Archive for May, 2007

NURANI & EGO PRIBADI

Tuesday, May 29th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Masing-masing dari diri kita memiliki kehendak dan peran dalam kehidupan menjadi manusia yang hebat dan penuh keagungan. Karena manusia diciptakan dengan potensi keistimewaan memiliki kecerdasan, bakat, ketrampilan dan hati nurani, yang dapat membawa manusia pada keberhasilan dan keagungan. Namun manusia juga dilengkapi dengan nafsu atau ego pribadi. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginan ego dan nafsunya pribadinya, ssungguhnya Allah telah menyediakan aturan “rules” atau ketentuan-ketentuan melalui kitab suci-Nya. Ketentuan inilah yang harus ditaati oleh manusia.

Kebanyakan manusia sadar atau tidak sadar seringkali terjebak memperturutkan nafsu dan ego pribadi untuk dunia semata, dengan mengabaikan “rules” atau aturan Tuhan. Mereka sibuk memenuhi keinginan memiliki harta kekayaan berlimpah, rumah megah dengan perabotan yang serba wah, kendaraan model terbaru yang mewah, wanita-wanita cantik di sekelilingnya, kursi jabatan atau kedudukan yang tinggi, dan lain sebagainya. Semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan. Mereka merasa hebat dan berhasil dalam kehidupannya kalau sudah memiliki itu semua. Itulah ego manusia yang dikendalikan nafsunya. Inilah yang mengakibatkan terjadinya banyak penyelewengan, penyimpangan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan lain sebagainya. Karena pada hakikatnya nafsu itu tidak akan pernah merasa puas.

Ego pribadi dalam tataran yang wajar sebenarnya akan menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri “self-esteem” dan memiliki kepercayaan diri ” self-confidence’. Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas pribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan dalam diri kita, itu akan berubah menjadi kebanggaan “pride” yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggan dan kesombongan ini sangat tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, maka akan melahirkan ego pribadi yang merugikan. Akan melahirkan nafsu dunia yang dapayt menyesatkan. Disinilah manusia perlu hati-hati dalam menyikapi ego dan nafsu dirinya.

Kesalahan dalam mengelola hati nurani seringkali mengakibatkan manusia terjebak dalam kehidupan dengan hati yang buta dan mati. Sungguh sengsara mereka yang hidupnya tanpa diterangi cahaya hati nurani ini. Bagaikan orang yang buta mata indranya, sehingga tidak dapat melihat apa yang ada di depannya. Memiliki hati nurani yang buta tertutup oleh ego pribadi, berarti mereka yang tidak dapat melihat arah kehidupannya kedepan dengan jernih dan tajam. Mereka menjalani kehidupan dengan dikendalikan nafsu dan ego pribadinya kepada dunia yang berlebihan.

Mereka yang nuraninya tertutup, hidupnya menjadi penuh prasangka negatif, merasakan kehidupan begitu berat dan merasakan serba kekurangan. Hati nurani yang dikalahkan oleh nafsu dan ego pribadi mengendalikan pikiran seseorang menjadi buta. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, penuh dengan prasangka negatif. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi kegelisahan hati. Hati dan pikirannya sangat dikendalikan oleh nafsu duniawi, sehingga hidup menjadi sangat melelahkan. Mengejar sesuatu yang seolah-olah tidak ada hentinya, tidak ada habisnya dan merasa serba kekurangan.

Sahabat, marilah kita bertanya kembali kedalam diri pribadi masing-masing, apakah selama ini tanpa sadar atau dengan kesadaran kita telah dikendalikan oleh nafsu dan ego pribadi untuk kepentingan dunia semata ? Apakah selama ini sadar atau tanpa kita sadari kita telah terjebak dalam rutinitas kehidupan yang membutakan hati nurani ? Apakah selama ini kita sudah mendengarkan suara hati kita, ataukah kita cenderung mengabaikan suara hati demi meraih tujuan kehidupan dunia ?

Bagaimana agar diri kita dapat menghidupkan hati nurani sehingga mampu mengendalikan nafsu dan ego pribadi ? Berikut ini beberapa cara yang perlu dipertimbangkan untuk kita lakukan:

1. Tanamankan kembali kesadaran akan kembali kepada jati diri nan Fitri. Kesadaran akan jati diri akan mengantarkan kita memahamai siapa diri kita sebenarnya, mamahami hakekat kehidupan kita, siapa Tuhan kita sebenarnya dan kemana tujuan akhir kehidupan kita. Hal ini diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk menjaganya dan menjauhkannya dari hal yang mengotori hati nurani.

2. Memandang kehidupan dunia secara seimbang. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan menempatkan dunia sebagai sarana dan dimanfaatkan secara terbatas dan terkendali untuk tujuan kehidupan selanjutnya. Paradigma seperti ini akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada hal-hal material, tetapi juga pada dataran spiritual. Janganlah sampai kesibukan mencari harta benda, kesibukan mengejar kekuasaan, popularitas dan semua aksesories dunia membuat kita lalai untuk beribadah kepada-Nya. Karena kita sesungguhnya hanyalah abdi atau hamba dari Allah.

3. Dzikir atau mengagungkan asma Allah merupakan makanan rohani yang paling bergizi serta membangkitkan selera ibadah dan akhlak mulia. Dzikir juga menjadi benteng dari gangguan nafsu dan ego pribadi yang berlebihan. Dengan berdzikir, peluang kita untuk mendapatkan kebersihan hati semakin terbuka. Dengan hati yang bersih, kita akan mudah untuk mengakses hidayah Allah SWT, sehingga dapat mengendalikan nafsu dan ego pribadi.

Salam Motivasi Nurani.

Motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Berinvestasi Kebaikan

Monday, May 21st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Ada sebuah nasehat bijak dari almarhumah Ibu saya dan selalu tertanam dalam hati saya sampai kini adalah, agar selalu “menanamkan kebaikan” dalam hidup ini. Saya yakin, sebagian besar manusia sudah menerima nasehat bijak seperti ini dari para orang tua atau ibu mereka. Inti dari nasehat itu adalah agar kita menempatkan cita-cita paling penting dalam hidup adalah selalu “menanamkan kebaikan.”

Kalau kita menelaah dari nilai-nilai kehidupan keagamaan, nasehat ini sangat relevan dengan apa yang secara tegas disampaikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam kitab suci-Nya yang menyatakan, “Tidak ada yang dapat diunggulkan bagi manusia, kecuali apa yang dia usahakan untuk kebaikan secara individu”. Kebaikan secara individu menjadi panjatan dalam menata diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas dalam meraih kehidupan yang penuh potensi dan keagungan.

Kebaikan secara individu menjadi landasan penting dalam pembangun kualitas pribadi kita. Apakah dalam keluarga, dalam organisasi, dalam pekerjaan maupun dalam bisnis, hubungan antar manusia akan semakin meningkat dan semakin mendalam, bila senantiasa dilandasi kebaikan individu dan kesedian berbagi kebaikan dengan orang lain. Kebaikan dari masing-masing individu ini dapat menjadikan kebaikan dalam masyarakat, sehingga terbangun kehidupan yang damai dan bahagia.

Dimata seorang ibu, “menanamkan kebaikan” dalam hidup merupakan nasehat paling penting. Menaburkan kebaikan hendaknya menjadi cita-cita terpenting dalam hidup ini. Karena menaburkan kebaikan berarti menghidupkan sumber energi positif dari dalam diri untuk orang lain dan alam semesta. Energi ini akan kembali kepada kita dan memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan.

Menjadi apapun kita saat ini, apakah presiden, menteri, konglomerat, direktur utama, manager atau pegawai biasa, memiliki pangkat apapun kita, apakah jenderal, kolonel, kapten atau prajurit biasa, memiliki gelar apapun diri kita, apakah profesor, doktor, master, sarjana atau lainnya, yang terpenting adalah “menanamkan kebaikan” kepada orang lain. Semua pangkat, gelar dan jabatan itu, tidak akan memberikan makna bagi kualitas pribadi seseorang bahkan hanya akan berakhir dengan kesia-siaan kalau tidak digunakannya untuk menanamkan kebaikan.

Banyak pintu-pintu kebaikan yang dapat dilakukan dan menjadi sumber energi positif keberhasilan, seperti:

  1. Kalau memiliki ilmu, gunakanlah untuk mencerdaskan orang lain
  2. Kalau memiliki harta, gunakan untuk kebaikan banyak orang
  3. Kalau memiliki kekuasaan, gunakanlah untuk mensejahterakan banyak orang
  4. Kalau memiliki tenaga, gunakan untuk membantu banyak orang
  5. Kalau menjadi penegak hukum, berikanlah perlindungan dan keadilan kepada banyak orang
  6. Kalau menjadi pengusaha, jalankan usaha untuk memberiakn manfaat dan kebaikan banyak orang
  7. Dan lainnya

Intinya mulailah dengan hal-hal sederhana dan mudah dilakukan sesuai dengan kemampuan diri kita. Mulailah dari lingkungan terdekat, seperti orang-orang yang Anda temui setiap hari, lingkungan rumah sekitar Anda, lingkungan kerja. Dan yang penting sekecil apapun kebaikan itu, mulailah sekarang ini juga.

Semakin banyak menaburkan benih-benih kebaikan berarti semakin banyak melepaskan energi positif dari dalam diri. Orang yang pertama merasakan manfaat dari berbuat kebaikan adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, merasakan lapang dada, tenang, tenteram dan damai.

Mereka yang dapat menggunakan potensi dirinya untuk menaburkan benih-benih kebaikan, maka akan memberikan kemudahan dalam hidup. Inilah prinsip menjadikan setiap kehadiran kita adalah rahmat bagi orang lain dan alam semesta atau “rahmatan lil alamin”.

Salam Motivasi Nurani.

Eko Jalu Santoso adalah seorang professional dan praktisi dunia usaha, Founder Motivasi Nurani Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Elex Media Komputindo. Motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Pandai Memilih Hubungan

Monday, May 21st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Dikisahkan tentang seseorang yang ingin bertobat, padahal ia sudah membunuh 99 kali dan belum pernah melakukan kebaikan. Ketika bertanya kepada seorang rahib tentang peluang tobatnya, sang rahib mengatakan tidak ada lagi peluang untuk tobat, maka kemudian dibunuhlah rahib itu dan genaplah 100 nyawa yang melayang melalui tangannya. Lalu, dia mendatangi seorang alim, kemudian orang alim itu memberikan kabar gembira bahwa Allah akan menerima tobat hamba yang bersungguh-sungguh. Hingga akhirnya, orang alim itu menyuruh laki-laki tersebut untuk meninggalkan kampung halaman dan lingkungan pergaulannya yang dahulu, lalu berhijrah menuju perkampungan orang-orang saleh.

Tetapi, Allah berkehendak lain. Di tengah-tengah perjalanan malaikat maut mencabut nyawanya. Akhirnya malaikat rahmat dan malaikat azab saling berebut tentang urusan laki-laki tersebut. Kemudian, malaikat rahmat diperkenankan membawanya. Karena, setelah diukur, ternyata jasad laki-laki itu lebih dekat jaraknya dengan perkampungan orang-orang yang saleh

dibanding dengan lingkungannya yang dulu.

Apa makna yang dapat kita ambil dari kisah diatas ? Kisah di atas hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa lingkungan yang baik dan bergaul dengan orang-orang positif, berakhlak mulia dan saleh sangat mutlak kita butuhkan untuk menjaga eksistensi kualitas kehidupan dan keimanan kita.

Ketika manusia hidup menjadi bagian dari koloni yang sangat besar di dunia ini, pasti akan dihadapkan pada beragam hubungan dengan sesama kehidupan lainnya. Kemanapun kaki melangkah, pasti sudah menunggu hubungan dengan manusia lainnya. Bahkan seberapapun kerasnya Anda berusaha untuk mengasingkan diri misalnya, pasti akan berhubungan dengan orang lain.

Setiap individu pasti berhubungan dengan berbagai ragam manusia, mulai dari bentuk rupa, warna kulit dan lidah yang berbeda-beda. Perbedaan dan keragaman manusia tidak terbatas pada hal-hal tersebut, tetapi juga karakter dan budayanya. Bahkan perbedaan dalam tingkatan kehidupan, dari mulai yang elit sampai yang alit, dari mulai jendral sampai kopral, dari yang kelas atas sampai kelas bawah, dari orang sukses sampai orang gagal, demikianlah biasanya kita menyebutnya. Semuanya lengkap dengan pemikiran, budaya, dan tradisi masing-masing.

Perbedaan dan kebergaman ini seringkali menjadikan terasa sangat sulit untuk mencari pergaulan yang baik, lingkungan yang sejuk, dan tempat yang aman dan damai. Padahal, lingkungan hidup mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Persaingan kehidupan yang semakin ketat, gemerlapnya kehidupan dunia, pengaruh lingkungan kehidupan, juga banyak menjadikan manusia keliru dalam memilih lingkungan persahatan dan pergaulannya. Padahal, keliru dalam hal ini bisa berakibat fatal.

Salah satu contoh misalnya, sebagian orang ada yang membatasi pergaulannya hanya dengan orang-orang tertentu yang dianggap selevel dengan mereka, atau memilih orang-orang tertentu yang cocok untuk mereka. Sayangnya, seringnya pertimbangan mereka dalam menentukan siapa yang cocok untuk persahabatan dan pergaulan adalah keliru. Yakni biasanya, pertimbangan mereka itu hanya berdasarkan kepentingan dan kesenangan dunia. Hanya berdarkan orientasi keuntungan dunia semata, yang notabene seringkali sangat dipengaruhi oleh nafsu dan ego pribadi.

Memilih Hubungan Sejati

Lantas bagaimana memilih persahabatan yang benar ? Bagaimana memilih hubungan yang baik, ditengah banyaknya kepentingan dan ego pribadi ? Apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih hubungan yang baik ?

Berikut ini berapa tips, yang dapat menjadi pertimbangan bagi kita dalam mengembangkan persahabatan dan pergaulan yang baik, yakni:

1. Perbedaan Adalah Hikmah.

Setiap individu dari manusia haruslah menyadari dirinya, menyadari posisinya dan peka terhadap apa yang ada di sekelilingnya, sehingga dia tampil sebagai sosok yang professional dan proporsional, dan mampu mengambil langkah yang tepat dalam menjalani kehidupannya. Sesungguhnya banyak sekali Hikmah dari adanya berbagai perbedaan manusia, di antaranya adalah agar manusia mengetahui sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan kata lain, perbedaan tersebut tidak perlu menjadi penghalang dalam membina hubungan dengan orang lain.

2. Mengedepankan nilai-nilai kebaikan.

Ibnu Katsir mengatakan mengenai persahabatan, “Janganlah mengikuti orang yang mengabaikan agama dan ibadah karena sibuk dengan urusan dunia. Sedang amal dan perbuatannya sebagai bentuk kebodohan, tindakan melampaui batas, dan sia-sia. Dan janganlah kamu taat kepadanya, jangan menyukai jalannya, dan jangan iri dengan keadaannya.”

Hal ini menganjurkan kita untuk duduk bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat positif, berakhlak mulia, mengedepankan nilai-nilai spiritual, agama dan ibadah, tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas, kalangan menengah, ataupun arus bawah yang miskin, yang kedudukannya tidak dihiraukan oleh masyarakat sekalipun.

Orang yang mengedepankan nilai-nilai spiritual sesuai suara hatinya, pada umumnya adalah orang-orang yang baik. Maka dari itu, hendaknya kita hanya membatasi pergaulannya dengan orang-orang yang baik, siapa pun dia. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang baik, banyak sekali manfaat dan faedah yang didapatkan.

3. Kemuliaan Akhlak Adalah Yang Utama

Banyak orang, hanya karena mengejar kesenangan di dunia, mereka rela mengorbankan kesenangan yang hakiki, yaitu ketika mereka salah dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Kebanyakan manusia lebih memilih teman yang bisa diajak bersenang-senang, hura-hura, dan menyia-nyiakan usia mereka, ketimbang berhubungan dengan orang yang berpikiran positif, memiliki kekayaan emosional dan spiritual, perilaku baik dan orang-orang yang takut kepada Allah.

Karena, memang orang yang berpikiran positif, orang-orang saleh, orang-orang berakhlak mulia, di mata masyarakat umum kurang disenangi, atau bahkan dianggap asing. Pandangan ini timbul karena masyarakat sudah mengalami krisis multidimensi, dan terutama adalah dekadensi moral yang sangat parah. Sehingga, orang yang seharusnya dijadikan teman justru dijauhi.

Padahal, syarat untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan hakiki adalah selalu memiliki sikap positif, mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, mempertahankan keimanan dan memiliki motivasi yang tinggi dalam kehidupan. Dengan selalu bergaul dengan orang-orang yang bersikap positif, memiliki motivasi untuk berprestasi, memiliki akhklak mulia, akan mendorong kita untuk memiliki kualitas kehidupan yang baik.

Disinilah pentingnya setiap individu pandai dalam memilih teman dan lingkungan. Kita harus selektif, yaitu memilih orang-orang yang berpikiran positif, memiliki motivasi berprestasi dan memebrikan manfaat bagi kehidupan, mengedepankan nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, kebersamaan, kasih saying, kebaikan, keadilan, dll. Memiliki motivasi tinggi dalam meraih prestasi kehidupan.

Mereka yang dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan dunia tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual dan keimanan. Mereka itulah yang hendaknya kita jadikan teman sejati. Agar efek samping yang kita dapatkan adalah kebaikan, kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Jangan sampai kita memilih teman dan lingkungan yang tidak baik, karena lambat laun dikhawatirkan kita akan tertular atau paling tidak ikut terkena getahnya. Ada pepatah Arab yang mengatakan, “Akhlak yang buruk itu akan menular.”

“Sesungguhnya, perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah bagaikan penjual (pembawa) minyak wangi dan tukang (peniup) pandai besi. Penjual minyak wangi, mungkin akan memberimu, atau engkau bisa membeli darinya, atau paling tidak engkau akan mendapat aroma yang enak. Sedangkan tukang pandai besi, kalau tidak membakar bajumu, paling tidak engkau akan mendapatkan bau busuk (tak sedap) darinya.”

- Al-Hadits -.

Salam Motivasi Nurani.

Sumber: Memilih Hubungan Sejati oleh Eko Jalu Santoso, seorang professional di dunia usaha, Founder Motivasi Nurani Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo.

KELUARKAN POTENSI SPIRITUALMU

Monday, May 14th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Kalau waktu hidup ibarat modal uang yang dipinjamkan Tuhan kepada kita, bagaimana pilihan kita ? Apakah menghabiskan modal waktu kehidupan yang diberikan tanpa hasil, ataukah menginvestasikan modal waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal ?. Saya yakin banyak diantara Anda akan memilih menginvestasikannya waktu hidup untuk memberikan hasil yang maksimal.

Namun dalam realitas kehidupan, banyak kita saksikan orang-orang yang dengan sadar ataupun tanpa disadarinya telah memboroskan waktu hidupnya dengan sia-sia. Membuang-buang waktu hidupnya untuk kegiatan yang tidak memberikan makna bagi kehidupannya yang panjang kedepan. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan waktu hidupnya tanpa memahami kemana sesungguhnya arah kehidupanya. Tanpa memahami kemana sesungguhnya tujuan tertinggi kehidupannya. Mungkin mereka terlihat sangat sibuk, penuh aktivitas, tetapi sesungguhnya aktivitasnya tidak memberikan arti bagi makna kehidupan yang jauh kedepan.

Mereka ini adalah manusia yang berorientasi pada “kekinian” semata, dengan mengabaikan tujuan dasar spiritualnya (core purposes) dalam kehidupannya. Yang lahir kemudian adalah manusia yang menyenangi hal-hal yang serba instan, serba mudah dan cepat dalam menggapai tujuan kekinian hidupnya, dengan mengabaikan nilai-nilai dasar spiritual (core values). Inilah penyakit kronis manusia modern di abad digital dewasa ini, yang menghabiskan waktu hidupnya hanya untuk tujuan harta, kekuasaan, uang, jabatan, popularitas, yang bersifat asesories dunia semata, dengan mengabaikan nilai-nilai spiritual yang menjadi tujuan dasar hidupnya.

Tujuan dasar spiritual (core purposes) manusia adalah pengabdian hidup hanya kepada Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan. Semua yang berhubungan dengan tujuan kepada jabatan, uang, harta, popularitas, kekayaan, dan berbagai prestasi kehidupan dunia lainnya, bukanlah tujuan utama, melainkan merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah. Dengan demikian dalam usaha mencapai hal itu semua, harus diLandasi oleh nilai-nilai dasar spiritual (core values) yang sudah ada dalam hati manusia. Nilai-nilai dasar spiritual manusia yang sudah “built in” dalam hati itu diantaranya adalah, kasih sayang, kejujuran, tanggungjawab, disiplin, kebersamaan, keadilan, dll.

Marilah bertanya kedalam hati kita terdalam, sudahkah waktu hidup kita gunakan untuk investasi yang dilandasi nilai-nilai spiritual ini ?

Kalau belum, marilah memulai meng-investasikan setiap waktu hidup yang dipinjamkan Tuhan untuk mengeluarkan nilai-nilai dasar spiritual itu dalam setiap langkah kehidupan kita. Marilah melandasi setiap keputusan waktu hidup dengan nilai-nilai dasar spiritual yang bersumber dari suara hati Illahiah dalam diri manusia. Keluarkan nilai-nilai dasar spiritual ini dalam langkah-langkah nyata kehidupan, bukan hanya dalam nilai yang dianut, namun dalam tindakan. Hal ini yang akan dapat mengarahkan waktu hidup kita menjadi investasi yang berlipatganda bagi tujuan kehidupan selanjutnya yang abadi.

Jadi substansinya, mulailah mengenali seluruh potensi spiritual dalam hati, kemudian mengeluarkannya dalam langkah-langkah nyata kehidupan melalui tindakan dengan tujuan hanya pengabdian kepada Allah.

Kalau Anda seorang karyawan, pertajam potensi dirimu dan lindungi diri dengan integritas dan kejujuran

Kalau Anda seorang pengusaha, keluarkan potensi usahamu dilandasi azas manfaat bagi kebaikan banyak manusia

Kalau Anda seorang guru, keluarkan potensi ilmumu untuk mencerdasakan banyak orang

Kalau Anda seorang insinyur, keluarkan kreativitasmu untuk kesejahteraan kehidupan banyak orang

Kalau Anda seorang dokter, keluarkan pengobatanmu dilandasi kasih sayang

Kalau Anda seorang hakim, keluarkan keadilanmu untuk mereka yang membutuhkan

Kalau Anda seorang polisi, keluarkan perlindunganmu dilandasi keadilan

Dll……

Intinya, gunakan waktu hidup yang kita miliki untuk berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, keluarga, finansial, pekerjaan/bisnis, sosial senantiasa dilandasi nilai-nilai dasar spiritual dalam hati. Semua bidang ini penting dan harus seimbang, dengan tujuan untuk pengabdian tertinggi kepada Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Kehidupan. Inilah makna tertinggi dalam kehidupan.

Salam Motivasi Nurani Indonesia.

Sumber: Keluarkan Potensi Spiritualmu oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

MERAIH SUKSES BESAR HARI INI

Monday, May 14th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih kehidupannya. Inilah yang membedakan manusia dibandingkan makhluk Allah lainnya. Setiap keadaan yang datang dalam kehidupan kita adalah sebuah pilihan. Manusia memiliki kebebasan hati untuk menentukan pilihan dalam bereaksi terhadap keadaan yang datang. Apakah kita akan mengarahkan hati untuk memilih menuju sikap positif atau menuju sikap negatif. Ingin mengarahkan menjadi sukses atau gagal. Semuanya ditentukan dari hati kita sendiri.

Ketika anda bangun di pagi hari, maka jangan berharap sore hari segera datang. Karena hari inilah kesempatan besar yang Anda miliki. Kalau Anda ingin meraih sukses hari ini, mulailah menyambut hari ini dengan positif dan cerah. Memulai hari positif dan cerah bukan sekedar ditandai dengan matahari bersinar atau udara yang sejuk, melainkan ditandai dari hati dan pikiran kita yang positif dan segar. Memulai hari dengan cerah dan positif merupakan setengah dari kesuksesan hari ini sudah Anda peroleh. Inilah modal besar untuk menyelesaikan SUKSES besar Anda hari ini.

Bagaimana Memulai Hari Untuk Meraih Sukses Besar ?

1–Persiapkan Dari Malam Hari.

Memulai hari esok yang cerah dan positif dapat dipersiapkan dari malam hari. Berusahalah untuk dapat beristirahat dengan cukup di malam hari. Kita tak bisa berharap bangun dengan segar dan pikiran positif kalau malam harinya tak cukup tidur nyenyak. Bila anda masih mempunyai masalah, yakinlah masih ada waktu esok untuk menyelesaikannya lebih baik lagi. Malam ini, beristirahatlah sebaik-baiknya.

2–Damaikan Pikiran Dan Jiwa

Berusahalah bangun lebih pagi daripada terbitnya matahari. Jumpai keheningan dan kesunyian udara segar pagi hari. Pagi yang tenang adalah saat yang tepat untuk menemukan sisi damai dalam diri anda. Resapi saja suasana pagi yang damai ini dan arahkan pikiran ke sisi positif memandang hari ini. Berdoalah kepada Allah Tuhan Yang Memberikan kehidupan. Jangan lupa ucapkan kalimat syukur kepada Allah Yang Maha Esa berikut ini, “Segala Puji Dan Syukur Hanya Kepada Allah Atas Segala Karunia Dan Nikmatnya Sampai Hari Ini.”

3–Tetapkan Janji Sukses Hari ini.

Jangan terburu melakukan aktivitas. Kendalikan suasana hati dan pikiran dalam damai dan suasana positif. Kemudian tetapkan janji sukses Anda hari ini. Buatlah rencana sukses dengan mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan alam semesta di hari ini. Tanamkan janji sukses Anda ke dalam hati dan pikiran dan jadikan hal ini prioritas penting yang harus diselesaikan hari ini. Yakinlah Anda dapat menyelesaikan hari ini dengan sukses.

4–Siapkan Tubuh Anda.

Menyelesaikan janji sukses Anda memerlukan kekuatan tubuh yang prima. Segarkan tubuh dengan menghirup aroma tea atau kopi hangat yang menyegarkan. Sedikit berjalan-jalanlah keluar sambil memompa udara segar banyak-banyak ke dalam paru-paru. Segarkan tubuh baik-baik dengan mandi air segar. Jangan lupa isi perut Anda secukupnya, sebagai modal kebugaran tubuh Anda sepanjang hari. Anda sudah siap hati, pikiran dan tubuh untuk mengenggam hari ini. Tetaplah mengingat janji anda tadi pagi untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan alam semesta hari ini.

5–Sapalah orang-orang dengan senyum.

Terbarkan semangat dan keceriaan pagi hari dengan senyum. Tak peduli apakah matahari bersinar

cerah atau mendung menggayut, sapalah orang-orang yang anda jumpai dengan semangat pagi yang cerah. Tanyakan kabar mereka, maka jangan terkejut jika mereka pun akan membalas senyum anda. Inilah awal yang baik untuk memulai hari dengan mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang disekitar Anda.

6–Semangat Dan Jangan Mengeluh.

Mulailah tugas-tugaS Anda hari ini dengan semangat tinggi. Jangan pernah mengeluh dengan keadaan yang dataNg di hari ini. Apa pun yang terjadi, entah itu hari hujan, jalanan macet, lalu lintas semrawut, kereta datang terlambat, kendaraan mogok, atau apa pun yang terjadi, terimalah dengan lapang hati. Ingatlah segala sesuatu yang terjadi sudah diatur oleh Allah. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama kita hari ini. Landasi setiap langkah gerak Anda dengan nilai-nilai dasar spiritual dalam hati, yakni semangat, kasih sayang, kebersamaan, keadilan, kejujuran, dll. Jangan biarkan keadaan di sekitar Anda menyurutkan langkah Anda meraih sukses besar hari ini. Selamat Meraih Sukses Besar Hari ini.

Sumber: Meraih Sukses Besar Hari Ini Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revoilution”, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Positif

Wednesday, May 9th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih sikap hidupnya, apakah akan memilih sbersikap positif atau memilih bersikap negative. Tetapi satu hal yang harus diyakini bahwa memiliki sikap positif adalah unsur penting yang tidak diragukan lagi pengaruhnya bagi keberhasilan dan kesuksesan hidup seseorang. Kalau demikian mengapa kita harus memilih sikap negative ? Lebih baik tinggalkan jauh-jauh sikap negative dalam diri Anda.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana caranya agar dapat selalu memiliki sikap positif ? Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi sikap positif ? Bagaimana meningkatkan sikap positif dalam diri kita ? Meskipun memerlukan waktu yang cukup lama, namun sikap positif dalam diri tentu saja dapat terus dilatih dan ditingkatkan lagi. Kuncinya adalah kita dapat memahami berbagai factor yang dapat mendukung peningkatan sikap positif dalam diri kita.

Faktor-faktor yang mendukung sikap positif diantaranya adalah:

1. Pertama adalah faktor spiritual.

Kekuatan spiritual disini artinya adalah kemampuan yang bersumber dari suara hati terdalam, seperti kemampuan untuk bersyukur, misalnya. Kekuatan spiritual berpegaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melihat sisi positif dari setiap kejadian yang datang. Dengan meningkatkan kekayaan spiritual, seseorang akan mampu mengartikan semua fenomena hidup yang dating kepadanya, menganggapnya sebagai pelajaran berharga, yang dapat membangkitkan nilai lebih dalam dirinya.

Manusia yang memiliki kekayaan spiritual, akan lebih mudah mengontrol terhadap sikap dirinya. Sehingga orang itu tetap memiliki tekad yang kuat untuk berusaha dengan cara-cara yang positif tanpa kenal putus asa, karena meyakini adanya kekuatan dari Allah. Kekuatan spiritual dapat mengarahkan pikiran dan sikap seseorang kepada hal-hal yang positif sesuai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, tidak dihantui oleh rasa tidak percaya diri, malas, dan sikap negatif lainnya. Maka teruslah melatih dan memperkaya pemahan nilai-nilai spiritualitas dalam hidup ini.

2. Kedua adalah faktor impian.

Seseorang yang selalu dapat memperbarui impian akan cenderung bersikap berani, rajin, percaya diri atau bersikap lebih positif. Impian yang besar akan menjadikan seseorang berusaha mengadaptasikan sikap mereka menjadi penuh tenggang rasa, jujur, hormat, tegas, insiatif, berjiwa besar dan lain sebagainya. Sikap-sikap itu adalah intisariud ari sikap positif dalam diri. Orang yang mempunyai impian akan selalu dapat mengendalikan sikap dengan pikirannya menjadi lebih optimis dan positif..

Oleh sebab itu, letakkan satu standar impian yang lebih tinggi, sehingga potensi diri kita dapat ditingkatkan. William Faulkner, seorang novelis peraih hadiah nobel, mengatakan, “Impikan dan bidiklah selalu lebih tinggi daripada yang Anda sanggupi. Janganlah hanya bercita- cita lebih baik daripada pendahulu atau sesama Anda. Cobalah menjadi lebih baik daripada diri sendiri.” Artinya, kita senantiasa memerlukan impian sebagai kontrol terhadap sikap dan mencapai kemajuan hidup yang berarti.

3. Ketiga adalah antusiasme.

Elbert Hubbart menegaskan, “Nothing great has ever been accomplished without enthusiasm. – Tidak ada satupun kemajuan menakjubkan untuk diraih tanpa antusiasme.” Antusiasme artinya semangat. Disaat kita sedang bersemangat, pada saat itulah Tuhan senantiasa mendampingi kita. Dengan semangat itulah manusia menciptakan impian yang lebih besar, berusaha memperoleh kemajuan-kemajuan serta mencapai sukses

Semangat dapat terus ditingkatkan dengan mengisi setiap detik waktu kita dengan kebiasaan-kebiasaan yang positif dan konstruktif. Kebiasaan-kebiasaan positif itu diantaranya mendengar, membaca, berbicara dan bergaul dengan orang yang positif. Jika seseorang dapat mempertahankan dan meningkatkan semangat hidup dalam dirinya, maka sikapnya menjadi lebih terarah hingga dapat menikmati hal-hal yang benar-benar menakjubkan di dunia ini.

Demikianlah bahwa sikap positif sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diatas. Dengan kita memahaminya, diharapkan Anda dapat meningkatkan dan memilihara sikap positif dalam hidup ini. Karena sikap positif sangat mempengaruhi seseorang untuk dapat mengekplorasi seluruh potensi diri dan meraih kesuksesan maupun kebahagiaan. Selamat berjuang !

Salam Revolusi Nurani.

Eko Jalu Santoso adalah seorang professional di dunia usaha, penulis buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Benci

Monday, May 7th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Sahabat Motivasi Nurani Indonesia, pernahkan Anda menyadari apa sesungguhnya salah satu kebodohan paling besar dalam hidup ini ? Jawabanya adalah memelihara kebencian. Ya, kebenciaan adalah sebuah kebodohan hidup yang paling besar di dunia. Karena kebencian hanya akan membunuh waktu kehidupan dan mengorbankan benih cinta, sehingga tidak bisa berkembang dalam kehidupan.

Orang yang menanam dan memelihara kebenciaan dalam hatinya, ia hanya akan menuai hasil ketidaknyamanan, sakit hati dan permusuhan. Sehingga harumnya wangi bunga cinta yang ada dalam dirinya tidak dirasakan dalam kehidupan.

Namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya kalau hatinya dikuasai oleh benih kebenciaan. Manusia yang hatinya penuh kebenciaan pada hakekatnya adalah manusia yang gagal dalam hidup, karena tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka ucapkan selamat tinggal kepada benci mulai saat ini juga. Tinggalkan jauh-jauh benih kebenciaan yang akan merusak benih cinta dan kebahagiaan dalam hati Anda.

Kalau ada yang membenci diri Anda, berusahalah untuk tidak membalas kebencian itu dengan kebenciaan. Kalau Anda membalas kebencian itu dengan kebencian, maka Andapun akan termasuk kedalam golongan orang yang membenci. Kalaupun Anda harus membalas kebencian itu, berusahalan membalasnya dengan cinta, kasih saying dan kebaikan.

Mungkin Anda akan mengatakan bahwa ini adalah hal yang mudah dituliskan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Benar dan memang demikian adanya. Tetapi yakinlah kalau Anda mampu mengendalikan emosi kemarahan yang ada dalam diri Anda, maka ini bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Bahkan akan menjadi hal yang mudal dilakukan. Anda akan mampu membalas kebencian dengan cinta, kasih saying dan kebaikan.

Bagaimana cara meninggalkan kebencian ? Salah satu cara meninggalkan kebencian adalah dengan berusaha bertindak dengan tindakan orang-orang yang berjiwa besar dan agung. Mereka yang memiliki keagungan jiwa mampu mengendalikan emosi amarah dan sakit hati atas kebenciaan orang lain.

Bagaimana cara memulainya ? Kita bisa memulainya dengan membiasakan diri selalu memuji keagungan dan kebesaran Allah SWT yang telah memberikan keagungan jiwa bagi kita. Dengan sering memuji kebesaran dan keagungan Allah SWT, kita akan memiliki semangat jiwa yang luhur, tinggi dan mulia. Semangat jiwa yang agung dan mulia inilah yang akan mampu mengendalikan emosi dari dalam diri Anda, sehingga tidak membiarkan kebenciaan hidup dalam diri Anda.

Dengan tidak membiarkan benih kebencian tumbuh dalam diri Anda, maka benih ketulusan cinta akan semakin tumbuh subur dalam diri Anda.

Salam Motivasi Nurani.

Eko Jalu Santoso, Founder & Moderator Motivasi Nurani Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Elex media Komputindo.

MENGHIDUPKAN CAHAYA HATI

Thursday, May 3rd, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Pernahkah Anda merasakan kegelisahan hati dan jiwa ? Seperti, Anda tidak tahu apa yang harus Anda kerjakan, sedangkan pekerjaan sebenarnya menumpuk dihadapan Anda ?. Pernahkah Anda merasakan beban hidup yang terasa berat dan menumpuk dipundak Anda, sedangkan Anda merasakan tidak tahu harus dari mana menguranginya ? Pernahkah Anda merasakan tekanan dan himpitan ekonomi yang menghadang setiap langkah kehidupan Anda, tubuh Anda terasa gontai dan lunglai, tidak tahu harus melangkah kemana ? Pernahkan Anda merasakan kegelisahan hati yang mendalam, tubuh bergetar dan semuanya menjadi serba tak berarturan dan serba salah ? Kalau hal itu menimpa Anda, berarti Anda dalam kegelapan cahaya hati.

Sekarang bayangkan orang yang hidup dalam kegelapan tanpa disinari cahaya, tentu saja semuanya serba gelap, Anda hanya berputar-putar dan menyibukan diri sendiri, tetapi sebenarnya tidak melangkah kemanapun. Anda merasakan setiap langkah terantuk sandungan dan serba tidak beraturan. Inilah perumpaan bagi manusia yang sedang dalam kegelapan hidup. Hal yang sama kalau Anda tidak menemukan cahaya hati dalam diri Anda. Mereka yang hidup dalam kegelapan cahaya hati bagaikan berada dalam gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya masih dipenuhi ombak-ombak lautan, di atasnya lagi awan gelap gulita yang bertindih-tindih an.

Bagaimana caranya menemukan cahaya hati ?.

Cahaya hati sesungguhnya bersumber dari cahaya Illahi yang akan menerangi hati kita. Menemukan cahaya hati berarti kembali kepada jati diri kita sebagai manusia yang jernih dan bersih. Kembali kepada hati yang tanpa tertutupi berbagai belenggu yang menutup cahaya hati. Karena sesungguhnya dalam hati ini sudah ditiupkan sifat-sifat mulia Allah pada saat proses penciptaannya.

Cobalah bercermin danb lihatlahi kita ke dalam cermin, berapa banyak pakaian kesombongan, pakaian riya’, pakaian dengki, pakaian takabur , yang kita kenakan ?. Berapa banyak pengalaman masa lalu yang negatif, pakaian ego pribadi, pakain pengaruh sudut pandang yang salah yang menyesatkan dalam diri ?. Mari kita tanggalkan pakaian-pakain itu yang menyelimuti hati kita dari cahaya hati yang jenrih dan tajam.

Tanggalkan pakaian kesombongan hati dengan sikap rendah hati. Tidak ada yang pantas disomboingkan manusia dalam hidup ini.

Tanggalkan pakaian dengki dan gantikan dengan cinta dan kasih sayang.

Tanggalkan pakaian takabur dan gantikan dengan kesadaran diri sebagai hamba dan abdi Allah semata.

Buanglah pakain prasangka negatif dengan mengembangkan sikap positif dalam setiap langkah kaki kedepan.

Kendalikan ego pribadi dengan menumbuhkan sikap empti kepada orang lain

Buanglah pengaruh sudut pandang negative maupun pengalaman negative

Hindarilah prinsip hidup yang salah dengan kembali dalam kejernihan jati diri yang bersumberd ari hati.

Kesuksesan dan keagungan dalam hidup tidak akan dapat dirah hanya dari potensi fisik dan kecerdasan akal pikiran. Lebih dari itu diperlukan kecerdasan hati dan kemampuan menemukan cahaya hatio yang bersumber dari cahaya Illahi. Berbahagialah mereka yang dapat menghidupkan cahaya hatinya, mereka yang dapat mengenali cahaya hatinya akan dapat menggapai kehidupan yang penuh keagungan yang memandang kehidupan jauh kedepan dengan hati jernih. Hidupnya akan dipenuhi cahaya terang dengan berbagai kemudahan-kemudahan.

Eko Jalu Santoso adalah Penulis Buku The Art of Life Revolution, Penerbit Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia:

motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

KERAMIK YANG MENARIK

Thursday, May 3rd, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Beberapa waktu lalu ketika berlibur dengan anak-anak ke Yogyakarta, saya mengajak mereka melihat-lihat ke pusat kerajinan keramik di daerah Kasongan Bantul. Ketika melihat-lihat pajangan berbagai keramik di tempat penjualan, mata anak saya tertuju pada satu keramik yang menarik hatinya. “Lihat Mami, ini keramik ini kelihatan indah dan menarik,” kata anak perempuan saya. “Oh iya, ini benar-benar keramik yang sangat bagus dan menarik”, kata istri saya. Akhirnya setelah melalui tawar menawar, dibelilah keramik yang cantik ini oleh istri saya.

Sahabat, tahukah Anda bagaimana sesungguhnya proses keramik ini dibuat hingga menjadi barang yang bagus dan menarik ? Ini juga yang ditanyakan oleh anak saya, bagaimana keramik ini bisa menjadi menjadi bagus dan menarik ?. Ketika saya menanyakan kepada pengrajin, ia mengatakan bahwa untuk membuat keramik menggunakan bahan tanah liat. Awalnya hanyalah sebongkah tanah liat yang kotor dan tidak berguna. Agar menjadi keramik yang bnagus dan menarik, harus memlalui berbagai proses yang dikerjakan oleh seorang pengrajin.

Begini prosesnya, pengrajin menggunakan sebongkah tanah liat yang kotor dan melemparkannya ke sebuah roda berputar. Kemudian memutar-mutarnya, menyodok dan memukul tanah liat ini berulang-ulang agar menjadi sebuah bentuk yang indah. Belum cukup perlakuan yang diterima oleh tanah liat ini, ketika sudah berbentuk, tanah liat ini kemudian dimasukkan ke dalam perapian yang sangat panas. Baru kemudian tanah liat ini diangkat dari perapian dan dibiarkan sampai dingin.

Setelah dingin si tanah liat ini, kemudian diwarnai dengan cat agar nampak indah dan menarik. Setelah diwarnai, tanah liat kemudian dimasukkan kembali ke dalam perapian yang lebih panas dari sebelumnya. Barulah setelah dirasa cukup, kemudian dikeluarkan dan didinginkan. Maka hasilnya adalah sebuah keramik dengan warna cat yang bagus dan terlihat menarik.

Sahabat, apa makna dari cerita keramik inib agi kehidupan ?. Sesungguhnya seperti inilah Tuhan membentuk kehidupan manusia. Pada saat Tuhan membentuk manusia agar kita menjadi pribadi yang tangguh dan menarik, tentu harus melalui proses yang terkadang tidak menyenangkan, menyakitkan. Itulah sesungguhnya kesulitan-kesulitan yang harus dilalui untuk lulus sebagai pribadi yang tanggih dan kuat.

Inilah salah satunya cara, bagaimana Allah membentuk dan mengubah diri kita agar menjadi pribadi yang baik dan memancarkan kemuliaan akhlak. Tanpa melalui proses-proses ujian berupa kesulitan, tantangan dan cobaan, mustahil kita akan berubah menjadi pribadi yang tangguh dan sukses.

Maka, ketika seseorang mendapatkan sebuah kesulitan, mendapatkan percobaan, mendapatkan ujian, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan. Karena melalui berbagai kesulitan, tantangan, ujian itu kalau kita dapat melaluinya dengan ketekunan akan menghasilkan buah yang matang dan sempurna. Menjadikan diri kita pribadi yang tangguh, pribadi unggul dan berkualitas tinggi.

Jangan pernah berkecil hati, apalagi berputus asa ketika menerima cobaan dan kesulitan hidup. Karena sesungguhnya Allah sedang membentuk Anda, agar menjadi pribadi yang cantik, pribadi tangguh, berkualitas, menarik dan memancarkan kemuliaan. Berusahalah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan ketekunan, karena hal itu akan menghadirkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Salam Motivasi Nurani.

Sumber: Keramik Yang Cantik oleh Eko Jalu Santoso, Founder Motivasi Nurani Indonesia, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Penerbit Elex Media Komputindo. Ingin mendapatkan email motivasi nurani, kirimkan email ke: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

EMOSI & INTI RAHASIA kEBIJAKSANAAN (4)

Wednesday, May 2nd, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso, Weblog: www.ekojalusantoso.com

2. Meningkatkan Kesabaran Hati

Memang terkadang tidak mudah untuk menahan amarah, apalagi kalau menemui hal-hal yang pantas mengundang emosi amarah seseorang. Bagaimanapun dapat dimengerti apabila seseorang mengalami kekesalan, kecemasan, sakit hati yang dipicu oleh hal-hal yang mengundang emosi ini. Tetapi sangat tidak dibenarkan mengekpresikan rasa marah dengan cara agresif dan merugikan orang lain. Diperlukan kesabaran hati agar mampu mengontrol diri untuk tidak melampiaskan emosi kemarahan membabi buta.

Melatih kesabaran diri mengendalikan emosi amarah terkadang membutuhkan pula kesabaran waktu yang cukup panjang. Tidak cukup dengan satu atau dua kali ujian. Diperlukan latihan yang terus menerus dan berkelanjutan. Meski demikian bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan hati, tidak akan mengeluh karena panjangnya waktu yang harus dilalui. Dia juga tidak merasa bosan karena cobaan yang datang tindih-bertindih. Kesabaran seperti itu pula yang harus ada pada setiap orang yang ingin menjadi pemenang dalam kehidupan ini.

Melatih kesabaran hati sangat berhubungan erat dengan suasana hati seseorang. Menurut Richard Wenzlaff, ahli psikologi dari University of Texas, mengalihkan suasana hati agar menjadi positif dapat dilakukan dengan melakukan selingan yang positif seperti menonton peristiwa olahraga yang dinanti-nanti, film komedi atau dengan membaca buku-buku bacaan ringan.

Melatih kesabaran hati selain menyangkut dimensi emosional seseorang, juga sangat berhubungan dengan dimensi spiritual seseorang. Manusia yang memiliki orientasi pada nilai-nilai spiritualiasme yang bersumber dari hati nurani, maka ketika terjadi rangsangan-rangsangan pada emosinya, emosinya akan tetap tenang dan terkendali. Karena aspek mentalnya telah diperkuat oleh nilai-nilai spiritualnya.. Suara hati “Illahiah” dalam dimensi spiritual akan menjadi pembimbing untuk bereaksi normal terhadap rangsangan emosi yang dating.

Melatih kesabaran hati terus menerus sangat penting dalam pengendalian emosi. Kesabaran hati dalam pengertian mampu menerima keadaan, memahami situasi dan dapat mengendalikan emosi dan amarah sehingga tidak sampai bertingkah aneh dan melampuai batas. Kesabaran hati adalah akar dari rahasia kebijaksanaan hidup. Kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan, betapa pun beratnya dan tetap selalu menebarkan cinta dan kasih sayang.

3. Memaafkan Dan Membalas Dengan Kebaikan

Dikisahkan bahwa Nabi Isa as pernah dihina, namun ia tetap senyum, tenang, dan mantap, tidak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, “Ya Rabi (Guru), kenapa engkau tidak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina, malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?” Nabi Isa as, menjawab : “Karena setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan, kalau yang kita miliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia.”

Percayalah, makin mudah kita tersinggung, apalagi hanya dengan hal-hal yang kecil, akan makin sengsara hidup ini dikuasai oleh emosi amarah. Padahal, sebenarnya kita dapat menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal. Maka berusahalah membalas kebenciaan seseorang dengan memaafkannya dan membalasnya dengan kebaikan. Membalas emosi kemarahan yang datang dengan memaafkan.

Kalau ada kebenciaan yang datang, ada yang menghina, ada yang menyakiti kita, sebaiknya kita bisa memaafkannya, tidak membalas dengan emosi, tetpai membalas dengan kebaikan. Mungkin hal ini muah disampaikan tetapi sulit dilakukan. Namun kalau mau berusaha mendengarkan suara hati terdalam, pasti akan diberikan bimbingan untuk memaafkan, membalas dengan kebaikan.

Kalau ada seseorang yang memancing kemarahan, seandainya dia masih muda, anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua, kalau dia sudah tua anggap saja sedang khilaf, sehingga kita tidak perlu ikut emosi dan dapat memaafkannya. Yang penting jangan tersinggung, lebih baik membalasnya dengan kebaikan. Yang pasti makin kita mudah memaafkan, makin kita berhati lapang, makin bisa memahami orang lain, maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini.

4. Berdamai Dengan Diri Sendiri

Berdamai dengan diri sendiri adalah cara bijaksana dalam mengendalikan emosi amarah. Setiap orang yang mencintai dirinya sendiri, pada akhirnya akan memaafkan kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Itulah yang saya maksudkan dengan berdamai dengan diri sendiri. Mampu mencintai diri sendiri dan memenuhi hati dengan cinta dan kasih sayang.

Berdamai dengan diri sendiri artinya memahami setiap keadaan yang datang, tidak menyalahkan orang lain, dapat menerima sesuatu yang menimpa diri kita dengan lapang. Hidup tidak jarang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang membuat emosi tergerak seperti frustrasi, depresi, rasa sakit hati, bersedih, bahagia dan hal-hal yang tidak dapat diramalkan. Kalau kita mampu berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri, maka hati akan menjadi lebih lapang. Memiliki hati yang lapang menjadikan kesabaran dan kemampuan mengendalikan emosi kemarahan.

Mungkin kita tidak dapat mengontrol setiap kejadian yang datang, tetapi kita dapat mengontrol bagaimana kejadian-kejadian tersebut dapat mempengaruhi kita. Menyuburkan benih-benih cinta, berbagi cinta dengan sesama, meningkatkan kesabaran dalam hati, mudah memaafkan, membalas dengan kebaikan dan mampu berdamai dengan diri sendiri merupakan sarana mengendalikan emosi. Emosi yang terkendali menjauhkan diri dari tindakan agresif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Inilah aspek–aspek penting yang ada dalam diri manusia, yang menjadikan mereka mampu menumbuhkan energi spiritual dalam menghadapi kehidupan. Mereka mampu mempengaruhi orang lain, dan akhirnya membuat orang lain menghargai kepribadian mereka. Karakter perilaku seperti inilah kalau terus dilakukan menjadi kebiasaan dapat melahirkan perilaku yang bijaksana. Perilaku yang meninggikan kemuliaan hidup kita dihadapan orang lain dan dihadapan Tuhan, serta menjadikan kehidupan penuh potensi dan keagungan.

Sumber: Emosi & Inti Rahasia Kebijkasanaan Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Penerbit Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia. Ingin Mendapatkan email motivasi nurani, kirimkan email ke: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com