Archive for March, 2007

MEMBERDAYAKAN POTENSI AKAL

Monday, March 26th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso, Weblog: www.EkoJaluSantoso.com

air

Ketika seseorang melakukan sebuah “inner journey” untuk mengenal siapa sesungguhnya dirinya, maka akan menemukan setidaknya ada tiga karunia istimewa yuang diberikan Allah Sang Pemilik Kehidupan secara cuma-cuma, sebagai modal kesuksesan hidupnya di dunia. Apa saja ketiga karunia istimewa itu, yakni

  • Pertama potensi kekuatan fisik yang sempurna
  • Kedua potensi akal pikiran yang luar biasa
  • Ketiga potensi hati nurani yang sangat berharga

Karunia pertama berupa potensi kekuatan fisik dan bentuk tubuh yang fungsional, dengan susunan tulang dan otot yang dapat memungkinkan untuk melakukan gerakan yang berbeda-beda. Kekuatan potensi fisik ini menjadikan manusia mampu menghasilkan produktifitas yang tinggi dalam berkarier, dalam berbisnis dan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Karunia kedua adalah otak atau akal pikiran yang super canggih yang mampu mengontrol dan mengatur kinerja berbagai organ tubuh dan panca indra manusia. Mulai dari mengendalikan dan mengatur denyut jantung yang mampu memompa ribuan liter darah melalui pembuluh darah yang sangat panjang, mengontrol dan mengatur kinerja paru-paru yang memberikan supply oksigen bagi tubuh yang tidak pernah berhenti sedetikpun dan berbagai panca indra lainnya.

Karunia ketiga adalah hati atau qalbu yang memiliki peran paling penting dalam mengatur kehidupan manusia. Hati adalah rajanya yang mengatur dan mengendalikan potensi akal pikiran dan panca indra. Hati manusialah yang akan mengendalikan otak atau akal pikiran manusia untuk kemudian memprosesnya melalui panca indra, sehingga menghasilkan sesuai yang dikehendaki hati.

Bagaimana Memberdayakan Potensi Akal ?

Kedahsyatan potensi akal pikiran manusia tidak perlu diragukan lagi. Dengan akal ini manusia memiliki kemampuan untuk memahami bagaimana proses berpikir dan mengelola pikirannya. Manusia dapat mempelajari ilmu pengetahuan, mengungkap berbagai misteri kehidupan, menjelajahi ruang angkasa, mengarungi samudra luas tak berbatas dan dapat membaca bukti-bukti kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa di alam semesta ini.

Memahami akal manusia, setidaknya ada dua makna pemahaman yakni berfungsi menjelaskan semua urusan, baik berkenaan dengan masalah duniawi maupun masalah kehidupan akhirat. Yang kedua berarti pandangan mata batin dan pengetahuan terhadap mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan baik untuk kehidupan dunia maupun kehidupan akhiratnya.

Setiap manusia berkewajiban menggunakan akalnya untuk dapat memahami “rules”atau aturan-aturan yang sudah diperintahkan Allah melalui para nabi dan kitab suci-Nya. Maksudnya, manusia harus memberdayakan akalnya untuk dapat membaca bukti-bukti yang terhampar di alam semesta ini agar dapat memahami hakekat kehidupan secara utuh dan benar. Karena sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada mereka sesuatu yang dapat mereka pahami dengan akal mereka.

Khalid ibn Shafwan berkata, ”Bila ada seseorang yang tidak bisa menjelaskan apa-apa, ia tidak ada bedanya dengan binatang ternak atau ia hanya berganti rupa.” Inilah yang membedakan manusia sebagai makhluk sempurna dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Makna dari penggalan kalimat ini adalah kalau manusia tidak memberdayakan aklnya untuk memahami mana yang baik dan buruk dalam kehidupan, tidak digunakan untuk memikirkan kehidupan dunia dan akhirat dalam keseimbangan, tidak digunakan untuk memahami norma-norma atau ketentuan Allah yang sudah berlaku dalam kehidupan dan tidak dapat membaca bukti-bukti kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa di alam semesta, maka tidak ubahnya seperti binatang.

Sayangnya, kebanyakan orang kurang menggunakan akalnya untuk memahami hakekat kehidupan dan kodrat dirinya secara utuh dan benar. Sebagain besar manusia hanya menggunakan akalnya untuk urusan duniawi semata. Akibatnya banyak orang tersiksa secara tidak sadar dalam posisi ini. Mereka secara fisik manusia, tetapi tidak mengunakan akal pikirannya sehingga melakukan tindakan-tindakan yang melanggar unsur-unsur kemanusiaan. Inilah sumber berbagai penyimpangan dalam perilaku manusia dalam kehidupan dewasa ini (illegal loging, korupsi, kekerasan dimana-mana, menggelapkan uang rakyat, melakukan pembajakan, penipuan, pornografi dan pornoaksi, dll).

Manusia yang akalnya sehat, maka akan menggunakan akal pikirannya dengan sehat dan benar. Menggunakan akal pikiran untuk memahamai tentang ciptaan Allah dan memperhatikan lembaran alam semesta. Untuk kemudian, proses berpikir kita itu mengantarkan kita untuk memikirkan siapa yang telah menciptakan semua itu. Sehingga kita dapat mengenal siapa sesungguhnya diri kita dan siapa Tuhan kita yang sebenarnya.

Eko Jalu Santoso adalah penulis buku “The Art of Life Revolution” diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder Motivasi Nurani Indonesia. Weblog: www.EkoJaluSantoso.com

SPORTIVITAS KUNCI KESUKSESAN

Wednesday, March 21st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

achive

Beberapa tahun terakhir ini, berbagai berita yang sampai dihadapan kita selain adanya berbagai bencana, musibah dan wabah penyakit, adalah juga banyaknya terjadi tindak kekerasan, baik itu kekerasan dalam rumah tangga, tawuran antar warga, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, atau berbagai penyimpangan perilaku lainnya.

Demikian juga kalau kita memperhatikan berbagai berita dari dunia panggung politik bangsa Indonesia, seringkali ditandai dengan para tokohnya yang saling menyalahkan, tidak mau menerima kritikan, tidak mau mengakui kesalahan sendiri dan senang melempar tanggungjawab ke orang lain, bahkan mencari kambing hitam dari perbuatan salah yang dilakukannya, dll. Bahkan ketika terjadi pemilihan kepala pemerintahan, kemudian salah satu calon yang dijagokannya kalah misalnya, seringkali terjadi demonstrasi dan perusakan karena tidak menerima kekalahannya.

Intinya semua itu menandakan bahwa masalah sportivitas di tengah masyarakat dan bangsa ini menjadi semakin mendesak untuk dikembangkan dan ditingkatkan. Berbagai berita diatas menandakan bahwa nilai-nilai sportivitas dan moral individu dalam kehidupan masyarakat dan bangsa ini semakin mengalami penuruan tajam. Banyak orang tidak lagi mau mengakui kesalahan yang dilakukannya, kemudian mau mengkritik dirinya sendiri yang kemudian diikuti dengan melakukan evaluasi untuk perbaikan diri. Tetapi malah mengembangkan sikap menyalahkan orang lain dan senang mencari kambing hitam atas kesalahan yang dilakukannya.

Apa sesungguhnya sportivitas yang dimaksudkan disini ? Yakni mengembangkan sikap yang saling menghargai, saling mengakui kemenangan dan kekalahan yang terjadi, berani mengakui kesalahan yang dilakukannya. Saling menghargai dan berani mengakui kesalahan secara ksatria dan bertanggung jawab penuh atas kesalahannya, itulah yang dinamakan sportivitas. Mengakui kesalahan dan menerima kekalahan dengan lapang dada dan tidak mencari kambing hitam dalam tindakan salah yang dilakukannya adalah akhlak utama yang mungkin saat ini makin langka ditemukan.

Nilai-nilai utama sportivitas sesungguhnya adalah memiliki sikap lapang dada, mau mengakui kemenangan orang lain, menerima kekalahan sendiri, kesediaan menerima kritik dan saran, dan mengakui kesalahan yang dilakukannya sendiri. Dalam konteks praktik sportivitas, bisa kita saksikan pada diri para pemain-pemain bola profesional yang namanya sudah mendunia. Demikian juga dapat kita saksikan dalam diri para pembalap motor GP atau pembalap mobil F1 yang namanya mendunia. Dalam olahraga nilai-nilai utama itu menjadi keniscayaan yang juga seharusnya juga diimplementasikan di seluruh bidang kehidupan manusia.

Agar dapat memenangkan kehidupan ini, setiaop individu harus berani memegang Teguh nilai-nilai sportivitas dala dirinya. Mereka yang memiliki prestasi juara dunia dalam berbagai bidang kehidupan, adalah orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dalam dirinya. Nilai sportivitas seperti ini, kini sangat relevan untuk selalu dibumikan dalam usaha meningkatkan kualitas diri pribadi kita agar menjadi pribadi yang unggul dalam kehidupan ini.

Apalagi ditengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis moral dan nilai-nilai kebaikan seperti ini. Banyak nilai utama dari sportivitas yang sejatinya dapat menjadi inspirasi dan praktik nyata dalam kehidupan keseharian kita, sehingga dapat meminimalisasi penyimpangan dalam masyarakat (seperti korupsi, illegal loging, penyalahgunaan dana APBD, dll).

Dengan mengembangkan nilai-nilai sportivitas individu, selanjutnya diharapkan yang muncul adalah pribadi-pribadi unggul yang menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan, kebersamaan dan keadilan dalam kehidupan. Sehingga penyimpangan-penyimpangan yang sudah begitu akut di tengah masyarakat bisa diminimalisasi. Sebab, akhlak utama selalu tecermin dalam kehidupan pribadi, sosial, berbangsa, dan bernegara sehingga setiap pribadi merupakan inspirator dan motivator, sekaligus teladan yang baik dan rahmat bagi semesta alam.

Salam Revolusi Nurani.

Sumber: Sportivitas Kunci Kesuksesan Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution” diterbitkan Elex Media Komputindo dan bisa didaptkan di toko-toko Gramedia dan toko buku Kharisma, Founder Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

 

MENJIWAI PERAN YANG DIMAINKAN

Tuesday, March 13th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Menyaksikan konser pertunjukan “Euro pop-group opera Il Divo” beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center, banyak diantara penonton merasa terkagum-kagum dan tersedot perhatiannya. Mulai dari para priyayi agung Jakarta, seperti menteri, politisi dari beberapa partai politik, para selebriti, pengusaha, sampai para ibu-ibu dan masyarakat lainnya. Mereka memenuhi kursi penonton malam itu dengan begitu terpesona, merasa tersedot perhatiannya menyaksikan pentas konser Il Divo ini.

Terasa sekali suasana gairah, passion, perhatian audiens yang sangat besar dan luar biasa dalam merespon penampilan konser empat personel Il Divo ini. “They are stunning ? Penampilan mereka menakjubkan,”, demikian kata-kata yang muncul dari para penonton sesusai menyaksikan pertunjukan malam itu.

Bagaimana pertunjukkan itu bisa menjadi menakjubkan dan menyedot perhatian luar biasa penontonya ? Pertunjukan itu sangat mempesona, maka jelas jiwa para seniman itulah yang menjadikannya pertunjukan mempesona dan menakjubkan. Mereka mampu membawakan lagu-lagunya dengan penjiwaan yang mendalam. Mereka mampu memainkan perannya sebagai seniman dengan sepenuh hati.

Seandainya mereka membawakan lagu-lagunya tanpa penjiwaan mendalam, tanpa kesungguhan hati, maka akan terasa menjadi tontonan yang hambar. Tak meninggalkan kesan mendalam, apalagi kemampuan menggugah gairah dan “passion audiens” hingga begitu terpikat. Penampilan seniman yang tidak menjiwai perannya, tidak sepenuh hati memainkannya, maka tidak layak menjadi kenangan dalam benak orang-orang yang menyaksikannya.

Begitulah dengan kualitas pribadi kita dalam hidup ini. Amanat agung yang dipikul manusia dalam hidup ini, sesungguhnya hanya dapat ditunaikan andaikata masing-masing diri kita, adalah pribadi yang mampu menjiwai setiap bidang kehidupan yang dijalankannya. Dan kualitas pribadi atau pun kualitas hidup kita, dapat terukur dari sejauh mana pendalaman atau penjiwaan kita terhadap pekerjaan maupun bidang lainnya yang kita geluti atau karya yang kita lahirkan.

Sebagai seorang karyawan misalnya, kalau dapat menjiwai bidang pekerjaannya, maka ia memiliki semangat, motivasi dan gairah yang tinggi dalam menjalankan pekerjaannya. Kita dapat menjadi motivator bagi diri sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita, sehingga produktivitasnya menjadi semakin meningkat.

Berbeda dengan seorang karyawan yang tidak menjiwai bidang pekerjaaan yang diberikan kepadanya. Ia akan mengerjakan pekerjaannya hanya memenuhi sebatas kewajibannya agar mendapatkan gaji bulanan saja. Tidak ada kesungguhan hati, semangat dan motivasi, apalagi untuk berprestasi dalam bidang pekerjaannya. Ia cenderung seenaknya saja dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Dalam membina hubungan dengan pasangan misalnya, kalau masing-masing mampu menjiwai perannya dengan kesungguhan hati, maka akan dapat menjadi penyenang mata dan penyejuk hati pasangannya. Mampu saling menjaga kepercayaan dan saling menyemangati dalam berjuang menghadapi kerasnya hidup, peliknya bertahan dalam keimanan.

Berbeda dengan mereka yang tidak menjiwai tugas masing-masing. Maka jiwanya akan tertekan, menganggap melayani pasangannya sebagai beban dan pasangannya dianggapnya sebagai pengekang. Tugasnya menjadi terabaikan, komunikasi mereka menjadi kering dan inilah sumber dari ketidakharmonisan dalam hubungan.

Maka melakukan evaluasi diri terhadap peran kita masing-masing dalam kehidupan ini menjadi sangat penting. Bertanyalah kedalam hati “Sejauh mana kita sudah menjiwai dengan sepenuh hati peran kita masing-masing dalam kehidupan ini ?”.

Apakah sebagai karyawan, sebagai pengusaha, sebagai pemimpin, sebagai pasangan dalam keluarga, sebagai bagian dari masyarakat, sudahkah kita menjiwai sepenuh hati peran kita ? Apakah Anda seorang professor, doktor, sarjana atau hanya lulusan SMA, sudahkah menjiwai dengan tulus setiap bidang yang kita jalankan ? Apakah memiliki pangkat presiden, menteri, direktur utama, jenderal, kapten atau orang biasa, sudahkah kita menjiwai peran kita masing-masing ?

Penjiwaan yang sepenuh hati terhadap peran masing-masing dapat melahirkan kesungguhan hati, semangat dan motivasi tinggi dalam setiap peran kehidupannya. Hal ini akan menghasilkan karya, kinerja dan prestasi kehidupan yang mengagumkan sesuai dengan suara hati nuraninya.

Menjalankan setiap peran yang dilakukannya dengan sepenuh hati, dengan ketulusan hati dan keikhlasan yang dilandasi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dalam hidup akan menghasilkan kontribusi kebaikan kepada orang lain dan kehidupan ini. Hasilnya adalah prestasi dan keharuman diri yang akan dikenang oleh kehidupan ini.

Sumber: Menjiwai Peran Yang Dimainkan Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution” penerbit Elex Media Komputindo dan Founder Motivasi Nurani Indonesia. Weblog: www.ekojalusantoso.com

****

SUKSES DENGAN MELAYANI

Thursday, March 8th, 2007

 

view

Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” - Martin Luther King -

Beberapa hari lalu saya datang ke sebuah Bank swasta di Jakarta untuk sebuah transaksi. Ketika selesai melakukan transaksi, teller dengan senyumnya yang ramah meminta saya memilih salah satu kertas kecil yang sudah disiapkan di meja teller dan memasukannya ke dalam kotak. Ada dua pilihan dengan dua warna kertas yang berbeda yang merupakan penilaian kita terhadap kinerja pelayanan si teller tersebut. Rupanya Bank yang memiliki jutaan nasabah pemegang ATM ini secara sadar berorientasi untuk mencetak karyawan yang memiliki orientasi pada “customer focus” dalam kinerjanya.

Pada hari lain saya memasuki banking hall sebuah bank swasta lainnya. Mulai dengan memasuki ruangan, saya menjumpai personil dengan sikap yang seragam, dari satpam yang mulai membukakan pintu, petugas customer service, teller sampai ke manager cabangnya. Rupanya Bank ini secara sadar juga berorientasi mencetak karyawan untuk menginternalisasikan dan saling menularkan nilai-nilai pelayanan dan integritas yang diekspresikan dalam tindakan nyata.

Derap persaingan dalam era kehidupan yang semakin komplek, apalagi dalam dunia bisnis yang sangat kompetitif, semakin menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan, kalau ingin bertahan dalam persaingan. Organisasi dan perusahaan tidak mengizinkan lagi seorang karyawan sebagai bagian dari perusahaan untuk tidak memberikan pelayanan dengan baik. Setiap karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi perusahaan, sehingga harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasaan pelanggan.

Marilah kita perhatikan pada setiap perusahaan-perusahaan besar, apa kunci prestasi mereka sehingga perusahaan mereka bisa bertahan di tengah maraknya persaingan ?

Apa kunci keberhasilan mereka untuk dapat terus bertumbuh menjadi besar ?.

Pasti Anda akan menemukan salah satu kunci terpenting dalam kesuksesannya adalah kesediaan untuk melayani pelanggannya. Maka banyak perusahaan mengangkat tema “kepuasan pelanggan” menjadi bagian penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen niscaya akan lebih mudah dalam meraih dan mempertahankan kesuksesannya.

Paradigma melayani sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena sudah sejak dulu para guru spiritual selalu mengajarkan akan hal ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar kita juga bisa memiliki hati yang mau melayani?

Mungkin beberapa langkah berikut ini perlu dipertimbangkan

1. Memandang pekerjaan adalah ibadah

Dalam hidup ini kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan dan kepada orang lain. Dengan demikian, hendaknya setiap apa yang kita kerjakan dalam kehidupan hanyalah berorientasi pada pengabdian kita kepada Allah dan pelayanan kepada orang lain. Dengan memiliki kesadaran ini, maka pekerjaan adalah bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah dan kepada orang lain.

Memiliki kesadaran memandang pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dapat memberikan keikhlasan hati untuk senantiasa melayani orang lain dengan baik. Apakah itu pelanggan kita, apakah itu teman-teman kita, apakah itu bos dan pemimpin kita. Dengan demikian orang lain akan memberikan apresiasi terhadap apa yang kita lakukan. Kalau hal ini dijadikan sebagai kedisiplinan, inilah modal bagi kesuksesan kita.

2. Kehidupan adalah kesempatan membantu orang lain.

Motivator kelas dunia, Zig Ziglar pernah berkata, “Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini sepanjang Anda juga mau menolong orang lain memperoleh apa yang mereka inginkan.” Inilah sebuah prinsip bahwa memperoleh apa yang kita inginkan dapat dimulai dengan membantu orang lain memperoleh keinginannya.

Hidup ini adalah sebuah anugerah dari Allah Tuhan Yang Maha Kaya. Sebagai rasa syukur terhadap kehidupan, kita harus menggunakannya untuk membantu orang lain, bukan hanya untuk diri kita sendiri. Hal ini secara tegas disebutkan oleh Allah bahwa kehadiran manusia ini mengemban amanah sebagai wakil Allah dimuka bumi ini. Manusia memiliki kewenangan sebagai “khalifah” penguasa kehidupan di muka bumi.

Dengan demikian setiap orang mengemban amanah untuk mensejahterakan kehidupan orang lain dan alam semesta ini. Bukan menghancurkan orang lain dan alam semesta untuk kepentingannya sendiri.

Gunakan kehidupan yang kita miliki sebagai kesempatan berharga untuk membantu banyak orang lain. Semakin banyak waktu kehidupan yang diberikan, semakin banyak manfaat yang kita bagikan untuk orang lain. Dengan demikian, hidup Anda akan jauh lebih bermakna.

3. Siapa Menabur Dialah Yang Akan Menuai

Pepatah bijak mengatakan siapa yang menabur dialah yang akan menuainya. Saya sangat sepaham dengan pepatah bijak ini, bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Kalau kita menaburkan benih-benih kebaikan, maka kita akan memamen hasil kebaikan. Kalau kita menebarkan pelayanan, maka kita akan menuai kemudahan-kemudahan dalam kehidupan. Begitupun sebaliknya.

Sayangnya, banyak orang sering kurang menyadari, kalau rejeki yang kita peroleh sesungguhnya melalui orang lain. Demikian juga apa yang kita peroleh sebaiknya sebagian dibagikan bagi orang lain. Kalau kita sebagai karyawan, maka sesungguhnya gaji yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari sang pemilik pemilik atau pemimpin perusahaan.

Demikian juga kalau kita seroang pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari sang pelanggan. Maka penting memiliki kesadaran untuk memperhatikan suara dan keluhan pelanggan. Dengan memperlakukan mereka secara baik dan memuasakan, maka perusahaan akan menuai keuntungannya yang akhirnya dapat menghidupi pengushaa dan karyawannya.

Ingatlah bahwa kehidupan ibarat ladang pertanian yang subur. Setiap benih yang kita sebarkan akan tumbuh dan memberikan hasil. Kalau benih kebaikan yang kita taburkan, maka akan memberikan hasil kebaikan. Demikian sebaliknya. Maka kalau inngin meraih kesuksesan, tanamkan benih-benih pelayanan kepada orang lain, sehingga kita kan menuai kemudahan-kemudahan dalam kehidupan.

Salam Revolusi Nurani: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Sumber: Sukses Dengan Melayani Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Founder Motivasi Nurani Indonesia. Weblog: www.EkoJaluSantoso.com

SIKAP MENENTUKAN KEBERHASILAN

Tuesday, March 6th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

achive

Ketika berbicara dihadapan peserta training beberapa waktu lalu, saya memulai pembicaraan dengan menanyakan kepada mereka, “Siapa orang yang paling Anda kagumi dalam hidup ini?”. Jawaban yang muncul sangat beragam, dari mulai nama-nama menteri, politisi, selebriti sampai para kyai mereka sampaikan.

Kemudian saya melanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang membuat Anda mengaguminya?”. “Apa saja yang membuatnya berbeda dibandingkan dengan orang lain?”. Saya memberikan waktu sejenak untuk berpikir dan kemudian menuliskan jawaban mereka masing-masing di atas sehelai kertas.

Tentu saja ada banyak faktor yang disebutkan dalam jawaban mereka. Namun ketika mencermati lebih jauh ada salah satu faktor yang paling menonjol yang membuat mereka mengagumi orang-orang tertentu, adalah karena sikapnya. Ya, salah satu faktor yang sangat mencolok dari orang-orang sukses adalah bagaimana mereka bersikap terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan ini.

Sahabat, sikap adalah hal kecil yang dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Sikap adalah hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup seseorang. Sikap ini sesungguhnya berasal dari dalam diri kita sendiri, berasal dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, bukan dari luar diri kita. Banyak orang kurang menyadari hal ini, tidak mengetahui, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka memiliki kemampuan mengelola hati dan pikirannya. Kemampuan seseorang dalam mengelola hati dan pikirannya, kemampuan memimpin hati dan pikirannya akan sangat menentukan sikapnya dalam kehidupan ini.

Salah seorang sahabat saya yang bekerja sebagai HRD mengatakan, salah satu prinsip terpenting dalam managemen SDM adalah mengembangkan sikap seseorang agar menjadi lebih baik. Menurut teman saya, kalau sikapnya baik, ia bisa dilatih agar mahir dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, jika ia memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang luas namun sikapnya jelek, ia tidak akan pernah mampu berprestasi optimal, terutama jika bekerja dalam sebuah tim.

Sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang dominan menguasai hati dan pikiran kita. Ketika hati dan pikiran didominasi oleh sesuatu hal yang kita inginkan, kita akan semakin fokus pada hal tersebut. Kekuatan pikiran ini melahirkan energi dan motivasi yang kuat dari dalam diri kita dan mengarahkan kita menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kalau kita melihat dari kacamata psikoanalisanya Sigmund Freud, adanya dorongan atau energi dari arah dalam diri ini tercipta karena adanya “unconcius mind” atau pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar inilah yang dapat mendorong energi dalam diri kita untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan..

Sebaliknya kalau hati dan pikiran kita dikuasai oleh sesuatu yang dapat melemahkan kita, maka sikap kita akan menjadi lemah dan itulah yang akan kita dapatkan. Kalau pikiran kita sudah dikendalikan oleh berbagai hal negatif tentang kegagalan diri kita, maka sikap kita dalam mengahadapi kegagalan akan mudah menyerah dan kegagalan itulah yang akhirnya akan kita dapatkan.

Bagaimana Mengubah Sikap Menjadi Seorang Pemenang ?

Dalam buku saya “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo, diuraikan untuk mengubah sikap hidup menjadi seorang pemenang dapat dilakukan melalui empat tahapan. Salah satunya adalah menanamkan keyakinan dari dalam hati bahwa keberhasilan, kesuksesan, kegelisahan, semuanya disebabkan faktor dari dalam diri kita sendiri. Sesungguhnya yang menciptakan itu semua adalah hati dan pikiran kita sendiri. Berbagai faktor luar lainnya tidaklah mencerminkan diri pribadi kita. Namun hati dan pikiran yang ada dalam diri itulah yang mengidentifikasikan diri kita. Itulah mengapa memiliki sikap yang senang mencari-cari alas an, senang menyalahkan berbagai factor luar dalam kegagalan yang kita dapatkan adalah sikap yang kurang bijaksana.

Memiliki keyakinan bahwa sukses dimulai dari hati dan pikiran dalam diri kita sendiri, dapat mengarahkan hati dan pikiran kita pada hal-hal positif dan indah tentang kesuksesan. Hal ini melahirklan sikap yang optimis akan kesuksesan. Hati dan pikiran kita menjadi lebih terbuka tentang hal-hal yang positif dan indah mengenai keberhasilan, sehingga itulah yang akan kita dapatkan. Semakin kuat keyakinan kita tentang kesuksesan, itulah yang akan semakin mendominasi pikiran kita sehingga dapat mengubah sikap hidup kita.

Perubahan sikap inilah yang dapat mengubah perilaku hidup kita. Ketika perilaku hidup kita berubah akan mendorong perubahan kinerja dan pada akhirnya dapat merubah hidup kita benar-benar menjadi seorang pemenang. Semakin kuat memikirkan bahwa kita akan berhasil, hampir pasti kita akan berhasil. Karena semakin kuat memikirkannya, semakain keras dorongan dari dalam diri untuk mengusahakannya dan semakin sulit kita menyerah. Kedisiplinan inilah yang mendorong keberhasilan seseorang.

APA SUKSES SELANJUTNYA ?

Monday, March 5th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso


viewe
Banyak orang yang sukses berkarier sebagai pengusaha, eksekutif, professional, artis, cendekiawan, pejabat tinggi, atau para celebrity ternama yang kelihatan memiliki kehidupan luar mengagumkan, namun ternyata memiliki kehidupan pribadi yang kurang bahagia. Mereka merasakan kehampaan hidup, kekosongan hati atau kemiskinan jiwa dan bahkan banyak yang kehidupannya diakhiri “unhappy ending” , seperti terbukti melakukan korupsi, berakhir dipenjara, melakukan penipuan, penggelapan pajak atau terbukti selingkuh yang ditayangkan berbagai media masa, dll.

Seseorang yang meraih “outer success” atau kesuksesan duniawi seperti karier yang cemerlang, gelar akademik yang berderet panjang, konglomerat yang menguasai puluhan perusahaan atau popularitas yang tinggi, ternyata kalau tidak diimbangi dengan diimbangi dengan “inner success” atau sukses ukhrawi, hanya akan berakhir dengan kesia-siaan hidup. Mengejar kesuksesan dengan hanya mengedepankan satu sisi “material sukses” semata dengan tidak mengimbangi sisi lainnya yakni “spiritual sukses “ hanyalah akan berkahir dengan kehampaan dan kemiskinan hati.

  • Kalau demikian, bagaimana melanjutkan kesuksesan yang sudah kita dapatkan pada tingkatan yang lebih tinggi ?
  • Apa sukses selanjutnya setelah satu sisi kesuksesan duniawi sudah kita raih ?
  • Bagaimana mensinergikan antara “Inner Success” dengan “outer success” yang kita dapatkan ?

Pertanyaan seperti ini dapat menggiring manusia pada usaha memahami makna sukses yang lebih tinggi, yakni sesuai dengan visi dan misi hidup yang diberikan oleh Allah Sang Pemilik Kehidupan kepada manusia. Karena puncak kesuksesan dan kemenangan hidup itu bukanlah pada prestasi duniawi yang nampak menggiurkan dan menyilaukan mata itu, tetapi masih ada perjalanan sukses yang sesungguhnya yang menyentuh aspek spiritual manusia.

Saya sungguh terkesan dengan apa yang menjadi prinsip bisnis Konosuke Matsushita, seorang pendiri dan pemimpin bisnis raksasa kelas dunia Group Perusahaan Jepang Matsushita. Dia memiliki motto hidup yang juga menjadi motto bisnisnya adalah “Life isn’t only for bread”, atau hidup bukanlah sekedar untuk sepotong roti.

Saya percaya statemen singkat dan terlihat sederhana ini tidak terjadi begitu saja, karena pasti lahir dari proses panjang dalam perjalanan kehidupannya hingga dapat menemukan sebuah tujuan kehidupan tertinggi. Hal ini telah dibuktikan oleh Matsushita dalam hidupnya dengan tidak hanya menjadi seorang entrepreneur sukses luar biasa. Matsushita juga mengabdikan hidupnya menjadi pendidik, menjadi penulis puluhan buku, membagikan ilmunya kepada banyak orang dan ternyata ia juga dikenal sebagai seorang filsuf yang sangat popular. Meskipun memiliki kekayaan harta berlimpah, namun gaya hidupnya sederhana jauh dari kemewahan duniawi. Matsushita bahkan rela menyumbangkan ratusan juta US Dollar dari uang pribadinya dan dari kas perusahaannya untuk kepentingan kemanusiaan.

Sebagai makhluk yang sempurna, manusia perlu memahami mengapa kita hidup, untuk apa kita hidup dan kemana tujuan akhir kehidupan tertinggi. Memahami hal ini akan menggiring kita untuk menemukan siapa Tuhan kita sebenarnya. Dengan demikian dalam hidup, kita tidak akan mudah dibelokkan untuk ber-Tuhan kepada kekayaan harta, ber-Tuhan kepada jabatan, ber-Tuhan kepada gelar akademik, ber-Tuhan kepada popularitas dan semua asesories duniawi lainnya. Kita tidak mudah dibelokkan oleh kemilau dan gemerlapnya aksesories duniawi yang menyesatkan, kemudian melalaikan nilai-nilai spiritual yang menjadi pusat gravitasi jiwa dalam setiap langkah kehidupan. Karena pusat orientasi hidup tertinggi yang dapat menyentuh pada kebahagiaan aspek spiritualnya manusia adalah pada hati yang “taqarrub” atau menuju pada sifat-sifat Allah yang Maha Agung yang sudah “built in” dalam diri kita.

· Pernahkah Anda merasakan suatu kebahagiaan ketika Anda membantu orang lain dari kesusahan, seperti mereka yang terkenalkorban gempa, korban banjir, korban lumpur atau kelaparan ?

· Dapatkah Anda merasakan kenikmatan dan kepuasaan hati ketika dapat menolong orang lain memerlukan bantuan ?

· Bisakah Anda merasakan sebuah kedamaian jiwa ketika Anda dapat membagi kebahagiaan yang kita miliki dengan orang lain ?.

· Bagaimana kita dapat merasakan kesuksesan yang lebih berarti ketika kita dapat membantu kesuksesan orang lain ?

· Pernahkah Anda merasakan kebahagiaan yang menyentuh hati ketika menggunakan segenap potensi yang kita miliki untuk tujuan kemuliaan hidup ?

Hermawan Kartajaya mempunyai caranya sendiri dalam mengabdikan hidupnya untuk orang lain. Sebagai seorang guru marketing, Hermawan adalah salah satu orang yang saya kagumi dan membuat diri saya “melek” marketing. Mungkin juga berjuta orang Indonesia lainnya menjadi melek marketing melalui buku-bukunya.

Dalam bukunya “Hermawan Kartajaya on Marketing “, dia mengatakan, “Kalau meninggal, saya ingin dikenang di nisan saya `Di sini berbaring Hermawan Kartajaya the great marketing contributor’, semacam itulah. Jadi saya bicara bolak-balik supaya nanti anak dan cucu saya ingat.” Itulah Hermawan Kartajaya yang mendedikasikan hidupnya bagi marketing. Kini berbagai pemikiran dan konsep marketing yang dibuatnya sudah diakui di berbagai negara dan dirinya dikenal sebagai pakar marketing kelas dunia.

Setiap orang memiliki kesempatan berperan dalam meletakkanlah landasan kehidupan mulia bagi dirinya. Membuat peran kehidupan mulia yang dapat dikenang oleh kehidupan dan dunia. Setiap orang dapat menjadi sumber cahaya yang memancar menerangi orang-orang yang berada dalam kegelapan disekitarnya. Karena setiap manusia memiliki bekal kecerdasan dalam menjalani kehidupannya.

Kalau Matsuhita mengabdikan hidupnya untuk menulis buku, mengajar dan memberikan bantuan bagi kemanusiaan dan Hermawan Kartajaya mengabdikan hidupnya untuk dikenang sebagai the great marketing contribnutor, lalu bagaimana dengan Anda ?

Bagaimana menemukan suara hati yang menjadi keinginan agung dalam diri kita ? Bagaimana memberdayakan anugerah yang ada dalam diri kita untuk meraih kesuksesan dan keagungan dalam hidup ? Lebih lengkapnya bisa dibaca di buku saya “ The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Buku setebal 356 halaman ini sudah beredar di toko-toko Gramedia di seluruh Indonesia.

Salam Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

 

MENGENDALIKAN EGO PRIBADI

Monday, March 5th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Penyakit yang paling banyak menghinggapi mental manusia sehingga dapat menarik dirinya dari ketinggian sebagai makhluk spiritual menuju pada kerendahan adalah memiliki kesombongan diri. Ya, kesombongan ini sangat dekat dengan kehidupan kita dan benihnya seringkali muncul tanpa kita sadari.

Kesombongan dapat muncul karena adanya ego pribadi yang berlebihan, adanya kebanggaan diri yang berlebihan, adanya rasa percaya diri yang berlebihan. Dengan demikian manusia yang dapat mengendalikan diri dari kesombongan berarti ia telah mengendalikan ego pribadinya. M<engendalikan ego dapat meningkatkan kualitas mental menjadi lebih bernilai tinggi.

Memang dalam diri setiap manusia sudah memiliki ego pribadi. Dalam tataran yang wajar, ego pribadi ini menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri “self-esteem” dan memiliki kepercayaan diri “ self-confidence’. Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas oribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan dalam diri kita, itu akan berubah menjadi kebanggaan “pride” yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggan dan kesombongan ini sangat tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, maka akan melahirkan ego pribadi yang merugikan.

Manusia pada awalnya adalah makhluk spiritual murni yang berada dalam kutub diri sejati yang terbebas dari segala macam pengaruh materi, status sosial, dan pengaruh lainnya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupannya, manusia kemudian mengenal materi, status sosial, harga diri yang dapat mengarahkannya kepada ego pribadi.

Ketika manusia memiliki ego pribadi yang berlebihan, ini merupakan akar masalah yang melahirkan kesombongan, keserakahan, rakus, iri, dengki, tidak senang melihat kesuksesan orang lain dan berbagai sifat negatif lainnya.

Mengendalikan ego pribadi berarti berusaha meningkatkan kualitas mental dan pribadi kita menuju standar lebih tinggi. Mengendalikan ego pribadi dalam batas yang wajar, dapat memberikan nilai positif kedalam diri setiap individu, sehingga menghasilkan perilaku yang positif pula.

Bagaimana agar kita dapat mengendalikan ego pribadi dalam diri tidak muncul berlebihan dalam kehidupan ? Bagaimana mengarahkan kebanggan diri tidak sampai pada kesombongan yang menjadi sifat negatif yang merugikan ?.

Beberapa sikap dibawah ini dapat menjadi pertimbangan bagi setiap orang untuk dapat mengendalikan ego pribadinya agar tidak muncul secara berlebihan:

  • Mengubah pusat orientasi hidup dengan banyak memikirkan orang lain
  • Mengembangkan sikap ikhlas menolong orang lain
  • Memiliki kesediaan hati untuk membantu orang yang kesusahan
  • Mengembangkan sikap empati terhadap orang lain
  • Bersedia memberikan pelayanan dengan keikhlasan
  • Kerendahan hati untuk berbagi dengan sesame
  • Banyak menanamkan kebaikan dalam hidup

Mungkin terasa sulit pada awalnya untuk membiasakan diri melakukan hal-hal positif tersebut diatas, karena besarnya daya tarik gravitasi ego pribadi dalam diri setiap manusia. Tidak mudah memang melakukannya, karena besarnya gaya tarik internal dari nafsu dalam diri kita. Disini diperlukan kesadaran hati dan jiwa manusia untuk dapat kembali menempatkan posisi dirinya pada kutub diri sejati atau kembali dalam kemurnian suara hati.

Diperlukan kesadaran manusia untuk memahami dimana posisi dirinya dalam kehidupan ini. Memahami bahwa dirinya adalah sebagai “abdi” atau sebagai ” hamba” dari Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Kehidupan. Kesadaran seperti ini akan menjadikan kita lebih mudah membebaskan diri dari kekuatan pengaruh materi dan berbagai simbul-simbul duniawi lainnya, membebaskan dari poengaruh nafsu keinginan berlebihan dalam diri kita.

Hal inilah yang dapatmendorong manusia mengendalikan ego pribadinya. Karena kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita hanyalah kecil dihadapan Allah. Kita akan menyadari bahwa hidup ini adalah milik Allah.

Menyadari bahwa semua yang melekat dalam diri kita, berbagai gelar, pangkat, jabatan, harta kekayaan, sifatnya sementara dan akan menjadi milik Allah. Menyadari bahwa tuyjuan tertinggi kehidupan adalah kembali kepada Allah SWT.

Salam Revolusi Hati Nurani.

IT’S TIME TO CHANGE

Thursday, March 1st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Seorang member milis Motivasi Nurani Indonesia mengirimkan email kesaya. Sebut saja namanya Anton (bukan nama sebenarnya), karena dia tidak ingin disebutkan namanya di milis. Berikut ini emailnya:

” Selamat pagi Pak Eko Jalu, saya anggota milis MotivasiIndonesia, sejak ada artikel mengenai Menjadi Orang Paling Baik, sampai sekarang saya selalu menyimpan dan membaca artikel-artikel Pak Eko Jalu. Saya senang sekali dengan artikel-artikel tsb, saya juga sedang menunggu bukunya Pak Eko Jalu diterbitkan .

Saya sangat terinspirasi dari artikel-artikel bapak dan saya juga senang memikirkan orang lain, bersama-sama teman-teman di lingkungan perumahan saya. Saya juga selalu berusaha bersyukur bahwa saya sudah punya rumah sendiri, punya istri dan anak yang lucu sekali, punya lingkungan kerja dan dan lingkungan rumah yang bisa menerima saya dan keluarga saya.

Namun ada hal yang sangat mengganjal, saya merasa tidak ‘sukses’ dan telah ‘gagal’ selama ini. Pekerjaan saya statis selama 10 tahun, tidak ada perkembangan yang berarti dan masih berada di posisi yang sama. Saya lulusan D3 Akuntansi, namun saya bekerja sebagai administrasi di suatu department engineering.

Saya sudah berusaha optimal membantu dan berkarya di tempat kerja saya. Saya bekerja keras, meluangkan banyak waktu, bahkan kadang mengorbankan waktu keluarga dengan harapan dapat meningkatkan kehidupan saya, tetapi kenyataannya tidak ada perubahan yang berarti. Nampaknya system karir & system kompensasi di perusahaan saya tidak mendukung. Sehingga kondisi ekonomi saya selalu ‘pas-pasan’ dan cenderung kurang. Hingga kini saya belum bisa membantu orang tua, selain hanya menghubungi lewat telpon.

Saya benar-benar ingin sekali mengubah keadaan saya, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana dan melakukan apa. Saya tidak mempunyai keahlian khusus, pengendalian emosi saya kurang baik, umur saya sudah 31 tahun, bilamana mencari pekerjaan baru harus bersaing dengan anak-anak muda yang lebih creative & productive . Saya mohon bantuan di sela kesibukan Pak Eko Jalu untuk sekiranya dapat memberikan pencerahan. ”

Mungkin masalah diatas tidak asing dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Mungkin ada diantara kita bahkan yang terjebak dalam situasi kehidupan yang sama seperti diatas. Kita seolah-olah sudah berusaha bekerja keras dengan harapan akan mampu mengangkat kehidupan kita ke taraf yang lebih baik, tetapi nampaknya tidak ada perubahan berarti. Semakin kita bekerja keras, semakin kita tidak mempunyai waktu, untuk diri kita sendiri maupun keluarga. Dan pada satu titik tertentu, mungkin kita akan merasa frustasi, karena semua kerja keras yang kita lakukan tidak bisa memberikan harapan seperti yang kita inginkan .

Sedangkan ketika kita menengok kehidupan orang lain, si Hendra teman kuliah dulu yang nggak pintar-pintar amat, kini sudah menduduki posisi Asisten Marketing Direktur, si Yanti yang dulunya lugu, kini sudah punya usaha boutik yang berkembang pesat, dll. Bahkan terkadang anak buah kita dulu, kini sudah melampaui posisi kita saat ini, entah dalam kehidupan karier maupun dalam kehidupan ekonomi. Kalau sudah demikian, kemudian kita menjadi frustasi dan merasa menjadi orang yang tidak sukses atau gagal.

Kalau kita berada dalam situasi yang demikian, maka ini adalah waktunya untuk melakukan perubahan atau “It’s Time To Change”. Pertanyaannya apanya yang harus diubah ?

Banyak orang berpendapat, bahwa berubah itu berarti harus berganti pekerjaan atau harus berpindah perusahaan. It’s ok. Mungkin bagi beberapa orang hal ini bisa memberikan harapan lebih baik. Tapi mungkin bagi sebagian orang yang lain, ternyata hanya memberikan harapan semu sementara saja. Karena ternyata di perusahaan yang baru tersebut, setelah beberapa saat mereka menemukan hal-hal baru yang `menjebak’ mereka seperti kisah teman diatas. Lalu mereka mulai stress, dan kembali terjebak dalam kehidupan yang semula.

Kalau demikian apanya yang harus diubah ?. Yang harus diubah adalah mulai dari ‘diri kita sendiri’. Perubahan itu harus dimulai dari dalam diri kita, bukan dari luar, yakni sikap kita dulu yang harus diubah.

Cobalah renungkan beberapa pertanyaan dibawah ini, mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang harus diubah dari dalam diri Anda :
- Bagaimana dengan cara kerja anda, sudahkah anda bekerja secara kreatif, efektif dan efisien ?
- Bagaimana dengan cara pandang anda terhadap pekerjaan ? Apakah anda berpikir bahwa pekerjaan yang anda lakukan adalah beban, ataukah sebuah kesenangan, atau sebagai ibadah ?
- Apakah anda merasa sudah mentok dan tidak ada kesempatan untuk meningkatkan karier, Ataukah anda berusaha menciptakan kesempatan itu, dengan prestasi kerja tertentu, misalnya ?
- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana `pelit’nya perusahaan terhadap anda ataukah anda lebih suka memikirkan, bagaimana perusahaan anda bisa tumbuh dan berkembang seperti sekarang ?
- Apakah anda lebih suka menggosipkan bagaimana rekan anda yang `pandai menjilat’ sehingga prestasinya melesat, Ataukah anda belajar, prestasi apakah yang telah dia ciptakan sehingga cepat maju ?
- Apakah Anda sudah berusaha meningkatkan diri, melalui berbagai kesempatan belajar dan training, misalnya ?
- Dll.

Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawab hal ini dengan jujur. Kalau kemudian Anda sudah menemukan berbagai jawaban itu dengan jujur, mulailah melakukan perubahan dari dalam diri Anda, sebelum mengharapkan adanya perubahan dari luar.

Bagaimana Melakukan Perubahan menuju keberhasilan ?. Berikut ini beberapa tips yang perlu diperhatikan :

1. Tanamkan keyakinan bahwa sukses itu dimulai dari dalam hati dan pikiran kita sendiri.
2. Bayangkan atau imajinasikan dengan gambar yang jelas, sejernih kristal keinginan yang ingin Anda raih dalam waktu 2-5 tahun yang akan datang. Jadikanlah impian ini menjadi sebuah tujuan kesuksesan Anda.
3. Tetapkan alasan yang kuat, mengapa anda menginginkan tujuan kesuksesan itu. Mengapa impian itu sangat penting bagi Anda. Memiliki alasan yang kuat, dapat menciptakan “Stroing Desire”, motivasi yang tinggi untuk mencapainya.
4. Sincere Belief. Meyakini bahwa Anda pasti bisa mencapai tujuan impian kesuksesan Anda dalam 2-5 tahun mendatang.
5. Enthusiastic Action. Lakukanlah kegiatan dengan bersemangat dan kerja keras. Salurk

MENJADI ORANG PALING BAIK

Thursday, March 1st, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

” Jadilah yang paling baik dari dua orang manusia.” - Al-Hadits -

Kebanyakan manusia salah dalam mengartikan makna menjadi paling baik dalam hidup ini. Apakah itu dalam hubungan antara dua orang atau lebih dalam kaitannya dengan pekerjaan, bisnis, usaha, persahabatan sampai bertetangga.

Banyak orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan dengan orang lain dengan cara mengalahkan orang lain, merendahkannya atau menyingkirkannya. Banyak juga yang berusaha menjadi lebih baik dibanding orang lain dengan ukuran penampilan luar atau ukuran duniawi semata, seperti mobil lebih mewah, rumah lebih besar, pakaian dan asesories lebih mahal, dll.

Ada juga orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan orang lain dengan ukuran lebih tinggi dalam kedudukan atau pangkat, jabatan dan berbagai gelar lainnya. Mereka berusaha  lebih tinggi dibanding lainnya dalam hal kehormatan, kesombongan, popularitas, keegoan pribadi, dll.

Kalau mencermati makna sesungguhnya dari hadits tersebut diatas, sesungguhnya bukan hal seperti ini yang menjadi makna terdalam. ” Jadilah yang paling baik dari dua orang manusia” yang dimaksudkan adalah lebih baik dibanding orang lain dalam hal mengutamakan kepentingan orang lain. Menjadi lebih baik dibanding orang lain dalam hal memberikan manfaat bagi orang lain. Lebih baik dalam menjaga kerendahan hati, dalam berbagi kebaikan, dalam kejujuran, menolong orang lain, mengembangkan sikap empati, dalam cinta kasih dan kesetiaan.

Kalau kita sebagai pengusaha, jadilah pengusaha paling baik diantara pengusaha lainnya, dengan cara menjalankan bisnis dengan mengedepankan nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, keadilan, kebijaksanaan dan etika yang dilandasi hati nurani. Berorientasi pada memberikan banyak manfaat bagi orang lain, mengutamakan kepentingan konsumen, memberikan pelayanan yang baik, dll.

Kalau kita sebagai karyawan, berusahalah menjadi paling baik dibandingkan dengan orang lain dengan kesediaan membantu orang lain, memberikan pelayanan lebih baik, mengutamakan kepentingan orang lain, mengedepankan kejujuran, profesionalisme, dll.

Marilah kita renungkan, dalam berbagai bidang kegiatan kita, baik sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai keluarga, sebagai pemimpin, sebagai warga masyarakat, apakah sudah meneladani sikap seperti ini ?. Berusahalah menjadi orang paling baik dalam kehidupan ini, bukan hanya diukur dari penampilan duniawi tetapi dari manfaat yang kita berikan dalam kehidupan.