Oleh: Eko Jalu Santoso
Hidup di dunia ini setiap orang harus memiliki satu keyakinan atau “belief”. Apalagi kita hidup di era “hypercompetitive” sekarang ini. Mudah sekali manusia terombang-ambing oleh berbagai situasi, keadaan, tekanan, keinginan, nafsu, ego dan lain sebagainya.
Banyak orang rela setiap hari bangun pagi, berangkat ke tempat pekerjaan jam 06.00 pagi, rela bermacet-macet di jalanan 1 sampai 2 jam, kemudian sibuk dengan berbagai kegiatan pekerjaan hingga larut malam, apa sesungguhnya yang mereka perjuangkan ? Mungkin ketika ditanyakan kepada mereka, banyak yang tergagap dan tidak dapat menyebutkan apa sesungguhnya yang diperjuangkannya.
Manusia mudah terombang-ambing oleh berbagai keinginan yang dikuasi nafsu pribadinya. Sudah memiliki motor, ingin memiliki mobil, sudah punya mobil ingin lebih mobil lebih mewah lagi. Sudah punya satu usaha, ingin usahanya bisa menguasai semua lini bisnis, punya rumah ingin apartemen, dan seterusnya. Kemudian hidupnya dikendalikan oleh keinginannya. Begitu sibuknya mengejar keinginannya, hingga seringkali mengabaikan nilai-nilai spiritual kebenaran dalam memperjuangkan keinginannya. Inilah manusia yang tidak memiliki keyakinan atau belief yang benar.
Ketika ia tidak menemukan keinginannya, ketika menemukan masalah dan kesulitan dalam hidupnya, kemudian mengeluh:
Hidup ini kok tidak adil ya,
Hidup ini terasa berat ya,
hidup ini penuh dengan cobaan
Kemudian kita bertanya, mengapa Tuhan memberikan kesulitan dan masalah pada kita ?
Marilah kita renungkan kembali, benarkah Tuhan yang memberikan masalah atau kita sebenarnya yang menciptakan masalah sendiri ? Banyak orang yang terombang-ambing oleh berbagai tekanan-tekanan hidup. Bahkan seringkali ia merelakan dirinya melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan suara hatinya sendiri, seperti korupsi, menipu, menjilat, menggelapkan pajak, dll. Semua dilakukannya demi memenuhi kewajibannya membayar kartu kredit, membayar tagihan kredit mobil, tagihan kredit apartemen, atau membiaya hidup istri simpanan, atau demi kemewahan hidup, dll.
Manusia seperti ini ketika menemukan masalah dan kesulitan hidup, kemudian menganggap seolah-olah hidup ini begitu susahnya, menganggap hidup ini menyakitkan, hidup ini penuh dengan tekanan. Kemudian bertanya kepada Tuhan, mengapa Tuhan memberikan hidup yang begitu susah pada kita? Renungkanlah kembali, benarkah Tuhan memberikan kesusahan, atau kita sendiri yang mencari kesusahan ?
Pernahkah kita bertanya kedalam hati siapa sesungguhnya kita ini ?
· Untuk apa kita hidup ?
· Apa artinya hidup ini ?
· Apa sesungguhnya yang kita diperjuangkan dalam hidup ini ?
· Kemana tujuan akhir hidup kita ?
Itulah pentingnya kita memiliki satu keyakinan atau “beilef” dalam hidup ini. Dengan mengenal jawaban itu semua akan menuntuk kita menemukan siapa Tuhan kita sebenarnya. Hal ini akan menuntun kita memiliki Keyakinan atau belief bahwa kita ini “hamba” atau “abdi” Allah SWT.
Bahwa hidup ini adalah kehendak Allah SWT.
Bahwa hidup ini hanya untuk Allah SWT.
Bahwa apa yang kita lakukan dalam hidup ini hanyalah untuk Allah Sang Pemberi Kehidupan.
Bahwa hidup ini akan kembali kepada Allah.
Dengan demikian hidup ini sesungguhnya hanya untuk mengabdi kepada Allah, bukan mengabdi kepada keinginan, bukan mengabdi pada kekuasaan, bukan mengabdi kepada pekerjaan atau mengabdi kepada orang lain.
Keyakinan seperti ini dapat membawa kita terhindar dari hidup yang diperbudak oleh uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, pekerjaan atau bahkan hidup mengabdi kepada orang lain. Menghindarkan diri kita untuk ber’Illah” selain kepada Allah.
Keyakinan hidup hanya untuk Allah, menjadikan hidup terasa damai, hati menjadi tenang, karena setiap apa yang dilakukan berorientasi memiliki nilai Ibadah kepada Allah. Hidup menjadi terasa lebih mudah, karena yakin akan kebesaran Allah. Bekerja dari pagi hingga sore, tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai ibadah kepada Allah, belajar sampai jenjang pendidikan paling tinggi tujuannya adalah mengabdikan ilmu untuk bernilai ibadah kepada Allah. Melakukan bisnis dan usaha selalu dilandasi nilai-nilai sesuai suara hati yang bertujuannya adalah memberikan nilai ibadah kepada Allah.
Kalau sudah demikian, maka akan muncul kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri. Hidup ini sesungguhnya untuk orang-orang disekitar kita juga. Hidup ini untuk orang-orang yang memerlukan bantuan kita juga. Hidup ini untuk berbagi dan lebih banyak membantu orang lain. Berbagi apa saja yang dapat dibagikan sesuai kemampuan.
Demikian juga ketika saya menulis buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan saat ini sudah beredar di toko-toko buku Gramedia dan toko buku Kharisma di seluruh Indonesia, saya menempatkan tujuannya untuk berbagai kepada banyak orang. Berbagi apa ? Tentu saja berbagi pemikiran-pemikiran kepada banyak orang yang membacanya. Karena menulis sesungguhnya adalah panggilan hati saya untuk berbagi dengan orang lain.
Kalau kemudian para pembaca budiman merasakan manfaat, terinspirasi, termotivasi dengan membaca tulisan dalam buku saya, manfaatnya akan mereka rasakan sendiri. Dengan merasakan manfaatnya bagi perubahan kehidupan, diharapkan merekapun akan tergugah berbagi dengan orang lain disekitarnya. Dan saya yakin kalau orang lain dapat merasakan manfaat positifnya bagi perubahan hidup, maka sayapun pasti akan merasakan manfaatnya dalam kehidupan ini.
Manusia yang sudah mencapai tingkatan hidup memikirkan orang lain, kesadaran hidup untuk memberikan kontribusi positif kepada orang lain dan alam semesta, artinya mereka berdamai degan orang lain. Mereka hidup berdamai dengan alam semesta dan kehidupan. Kita tidak melawan hukum kehidupan, tidak melawan orang lain dan tidak melawan hukum alam semesta. Kalau istilahnya Prof. Johanes Surya yang melatih anak-anak sekolah sukses mengikuti olimpiade fisika adalah “MESTAKUNG” atau alam semesta mendukung. Maka yang datang adalah kedamaian, kebahagiaan dan keagungan dalam diri.
Manusia yang menempatkan diri dalam kehidupan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan orang lain juga, mereka akan menjadi manusia yang penuh cinta kasih, manusia yang memiliki empati. Ini sudah meningkat satu tingkatkan lebih tinggi mengenai misi hidup, yakni hidup menjadi rahmat bagi alam semesta dan kehidupan dunia atau menjadi “rahmatan lilalamin”. Renungkanlah. SEMOGA BERMANFAAT
Salam Motivasi Sukses & Mulia,
***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia, Founder Majelis Al-Ihsan Indonesia dan Penulis buku “The Art of Life Revolution” dan buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.