Archive for February, 2007

HIDUP PENUH MAKNA

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

 “Hidup bukan hanya untuk diri sendiri”, pernahkah Anda mendengar kata-kata tersebut? Kalau kita cermati lebih dalam, maka ada makna tersembunyi yang jauh lebih luas yakni Hidup ini sesungguhnya bukan kehendak kita, tetapi kehendak Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Kehidupan. HIDUP bukanlah semata-mata untuk diri kita sendiri, melainkan HIDUP untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan kehidupan alam semesta ini.

Kalau kita melakukan sebuah perjalanan ke dalam diri kita sendiri “inner journey”, maka kita akan menemukan bahwa sesungguhnya diri kita ini sangat mengagumkan. Bahwa hidup kita ini sangat mengagumkan, maka sepantasnya kalau kemudian kita menghargai kehidupan kita ini, menggunakan hidup ini untuk lebih bermakna. Menghargai HIDUP berarti menjalani hidup ini penuh makna, menggunakan hidup ini untuk memberikan manfaat bagi kesejahteraan diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Bagaimana menggunakan hidup kita agar menjadi lebih bermakna ? Bagaimana menghargai hidup yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Memiliki Kehidupan ? Apa yang harus dilakukan dalam hidup agar menjadi lebih bermakna ? Tentu banyak sekali jawaban-jawaban yang bisa dituliskan dalam menghargai hidup ini. Banyak sekali cara-cara dalam menggunakan hidup menjadi lebih bermakna. Namun disini saya berbagi bebera tips dalam menghargai hidup kita ini.

1. Mengubah Orientasi Hidup Lebih Memikirkan Orang Lain

Pikirkan sejenak, apakah Anda sering memikirkan diri sendiri dibandingkan orang lain ? Misalnya berpikir bagaimana memenuhi keinginan sendiri, ingin pekerjaan lebih baik, ingin penghasilan lebih tinggi, ingin rumah lebih mewah, ingin mobil lewah baru, ingin bisnis lebih besar, ingin hidup lebih kaya dan ingin-ingin yang lainnya. Kalau hal itu yang selalu ada dalam pikiran kita, artinya lebih sering memikirkan diri sendiri. Kalau itu yang memenuhi benak pikiran kita, artinya kita  hanya berpusat pada diri sendiri dan mementingkan diri sendiri.

Dalam buku saya The Art of Life Revolution, yang diterbitkan oleh Elex Media, salah satu cara untuk “merevolusi” hidup kita adalah memulai mengubah pusat hidup kita dengan memikirkan orang lain. Misalnya memikirkan bagaimana membantu anak-anak yatim agar bisa bersekolah, membantu fakir miskin yang kesulitan membeli sembako, bagaimana membantu memberikan pekerjaan bagi pengangguran, membantu orang tak berdaya, memikirkan orang yang kurang rejeki, orang yang tidak pernah dibantu hidupnya. Itu artinya kita sudah mulai memikirikan orang lain, tidak hanya memikirkan diri sendiri saja. Ini akan membawa kita lebih dekat dengan kemudahan, kebahagiaan dan keberuntungan dalam hidup.

2. Meningkatkan empati kepada orang lain.

Bersikap empati kepada orang lain merupakan salah satu cara menghargai HIDUP kita. Bersikap empati berbeda pengertiannya dengan sikap simpati. Sikap simpati lebih merupakan kesepakatan penilaian terhadap orang lain. Sedangkan sikap empati lebih menekankan pada mengerti orang lain, memahami kondisi orang lain  secara emosional dan intelektual. Artinya kita menggunakan ketajaman mata hati untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, berusaha melihat kesulitan orang lain.

Bersikap empati, sederhananya memandang keluar melalui kerangka pikiran orang lain, atau melihat dunia dan hubungan dengan orang lain melalui kaca mata orang lain.

Bagaimana caranya ?. Kita dapat memulainya dengan menumbuhkan pemahaman dan perasaan dari dalam jiwa kita. Menanamkan tekad dari dalam hati untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Memiliki kerendahan hati, kesediaan berbagi kebaikan dengan orang lain. Memiliki kesediaan hati berbagai kegembiraan disaat memperoleh kemenangan dan memberikan dorongan disaat mengalami kesulitan.

3. Banyak Melepaskan Energi Positif.

Melepaskan energi positif artinya banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan positif. Memandang hidup ini dari kaca mata positif dan banyak melakukan hal-hal positif. Pernahkah Anda merasakan kebahagiaan pada saat menolong orang yang sedang benar-benar kesuksesan, misalnya ? Itulah sesungguhnya kebahagiaan yang menyentuh aspek spiritual. Menolong orang lain adalah pekerjaan positif, artinya kita melepaskan energi positif kepada orang lain.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk melepasakan energi positif ini, diantaranya mungkin anda punya semangat, punya ide, punya solusi bagi orang lain, maka berbagilah semangat, ide dan solusi itu dengan orang lain. Anda memiliki pemikiran-pemikiran posisitif, maka jangan malas menulisnya dan kirimkan melalui milis untuk orang lain. Semakin banyak anda melakukan pekerjaan positif, semakin banyak energi positif yang keluar dan semakin banyak yang akan kembali Anda terima. Mungkin anda akan menerimanya dalam bentuk yang berbeda, misalnya kebahagiaan hati, kepuasaan jiwa, ketenangan hidup bahkan bisa saja berbagai kemudahan rejeki, dll.

4. Hadapkan Wajah Hanya Kepada Allah SWT

Hidup ini hanyalah ‘pemberian’ dari Yang Maha Memberi. Maka Dia-lah yang berkuasa juga untuk mengambilnya kembali.  Dialah Allah Tuhan yang mengatur kehidupan kita ini. Dia pulalah yang berkuasa memberikan kemudahan, keberhasilan atau kesulitan dalam kehidupan kita. Tentunya itu semua bermula dari bagaimana cara kita menghargai hidup yang sudah diberikan oleh-Nya.

Menghadapkan wajah kepada Allah, artinya menjaga keseimbangan dalam hidup ini hanya selalu mengorbit dan beredar dalam lingkaran yang berpusat pada hati nurani. Karena hati adalah pusat makna tertinggi dalam kehidupan yang didalamnya sudah ada sifat-sifat mulia Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Menghadapkan wajah kepada Allah artinya, bertawakal dan berserah diri kepada Allah. Hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah, melalui berbagai bidang pekerjaan, melalui bisnis, maupun kehidupan lainnya. Bersyukur menerima kehidupan ini dan bersabar dalam setiap langkah kehidupan. Meskipun demikian tidak pernah berhenti ber-ikhtiar melalui usaha lahiriah yang cerdas dan keras.

Lebih lengkap dapat dibaca di buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan Elex Media. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

AWALI DENGAN KEBIASAAN MEMBERI

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Pernah saya menanyakan kepada anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, apa yang paling menyenangkan dalam hidup ini ? Jawabnya adalah menerima hadiah yang bagus, bukan hanya pada hari ulang tahun, tetapi kalau bisa menerima hadiah setiap hari.

Menerima sesuatu pemberian orang lain, apakah itu hadiah, sekedar pujian atau sesuatu lainnya pasti sangat menyenangkan. Tidak hanya bagi anak-anak, siapapun Anda, apakah orang tua atau masih muda, apakah orang kaya atau miskin, apakah direktur atau karyawan biasa, pemimpin atau rakyat biasa, tentu merasa senang menerima hadiah atau sesuatu dari orang lain. Apalagi kalau sesuatu itu adalah yang memang kita harapkan dan kita tunggu-tunggu, inilah momen yang paling menyenangkan. Inilah perasaan dari sisi seseorang yang menerima sesuatu pemberian orang lain.

Bagaimana dengan seseorang yang menjadi “subjek” atau orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain ? Perasaan apa yang dirasakannya ? Apa imbalan yang akan didapatkannya ?. Seringkali orang salah mengartikan memberikan sesuatu kemudian berharap segera mendapatkan imbalan dari orang yang diberinya. Ini adalah prinsip yang salah yang dapat menghilangkan nilai dari pemberian itu, karena tidak dilakukan dengan niat keikhlasan hati.

Prinsip kebiasaan memberi dan berbagi sesungguhnya adalah prinsip investasi kepercayaan. Karena prinsip mendahulukan memberi, bukan menunggu dan meminta adalah prinsip melepaskan energi kebaikan dari dalam diri. Ingatlah prinsip aksi min reaksi. Bahwa sebuah aksi akan menciptakan reaksi. Dan prinsip kebiasaan memberi kebaikan akan menghasilkan pula sesuatu kebaikan, yakni berupa meningkatnya investasi energi kepercayaan dari orang lain.

Dalam berbisnis, dalam bekerja sebagai karyawan, dalam berkarya, dalam melakukan berbagai bidang kehidupan, kalau Anda ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Karena kebiasaan memberi adalah melepaskan energi positif dari dalam diri. Energi ini sesungguhnya tidak pernah hilang dari muka bumi, hanya akan berubah bentuk saja.

Energi positif berupa kebaikan ini akan kembali kepada diri kita dalam jumlah yang berlipat ganda. Bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda, misalnya mendapatkan kebahagiaan hati, kesenangan batin, ketenangan, kemudahan hidup, rejeki, keselamatan atau ditolong orang lain. Inilah prinsip hukum kekekalan energi.

Apa sih yang harus diberikan ?
Apa sih yang harus dibagikan ?
Apakah harus uang, harta atau Perhatian ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terlintas dalam benak Anda.

Banyak hal yang dapat diberikan dan dibagikan kepada orang lain, tidak harus harta dan uang. Berikut ini beberapa hal kecil selain harta dan uang yang dapat dibagikan kepada orang lain sehingga dapat meningkatkan kepercayaan, contohnya:

- Memberikan perhatian yang tulus kepada orang lain
- Memberikan penghargaan kepada orang lain
- Mau mengerti penderitaan dan kesulitan orang lain
- Mau mendengarkan orang lain berbicara
- Menjadikan orang lain merasa penting dihadapan kita
- Memberikan pujian kepada orang lain
- Menolong orang yang memerlukan bantuan
- Berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan

- Mengerti perasaan orang lain
- Dll

Intinya awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Mengawali dengan kebiasaan memberi sebenarnya adalah mengikuti sifat-sifat mulia Allah SWT yang sudah “built in” dalam hati kita. Yakni sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bagaimana dapat menjaga keikhlasan hati dalam memberi ? Kuncinya adalah menjaga kejernihan hati nurani. Dalam buku saya “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani” yang diterbitkan Elex Media Komputindo, diuraikan bagaimana proses menjernihkan hati kita. Intinya, mulailah dengan selalu mengucapkan niat “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”. Jadikanlah hal ini sebagai kebiasaan dalam setiap memulai langkah kehidupan dan rasakan efektivitasnya dalam kehidupan Anda.

Salam Motivasi Sukses Dan Mulia

***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia (motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com), Penulis Buku “The Art of Life Revolution” & buku “Heart Revolution”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo: http://elexmedia.multiply.com/reviews/item/235

MENTALITAS MEMBERI VS MEMINTA

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Seorang teman yang seringkali menerima email saya pernah mengatakan, “Mengapa kamu senang menulis dan mengirimkan tulisan ke berbagai milis ?. Bukankah membuang-buang waktu saja dan nggak mendapatkan apa-apa dari menulis di milis, alias nggak ada uangnya ?. “ Dalam benak pikiran teman saya ini, kalau tidak ada imbalannya uangnya, buat apa dikerjakan. Baginya melakukan sesuatu kepada orang lain, harus selalu diukur dengan mendapatkan imbalan uang.

Seorang kenalan lain, setiap ketemu isi pembicaraannya adalah bagaimana caranya kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Misalnya, dia mengajak saya makan siang, begitu selesai makan dan waktunya membayar, selalu ada saja alasannya untuk tidak membayar. Di lain waktu dia datang ke meja saya dengan bangga mengatakan, ” Aku baru saja ditraktir makan sama Anto di bakmi vietnam di Sabang, enak lho.” Ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali dan dengan banyak teman lainnya. Dalam hati saya, “hah, yang benar saja, dibayarin orang lain kok membanggakan diri.” Anehnya, kenalan ini adalah seorang manager yang berpendidikan tinggi, yang jelas-jelas tidak kesulitan keuangan karena memiliki penghasilan yang cukup.

Saya yakin andapun dengan mudah akan menemukan orang-orang model seperti ini. Mungkin ada tetangga yang kalau didatangi untuk dimintai sumbangan sosial, susahnya minta ampun. Namun pada saat dia ada keperluan, dengan seenaknya meminta tolong ke orang lain, misalnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mendahulukan meminta, bukan memberi. Mereka mengukur segala sesuatu dengan hasil yang didapatkannya, melakukan sesuatu harus ada uangnya. Mungkin semboyannya adalah, “kalau bisa meminta, kenapa harus beli.” Inilah yang saya sebut sebagai orang-orang yang memiliki Mentalitas Meminta.

Mentalitas Meminta, biasanya didasari oleh kekawatiran dalam dirinya akan  kekurangan dan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti. Pikirannya dipenuhi kekawatiran, kalau banyak memberi akan menjadi kekurangan. Akibatnya kelompok ini senang mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan, ilmu untuk dirinya sendiri.  Memikirkan orang lain harus ada imbalannya. Inilah pribadi-pribadi egois yang memiliki mentalitas meminta.

Dalam kehidupan ini saya belum pernah menemukan orang-orang yang memiliki mentalitas meminta seperti ini menjadi berhasil dan sukses. Karena biasanya dalam dunia bisnis, dalam pekerjaan mereka mengembangkan kompetisi yang cenderung menjatuhkan orang lain, merendahkan orang lain dan tidak jarang dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Sebagai karyawan, sebagai pengusaha, sebagai pegawai, mereka selalu mendahulukan meminta hak-haknya dan seringkali tidak memperhatikan kewajibannya. Inilah ciri-ciri mental para “loser”.

Bagaimana dengan mentalitas memberi ? Mereka yang memiliki mentalitas memberi berkeyakinan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak kesempatan hidup diluar sana yang tidak akan serba kekurangan. Mereka berkeyakinan seolah-olah ada begitu banyak kue kehidupan yang berlimpah, yang tidak akan pernah habis untuk dibagi-bagi dengan banyak orang. Mereka berkeyakinan memberi dan berbagi adalah bentuk pelepasan energi positif dari dalam dirinya untuk orang lain dan alam semesta. Sehingga dalam berhubungan dengan orang lain selalu berprinisp mendahulukan memberi, bukan meminta.

Banyak bukti-bukti keberhasilan bagi mereka yang memiliki mentalitas memberi. Kalau ukurannya dalam bidang spiritual, lihatlah sosok seperti A’a Gymnastiar yang memiliki kesuksesan dengan senantiasa berbagi ilmu dan tausyiahnya dimana-mana. Demikian juga dnegan sosok ustad Arifin Ilham, dengan keikhlasannya senantiasa memberi dan berbagi ilmu dengan orang lain. Kalau ukurannya materi duniawi, boleh dilihat para entertainer yang memiliki pekerjaan dengan memberikan pelayanan melalui hiburan, seperti Krisdayanti, Tamara Blezynski, atau Samsons.

Mereka memberikan pelayanan kepada orang lain melalui menyanyi, berakting, dll. Pada umumnya mereka mendapatkan bayaran yang lebih tinggi dibandingkan lainnya. Kalau ukurannya adalah kepuasan batin, lihatlah mereka yang pekerjaannya memiliki idealisme dalam pelayanan untuk banyak orang, kegiatan sosial, dll. Mereka merasakan kebahagiaan yang menyentuh nilai-nilai spiritual yang merupakan kebahagiaan tertinggi dalam hati.

Kalau kita ingin berhasil meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup ini, mulailah mengubah mentalitas diri kita menjadi Mentalitas Memberi. Berikan segenap karunia potensi yang anda miliki, keluarkan potensi spiritual yang anda miliki, untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kewajiban hidup kita bukan hanya mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga mensejahterakan kehidupan orang lain.

Hal ini sesuai dengan wujud ihsan manusia kepada sifat-sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyanang. Rasakan kehidupan akan memberikan kemudahan-kemudahan yang tak terduga untuk Anda. Salam Motivasi Nurani Indonesia.

10 PRINSIP BERBISNIS DENGAN HATI

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Pandangan lama sudah bergeser. Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Bahkan sekarang ini banyak pengusaha menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha selain mengejar “profit” sesungguhnya bisa bermakna lebih luas bagi hidup. Bukan sekedar mengejar profit bruba keuntungan material, namun mengejar profit berupa keuntungan nilai-nilai yang bermakna bagi kepuasan spiritual. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka.

Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka biasanya mudah terjebak dalam bisnis yang serakah, melakukan penyimpangan, melanggar tatanan kehidupan. Kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya, belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat bernilai ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah “built in” dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya  bukan sekedar berhubungan  dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda  telah  berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.
(motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com)

Sumber: Buku “THE WISDOM OF BUSINESS: Sukses Berbisnis Dengan Nilai Kearifan Hati Nurani”, oleh Eko Jalu Santoso, diterbitkan Elex Media Komputindo.

BERPIKIR SEDERHANA

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang seorang pemburu yang menginginkan buruan paling besar ? Kisah ini entah sumber awalnya dari mana, tetapi kisah ini sangat berkesan bagi saya. Ceritanya begini, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa perlengkapan berburunya. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya agar berhasil mendapatkan binatang buruan. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa dewasa.

Tidak lama setelah memasuki hutan, seekor kelinci lewat di depannya. Dengan sekali bidikan senjata atau ayunan parang tajam yang dibawanya, kelinci itu pasti diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelinci kecil ? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?” Dibiarkanlah si kelinci lewat dihadapannya.

Tidak lama berselang, seekor kancil kecil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya dan tidak mengetahui keberadaan dirinya, maka dengan sekali bidikan pasti diperolehnya. Tetapi sang pemburu berpikir, “Ah, hanya seekor kancil kecil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Sekali lagi dibiarkanlah kancil kecil ini lewat dihadapannya.

Agak lama sang pemburu menjelajahi hutan menunggu buruannya. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh dengan bidikan senjatannya, tetapi ternyata, ah…kijang kecil. “Ah kurang besar”, pikirnya. Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia berjalan mencari buruannya, tetapi tidak bertemu dengan rusa yang lewat, sehingga ia sampai kelelahan dan beristirahat tertidur dibawah pohon. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, “Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menembaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Seringkali tanpa kita sadari kita melewatkan berbagai kesempatan-kesempatan kecil dihadapan kita, hanya karena kita berpikir sesuatu yang besar saja. Padahal kesempatan-kesemptan kecil itu sudah pasti dihadapan kita. Kita menganggap bahwa hal-hal kecil ini tidak memberikan manfaat apa-apa untuk dilakukan. Demikian juga dalam kehidupan ini, banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya, sehingga mengabaikan hal-hal kecil dan sederhana. Ia berpikir yang tinggi-tinggi saja dan tidak mau mempedulikan yang kecil-kecil dihadapannya. Bicaranya pun terkadang sulit dipahami, karena terlalu diawang-awang dan tidak membumi.

Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Kesempatan-kesempatan bisnis yang ada dianggapnya kurang bergengsi, terlalu kecil dll. Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya kesempatan-kesempatan itu berlalu dan ia tidak mendapatkan apa-apa.

Seorang yang ingin memulai usaha misalnya, terkadang menganggap kesempatan-kesempatan kecil dihadapannya dianggapnya tidak bergengsi atau terlalu kecil dikerjakan. Dalam benaknya, ” saya ingin memulai usaha yang besar, bergengsi dan memberikan keuntungan tinggi.” Akibatnya langkahnya seringkali terhenti, karena yang besar itu membutuhkan persiapan dan modal yang sangat besar, sehingga ia terlalu penuh perhitungan dan tidak berani memulainya. Walhasil, ia tidak melangkah dan memiliki pengalaman memulai usaha sekalipun.

Seorang yang ingin menulis buku misalnya, terkadang pikirannya hanya dipenuhi bahwa “saya hanya akan menulis hal-hal yang besar dan hebat saja”. Sehingga jemarinya menjadi tertahan, meskipun sebenarnya banyak hal-hal yang dikuasainya bisa diungkapkannya melalui tulisan. tetapi ia selalu berpikir “ah ini terlalu dangkal dan tidak mendalam”. Akhirnya menjadi tertahan untuk mulai menguntai kata. Walhasil, tidak satu tulisanpun terselesaikan.

Seorang penulis buku “best seller” misalnya, kebanyakan mereka baru berhasil menjadi best seller setelah menuliskan beberapa bukunya. Buku pertamanya mungkin yang membaca baru 2,000 pembaca, buku kedua mungkin meningkat menjadi 3,000 pembaca, maka buku ketiga bisa berlipat menjadi 10,000 pembaca, karena semakin banyak orang telah mengenal pemikirannya. Iapun menjadi penulis “best seller”, misalnya. Semuanya dimulai dari yang kecil dan jarang yang pertama langsung menjadi besar.

Setiap orang tentu saja memerlukan harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak dan ambil setiap kesempatan yang datang. Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat dan tidak berani berpikir besar. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Allah SWT mengajarkan kepada kita masalah-masalah kecil terlebih dahulu sebelum kemudian mempercayakan perkara besar. Lagipula kita harus menyadari tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna yang memenuhi semua idealisme kita.

Berpikirlah sederhana, dengan memulai dari hal-hal kecil yang ada dihadapan kita. Konsisten pada hal-hal kecil akan membawa kita menuju tujuan yang besar. Bukankah sebuah kata bijak mengatakan “langkah seribu mil hanya bisa dimulai dari satu langkah kecil.” Renungkanlah.

KEYAKINAN “BELIEF”

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh: Eko Jalu Santoso

Hidup di dunia ini setiap orang harus memiliki satu keyakinan atau “belief”. Apalagi kita hidup di era “hypercompetitive” sekarang ini. Mudah sekali manusia terombang-ambing oleh berbagai situasi, keadaan, tekanan, keinginan, nafsu, ego dan lain sebagainya.

Banyak orang rela setiap hari bangun pagi, berangkat ke tempat pekerjaan jam 06.00 pagi, rela bermacet-macet di jalanan 1 sampai 2 jam, kemudian sibuk dengan berbagai kegiatan pekerjaan hingga larut malam, apa sesungguhnya yang mereka perjuangkan ? Mungkin ketika ditanyakan kepada mereka, banyak yang tergagap dan tidak dapat menyebutkan apa sesungguhnya yang diperjuangkannya.

Manusia mudah terombang-ambing oleh berbagai keinginan yang dikuasi nafsu pribadinya. Sudah memiliki motor, ingin memiliki mobil, sudah punya mobil ingin lebih mobil lebih mewah lagi. Sudah punya satu usaha, ingin usahanya bisa menguasai semua lini bisnis, punya rumah ingin apartemen, dan seterusnya. Kemudian hidupnya dikendalikan oleh keinginannya. Begitu sibuknya mengejar keinginannya, hingga seringkali mengabaikan nilai-nilai spiritual kebenaran dalam memperjuangkan keinginannya. Inilah manusia yang tidak memiliki keyakinan atau belief yang benar.

Ketika ia tidak menemukan keinginannya, ketika menemukan masalah dan kesulitan dalam hidupnya, kemudian mengeluh:

Hidup ini kok tidak adil ya,

Hidup ini terasa berat ya,

hidup ini penuh dengan cobaan

Kemudian kita bertanya, mengapa Tuhan memberikan kesulitan dan masalah pada kita ?

Marilah kita renungkan kembali, benarkah Tuhan yang memberikan masalah atau kita sebenarnya yang menciptakan masalah sendiri ? Banyak orang yang terombang-ambing oleh berbagai tekanan-tekanan hidup. Bahkan seringkali ia merelakan dirinya melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan suara hatinya sendiri, seperti korupsi, menipu, menjilat, menggelapkan pajak, dll. Semua dilakukannya demi memenuhi kewajibannya membayar kartu kredit, membayar tagihan kredit mobil, tagihan kredit apartemen, atau membiaya hidup istri simpanan, atau demi kemewahan hidup, dll.

Manusia seperti ini ketika menemukan masalah dan kesulitan hidup, kemudian menganggap seolah-olah hidup ini begitu susahnya, menganggap hidup ini menyakitkan, hidup ini penuh dengan tekanan. Kemudian bertanya kepada Tuhan, mengapa Tuhan memberikan hidup yang begitu susah pada kita? Renungkanlah kembali, benarkah Tuhan memberikan kesusahan, atau kita sendiri yang mencari kesusahan ?

Pernahkah kita bertanya kedalam hati siapa sesungguhnya kita ini ?

· Untuk apa kita hidup ?

· Apa artinya hidup ini ?

· Apa sesungguhnya yang kita diperjuangkan dalam hidup ini ?

· Kemana tujuan akhir hidup kita ?

Itulah pentingnya kita memiliki satu keyakinan atau “beilef” dalam hidup ini. Dengan mengenal jawaban itu semua akan menuntuk kita menemukan siapa Tuhan kita sebenarnya. Hal ini akan menuntun kita memiliki Keyakinan atau belief bahwa kita ini “hamba” atau “abdi” Allah SWT.

Bahwa hidup ini adalah kehendak Allah SWT.

Bahwa hidup ini hanya untuk Allah SWT.

Bahwa apa yang kita lakukan dalam hidup ini hanyalah untuk Allah Sang Pemberi Kehidupan.

Bahwa hidup ini akan kembali kepada Allah.

Dengan demikian hidup ini sesungguhnya hanya untuk mengabdi kepada Allah, bukan mengabdi kepada keinginan, bukan mengabdi pada kekuasaan, bukan mengabdi kepada pekerjaan atau mengabdi kepada orang lain.

Keyakinan seperti ini dapat membawa kita terhindar dari hidup yang diperbudak oleh uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, pekerjaan atau bahkan hidup mengabdi kepada orang lain. Menghindarkan diri kita untuk ber’Illah” selain kepada Allah.

Keyakinan hidup hanya untuk Allah, menjadikan hidup terasa damai, hati menjadi tenang, karena setiap apa yang dilakukan berorientasi memiliki nilai Ibadah kepada Allah. Hidup menjadi terasa lebih mudah, karena yakin akan kebesaran Allah. Bekerja dari pagi hingga sore, tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai ibadah kepada Allah, belajar sampai jenjang pendidikan paling tinggi tujuannya adalah mengabdikan ilmu untuk bernilai ibadah kepada Allah. Melakukan bisnis dan usaha selalu dilandasi nilai-nilai sesuai suara hati yang bertujuannya adalah memberikan nilai ibadah kepada Allah.

Kalau sudah demikian, maka akan muncul kesadaran bahwa hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri. Hidup ini sesungguhnya untuk orang-orang disekitar kita juga. Hidup ini untuk orang-orang yang memerlukan bantuan kita juga. Hidup ini untuk berbagi dan lebih banyak membantu orang lain. Berbagi apa saja yang dapat dibagikan sesuai kemampuan.

Demikian juga ketika saya menulis buku “The Art of Life Revolution” yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan saat ini sudah beredar di toko-toko buku Gramedia dan toko buku Kharisma di seluruh Indonesia, saya menempatkan tujuannya untuk berbagai kepada banyak orang. Berbagi apa ? Tentu saja berbagi pemikiran-pemikiran kepada banyak orang yang membacanya. Karena menulis sesungguhnya adalah panggilan hati saya untuk berbagi dengan orang lain.

Kalau kemudian para pembaca budiman merasakan manfaat, terinspirasi, termotivasi dengan membaca tulisan dalam buku saya, manfaatnya akan mereka rasakan sendiri. Dengan merasakan manfaatnya bagi perubahan kehidupan, diharapkan merekapun akan tergugah berbagi dengan orang lain disekitarnya. Dan saya yakin kalau orang lain dapat merasakan manfaat positifnya bagi perubahan hidup, maka sayapun pasti akan merasakan manfaatnya dalam kehidupan ini.

Manusia yang sudah mencapai tingkatan hidup memikirkan orang lain, kesadaran hidup untuk memberikan kontribusi positif kepada orang lain dan alam semesta, artinya mereka berdamai degan orang lain. Mereka hidup berdamai dengan alam semesta dan kehidupan. Kita tidak melawan hukum kehidupan, tidak melawan orang lain dan tidak melawan hukum alam semesta. Kalau istilahnya Prof. Johanes Surya yang melatih anak-anak sekolah sukses mengikuti olimpiade fisika adalah “MESTAKUNG” atau alam semesta mendukung. Maka yang datang adalah kedamaian, kebahagiaan dan keagungan dalam diri.

Manusia yang menempatkan diri dalam kehidupan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan orang lain juga, mereka akan menjadi manusia yang penuh cinta kasih, manusia yang memiliki empati. Ini sudah meningkat satu tingkatkan lebih tinggi mengenai misi hidup, yakni hidup menjadi rahmat bagi alam semesta dan kehidupan dunia atau menjadi “rahmatan lilalamin”. Renungkanlah. SEMOGA BERMANFAAT

Salam Motivasi Sukses & Mulia,

***Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia, Founder Majelis Al-Ihsan Indonesia dan Penulis buku “The Art of Life Revolution” dan buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

INNER & OUTER SUCCESS

Wednesday, February 14th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Ketika ditanyakan kepada setiap orang, apa yang menjadi tujuan hidupnya ? Sebagian besar akan menjawab ingin menjadi manusia yang sukses. Karena manusia adalah makhluk pencipta kesuksesan, apa pun paradigma kesuksesan tersebut baginya.

Kita cenderung terobsesi dengan berbagai prestasi tinggi dalam kehidupan duniawi. Perhatikan sejarah kehidupan telah mengukir prestasi tujuh keajaiban dunia, seperti piramida di Mesir, tembok besar di Cina, kompleks Taj Mahal di India, dll. Itu semua adalah monumen simbul hebatnya karya akal pikiran manusia yang selalu terobsesi mencapai prestasi kesuksesan tertinggi.

Demikian juga kisah kesuksesan dalam berbagai petualangan agung, seperti pendaratan Neils Amstrong di bulan, perjalanan mengelilingi dunia oleh Magelhaens atau Columbus, penerbangan pesawat ruang angkasa ke Mars, eksplorasi angkasa luar sampai ke galaksi-galaksi terjauh, semuanya adalah manifestasi dari roh kesuksesan manusia dalam dirinya.

Karya-karya agung di berbagai bidang kehidupan, seperti karya sastra, karya seni lukis dan penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semuanya dimotivasi oleh keinginan manusia mencapai tingkat kesuksesan tertinggi.

Pertanyaannya kemudian adalah benarkah kesuksesan dan prestasi seperti ini adalah kesuksesan tertinggi yang sejati ? Bagaimanakah sebenarnya mendefinisikan paradigma makna kesuksesan hidup di tingkatan yang lebih tinggi ? Bagaimana untuk mencapai kesuksesan hidup yang lebih bermakna ?

Saya pribadi belum menemukan makna kesuksesan hidup tertinggi dan masih dalam taraf belajar untuk terus menggali bagaimana sesungguhnya makna kesuksesan hidup dalam tingkatan yang lebih tinggi. Meski demikian, kita dapat mencermati penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, yang mengatakan, “Bahwa makna yang paling tinggi dan paling bernilai, dimana manusia akan merasa bahagia, justru terletak pada aspek spiritualitasnya”.

Demikian juga kita dapat menelaah lebih jauh pandangan pengusaha, pendakwah dan pendiri pondok pesantren Daarut Tauhid, A’a Gymnastiar, yang mengatakan, “orang sukses sejati adalah orang yang terus menerus berusaha membersihkan hatinya, terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan pengabdian terbaik dan memiliki keikhlasan dan kemuliaan akhlak.” Dengan demikian, orang sukses sejati adalah orang yang mampu mempersembahkan karya terbaik dalam hidupnya untuk kemaslahatan umat. Itulah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Yang perlu dipahami oleh kita semua adalah, bahwa kehidupan manusia merupakan pergulatan antara dua kepentingan utama, yakni kepentingan fisik dan kepentingan spiritual. Manusia sebagai makhluk fisik memiliki kepentingan fisik berupa hal-hal yang kita butuhkan untuk memenuhi kehidupan kita di dunia sekarang ini.

Sedangkan manusia sebagai makhluk spiritual yang abadi memiliki kepentingan spiritual berupa hal-hal yang kita butuhkan untuk memenuhi kehidupan di dunia dan kehidupan selanjutnya di masa mendatang. Dengan demikian kepentingan spiritual merupakan sebuah kebutuhan sekarang dan sekaligus kebutuhan jangka panjang. Kehidupan kita di dunia masih harus dilanjutkan dalam kehidupan di akhirat nanti. Akhir kehidupan kita sesungguhnya adalah pada saat kita dihadapkan pada persidangan Allah SWT di akherat nanti.

Kalau demikian, maka idealnya dalam menjalani kehidupan sebaiknya selalu berprinsip pada keseimbangan antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrawi. Dalam memandang makna sukses sebaiknya selalu menyelaraskan antara “inner success” dengan “outer success” dalam diri kita.

Artinya bagaimana kita dapat menyelaraskan dan menggunakan segenap potensi kedahsyatan hati, akal pikiran dan kekuatan fisik untuk memenuhi kehidupan dunia dan tidak mengabaikan kepentingan spiritual yang menjadi modal bagi kehidupan akhirat nanti

Dalam memperjuangkan memperjuangkan mendapatkan ilmu pengetahuan yang tinggi, meraih kekayaan materi, mendapatkan kekuasaan dan jabatan, mengejar popularitas pribadi dan semua aksesories duniawi, semata-mata menggunakannya untuk kepentingan kesuksesan hidup selanjutnya. Inilah prinsip “Ihsan” dalam berkarya, berbisnis, bekerja, belajar maupun dalam kehidupan yakni dilandasi hanya untuk kepentingan mengabdikan diri kita kepada Allah Tuhan Yang memiliki Kehidupan

Kalau prinsip seperti ini dapat dipahami dan dijadikan sebagai landasan kehidupannya, maka hatinya akan senantiasai menuju “taqarrub” kepada sifat-sifat mulia Allah yang sudah “built in” dalam dirinya. Hati nuraninya akan dapat menjadi pembimbing dalam setiap langkah kehidupannya.

Pertanyaannya adalah, Bagaimana kita dapat menyelaraskan antara “inner success” dengan “outer success” sehingga dapat saling bersinergi memberikan keberhasilan dalam hidup kita ? Bagaimana kita dapat menyeimbangkan antara kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan mempertahankan integritas hati nurani dalam kehidupan modern yang penuh dengan tantangan ini ?

Lebih lengkapnya silahkan membaca dalam buku The Art of Life Revolution” oleh Eko Jalu Santoso yang diterbitkan Elex Media Komputindo.

Salam Motivasi Nurani Indonesia: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

THE ART OF LIFE REVOLUTION

Tuesday, February 13th, 2007

Sahabat,

Alhamdulillah, sudah terbit buku saya berjudul: “The Art of Life Revolution: Perspektif Baru Memberdayakan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Dalam Mengubah Hidup Menjadi Pemenang.”
Buku

Penerbit Elex Media Komputindo, Penulis Eko Jalu Santoso, tebal 356 halaman, sudah bisa didapatkan di toko-toko buku Gramedia seluruh Indonesia mulai 1 Pebruari 2007. Mohon doa restu dan dukungan teman-teman semuanya.

SINOPSIS

___________________________________________________

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah menghadirkan perubahan yang luar biasa drastis dalam berbagai sektor kehidupan. Terjadi “quantum leap” atau lompatan waktu yang sangat luar biasa dan mengagumkan dalam bidang pengetahuan, teknologi maupun peradaban manusia. Hidup dalam abad modern yang semakin komplek dewasa ini, tentu memiliki banyak sekali tantangan. Mewajibkan kesiapan diri untuk berkontestasi dan berpartisipasi dalam usaha memenangkan hidup ini.

Buku “The Art Of Life Revolution” membahas bagaimana mempersiapkan diri menjadi seorang pemenang dalam kehidupan modern, dengan memberdayakan modal emosional dan spiritual dalam diri. Merupakan perspektif baru dalam mensinergikan antara kesuksesan luar “outer success” dengan kesuksesan ukhrawi atau “inner success” dalam meraih keagungan sebagai manusia. Kita diajak menatap dunia ini dengan pandangan yang seimbang, dengan menjadi realistis dalam kehidupan modern ini, namun tetap idealis berdasarkan nilai-nilai spiritual. Buku ini sangat tepat bagi Anda yang ingin mengubah hidup menjadi manusia sukses yang bermakna tinggi.”

____________________________________________________

PUJIAN-PUJIAN TULUS TERHADAP BUKU INI:

” Buku The Art Of Life Revolution” ini dapat menjadi acuan dalam memotivasi diri mengoptimalkan modal rasional, emosional dan spiritual. Kemampuan mengintegrasikan dan menyeimbangkan kecerdasan otak, pengendalian emosi, dan mempertahankan integritas hati nurani sangat diperlukan dalam memenangkan kehidupan modern yang semakin komplek.”

Prof. DR. Ir. Roy Sembel, MBA Academic Expert Advisor Universitas Ciputra Surabaya.

____________________________________________________

Excellent!!! Buku “The Art Of Life Revolution” secara jeli melihat dan mengurai benang merah dan karakteristik kehidupan modern yang sangat kompleks dan dinamis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti. Buku ini membimbing pembaca suatu cara menghadapi kehidupan dunia yang berubah secara cepat secra optimis dan realistik dengan memadukan paradigma duniawi dan ukhrowi secara seimbang. Sinergi berbagai aspek kehidupan, kemampuan emosional dan spiritual manusia telah diuraikan oleh penulis. Hal ini dapat menginspirasi dan memotivasi pembaca menjalani kehidupan yang dinamis dengan lebih optimis agar lebih berhasil dan bermakna.

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc. Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB).

___________________________________________________

Buku “The Art Of Life Revolution” adalah buku motivasi yang komplit. Eko Jalu Santoso sebagai penulis yang matang, mampu mengupas dan mensinergikan dua kekuatan yakni “Outer success” dan “Inner success” secara revolusioner. Buku ini sangat efektif guna “merevolusi” hidup kita agar mampu mencapai kesuksesan hidup yang berkualitas.

Andrie Wongso.Motivator No. 1 Indonesia, Penulis Bestseller, 15 & 16 Wisdom & Success Motivation.

* * * * *