Archive for the ‘ARTIKEL BISNIS’ Category

Berbisnis Dengan Nilai Spiritual

Friday, December 11th, 2009


BISAKAH menjalankan bisnis secara jujur ? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada para pengusaha atau marketer yang langsung berhubungan dengan klien, mereka pasti akan berpikir tidak hanya sekali untuk menjawab “bisa”. Pasalnya untuk menjalankan bisnis dengan tingkat kejujuran 100% ternyata tidak semudah seperti yang ditekadkan. “Kalau kita jujur seratus persen, mana ada klien yang mau bermitra dengan kami,” kata seorang pemasar produk komunikasi.

 

Persoalannya bisakah kita meraih keuntungan dengan menjunjung kejujuran dan etika ? Kalau pertanyaan itu kita tujukan kepada Eko Jalu Santoso, penulis buku The Wisdom of Business, jawabnya pasti bisa. Pasalnya menurut Eko, Tuhan adalah pemilik utama setiap pekerjaan dan organisasi perusahaan atau Bisnis yang sedang kita jalankan. Kalau kita sebagai pengusaha, pemilik perusahaan, atau pemegang saham, maka kita adalah pengelola lapis pertama yang diberi amanah oleh Tuhan (halaman 201).

 

Kalau kita adalah karyawan, pegawai, professional, kita adalah pengelola lapis kedua, ketiga dan seterusnya yang juga diserahi amanah oleh Tuhan. “Pada akhirnya semuanya akan bertanggungjawab kepada Tuhan. Kesadaran seperti ini dapat menjadi pembimbing bagi setiap pelaku dunia usaha untuk senantiasa mengambl tindakan sesuai dengan syariat yang dibernarkan oleh Tuhan,” tulisnya. Kesadaran itu akan mendorong setiap pelaku usaha dan professional untuk selalu tunduk dan mengorbit kepada pusat hati nurani yang merupakan pusat spiritual tertinggi.

 

Maka bisa dipahami jika pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio berpendapat buku yang ditulis Eko Jalu Santoso itu mampu memberikan paradigma baru terhadap bisnis dan entrepreneurship. Menurut Antonio, berbisnis bukan saja bertujuan untuk mencari keuntungan semata, tapi juga dapat memberdayakan sesama, mengurangi pengangguran, memperbaiki lingkungan, memberikan pendapatan untuk negara, dan menjadikan hidup lebih bermakna. “Oleh karena itu, proses bisnis tidak boleh dilepaskan dari upaya menghadirkan keagungan Tuhan, keluhuran moralitas, dan suara hati dalam setiap tahapannya,” komentar Antonio.

 

Sudahkah para pelaku Bisnis dan para professional di dalamnya telah menjalankan Bisnis mereka dengan moral tinggi ? Fakta tidak bisa dimungkiri, iklim kehidupan Bisnis modern yang cenderung mementingkan keberhasilan materialisme, sebagaimana diungkap Eko Jalu Santoso dalam pengantarnya, mendorong para pelaku Bisnis dan masyarakat umum memiliki paradigma sempit tentang arti dunia Bisnis pada umumnya.

 

Judul Buku     : The Wisdom of Business

Penulis            : Eko Jalu Santoso

Penerbit          : Elex Media Komputindo, 2009

Tebal               : xxx + 239 halaman

 

Perspektif Berbeda

 

Buku The Wisdom of Business ini memberikan perspektif berbeda, memberikan prinsip Bisnis yang baik, meraih sukses dengan mengedepankan nilai spiritual universal berdasarkan suara nurani. Adakah pelaku Bisnis yang meraih sukses dengan mengedepankan nilai-nilai spiritual ? Jelas ada. Eko Jalu memberi contoh William Soeryadjaya, pendiri PT Astra International yang berhasil membangun dan membesarkan Astra setelah menyerahkan diri kepada Tuhan.

 

Begitu juga dengan Thayieb Mohammad Gobel yang menjadikan Bisnis sebagai ladang kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang. Prinsip serupa juga ada pada Bill Gates, Warren Buffett, dan Muhammad Yunus. Singkat cerita, lewat buku ini, penulis mengajak siapapun pebisnis untuk menghidupkan spiritualitas dalam berbisnis. (Gantyo Koespradono/M-4)

 

Sumber: Berbisnis Dengan Nilai Spiritual oleh Gantyo Koespradono, Media Indonesia Sabtu 22 Agustus 2009. 

The Wisdom of Business - Daily Quote5

Wednesday, January 7th, 2009


“Kebaikan adalah bentuk khusus dari kebenaran dan keindahan. Ia adalah kebenaran dan keindahan dalam bentuk perilaku manusia.”

-       H.A. Overstreet –

 

Untuk menggapai kesuksesan dan kemuliaan dalam pekerjaan dan bisnis, bukan hanya diperlukan telenta yang kuat dalam diri seseorang, melainkan juga harus memiliki karakter yang baik. Seseorang yang memiliki talenta yang kuat dan didukung dengan karakter yang baik, kekuatannya tidak akan pernah bisa disembunyikan dari siapa pun. Karena kekuatannya dan kebaikannya akan memancar keluar dan menarik banyak peluang-peluang bagus dan kemudahan mendekat.

 

Manusia yang berkarakter baik, artinya mereka memiliki keindahan dalam perilaku dan kebenaran dalam tindakan. Karena kebaikan itu sangat berhubungan erat dengan keindahan perilaku manusia.  Cara terbaik dalam membangun kebaikan adalah dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan. Mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran tentang hal-hal yang kita lakukan bersama dengan para anggota organisasi maupun dengan orang lain di luar organisasi bisnis. Itulah cara terbaik dalam mengembangkan kebaikan dan dalam memperlakukan orang lain, apakah anggota organisasi, para pemasok, para konsumen maupun kepada calon pelanggan kita.

 

Dalam praktik nyatanya dalam kehidupan pekerjaan dan bisnis misalnya, adalah dengan senantiasa mengedepankan perilaku kejujuran, bisa dipercaya, memiliki kepedulian, kerjasama yang baik, bertanggung jawab dan mengembangkan sifat-sifat kemuliaan yang bersumber dari dalam hatinya. Maka kalau ingin unggul dan meraih sukses kemuliaan dalam dunia bisnis, teruslah mengasah talenta dan mengem-bangkan karakter pribadi yang baik dalam dunia bisnis. Karena inilah modal bagi kesuksesan dalam berbisnis dan kemuliaan dalam kehidupan.

 

Eko Jalu Santoso – Dari Buku ”The Wisdom of Business”, Penerbit Elex Media Komputindo

The Wisdom of Business - Daily Quote 4

Wednesday, December 17th, 2008


“ Kepemimpinan yang berbasis hati nurani intinya adalah mampu membangun spirit kerja sama tim dan membangkitkan inspirasi orang lain agar menjadi lebih kreatif, produktif, dan mampu mengekspresikan hidup yang penuh makna.”

- Eko Jalu Santoso –

 

Pemimpin bisnis yang sukses adalah mereka yang mampu membangun kekuatan dari tengah bersama para pengikutnya dan mampu mendorong pengikutnya dari belakang untuk meraih kemajuan. Kalau dalam bahasa bisnis modern dewasa ini disebut sebagai konsep kepemim-pinan “super leadership.” Mereka tahu bahwa memenuhi kebutuhan orang lain, membangun spirit tim, membangkitkan inspirasi anggota organisasi, memberikan layanan lebih baik bagi klien dan rekan bisnis mereka, merupakan keunggulan pemimpin yang sangat penting bagi pertumbuhan perusahaan.

 

Bagaimana agar dapat menjadi seorang pemimpin bisnis atau ”business leader” yang tungguh dan berbasis nurani ? Setidaknya diperlukan delapan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang ”business leader”, agar menjadi pemimpin tangguh berbasis nurani yakni, Memiliki wawasan ”vission” ke depan, Fokus pada pelayananan atau ”Stake – holder focused”, Kemampuan mengenali kekuatan orang lain ”Judge people” , Menjadi teladan dan sumber inspirasi, Mampu menyentuh level emosional, Kemampuan membangun tim, Menetapkan prioritas penting dan melakukan “repositioning” berdasarkan tantangan dan peluang yanga ada.

 

Dari Buku “The Wisdom of Business: Sukses Berbisnis Dengan Nilai-Nilai Kearifan Hati Nurani”, Karya Eko Jalu Santoso, Penerbit Elex Media Komputindo.

——————————————————–

“Buku The Wisdom of Business karya Eko Jalu Santoso ini memberikan keyakinan bahwa spiritualitas mengantarkan bisnis pada kesuksesan”

Ary Ginanjar Agustian, Penulis Buku Best Seller ESQ & ESQ Power.

            

“…Buku The Wisdom of Business karya Eko Jalu Santoso berhasil merangkum esensi penting dari membangun bisnis, yaitu 7M: Moral, Mindset, Motivation, Means, Market, Management, dan Mentorship. Setelah 7M dipenuhi maka bisnis akan menjadi magnet bagi M yang ke delapan yaitu Money. Buku ini penting dibaca oleh pebisnis pemula agar tidak kehilangan patokan untuk doing the right things dan doing things right, juga untuk pebisnis dengan jam terbang tinggi sebagai bahan refleksi yang komprehensif...”

Prof. DR. Ir. Roy Sembel, MBA (http://www.prof-roysembel.com), Chief Research Officer, CAPITAL PRICE.

The Wisdom of Business - Daily Quote 3

Tuesday, December 16th, 2008


“Manusia harus tahu bahwa di atas panggung kehidupannya sendiri, hanya Tuhan dan para malaikatlah yang menjadi pengamat.”
~ Francis Bacon ~

 

Kalau ingin meraih keberhasilan yang memberikan keberkahan, maka hadirkanlah Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan bisnis kita. Karena ketika seseorang menghadirkan Tuhan dalam setiap aktivitas kerja dan kehidupan bisnisnya, artinya ia menundukkan dirinya dan mendekatkan dirinya hanya kepada Allah Tuhan YME. Mendekatkan diri kepada Tuhan dapat melahirkan motivasi yang dilandasi oleh nilai-nilai keluhuran dan kemuliaan dari dalam hati. Melahirkan energi batiniah, melahirkan semangat mulia dalam berkarya yang akhirnya akan mengalirkan semangat keunggulan dan keberkahan dalam diri kita. Melahirkan optimisme yang tinggi dalam menghadapi setiap tantangan, hambatan dan kesulitan dalam kegiatan bisnis setiap hari. Karena kita meyakini bahwa Tuhan selalu hadir dan akan menjadi penolong terbaik kita.

 

Ketika kita meyakini Tuhan selalu hadir dalam ruang kerja kita, meyakini bahwa Tuhan dan malaikat sebagai pengamat kita, ini akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dalam setiap aktivitas kehidupan pribadi kita sehari-hari, termasuk dalam kehidupan bisnis. Implikasinya adalah setiap pemikiran kita, setiap tindakan yang kita lakukan maupun setiap keputusan bisnis yang diambil, akan selalu berdasarkan pada suara hati nurani terdalam yang merupakan percikan sifat-sifat kemuliaan Tuhan. Dalam menjalankan pekerjaan dan bisnis tidak akan menyimpang dari aturan etika, moralitas dan nilai-nilai spiritualitas yang bersumber dari dalam hati. Semoga Bermanfaat.

 

Dari Buku “The Wisdom of Business”, Karya Eko Jalu Santoso, Penerbit Elex Media Komputindo. Terbit dan beredar di GRAMEDIA mulai tanggal 3 Desember 2008

 

The Wisdom of Business - Daily Quote2

Thursday, December 4th, 2008

Selain dituntut memiliki kejernihan hati, ketajaman pandangan yang jauh kedepan, seorang pemimpin bisnis atau “business leader” yang berbasis hati nurani, juga dituntut untuk dapat menjadi panutan atau teladan, sebagai cermin bagi anggotanya dan memiliki keterampilan dalam menginspirasi kelompok yang dipimpinnya.

~ Eko Jalu Santoso ~

 Membangun keberhasilan yang bermakna di dunia bisnis diperlukan kemampuan kepemimpinan eksekutif, profesional dan pelaku usaha mencapai tingkatan pemimpin yang bijak yang penuh dengan hikmat atau wisdom. Hal itu hanya bisa dicapai dengan kepemimpinan yang berbasis nilai-nilai dari hati nurani. Pemimpin bisnis yang berbasis nurani pada intinya adalah pemimpin pengabdi atau “servant leaders”, artinya pemimpin yang tidak hanya melayani para pemegang saham, karyawan, produk dan pelanggan, tetapi pemimpin yang juga melayani masyarakat sekitarnya, lingkungannya, umat manusia, masa depan generasi mendatang dan kehidupan itu sendiri. Mereka adalah para pemimpin bisnis yang bukan hanya terpaku pada organisasinya dan hanya melihat bagi keuntungan perusahaannya, tetapi pemimpin yang berani melihat dunia luar di luar organisasi bisnisnya dan memberikan kontribusi bagi lingkungannya.

Eko Jalu Santoso - Dari Buku The Wisdom of Business, Diterbitkan Elex Media Komputindo. Terbit dan Beredar di GRAMEDIA seluruh Indonesia, Mulai 3 Desember 2008.

 

The Wisdom of Business - Daily Quote1

Monday, December 1st, 2008


” Manfaatkan kekuatan Visi dari hati dalam bekerja dan berbisnis. Karena Bisnis  yang digerakkan oleh visi dari hati, dapat mendorong  seseorang mampu menjalankan usaha dengan berani, lincah, gesit, fleksible, fokus dan memiliki horizon yang jauh ke depan atau “futuristic”, dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai suara hati nurani.

~ Eko Jalu Santoso ~

Bila hati nurani mengarahkan visi dalam berbisnis, maka kepemimpinannya akan mampu terus bertahan dan memberikan perbedaan yang lebih bermakna dalam berbisnis. Dengan kata lain, kewibawaan moral akan membawa kepemimpinan dapat berhasil lebih baik. Sebaliknya, bila visinya tidak digerakkan oleh hati nurani, maka kepemimpinannya tidak akan bertahan lama, demikian juga lembaga atau organisasi bisnis yang tercipta dari kepemimpinan yang tanpa visi yang jelas itu tidak akan mampu bertahan.

Eko Jalu Santoso - Dari Buku The Wisdom of Business, Diterbitkan Elex Media Komputindo. Terbit dan Beredar di Toko GRAMEDIA mulai Tanggal 3 Desember 2008

BISNIS UNTUK MEMPERKAYA HARTA & JIWA

Friday, March 28th, 2008

Oleh: Eko Jalu Santoso

“Barangsiapa yang menjadikan dunia ini sebagai satu-satunya tujuan akhir (yang utama), niscaya Allah akan menyibukkan dia dengan (urusan dunia itu) dan Allah akan membuatnya miskin seketika, dan ia akan tercatat (ditakdirkan) merana di dunia ini. Tetapi barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhirnya, Allah akan mengumpulkan teman-teman untuknya dan Allah akan membuat hatinya kaya dan dunia akan takluk dan menyerah kepadanya.”

- Al-Hadist -

Setiap orang yang bekerja atau menjalankan bisnis tentu sudah memiliki mimpi-mimpi yang menjadi tujuan hidupnya. Sebagian dari mereka memiliki visi atau tujuan yang jauh kedepan berdasarkan nilai-nilai suara hati nuraninya, sedangkan yang lain hanya berkeinginan menjadi seorang wirausahawan terkenal dan kaya raya. Bagi mereka yang berbisnis dengan hati nurani, menjadi wirausahawan kaya raya bukanlah menjadi tujuan akhirnya. Memiliki kekayaan berlimpah bukanlah tujuan utamanya, melainkan sebagai sarana untuk memperbanyak kebaikan dan memperkaya jiwanya.

Keuntungan atau “profit” adalah penting dalam berbisnis, meski demikian keuntungan bukanlah tujuan akhirnya. Karena keuntungan dipandang sebagai sarana memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain mereka memiliki keinginan memperkaya harta dan memperkaya jiwanya secara seimbang. Karena berbisnis adalah bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya.

Dalam Bisnis, keuntungan atau “profit” adalah darah bagi kehidupan usaha tersebut. Maka, hampir semua pelaku usaha sepakat bahwa keuntungan adalah hal yang harus diperjuangkan demi pertumbuhan usahanya. Bagi mereka yang hanya dimotivasi oleh kepentingan materialisme, maka dalam berbisnis lebih mengedepankan nilai-nilai materialisme, mendahulukan kepentingan keuntungan harta yang sebanyak-banyaknya. Akibatnya banyak pelaku bisnis yang rela melakukan berbagai terobosan baru, menempuh cara-cara yang kurang terpuji, mempercayai mistis demi keuntungan uang semata.

Seringkali mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya nilai keuntungan itu bukan semata-mata diukur dari besarnya uang yang dibukukan. Mereka, cenderung melakukan berbagai cara asalkan dapat mendatangkan materi kekayaan bagi hidupnya. Akibatnya mereka mudah mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam hatinya, demi meraih keuntungan bisnisnya. Inilah yang menjadikan banyak orang kehilangan makna kesuksesan yang diperolehnya. Keberhasilan usaha dan harta yang dimilikinya tidak memberikan nilai tambah bagi kemuliaan dan kebahagiaan tertinggi hidupnya.

Mereka begitu sibuknya mencari berbagai cara dan alternatif demi memaksimalkan pendapatan dan keuntungan perusahaan. Bahkan tidak sedikit yang tanpa disadarinya telah dikuasai dan dikendalikan oleh kepentingan materi ini, hingga mengabaikan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Secara kasat mata kita juga dapat melihat kebanyakan orang-orang yang tenggelam dengan penyelewengan dan penipuan dalam dunia bisnis adalah orang-orang yang terlena dengan kekayaan harta, sehingga mereka mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam hatinya. Mereka ini menjadi manusia yang begitu mendewakan harta kekayaan dan men-Tuhankan harta kekayaan.

Bisnis sesungguhnya memiliki bentangan makna yang luas, bukan semata-mata dinilai dari keuntungan uang, namun ada makna yang lebih tinggi dari keuntungan materi. Karenanya dalam berbisnis selain untuk meraih kesejahteraan materi, sebaiknya mempertimbangkan agar Bisnis yang kita lakukan, produk yang kita hasilkan dapat memberikan kontribusi kebaikan dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya. Dengan demikian, berbisnis akan selalu mempertimbangkan nilai-nilai etika, moralitas dan hati nurani.

Menurut Henry David Thoreau, “A man is rich in proportion to the things he can afford to let alone. – Seseorang yang mampu hidup sederhana, maka ia tidak akan pernah merasa kekurangan.” Maknanya, kita perlu mengembangkan budaya positif dalam berbisnis, bukan hanya berorientasi pada kekayaan dan hidup kemewahan, melainkan berorientasi pada manfaat kebaikan bagi banyak orang lain. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh Waren Buffet misalnya, perlu menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Meski ia dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia dengan total kekayaan mencapai 62 milliar dollar AS menurut majalah Forbes, ia tetap hidup sederhana di rumah yang dibelinya sejak tahun 1958 dengan harga 31 ribu dollar AS. Ia bahkan lebih senang menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan sosial kemanusiaan melalui Yayasan sosial. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 30,7 milliar dollar AS dan tercatat sebagai penyumbang tertinggi dalam sejarah.

Demikianlah bahwa bisnis, sesungguhnya merupakan panggilan mulia dalam kehidupan. Karena Bisnis dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk memperkaya harta kekayaan dan menggunakannya untuk memperbanyak kebaikan bagi orang lain. Bisnis dapat menjadi jalan memperoleh makna kehidupan dan kebahagiaan sejati melebihi nilai-nilai materialisme. Berbisnis dapat menjadi bagian dari ibadah dan bentuk pengabdian kita kepada Tuhan, kalau dijalankan dengan mengedepankan nilai-nilai spiritualitas kebenaran. Bisnis adalah bagian dari melayani orang lain dan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya.

Mereka yang berbisnis dengan berorientasi pada manfaat kebaikan bagi orang lain, menjadikan usahanya adalah jalan untuk meraih keberkahan hidup. Dengan demikian tidak mudah dikendalikan oleh nafsu kekayaan berlebihan, tidak serakah dan tamak akan harta kekayaan dan kekuasaan berlebihan. Meskipun mungkin dapat hidup serba mewah dan modern dengan keuntungan usaha yang diperolehnya, namun tetap menjalani hidup sederhana dan lebih senang memberikan manfaat kebaikan kepada banyak orang. Hidup sederhana bukan berarti tidak memanfaatkan segala fasilitas yang memungkinkan kita lebih maju, melainkan hidup hemat, tidak boros atau berlebih-lebihan dan memiliki kepedulian yang tinggi kepada orang lain yang membutuhkan. SEMOGA BERMANFAAT.

*** Eko Jalu Santoso adalah Founder Motivasi Indonesia (motivasiindonesia@yahoogroups.com) dan Penulis Buku “The Art of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution”, keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.

SUKSES DENGAN MELAYANI

Thursday, March 8th, 2007

 

view

Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.” - Martin Luther King -

Beberapa hari lalu saya datang ke sebuah Bank swasta di Jakarta untuk sebuah transaksi. Ketika selesai melakukan transaksi, teller dengan senyumnya yang ramah meminta saya memilih salah satu kertas kecil yang sudah disiapkan di meja teller dan memasukannya ke dalam kotak. Ada dua pilihan dengan dua warna kertas yang berbeda yang merupakan penilaian kita terhadap kinerja pelayanan si teller tersebut. Rupanya Bank yang memiliki jutaan nasabah pemegang ATM ini secara sadar berorientasi untuk mencetak karyawan yang memiliki orientasi pada “customer focus” dalam kinerjanya.

Pada hari lain saya memasuki banking hall sebuah bank swasta lainnya. Mulai dengan memasuki ruangan, saya menjumpai personil dengan sikap yang seragam, dari satpam yang mulai membukakan pintu, petugas customer service, teller sampai ke manager cabangnya. Rupanya Bank ini secara sadar juga berorientasi mencetak karyawan untuk menginternalisasikan dan saling menularkan nilai-nilai pelayanan dan integritas yang diekspresikan dalam tindakan nyata.

Derap persaingan dalam era kehidupan yang semakin komplek, apalagi dalam dunia bisnis yang sangat kompetitif, semakin menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan, kalau ingin bertahan dalam persaingan. Organisasi dan perusahaan tidak mengizinkan lagi seorang karyawan sebagai bagian dari perusahaan untuk tidak memberikan pelayanan dengan baik. Setiap karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi perusahaan, sehingga harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasaan pelanggan.

Marilah kita perhatikan pada setiap perusahaan-perusahaan besar, apa kunci prestasi mereka sehingga perusahaan mereka bisa bertahan di tengah maraknya persaingan ?

Apa kunci keberhasilan mereka untuk dapat terus bertumbuh menjadi besar ?.

Pasti Anda akan menemukan salah satu kunci terpenting dalam kesuksesannya adalah kesediaan untuk melayani pelanggannya. Maka banyak perusahaan mengangkat tema “kepuasan pelanggan” menjadi bagian penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen niscaya akan lebih mudah dalam meraih dan mempertahankan kesuksesannya.

Paradigma melayani sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena sudah sejak dulu para guru spiritual selalu mengajarkan akan hal ini. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana agar kita juga bisa memiliki hati yang mau melayani?

Mungkin beberapa langkah berikut ini perlu dipertimbangkan

1. Memandang pekerjaan adalah ibadah

Dalam hidup ini kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan dan kepada orang lain. Dengan demikian, hendaknya setiap apa yang kita kerjakan dalam kehidupan hanyalah berorientasi pada pengabdian kita kepada Allah dan pelayanan kepada orang lain. Dengan memiliki kesadaran ini, maka pekerjaan adalah bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah dan kepada orang lain.

Memiliki kesadaran memandang pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dapat memberikan keikhlasan hati untuk senantiasa melayani orang lain dengan baik. Apakah itu pelanggan kita, apakah itu teman-teman kita, apakah itu bos dan pemimpin kita. Dengan demikian orang lain akan memberikan apresiasi terhadap apa yang kita lakukan. Kalau hal ini dijadikan sebagai kedisiplinan, inilah modal bagi kesuksesan kita.

2. Kehidupan adalah kesempatan membantu orang lain.

Motivator kelas dunia, Zig Ziglar pernah berkata, “Anda bisa memperoleh apa pun dalam kehidupan ini sepanjang Anda juga mau menolong orang lain memperoleh apa yang mereka inginkan.” Inilah sebuah prinsip bahwa memperoleh apa yang kita inginkan dapat dimulai dengan membantu orang lain memperoleh keinginannya.

Hidup ini adalah sebuah anugerah dari Allah Tuhan Yang Maha Kaya. Sebagai rasa syukur terhadap kehidupan, kita harus menggunakannya untuk membantu orang lain, bukan hanya untuk diri kita sendiri. Hal ini secara tegas disebutkan oleh Allah bahwa kehadiran manusia ini mengemban amanah sebagai wakil Allah dimuka bumi ini. Manusia memiliki kewenangan sebagai “khalifah” penguasa kehidupan di muka bumi.

Dengan demikian setiap orang mengemban amanah untuk mensejahterakan kehidupan orang lain dan alam semesta ini. Bukan menghancurkan orang lain dan alam semesta untuk kepentingannya sendiri.

Gunakan kehidupan yang kita miliki sebagai kesempatan berharga untuk membantu banyak orang lain. Semakin banyak waktu kehidupan yang diberikan, semakin banyak manfaat yang kita bagikan untuk orang lain. Dengan demikian, hidup Anda akan jauh lebih bermakna.

3. Siapa Menabur Dialah Yang Akan Menuai

Pepatah bijak mengatakan siapa yang menabur dialah yang akan menuainya. Saya sangat sepaham dengan pepatah bijak ini, bahwa apa yang kita tabur akan kita tuai. Kalau kita menaburkan benih-benih kebaikan, maka kita akan memamen hasil kebaikan. Kalau kita menebarkan pelayanan, maka kita akan menuai kemudahan-kemudahan dalam kehidupan. Begitupun sebaliknya.

Sayangnya, banyak orang sering kurang menyadari, kalau rejeki yang kita peroleh sesungguhnya melalui orang lain. Demikian juga apa yang kita peroleh sebaiknya sebagian dibagikan bagi orang lain. Kalau kita sebagai karyawan, maka sesungguhnya gaji yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari sang pemilik pemilik atau pemimpin perusahaan.

Demikian juga kalau kita seroang pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari sang pelanggan. Maka penting memiliki kesadaran untuk memperhatikan suara dan keluhan pelanggan. Dengan memperlakukan mereka secara baik dan memuasakan, maka perusahaan akan menuai keuntungannya yang akhirnya dapat menghidupi pengushaa dan karyawannya.

Ingatlah bahwa kehidupan ibarat ladang pertanian yang subur. Setiap benih yang kita sebarkan akan tumbuh dan memberikan hasil. Kalau benih kebaikan yang kita taburkan, maka akan memberikan hasil kebaikan. Demikian sebaliknya. Maka kalau inngin meraih kesuksesan, tanamkan benih-benih pelayanan kepada orang lain, sehingga kita kan menuai kemudahan-kemudahan dalam kehidupan.

Salam Revolusi Nurani: motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com

Sumber: Sukses Dengan Melayani Oleh Eko Jalu Santoso, Penulis Buku “The Art of Life Revolution”, Founder Motivasi Nurani Indonesia. Weblog: www.EkoJaluSantoso.com

10 PRINSIP BERBISNIS DENGAN HATI

Tuesday, February 27th, 2007

Oleh Eko Jalu Santoso

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Pandangan lama sudah bergeser. Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Bahkan sekarang ini banyak pengusaha menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha selain mengejar “profit” sesungguhnya bisa bermakna lebih luas bagi hidup. Bukan sekedar mengejar profit bruba keuntungan material, namun mengejar profit berupa keuntungan nilai-nilai yang bermakna bagi kepuasan spiritual. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka.

Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka biasanya mudah terjebak dalam bisnis yang serakah, melakukan penyimpangan, melanggar tatanan kehidupan. Kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya, belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat bernilai ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah “built in” dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.
Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya  bukan sekedar berhubungan  dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda  telah  berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.
(motivasiindonesia-subscribe@yahoogroups.com)

Sumber: Buku “THE WISDOM OF BUSINESS: Sukses Berbisnis Dengan Nilai Kearifan Hati Nurani”, oleh Eko Jalu Santoso, diterbitkan Elex Media Komputindo.