Archive for April, 2007

EMOSI & INTI RAHASIA kEBIJAKSANAAN (2)

Monday, April 23rd, 2007

EMOSI DASAR MANUSIA

Oleh Eko Jalu Santoso

view

Dalam, hidup ini setiap manusia memiliki emosi dasar yang menjadi watak manusia yang ada dalam dirinya. Apa sesungguhnya makna kata “emosi” ini ? Menurut para ahli psikologi, emosi didefinisikan sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.” Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence mengatakan, emosi merujuk pada suatu perasaan dan serangkaian pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan bilogis dan psikologis, dan serangkain kecenderungan untuk bertindak.

Para peneliti masih terus memperdebatkan tentang mana yang termasuk emosi-emosi dasar yang menjadi watak manusia. Meskipun belum semuanya sepakat, namun para ahli telah mengelompokkan yang termasuk emosi dasar manusia diantaranya adalah:

· Rasa amarah

· Rasa kesedihan

· Rasa dendam

· Rasa takut

· Rasa kenikmatan

· Rasa malu

· Rasa cinta

Kalau kita merasa bahagia, gembira, senang, terhibur, rasa terpesona, kegirangan luar biasa, merasa puas, senang sekali misalnya, itu bukanlah emosi dasar manusia, melainkan itu emosi yang diakibatkan oleh salah satu dari emosi dasar manusia berupa rasa kenikmatan. Dari emosi dasar ini lahirlah berbagai turunan emosi lainnya atau variasi emosi lainnya.

Demikian juga dengan lahirnya perasaan persahabatan, rasa kepercayaan merasakan kebaikan hati, rasa hormat, ingin dekat dan sayang adalah hasil dari adanya emosi dasar rasa cinta misalnya. Dari emosi dasar rasa cinta ini dapat muncul emosi lainnya seperti perasaan marah, rasa benci atau dendam, atau sebaliknya lahirlah perasaan bahagia, rasa kenikmatan, misalnya. Ada ratusan emosi, bersama dengan campuran, variasi, mutasi dan nuansanya.

EMOSI AMARAH

Kita tahu rasa amarah adalah salah satu watak dasar manusia, maka sangat dimengerti apabila seseorang mengalami reaksi marah, kesal, sakit hati, beringas, benci, bermusuhan, tersinggung sampai tindak kekerasan dan kebrutalan. Karena setiap orang pasti memiliki emosi amarah, tidak pandang siapapun mereka, apakah dia seorang yang berpendidikan tinggi atau rendah, orang biasa atau dari kelas menengah, aparat keamanan atau orang sipil, bahkan seorang ulama atau pemimpin kebajikan sekalipun.

Menjadi hal yang aneh bila ada seseorang yang mengatakan tidak punya rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah merupakan bentuk kekayaan bathin kita sebagai manusia. Merupakan hal yang wajar sejauh itu dapat dikelola dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran sehingga tidak merusak orang lain. Bagi mereka yang memiliki pribadi yang cerdas dan tenang, mereka bisa mengendalikan reaksinya agar tidak menjadikan kemarahan sebagai tindakan yang agresif, merusak dan menimbulkan kebenciaan.

Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih setiap reaksi dari situasi dan keadaan yang datang kepadanya. Misalnya kita menghadapi orang yang melakukan tindakan yang dapat menaikkan emosi amarah kita, maka kita patut berpikir sejenak dari dalam hati, reaksi apa sebaiknya yang menjadi pilihan kita?

· Apakah kita pantas merasa dendam?

· Atau kita pantas melampiaskan kemarahan ?

· Apakah kita merasa lebih baik memaafkan ?

· Atau kita memilih untuk menumbuhkan rasa cinta?

Mengapa kita perlu mengontrol reaksi emosi kita ?

Karena menurut para ahli, kejadian dalam hidup ini sembilan puluh persen adalah reaksi yang bisa kita kontrol dari hati dan pikiran kita dan sisanya yang sepuluh persen adalah diluar dari kendali kita. Mengontrol reaksi kita, berarti dapat mengendalikan emosi kita, sehingga kita akan tetap berada dalam lingkaran menjadi orang baik dan bijaksana.

Biarkan saya memberikan contoh. Heru sedang terburu-buru akan berangkat ke kantor karena ada prsentasi dengan dewan direksi pagi ini. Ketika sedang makan pagi, tiba-tiba tanpa sengaja anaknya yang masih TK menyenggol gela susu di meja dan mengenai baju dan celana Heru. Ia marah dan mengucapan kata-kata yang keras kepada anaknya. Anaknya menjadi ketakutan dan menangis dengan keras.

Heru yang merasa buru-buru harus berangkat ke kantor sangat kesal dan menegur istrinya dengan ucapan keras pula. Istrinya yang merasa sudah sibuk dari pagi menyiapkan makan pagi dan keperluan anaknya sekolah, ikut tersinggung dengan ucapan Heru. Akibatnya suasana pagi hari itu berubah menjadi sebuah pertengkaran mulut. Anaknya semakin ketakutan dan menangis semakin keras dan tidak mau berangkat sekolah.

Demikianlah, kejadian tumpahnya gelas susu mungkin tidak dapat kita kontrol. Tetapi reaksi yang akan kita lakukan sepenuhnya dibawah kendali kita. Kita dapat memilih apakah akan bereaksi emosional atau memilih mengendalikan reaksi emosi dengan bijaksana. Semua rekasi itulah yang akan mempengaruhi kejadian hidup kita selanjutnya. Karena setiap emosi sesuai dengan sifatnya membawa pada salah satu dorongan hati untuk bertindak, itulah pentingnya melawan dorongan hati yang dikendalikan emosi. Ini merupakan akar dari segala kendali emosional dalam diri kita.

Bila kita dikendalikan oleh rasa marah, benci atau dendam, iri, dengki, maka kita bisa terlempar dari lingkaran orang baik masuk kedalam lingkaran orang yang tidak baik. Memasuki lingkaran orang tidak baik dapat merendahkan kualitas kehidupan kita bahkan menyulitkan hidup kita. Kesuksesan, kebahagiaan, ataupun rejeki menjadi semakin sulit mendekati kita, kalau kita berada dalam lingkaran orang tidak baik. Dunia akan penuh kekerasan, intrik, pengkhianatan, penipuan dan kegagalan bagi mereka yang hatinya dikuasai emosi kemarahan.

Sebaliknya manusia yang dapat mengendalikan emosinya, mampu memilih reaksi terhadap setiap keadaaan yang datang sesuai dengan suara hatinya, akan berada dalam lingkaran pengaruh orang baik dan bijaksana. Mereka bnerada dalam lingkarang orang-orang yang memiliki kualitas diri tinggi.. Pada akhirnya kesuksesan, kebahagiaan, keberuntungan akan mengalir seperti dengan arah aliran angin. Mereka membukA pintu-pintu kran rejeki, keberuntungan dan kemudahan dalan hidup.

Bagaimana mengekspresikan emosi kemarahan agar tidak menyakiti orang lain ? Bagaimana kita-kita mengelola emosi amarah agar tetap berada dalam lingkaran pengaruh orang baik dan bijaksana ? Hal ini akan kita bahas pada tulisan selanjutnya. Salam Motivasi Nurani.

Sumber: Emosi Dan Inti Rahasia Kebijaksanaan (2) Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution” Diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia, Weblog: www.ekojalusantoso.com

EMOSI & INTI RAHASIA KEBIJAKSANAAN (1)

Tuesday, April 17th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Dari data yang dihimpun Indonesia Police Watch, dalam beberapa waktu terakhir ini setidaknya ada tujuh kasus anggota polisi yang melampiaskan kemarahannya dengan menembak mati orang dekatnya, mulai dari istri, mantan pacar, mertua, teman atau atasannya sendiri. Sebagian besar korbannya lebih dari satu orang dan bahkan dalam kasus penembakan oleh anggota polres Bangkalan, korbannya empat orang, sebelum akhirnya pelakunya menembak dirinya sendiri.

Dalam kehidupan keluarga, mudah ditemui orang tua yang marah besar dipicu oleh kesalahan biasa yang dilakukan anaknya, suami yang secara emosional menganiaya istrinya hanya dipicu masalah-masalah kecemburuan dan pertengkaran rumah tangga. Suami atau istri yang marah kepada pasangannya dan tega melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya pasangannya, bahkan anaknya sendiri. Dalam pekerjaan, ada pimpinan yang marah-marah besar hanya dipicu oleh kesalahan kecil bawahannya. Dalam kehidupan sehari-hari, mudah ditemui orang yang marah-marah dijalanan karena dipicu oleh sikap pengguna lalu lintas yang kurang disiplin atau saling baku hantam hanya gara-gara saling tersinggung.

Mengapa belakangan ini semakin banyak orang yang mudah sekali dipicu emosi amarah ? Mengapa mereka seakan tidak memiliki hati nurani kemanusiaan, padahal sebagian dari mereka adalah orang-orang berpendidikan atau bahkan aparat keamanan pengayom masyarakat ?

Sahabat semua, memiliki emosi amarah adalah manusiawi dan merupakan hal yang wajar, sejauh itu dapat dikelola dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran sehingga tidak merusak orang lain. Karena emosi amarah adalah salah satu watak dasar manusia. Menjadi hal yang aneh bila ada seseorang yang mengatakan tidak punya rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah merupakan bentuk kekayaan bathin kita sebagai manusia. Namun bagi mereka yang tidak mendengarkan suara hati nuraninya, akan mudah dikendalikan nafsu amarahnya. Mereka menjadi budak nafsu dari amarahnya.

Berbeda dengan mereka yang memiliki kecerdasan hati nurani, memiliki kepribadian cerdas dan tenang, mereka dapat mengendalikan reaksinya agar tidak menjadikan kemarahan sebagai tindakan yang agresif, merusak dan menimbulkan kebenciaan. Kemampuan seseorang untuk menguasai diri, kemampuan untuk menghadapi badai emosional dengan kesabaran, kemampuan mengendalikan dorongan hati yang dikuasai emosi dan bukannya membiarkan dirinya dikendalikan atau menjadi “budak nafsu” merupakan salah satu kunci rahasia kebijaksanaan. Kemampuan seperti ini dijunjung tinggi sejak zaman nabi Adam sampai dengan nabi akhir zaman Muhammad saw dan selalu dibawa dalam setiap ajaran beliau.

Kalau dalam istilah Yunani kuno dikenal dengan istilah “sophrosyne” atau “hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan, keseimbangan dan kebijaksanaan yang terkendali”, sebagaimana diterjemahkan oleh Page Du Bois yang dikutip oleh Daniel Goleman. Tujuannya adalah keseimbangan emosi, bukan menekan emosi. Karena setiap perasaan memiliki nilai dan makna. Sebagaimana yang diamati oleh Aristoteles, bahwa yang dikehendaki adalah emosi yang wajar, keselarasan antara perasaan dan lingkungan.

Mengendalikan emosi berarti dapat menjaga keselarasan antara perasaan dan lingkungannya. Kemampuan seperti ini memiliki nilai sangat penting bagi peningkatan kualitas kepribadian seseorang. Demikian pentingnya dalam mengendalikan amarah ini, maka ketika Muhammad Rasulullah saw didatangi oleh seorang sahabatnya yang memintanya untuk memberikan nasehat, wasiat beliau adalah, ”Janganlah kamu melampiaskan amarah.” Dan kata-kata itu diulanginya lebih dari satu kali.

Makna dari nasehat ini bukanlah maksud beliau untuk melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari watak dasar manusia yang pasti ada. Makna dari nasehat Muhammad saw ini adalah berusahalah menguasai diri ketika muncul rasa marah. Supaya emosi kemarahan itu tidak menimbulkan dampak yang merugikan orang lain maupun diri sendiri. Inilah inti dari nasehat dalam meraih kebijaksanaan hidup.

Bagaimana dengan emosi amarah yang ada dalam diri Anda sendiri ? Apakah sudah dikelola dengan baik? Bagaimana mengekspresikan emosi kemarahan yang tanpa menimbulkan sakit hati ? Bagaimana mengelola emosi dalam diri agar mencapai kebijaksanaan ? Hal ini akan kita bahas pada tulisan selanjutnya……!

Salam Motivasi Nurani Indonesia.

Eko Jalu Santoso, penulis buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo.

HINDARI PRASANGKA NEGATIF

Thursday, April 5th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Setaip individu memiliki kemerdekaan hati untuk memilih respon terhadap situasi, keadaan, masukan dan masalah yang datang. Inilah yang membedakan manusia yang dibekali akal pikiran dan hati nurani dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih apakah bersikap positif atau memilih respon negatif, dari setiap situasi, keadaan, tulisan,semuanya ditentukan dari hati masing-masing.

Ketika kita membaca sebuah tulisan dari milis misalnya, itu adalah situasi atau masukan yang datang dan dapat disikapi melalui kebebasan hati kita. Sebagai manusia yang dibekali kecerdasan hati nurani, sebaiknya selalu memilih sikap yang berlandaskan hati nurani terdalam. Hindarilah prasangka negatif dalam setiap tindakan, tidak terkecuali dalam menulis email ataupun menangapi sebuah tulisan dalam milis. Karena adanya prasangka akan dapat menutupi kejernihan suara hati nurani seseorang.

Dalam sebuah hadits secara tegas disampaikan bahwa, “ Takutlah kalian berprasangka, karena itu merupakan sedusta-dusta perkataan.” Memiliki prasangka negatif tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan, baik buat diri sendiri maupun buat orang lain. Yang ada hanyalah mendatangkan kerugian dan kekecewaan bagi semua pihak. Karena suara hati nurani yang bersumber dari percikan sifat-sifat “Illahiah” dari Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan akan tertutupi. Dampaknya adalah memandang kehidupan dengan tidak memiliki kejernihan hati, sehingga merugikan diri sendiri, orang lain, organisasi maupun lingkungan kehidupan.

Apa sesungguhnya prasangka itu ? Kalau kita mengelaborasi pengertian prasangka ini dari Imam Sufyan Ats-Tsauri seorang ulama muslim, sesungguhnya prasangka itu ada dua jenis:

  • Pertama, prasangka yang dilakukan oleh orang dengan menampakkannya melalui ucapan atau tulisan.
  • Kedua, prasangka yang dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati dan tidak diungkapkan dalam ucapan maupun tulisan.

Meskipun keduanya memiliki kadar yang berbeda, namun keduanya dapat berimplikasi buruk dan kerugian bagi kehidupan, bagi organisasi dan bagi orang lain. Karena meskipun seseorang hanya memiliki prasangka dalam hati yang nampaknya ringan sekalipun, hal ini dapat menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka yang dinampakkan melalui ucapan, tulisan dan bahkan tindakan. Artinya, pada dasarnya prasangka negatif yang tertumpahkan melalui ucapan atau bahkan melalui tindakan itu terjadi karena bermula dari prasangka negatif dari dalam hati manusia.

Dalam banyak riwayat disampaikan bahwa, Allah SWT justru melihat apa yang ada di kedalaman hati hamba-Nya.” Itu artinya, prasangka negatif dalam hati sekecil apapun tidak akan pernah luput dari pantauan Allah SWT. Karena itu, marilah kita dalam berkomunikasi, menulis email, berusaha menghindari prasangka negatif dan prasangka buruk dari dalam hati, karena hal ini hanya akan menutup potensi kejernihan suara hati nurani yang merupakan percikan sifat-sifat mulia yang bersumber dari Allah SWT. Lebih baik selalu berusaha mengarahkan hati pada pikiran positif, sehingga tulisan, tindakan dan ucapan tetap terjaga kejernihannya.

Kita adalah raja dari hati dan pikiran kita sendiri. Maka lebih baik mengendalikan hati dan pikiran untuk selalu kearah positif. Hati yang positif akan menentukan sikap hidup yang positif, sikap hidup positif akan mempengaruhi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan yang positif akan menghasilan hal-hal positif dan kemudahan dalam hidup ini.

Salam Revolusi Nurani.

Eko Jalu Santoso adalah seorang professional di dunia usaha, penulis buku “The Art Of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia

MENJADIKAN PEKERJAAN BERNILAI IBADAH

Thursday, April 5th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Seringkali manusia membuat dikotomi atau pemisahan antara urusan kehidupan duniawi dan urusan kehidupan akhirat. Mereka memisahkan antara kesuksesan dalam pekerjaan, bisnis dengan kesuksesan kerohanian untuk urusan akhirat. Akibatnya terjadilah pemisahan kepentingan yang seringkali hanya menomorsatukan kesuksesan pekerjaan untuk keberhasilan dunia kemudian menomor duakan urusan kesuksesan ukhrawi atau akhirat.

Hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan gerak pekerjaan, bisnis dan urusan duniawi dengan kepentingan spiritualitas dan kerohanian. Bagaimana mungkin, karena hidup hanya melakukan pekerjaan dan bisnis hingga meriah kesuksesan dan prestasi duniawi, tanpa diimbangi kesuksesan spiritualitas adalah kehampaan. Demikian sebaliknya hidup dengan spiritualitas tinggi tanpa diimbangi dengan kesuksesan kerja atau bisnis adalah kehampaan. Keduanya haruslah berjalan seimbang dan bersinergi dalam mengisi setiap langkah kehidupan.

Kita meyakini hidup tanpa bekerja, berkarya atau berbinis adalah hampa. Namun persoalannya kemudian adalah bagaimana agar pekerjaan itu memiliki nilai bermakna tinggi ?. Bagaimana persyaratannya agar pekerjaan kita memiliki nilai ibadah ?.

Manusia adalah makhluk spiritual dan makhluk fisik di dunia ini. Sebagai makhluk fisik manusia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Dengan demikian ibadah kepada Allah tidak dibatasi makna ibadah hanya ritual secara spiritual semata. Tapi lebih dari itu, semua pekerjaan keduniawian bisa memiliki arti ibadah. Artinya, dalam bekerja, berkarya, berbisnis bukan hanya materi yang bisa kita dapatkan, tetapi juga ridha dan pahala dari Allah SWT.

Pegawai yang bekerja di kantor, pedagang yang berkerja di pasar, petani yang bekerja di tanah pertanian, pengusaha yang berbisnis, pejabat pemerintahan, nelayan, semua pekerjaan bisa bernilai ibadah. Apakah kita sebagai pegawai biasa, manager, direktur, pejabat tinggi atau bahkan hanya seorang pembantu, semua posisi pekerjaan itu bisa bernilai ibadah. Tentu saja ada syarat-syaratnya agar pekerjaan yang dilakukan dapat memberikan nilai sebagai bagian dari ibadah. Bagaimana syarat-syaratnya ?

1. Tidak Melanggar Syariat Allah. Berusahalah memilih pekerjaan yang tidak melanggar aturan-aturan Allah. Dengarkan suara hati terdalam dalam memilih bidang pekerjaan, karena suara hati sesungguhnya percikan dari sifat-sifat mulia Allah.. Mereka yang memilih pekerjaan berdasarkan suara hatinya, tidak akan terjerumus dalam pekerjaan yang tidak halal dan diharamkan oleh agama.

2. Dilandasi Niat Kebaikan dan Keikhlasan. Berusahalah menjalankan pekerjaan hanya dilandasi oleh niat kebaikan dan keikhlasan hati. Pekerjaan yang dilandasi niat kebaikan dan keikhlasan hati, akan dapat mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai spiritualitas kebenaran, seperti transaksi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, menipu, merugikan orang lain, menjual narkoba, dll.

3. Menafkahi Keluarga. Bekerja dengan niat memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Bahkan bekerja juga untuk memakmurkan bumi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Dengan demikian, jangan berniat bekerja untuk menumpuk harta, riya’, bermegah-megahan, atau sekedar ingin dihormati orang lain.

4. Tidak melailaikan Ibadah Kepada Allah. Rutinitas dan kesibukan dalam pekerjaan atau bisnis, jangan sampai membuat kita lalai dan meninggalkan ibadah ritual kepada Allah. Artinya kita dapat menyeimbangkan antara kepentingan pekerjaan dengan kepentingan spiritualitas ibadah kepada Allah.

5. Mengamalkan ilmu. Berusahalah bekerja untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki agar memberikan manfaat kepada banyak orang. Mengamalkan ilmu adalah melepaskan energi kebaikan kepada orang lain. Berusahalah membagikan ilmu yang kita miliki agar memberikan banyak manfaat bagi kehidupan dan alam semesta.

6. Bekerja dengan profesional. Artinya melakukan pekerjaan yang dilandasi ilmu pengetahuan dan dilakukan dengan cara-cara yang cermat dan cerdas, yang dibenarkan sesuai nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Kalau hal itu menuntut diri kita untuk mengembangkan diri dalam sikap dan perilaku, maka lakukanlah. Kalau diperlukan peningkatan ilmu dengan tambahan pendidikan atau kurus, jalankanlah.

Beberapa hal diatas mungkin dapat menjadi bahan renungan mendalam bagi kita semua, agar senantiasa berusaha menjadikan setiap pekerjaan memiliki nilai ibadah, memberi keuntungan materi dunia, dan untuk kepentingan akhirat. Ukuran paling sederhana adalah kesucian niat dan keikhlasan melakukan pekerjaan, bertanggung jawab, senang berbagi kebaikan, menolong orang lain dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritualitas kebenaran yang abadi. Salam Motivasi Nurani Indonesia.

Sumber: Menjadikan Pekerjaan Bernilai Ibadah Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art Of Life Revolution” penerbit Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com