usaha nyata, kemudian berharap emas jatuh ke pangkuannya begitu saja. Padahal tiada imbalan yang dapat diraih tanpa usaha. Tiada buah yang dapat dipetik tanpa menaburkan benih-benihd an setia merawatnya. Sesungguhnya keyakinan dan ketekunan tak akan pernah jauh dari imbalan itu sendiri.

Sahabat, sebuah KEYAKINAN dapat memberi makna lebih dalam pada setiap usaha yang kita lakukan. Maka imbalan pun pasti akan memenuhi jiwa kita.

KEYAKINAN sesungguhnya akan memperkaya hati dan jiwa kita. Sedangkan KETEKUNAN akan mendekatkan kita pada keberhasilan usaha. Tentu saja keduanya akan menjadi lebih sempurna kalau disertai dengan DOA kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan.

Sahabat, memelihara keyakinan dan ketekunan dalam diri kita, tentu memerlukan usaha yang keras. Namun yakinlah bahwa hal itu akan memperkaya tangan dan batin kita. Keyakinan dan Ketekunan dalam hidup, dalam karier dalam bisnis akan sangat dahsyat pengaruhnya bagi kesuksesan seseorang jauh melampaui modal harta benda, kedudukan, pangkat, atau ilmu sekalipun.

Salam Motivasi Nurani !

***Motivasi Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

ENERGI POSITIF SUKSES MULIA

Monday, June 18th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Mengapa dalam hidup ini sering kali kita menemukan orang-orang yang hidupnya seolah-olah hanya mementingkan dirinya sendiri ? Mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan lebih mementingkan kebutuhan dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki kepekaan dan kepedulian social. Hidup seolah-olah hanya untuk diri dan keluarganya sendiri. Mengejar kekayaan, mencari ilmu pengetahuan, menggapai kekuasaan, jabatan hanya untuk memenuhi kepentingan pribadinya, tanpa mempedulikan kepentingan orang lain.

Mereka inilah sesungguhnya orang-orang yang selalu dihantui oleh kecemasan masa depan yang belum pasti. Pikirannya selalu dikuasai oleh kekawatiran suatu keadaan di masa mendatang yang belum diketahuinya. Akibatnya mereka menjalani hidup sebagai pribadi yang egois, pribadi yang senang mementingkan diri sendiri dan pribadi yang tidak memiliki kepedulian sosial. Mereka cenderung menimbun harta kekayaan sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri, memuaskan ego pribadinya.

Hidup model seperti ini sesungguhnya mengecilkan arti kehidupannya sendiri. Mereka tidak menyadari telah menciptakan sendiri kesulitan hidupnya sendiri. Mereka telah merusak hidupnya sendiri dengan melemparkan dirinya dari ketinggian menuju pada kerendahan. Mereka telah merusak nilai hidupnya sendiri sehingga menjauhkannya dari energi positif bagi sukses mulia.

APA ITU ENERGI POSITIF ?

Manusia akan merasakan kehidupan yang lebih indah, kalau dirinya dapat memancarkan banyak energi positif dari dalam diri untuk kehidupan. Hidup akan menjadi lebih mudah, lebih sukses dan lebih mulia kalau kita dapat meningkatkan energi positif dalam diri dan memancarkannya untuk kepentingan orang lain dan kehidupan.

Lalu pertanyaannya adalah apakah sebenarnya yang dimaksud energi positif dalam diri itu ?

Saya mendefinisikan energi positif sukses mulia adalah tindakan-tindakan positif, pekerjaan-pekerjaan positif atau sikap hidup positif yang setidaknya memenuhi karakeristik, disukai oleh pelakunya sendiri (diri kita sendiri), diinginkan oleh orang lain, bermanfaat bagi orang lain dan kehidupan. Energi ini kalau dilepaskan dari diri kita dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan lahiriah dan batiniah bagi dirinya sendiri dan orang lain yang menerimanya. Tindakan, pekerjaan dan sikap positif itu dilakukan dengan ikhlas untuk tujuan mulia kebaikan dan manfaat bagi kehidupan dan alam semesta.

Bagaimana agar kita dapat memilihara dan memancarkan energi positif dari dalam diri kita ? Banyak menghidupkan energi positif dari dalam diri kiita sehingga dapat memancar keluar bagi kehidupan sekitar kita ?. Setidaknya saya ingin berbagai melalui tiga tips sederhana dibawah ini, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk kita semua:

1. Meninggalkan Ego Pribadi:

Artinya, bagaimana kita dapat meninggalkan ego pribadi yang berlebihan yang dapat menjadi penghambat bagi tumbuh dan berkembangnya energi positif dari dalam diri kita. Caranya sederhana, mulailah dengan berusaha tidak menjadi manusia yang egoistis, tidak menjadi manusia yang hanya selalu mementingkan kepentingan pribadi, tidak menjadi manusia berusaha memuaskan ego dan nafsu pribadi.

Dengan berusaha meninggalkan ego pribadi yang berlebihan, maka akan terbuka kesempatan untuk memikirkan kepentingan orang lain, peduli terhadap lingkungan dan tidak menjadi manusia serakah yang hanya mementingkan diri sendiri.

2. Berorientasi Memikirkan Orang lain:

Berusaha mengubah pusat hidup kita yang dulunya hanya memikirkan diri sendiri menjadi banyak memikirkan orang lain. Manusia yang hidupnya hanya memikirkan dirinya sendiri, hidupnya kecil dan matinya kecil. Namanya kecil dan ketika mati akan ditelan sejarah begitu saja.

Sebaliknya, manusia yang hidupnya banyak memikirkan orang lain, maka hidupnya besar dan matinya besar. Namanya besar dan meskipun mungkin ia sudah meninggal, namanya tidak pernah mati di hati orang lain sepanjang masa. Banyak contoh mengenai orang-orang besar seperti ini, Mahadma Gandhi, Bunda Therea, Imam Al-Gazali, Budha Gautama, dll.

3. Mengikuti Aturan Hukum Alam:

Mengikuti aturan-aturan hukum alam seperti artinya berusaha menjalani hidup sejati baru mengharapkan konsekuensi logis dari hasil hidup sejati. Sederhanya begini, kalau ingin menjadi orang baik maka berbuatlah bagi kepada orang lain, kalau ingin orang lain menghargai Anda maka berusahalah menghargai orang lain, kalau ingin sukses berusahalah mensukseskan orang lain, kalau ingin menjadi manusia yang berarti berusahalah memberikan arti bagi orang lain, kalau ingin menjadi orang mulia berusahalah memuliakan orang lain. Jangan sampai memurtarbalikkannya, artinya akan melawan hukum alam.

Jadi intinya adalah berdamai dengan hukum alam dan aturan kehidupan dunia ini. Dengan berdamai dan merangkul kehidupan dunia ini, akan lebih memudahkan hidup kita, memberikan banyak manfaat bagi kehidupan orang lain, membahagiakan kehidupan orang lain.

Pada akhirnya kalau kita ingin meningkatkan nilai kehidupan ini, maka brusahalah meningkatkan energi positif yang memancar dari dalam diri kita untuk kehidupan ini. Dengan banyak memancarkan energi positif berupa sikap hidup. Tindakan dan pekerjaan positif, hala ini akan lebih membahagiakan diri kita sendiri dan mendekatkan kita pada kesuksesan hidup dan kemuliaan. Kekhawatiran akan kesulitan rejeki dan ketakutan tentang masa depan akan hilang pada saat hidup lebih banyak kita gunakan untuk melepaskan energi positif dengan membantu kepentingan orang lain.

Salam Motivasi Nurani.

Sumber: Energi Positif Sukses Mulia Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku The Art of Life Revolution, Penerbit Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Menjadi “CREATOR” Masa Depan Sendiri

Friday, June 15th, 2007

Oleh: Eko Jalu Santoso

Kebanyakan orang menjalani hidup dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun membiarkan saja orang lain mendikte hidupnya. Membiarkan saja orang lain mengatur apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Bahkan banyak yang berperilaku seperti manusia yang bergerak otomatis, seperti melakukan pekerjaan yang sama, dengan cara-cara yang sama, bekerja di tempat yang sama, bertemu orang-orang yang sama selama bertahun-tahun. Rutinitas seperti ini tanpa disadari telah membelenggu banyak manusia di bumi ini selama bertahun-tahun dalam hidupnya.

Orang-orang seperti ini menjalani hidup tanpa memahami siapa dirinya dan apa kehendak hatinya Mereka ini tidak mengerti dan tidak pernah berusaha mengerti mengapa dirinya hidup di dunia dan untuk apa hidup di dunia. Bahkan ketika dirinya ditanya apa tujuan tertinggi hidupnya ? Mereka tergagap dan tidak bisa mendefinisikannya dengan jelas. Kalaupun bisa menjawabnya, pada umumnya tujuan hidupnya hanya dimotivasi oleh hal-hal yang bersifat kerendahan seperti, keserakahan, ketamakan dan kepentingan duniawi semata.

Sahabat MNI, dunia telah menghadirkan fakta sejarah bahwa orang-orang sukses, para pembaharu kehidupan, pribadi-pribadi unggul, manusia yang menghasilkan karya luar biasa bagi kehidupan adalah orang-orang yang mengenal dirinya dan memahami hakekat hidupnya. Mereka mengagumi kehidupannya dan meyakini nilai-nilai dalam dirinya dibandingkan dengan pengaruh orang lain. Mereka berani memperjuangkan nilai-nilai baru yang diyakininya dapat menciptakan masa depannya sendiri, bahkan dapat mempengaruhi masa depan kehidupan dunia.

Hidup Ini Penuh Kekaguman

Sahabat, dalam kehidupan di dunia ini setiap individu telah diberikan modal berupa kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang sangat berharga bagi kehidupan. Bahkan manusia memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya, yakni berupa “kebebasan hati” untuk memilih sendiri kehidupannya. Artinya setiap diri kita telah memiliki modal awal untuk menjadi pencipta masa depan kehidupan kita sendiri, menjadi seorang pemenang.

Maka pantaslah kalau kemudian kita memiliki kekaguman yang mendalam terhadap diri sendiri, terhadap nilai-nilai yang kita yakini dalam hati kita sendiri. Betapa keberadaan kita dalam kehidupan ini memiliki nilai yang sangat berharga. Betapa mengagumkannya kehidupan dan keyakinan nilai-nilai dalam diri kita sendiri.

Kalau demikian mengapa Anda membiarkan hidup hanya didekte orang lain ?

Mengapa Anda membiarkan hidup hanya mengekor pemngaruh orang lain ?

Mengapa Anda membiarkan hidup ini hanya bergerak otomatis tanpa memiliki tujuan masa depan ?

Sahabat, merupakan sebuah kebodohan kalau kita menyia-nyiakan kehidupan yang sangat mengagumkan ini dengan hanya didekte oleh orang lain. Kerugian kalau membiarkan hidup secara otomatis maupun hidup hanya mengekor kepada orang lain. Karena setiap orang dapat menciptakan sejarah masa depannya sendiri, bahkan sejarah kehidupan dunia. Karena kita adalah bagian dari kekuatan yang menjadi penguasa diri sendiri dan penguasa kerajaan kehidupan masa depan. Kita adalah penguasa energi tak terbatas dalam diri kita sendiri.

Ketika kita mempelajari kisah kesuksesan seorang Muhammad Rasulullah misalnya, maka akan menemukan bagaimana keyakinan pada nilai-nilai dalam hatinya mampu membawanya pada keberhasilan luar biasa. Bagaimana seandainya ketika itu Muhammad SAW tidak tidak meyakini nilai-nilai yang tertanam dalam hatinya ?. Bagaimana seandainya waktu itu Muhammad SAW lebih meyakini pengaruh pamannya Abu Thalib, kemudian mengekor kehidupan pamannya tersebut ?

Mungkin dunia tidak akan pernah menyaksikan keagungan nilai-nilai diri dan kepemimpinan seorang Rasulullah Muhammad SAW saat ini. Karena potensi keagungan dalam dirinya mungkin saja tidak berkembang seperti sekarang ini. Dengan berani memperjuangkannya nilai-nilai yang diyakini hatinya dalam kehidupan ini, kini sejarah mencatat kepemimpinan beliau yang mampu mengubah umat manusia, bahkan kepemimpinannya telah mampu mengubah wajah kehidupan dunia dalam waktu 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.

Bagaimana seandainya Budha Gautama tidak mengenali dirinya sendiri dengan baik ? Bagaimana kalau waktu itu Budha tidak meyakini kehendak hatinya untuk menciptakan sejarah masa depannya dan kehidupan umat manusia, kemudian lebih meyakini pengaruh keluarga dan lingkungannya ?. Mungkin sekarang ini sejarah tidak akan mencatat nilai-nilai baru yang diyakininya dan nilai-nilai kebijaksaan yang dikembangkannya dalam kehidupan. Kepemimpinan dan keagungan jiwanya tidak akan berkembang dan dikenang oleh sejarah kehidupan.

Bagaimana kalau Mahadma Gandhi waktu itu tidak mengenali kehendak hatinya sendiri dan hanya mengekor ayahnya yang menjadi seorang pengacara terkenal ? Mungkin saja nilai-nilai baru tentang keluhuran jiwa, kebenaran dan perjuangannya dalam membebaskan bangsanya dari ketertindasan dan keterancaman tidak berkembang. Sejarah tidak akan pernah mencatat kepemimpinannya dalam kehidupan.

Sahabat, menjadi penting bagaimana kita dapat mengenali diri kita, hakekat hidup kita, siapa Tuhan kita sebenarnya dan apa tujuan hidup tertinggi kehidupa ini. Hal ni dapat menjadi landasan kuat untuk membuka hati dan pikiran kita dalam menemukan kehendak hati dan menciptakan masa depan kehidupan kita sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, potensi dalam diri, tujuan tertinggi kehidupan, siapa Tuhan kita sebenarnya, akan mengantarkan kita untuk mengenal sifat-sifat kemuliaan Tuhan yang sudah bersemayam dalam hati. Menuntun kita untuk mengenal keinginan Tuhan dalam diri kita dan mampu membaca rambu-rambu atau “rules” yang tertulis di alam semesta, sehingga kita dapat melaksanakan amanah kehidupan ini sebaik-baiknya.

Mengenali diri sendiri artinya kita dapat menemukan kesadaran hati dan jiwa yang akan menjadi penuntun bagi kita dalam menempatkan diri dalam kehidupan sesuai kadarnya. Dapat melahirkan keyakinan akan kemampuan diri dan keyakinan akan nilai-nilai spiritual dalam hatinya. Sehingga menjadi tidak mudah dipengaruhi orang lain, didekte orang lain, atau sekedar mengekor orang lain yang tidak sesuai dengan kehendak hati nuraninya.

Lantas bagaimana tahapan agar dapat menemukan kesadaran hati dan kehendak hati terdalam ? Bagaimana agar kita dapat mengenali hakekat hidup, menguasai diri dan menciptakan masa depan sendiri ? Setidaknya ada empat tahapan yang sangat krusial, yang menjadi “secret” rahasia sukses seseorang dalam menata dirinya menciptakan masa depannya, yakni:

1. Menjadi “researcher” kedalam diri.

2. Finding the best of me

3. Explorasi dan Inovasi potensi diri

4. Menjadi creator bagi masa depan sendiri.

Keempat tahapan tersebut diatas secara details dan lengkap telah dibahas dalam buku “The Art of Life Revolution”, bagaimana tahapan menciptakan masa depan kita sendiri, bagaimana merevolusi hidup kita agar menjadi seorang pemenang.

Salam Motivasi Nurani.

** Eko Jalu Santoso adalah Penulis Buku “The Art of Life Revolution” diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Hakekat Kekayaan Hidup Sejati

Tuesday, June 5th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

”Jika seorang manusia sudah memiliki dua lembah yang penuh berisi dengan harta, maka pasti ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak akan pernah manusia merasa kenyang hingga tanah sudah kena pada perutnya.”

- Al-Hadits –

Dalam kehidupan di era teknologi digital yang serba canggih dewasa ini, kecenderungan yang merasuki banyak manusia adalah hidup mengejar kesuksessan dalam karier, hidup dan bisnis setinggi-tingginya. Menjadi sukses dalam karier, hidup dan bisnis telah menjadi tujuan utama banyak manusia, apapun paradigma kesuksesan itu baginya. Kebanyakan manusia — apa pun suku bangsa, kedudukan, jabatan, maupun agamanya– menempatkan ukuran kesuksesan hidupnya melalui ukuran penguasaan materi atau harta benda.

Keinginan kuat setiap individu untuk menjadi sukses dan berhasil meraih kekayaan materi atau harta adalah sesuatu yang penting. Begitu pentingnya memiliki kekayaan harta atau materi ini, maka Imam Al-Ghazali mengibaratkan, “orang yang mencari kebaikan tanpa harta ibarat orang pergi ke hutan tanpa membawa senjata atau ibarat burung elang tak bersayap”. Karena materi merupakan sarana penting dalam mencapai berbagai tujuan kebaikan. Materi juga memiliki peranan penting pula dalam upaya manusia meningkatkan kualitas hidup maupun dalam upaya manusia meningkatkan amalan ibadahnya.

Yang menjadi masalah adalah, begitu sibuknya manusia mengejar kekekayaan materi duniawi ini, seringkali menjadikan mereka melupakan hakekat kehidupan dan hakekat kekayaan sejati yang abadi. Mereka menempatkan pusat orientasi hidupnya pada kesuksesan penguasaan materi, bahkan sampai mendewakan materi. Mereka mengejar keberhasilan materi dengan tidak memperdulikan aturan hukum alam dan cenderung memutarbalikan hukum alam. Kecenderungan seperti inilah yang salah dan harus diluruskan kembali.

Manusia yang hanya menempatkan orientasi hidup pada nilai-nilai duniawi semata, mereka akan menjadi manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dikuasainya. Mereka ingin menambah dan menambah terus. Ini sama halnya dengan jabatan atau kekuasaan yang telah mereka dapatkan. Ketika mereka memiliki kekuasaan atau jabatan maka cenderung selalu ingin dipertahankan, walaupun, misalnya, sudah tidak memiliki kemampuan melaksanakannya ataupun sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah dilakukannya.

Lantas bagaimana agar kita tidak terjebak dalam jeratan orientasi salah dalam hidup yang hanya berpusat pada materi duniawi ? Bagaimana kita menyikapi kehidupan yang penuh persaingan tanpa terjebak dalam kesalahan paradigma tentang kekayaan materi ? Berikut ini beberapa tips yang dapat membantu kita agar tidak tergelincir dalam kesalahan melawan aturan hukum alam.

1. Hakekat Hidup Sejati

Begitu sibuknya manusia modern mengejar kekayaan materi duniawi seringkali salah dalam memahami hakekat hidup sejati. Ada aturan hukum alam yang mengatur mengenai hakekat “hidup sejati” dengan “akibat yang diterima” dari hidup sejati. Apa itu hakekat hidup sejati dan akibat yang diterima dari kehidupan ? Hidup sejati adalah inti, yang seharusnya dikerjar lebih dulu oleh manusia. Sedangkan akibat yang diterima adalah hasil yang akan datang dengan sendirinya.

Ilustrasi sederhananya adalah, kalau Anda seorang karyawan maka berusahalah menjadi “karyawan sejati” yang menjunjung tinggi profesionalisme dan nilai-nilai spiritual kebenaran lebih dulu. Kekayaan uang atau materi adalah “akibat” dari hasil menjadi karyawan sejati. Kalau anda menjalankan usaha, maka berusahalah menjadi pengusaha sejati yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran lebih dulu. Sedangkan profit atau keuntungan materi berlimpah adalah akibat yang akan didapatkan dengan menjadi pengusaha sejati. Demikian juga dengan profesi lainnya. Dahulukan menjalani hakekat hidup sejati.

Janganlah lebih dulu mengejar kekayaan uang, lebih dulu menginginkan gaji yang tinggi, tanpa berusaha menjalani hidup sejati. Ini namanya memutarbalikan aturan hukum alam yang berarti hukum Allah. Inilah yang menyebabkan banyak orang melakukan berbagai penyimpangan, penyelewengan, korupsi, penipuan demi mendapatkan tujuannya untuk keberhasilan materi dan kekayaan, yang harusnya adalah akibat yang diperoleh kemudian dari hidup sejati. Akibatnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menjadi rusak dan dilanggar begitu saja, seperti apa yang kita rasakan sekarang ini.

2. Imbangi Dengan kekayaan Spiritual

Dalam mengejar kekayaan materi, keberhasilan duniawi sebaiknya selalu mengimbangi dengan kekayaan spiritual. Berusahalah terus meningkatkan diri dalam mengisi kekayaan spiritual diri kita. Karena kekayaan spiritual ini akan mampu mengendalikan dan mengisi setiap kehidupan manusia dengan sifat senantiasa bersyukur dan merasa puas. Dalam pengertian sederhana, bisa mensyukuri terhadap apa yang sudah diperolehnya. Sifat syukur ini merupakan manifestasi dari suara hati spiritual, sehingga dapat menjadikan terminimalisasinya sifat serakah, tamak, rakus dan merusakan tatatan hukum kehidupan.

Hakikat kekayaan itu bukanlah semata-mata banyak harta yang dikuasai, akan tetapi terletak pada kekayaan spiritual yang dimiliki. Orang yang memiliki kekayaan spiritual tidak akan pernah dikendalikan dan dikuasai oleh materi, jabatan, dan kedudukan, akan tetapi justru hal-hal tersebutlah yang dikendalikan dan dikuasainya. Semuanya itu hanyalah merupakan alat untuk mengaktualisasikan fungsi kekhalifahannya yang memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat banyak.

3. Berdamai Dengan Ketentuan Allah

Berdamai dengan ketentuan Allah artinya, dalam mengejar keberhasilan hidup dunia dan kekayaan materi senantiasa mengikuti aturan hukum Allah. Tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah yang sudah dituangkan dalam kitab suci-NYA serta dapat berdamai menerima segala ketentuan-Nya. Kemampuan berdamai dengan ketentuan Allah dapat mengarahkan manusia untuk merasa puas atas rahmat Allah. Ini adalah sikap spiritual dan perilaku rohaniah yang menjadi kekayaan sejati yang tidak akan pernah habis. Manusia yang mampu memiliki sifat mampu menerima ketentuan Allah, dapat berpuas diri dengan hasil perjuangannya, dapat melahirkan pribadi yang tenang, memiliki sikap yang cerdas dan tentu saja pandai bersyukur terhadap segala nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya.

Alangkah indahnya kalau hidup dapat mengikuti aturan hukum alam, memiliki kekayaan materi yang disertai dengan kekayaan spiritual, serta dapat menerima ketentuan Allah yang menjadikannya memiliki kekayaan sejati yang abadi.

***Eko Jalu Santoso adalah Penulis buku-buku laris ‘”The Art of Life Revolution”, “Heart Revolution, Revolusi Hati Nurani” dan “The Wisdom of Business”, ketiganya diterbitkan Elex Media Komputindo dan Founder Motivasi Indonesia: motivasiindonesia-subcribe@yahoogroups.com